Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Kebahagiaan yang hakiki


__ADS_3

Wanita yang memakai gamis berwarna coklat susu, sedang berjalan menuju taman belakang dengan secangkir teh manis di tangannya. Wanita itu tampak sumringah kala melihat suaminya yang sedang memberi makan ikan-ikan hias milik ayahnya.


"Kak, ini teh hangatnya!" Di letakkan cangkir itu di atas meja tak jauh dari kolam ikan, tempat suaminya duduk.


"Mendengar istrinya memanggil namanya, pria yang memakai baju Koko berwarna biru muda, menghentikan sejenak aktivitasnya. Pakan ikan yang ada di tangannya lantas di letakkannya ke dalam kaleng, tempat menaruh pakan ikan itu. Usai meletakkannya di tempatnya, Ilham berjalan kearah kran, yang menempel di dinding.


Setelah itu, barulah dia berjalan mendekat kearah istrinya yang sudah duduk di kursi taman. "Hmmm, makasih ya sayang. Tehnya sangat nikmat," ujarnya sambil menyesap teh hangat buatan istrinya.


"Iya, Kak. Sini, Sisi mau tanya pada Kakak!" balas Sisi menepuk, kursi di sampingnya. Berharap Ilham duduk di sana. Tak menunggu lama, pria itu langsung mendaratkan bokongnya, tepat di samping istrinya.


Di kalungkannya tangannya di bahu istrinya, dengan kepala mengarah ke wajah Sisi. "Kamu mau ngomong apa, sayang. Apa ada masalah?" Istrinya langsung menggeleng. "Terus?" tanyanya menautkan kedua alisnya.


"Kak, apa Kakak ingin cepat mempunyai anak?" Kini Sisi sedikit serius bertanya pada suaminya, Ilham pun tampak berfikir.


"Kenapa kamu tanya begitu, sayang? Kakak gak akan menuntut lebih untuk hal itu, sedikasihnya Allah, saja!" jawab Ilham pun dengan wajah yang serius. "Apa kamu ingin menundanya?" Ilham balik bertanya pada istrinya.


"Nggak, Kak. Nggak!!" Sisi pun menggeleng. "Sisi hanya takut, entahlah. Soalnya temen Sisi udah hampir lima tahun menikah, belum di kasih momongan sampai sekarang!" lanjutnya dengan manik kekhawatiran.


Ilham bisa menangkap ketakutan istrinya dari wajahnya terlihat murung. Tak ingin melihat istrinya sedih, Ilham melepaskan tangannya dari pundak Sisi, setelah itu meraih tangan istrinya, dan di genggamnya erat. "Sayang, Anak adalah Rezeki terbesar dari Allah. Kita tidak bisa menolaknya jika Allah menitipkannya pada kita. Begitupun juga, jika Allah belum kasih, kita tidak boleh kecewa dan menghukum diri kita. Percayalah, suatu saat nanti, Allah akan kasih pada kita. Kita berdoa dan berikhtiar, itu kuncinya."


Sisi sedikit lega mendengar pemaparan dari suaminya, betapa beruntungnya dia memiliki suami seperti Ilham. Yang bisa menenangkan dia, saat dia merasa takut. Dan selalu bersabar dengan sikapnya yang masih sedikit manja.


"Karena itu, kita harus sering-sering....." Arah mata Ilham menunjuk ke bagian intim Sisi, membuat pemiliknya mendelik.


"Ihhhhhhhh, mesum Kakak ini." Di pukulnya lengan suaminya, mereka tergelak.


"Kamu cantik, kalau sedang tersenyum seperti ini!" puji Ilham, Sisi pun tersipu malu.

__ADS_1


"Gombal!" cetuknya menatap kearah lain.


Kemesraan mereka berdua tak luput dari dua pasang mata yang sedang berjalan kearah mereka. "Ehemmm." Suara deheman dari Syifa, membuat mereka menatap kearah wanita.


"Mau kemana, Dek? Kok udah rapi aja?" cecar Sisi yang memperhatikan adik iparnya dari atas hingga ke bawah.


"Ini mau magrib, loh! Pamali anak gadis pergi menjelang magrib seperti ini!" timpal Ilham yang sedikit terkejut dengan penampilan adiknya.


"Syifa cuma mau ke supermarket, ujung gang situ loh. Mau beli beberapa bareng keperluan Syifa!" ujar wanita yang terlihat Anggun dengan setelan rok pisket dan tunik import itu.


"Hmmm, ya udah. Tapi, jangan lama-lama ya! Magrib harus sudah pulang," ujar Ilham memperingati adik gadisnya.


