
"Tolong jangan usir kami!!!" teriak wanita yang berambut putih pada dua orang pria bertubuh kekar.
Satu orang pria lagi, melempar barang-barang mereka keluar. Koper yang berisi pakaian pun berserakan di tanah. Satu orang wanita lagi menangis mengiba pada tiga orang preman suruhan pemilik rumah sewa yang mereka tempati.
"Kami harus tinggal di mana malam-malam begini!" decak wanita berambut panjang itu mengiba pada preman-preman itu.
"Itu bukan urusan kami," teriak preman berkumis tebal sembari menyunggingkan sebelah bibirnya.
Veronica memunguti pakaiannya yang berserakan di tanah, malam itu dia harus siap menjadi gelandangan bersama ibunya. Sudah enam bulan, dia tidak bisa membayar sewa rumahnya. Uang gajiannya yang di berikan pada ibunya untuk membayar sewa rumah, ternyata di pakai ibunya untuk berjudi.
Sementara Bu Sarah, wanita itu terus mengiba pada preman-preman itu agar di berikan kesempatan lagi, untuk tinggal di rumah itu.
Para tetangga yang awalnya tidak tahu permasalahan mereka, kini mereka hanya bisa memperhatikan kejadian pengusiran itu dari dalam rumahnya.
"Saya mohon, kasih saya waktu untuk membayar uang sewanya!" seru Bu Sarah mengiba. Namun tak di tanggapi oleh para preman itu. Setelah menutup, dan mengunci rumah itu, mereka pergi meninggalkan Bu Sarah yang terduduk di lantai.
"Sudahlah, Ma! Gak akan ada gunanya juga, Mama bersimpuh di situ!" seloroh Veronika dengan sinis. "Kalau saja Mama tidak berulah, kita gak akan kesulitan seperti ini!" lanjutnya dengan kesal.
"Sekarang kita mau kemana? Vero bahkan tidak punya sepeserpun uang untuk mencari rumah sewa lagi," decaknya seraya mengumpat kesal, "sifytt sial!!!!"
"Maafin, Mama Ve! Mama gak bermaksud...." Bu Sarah menjeda kalimatnya, dia mendapat ide untuk masalahnya, "kita tinggal di rumah Tari dan Hanif saja!" ujarnya seraya tersenyum licik.
"Gak mungkin bisa, Ma. Kita akan langsung di usir oleh mereka!" jawab Vero ragu-ragu.
"Mama punya caranya, ayo buruan kita kesana." Bu Sarah mulai melangkahkan kakinya, "kamu pesan taksi online saja, Ve!" titahnya pada putrinya.
Tak menunggu lama, taksi pesanan Veronika datang. Taksi itu langsung membawa mereka ke rumah Hanif.
*************
__ADS_1
Semenjak Bundanya sakit, Hanif lah yang mengambil alih pekerjaan rumah tangga di rumahnya. Bu Tari harus istirahat dengan baik, tidak boleh banyak pikiran. Dan yang paling penting, dia harus menjaga pola makannya. Agar penyakit yang ia derita, tidak kambuh lagi.
Seperti malam itu, mereka baru saja selesai santap malam bersama. "Bun, Bunda istirahat saja, biar Hanif yang beresin ini semua!" titahnya tak ingin di bantah.
"Bunda udah kuat, kok!" tolak Bu Tari, namun Hanif meliriknya. "Iya, ya Bunda istirahat!" Kemudian Bu Tari mulai beranjak dari tempat duduknya, menuju ke ruang tengah.
Dengan telaten, Hanif membereskan meja makan itu sendiri. Terlintas dalam pikirannya, andai saja saat ini dia memiliki istri. Mungkin itu bisa sangat membantu dirinya. Tapi, pikiran itu langsung ia tepis sendiri. Dia belum bisa melakukan itu, karena hatinya masih milik Sisi.
"Selesai! Akhirnya!" ujarnya seraya mengelap peluh di sekitar wajahnya, kemudian dia mencuci tangannya dan setelah itu menyusul bundanya di ruang tengah.
"Bun, Bunda udah minum obatnya?" tanya Hanif mengingatkan.
Bu Tari tersenyum mengangguk, "sudah!"
Hanif duduk di samping Bundanya, netra milikinya menjuru kearah TV yang menyala. Namun, tidak dengan pikirannya. Kerap kali, dia duduk di sana, bayangan Sisi selalu terlintas di sana. Seketika wajahnya berubah menjadi suram.