"Iya-iya Kak, Syifa paham kok! Berangkat dulu, ya. Assalamualaikum."


Ilham dan Sisi hanya menggeleng, "waalaikumussalam!" balas mereka kompak.


"Hmmm, dari aromanya saja udah lezat Bun!" puji Ilham mengambil sepotong kue itu, kemudian di masukkan ke dalam mulutnya. "Enak, Bun. Coklatnya berasa banget!" lanjutnya masih mengunyah kue tersebut. Yulia pun tersenyum puas, tidak sia-sia hasil kerja kerasnya. Dengan hasil yang memuaskan.


Melihat suaminya sangat antusias, Sisi pun mencobanya. Dia mengambil potongan kue yang paling kecil di piring itu, kemudian di santap nya. "Beneran enak!!!!"


"Iya dong, Bunda!" Mereka bertiga tergelak. "Kamu harus bisa buat kue ini, sayang. Lihat suamimu sangat suka!" seru Yulia menunjuk Ilham yang sudah mengambil sepotong lagi kue itu.


"Kemana pun suamimu pergi, pasti dia akan kembali kerumahnya juga. Karena apa, di rumahnya ada istri yang sudah melayani suaminya dengan baik. Apalagi urusan perut, lihat Ayahmu tuh. Dia tidak pernah melewatkan makan malamnya di rumah, karena apa? Karena bundamu ini punya cara sendiri agar Ayahmu betah di rumah, dan gak jajan di luar. Masakan bunda, mengalahkan koki terkenal di Indonesia, itu sih kata Ayahmu!" Yulia tertawa geli, mengingat suaminya selalu memuji nya seperti itu.


"Wah, bener banget sayang. Kamu harus belajar masak sama Bunda. Karena masakan bunda emang top markotop!" puji Ilham lagi mengacungkan dua jempolnya.


"Iya, nanti Sisi belajar masak sama Bunda," salak Sisi antusias.

__ADS_1


Usai berbincang santai, mereka bertiga akhirnya masuk ke dalam rumah, namun mereka harus memisahkan diri. Ilham dan Sisi menuju ke kamarnya, sementara Yulia menemui suaminya yang sedang di ruang kerjanya.


Di dalam kamar berukuran tiga meter persegi, Sisi duduk di sisi ranjang kamar itu, di ikuti oleh suaminya. Tak lama setelah itu ponsel Ilham bergetar, ada nontifikasi pesan dari ponselnya. Ternyata pesan itu dari pegawai KUA. Mereka memberi kabar, kalau surat nikah mereka sudah jadi. Sehari setelah menikah, keluarga Ilham langsung mendaftarkan pernikahan mereka di kantor KUA.


"Dari siapa, Kak?" tanya Sisi penasaran, karenanya suaminya senyum-senyum sendiri setelah membaca pesan dari ponselnya.


"Dari kantor KUA, sayang!" jawab Ilham jujur, tapi sepertinya Sisi belum puas jawaban dari suaminya. Terlihat dari caranya mempertajam penglihatannya di ponsel Ilham. "Gak percaya, ini!" Ilham menunjukan isi pesan itu pada istrinya, dan Sisi pun tersipu malu karena sempat seudzon pada suaminya.


"Kamu gak usah takut aku berpaling darimu, sayang. Karena apa?" Ilham menjeda kalimatnya, ditatapnya lekat wajah Sisi. "Karena namamu, sudah terpatri di sini." Di raihnya tangan Sisi kemudian di letakkannya di dadanya.


"Kamu ingin tahu apa saja yang menjadi keinginan terbesarku?" Sisi pun mengangguk. "Keinginan terbesarku adalah bisa selalu bersamamu till janah!"


Sisi begitu tertegun dengan kesungguhan hati Ilham, hingga matanya kini berbinar-binar karena bahagia. Dengan cepat, dia memeluk tubuh suaminya seraya berkata, "terimakasih, Kak. Kakak adalah suami pilihan Allah untuk Sisi."


"Dan kamu adalah bidadari surgaku, kelak."


Mereka berdua larut dalam kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan yang hanya bisa di raih, saat mereka sudah menjadi pasangan yang halal. Sisi tak pernah salah memilih imam yang terbaik untuknya, harapan mereka hanya satu, kelak kebahagiaan dan keharmonisan itu bertahan hingga maut yang memisahkan mereka berdua.


To be continued


Author paling gak bisa buat adegan uwu-uwu. Kelihatan gambar, ya😁


Maklum lah, jarang di uwu-uwu ini sih!!!!!


La kenapa jadi curhat...


Masih lanjut gak nih!!!!!

__ADS_1


__ADS_2