"Kamu kenapa lagi, sayang? Masih keinget Sisi?" cecar Bu Tari memperhatikan raut wajah Hanif. "Bunda tahu, ini berat untukmu. Tapi, kamu harus bisa ikhlas dan menata hatimu untuk wanita lain!" Hanif tak bersuara.
"Siapa malam-malam begini bertamu?" gumam Hanif, Bu Tari mengangkat kedua bahunya. "Hanif lihat dulu, Bun!"
Hanif beranjak dari tempat duduknya menuju ke ruang tamu. Setelah itu menarik handle pintu, kemudian membukanya. Dia sangat terkejut dengan apa yang ia lihat saat itu, dua wanita licik berwajah mengiba berdiri di depan pintu.
"Untuk apa kalian kesini?" Kini manik matanya memperhatikan dua koper yang ada di tangan kedua wanita itu.
Bu Sarah melepaskan tangannya dari koper yang ia pegang, setelahnya mencoba meraih tangan Hanif, namun Hanif menepisnya. "Tolong kita Nif, Tante mohon!!!!"
"Iya Nif, tolongin kita. Kita di usir dari kontrakan karena tidak bisa membayarnya." Di susul oleh Veronika yang juga mengiba di depan Hanif.
Pria itu tak menanggapi acting mereka, dia tahu itu pasti rencananya agar bisa tinggal bersama dengannya. Itu bukan yang pertama kalinya, mereka lakukan. Sering, tapi Hanif bukan orang bodoh yang akan membiarkan serigala seperti mereka tinggal di rumahnya.
__ADS_1
"Nif, Tante mohon!" Sekarang Bu Sarah sudah bersimpuh di kaki Hanif, pria itu memundurkan langkahnya kebelakang tak ingin kakinya di sentuh oleh Bu Sarah.
Mendengar suara bising dari depan, Bu Tari penasaran ingin melihat siapa tamu yang datang ke rumahnya, dan yang paling aneh, Hanif tak kunjung menyuruhnya masuk kedalam. Sesampainya di ruang tamu, Bu Tari pun tak kalah terkejutnya melihat ibu dan adik tirinya yang sudah bersimpuh di lantai. Bu Tari mendekat.
"Tari, saya mohon bantu saya malam ini saja. Kami di usir dari kontrakan, kami tidak punya uang untuk menyewa rumah lagi!!!!" ucapnya dengan terus mengiba.
"Bun, jangan dengerin mereka. Itu cuma akal-akalan mereka saja, agar bisa tinggal di sini!" sergah Hanif tak ingin bundanya luluh.
"Bun, tolong kami!!!!"
Bu Tari memegang bahu putranya, Hanif pun menoleh. Di tatapnya lekat wajah putranya setelah itu dia mengangguk, pertanda agar Hanif mengizinkan mereka berdua tinggal di rumahnya. "Bun!" tolak Hanif.
"Sayang, kasihan mereka. Ini sudah malam, untuk sementara biarkan mereka tinggal di rumah ini." Tersungging senyuman dari keduanya karena rencananya berhasil.
"Baiklah! Kalian boleh tinggal di sini tapi dengan satu syarat...."
"Apa syaratnya?" Pangkas Bu Sarah yang kemudian berdiri di susul oleh Veronika.
"Kalian harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, di sini. Masak, nyuci, ngepel, dan lain sebagainya... Kalian sanggup?"
"Iya, Nif. Kamu sanggup. Terimakasih banyak, terimakasih!" ucap Bu Sarah kegirangan.
"Kalian boleh masuk sekarang!"
Bu Sarah dan Veronika masuk kedalam dengan menyeret kopernya. Hanif menunjukkan lamar mereka. Kamar tamu, yang terletak di samping mushola rumah itu. Kamar yang lumayan besar, di banding kamar mereka di kontrakan. Yang terpenting kamar itu ada AC nya, jadi mereka bisa tidur dengan nyenyak tanpa di ganggu nyamuk yang bergentayangan.
Mereka masuk kedalam, dan Hanif pun berlalu. Dia dan Bu Tari memilih kembali di ruang tengah.
"Kita berhasil, sayang! Sekarang kita tinggal cari cara agar rumah ini menjadi milik kita!!!" ujar Bu Sarah dengan senyum yang mengembang dari bibirnya.
__ADS_1
"Iya Ma, Vero sudah gak sabar ingin itu cepat terjadi!!" balas Veronika tak kalah liciknya.
To be continued