
"Ngapain kita ke sini, Mas?" Cahaya bingung, saat Devan mengajaknya masuk ke butik.
"Gak usah banyak nanya, napa sih!" Devan menarik tangan Cahaya agar mau mengikutinya.
"Sekarang kamu pilih, mana yang kamu suka!" seru Devan berhenti di sebuah rak yang berjejer gamis-gamis cantik.
"Apa! Cahaya disuruh milih baju yang beginian. Buat apa Mas?"
"Emangnya kamu mau datang ke acara syukuran Yulia, pake celana yang sobek-sobek kayak gitu," protes Devan yang mulai geram karena cahaya banyak nanya.
"Hehehehe, tau aja Mas Devan nih," jawab cahaya cengengesan.
"Sudah buruan pilih, keburu tutup nih butik!" Devan meninggalkan Cahaya untuk duduk di ruang tunggu. Sementara Cahaya, dia bingung harus memilih gamis yang seperti apa. "Ya ampun Mas Devan, Cahaya suruh pilih kayak beginian, mana Cahaya ngerti!" lirih Cahaya seraya memilih gamis yang tergantung di etalase.
"Mbak!" panggil Cahaya pada penjaga butik.
"Ada yang bisa saya bantu?" sapanya ramah.
"Tolong cariin gamis yang cocok buat saya, ya!" perintah Cahaya pada penjaga butik.
"Baik Mbak, tunggu disini sebentar." Penjaga butik itu kemudian mulai memilih-milih gamis yang kiranya cocok untuk Cahaya. Tak perlu memakan waktu lama, untuk penjaga butik itu menemukan gamis yang cocok untuk Cahaya. Sebuah gamis turki yang lagi ngetrend sekarang menjauh pilihan penjaga butik itu.
"Ini mbak, kayaknya cocok untuk Mbak Cahaya." Gamis itu diberikan pada Cahaya.
"Ini, yakin! saya disuruh baju beginian. Gerah mbak, gak ada yang lebih simpel gitu!" protes cahaya membolak-balik gamis yang ia pegang.
"Ini udah yang paling simpel Mbak, nah untuk hijabnya pake yang ini aja," ujar penjaga butik sambil menyerahkan jilbab instan pada Cahaya.
"Ya udah deh, bungkus aja. Daripada ribet berurusan Ama Mas Devan, mending manut aja." Cahaya meninggalkan penjaga butik dan mencari keberadaan Devan.
Setelah membayar belanjaannya, Devan dan Cahaya langsung pulang ke apartemen. Malam semakin larut, jadi mereka memutuskan untuk segera pulang.
__ADS_1
Di tempat lain.
Faisal dan Yulia sedang berada di kamar. Sisi, kebetulan tidur dengan Eyang nya. Yulia melepas hijabnya dan berganti pakaian nya dengan dress tidur.
"Sayang, kamu tuh cantik banget...cup" satu kecupan mendarat di kening Yulia.
"Baru nyadar ya Mas, kalau Yulia ini cantik. Kemana aja Mas?" canda Yulia membuat Faisal tergelak.
"Terimakasih ya sayang, terimakasih sudah menjadi istri terbaik untuk Mas. Cuppp" satu kecupan lagi mendarat di bibir Yulia.
"Udah ah mas, kita bobo yuk!" seru Yulia membaringkan tubuhnya di kasur.
"Mas belum ngantuk sayang!" Faisal membelai lembut rambut Yulia.
"Mas, Yulia boleh tanya gak?" Yulia memiringkan tubuhnya menghadap Faisal. Kini mereka saling berhadapan, dan saling pandang.
"Mau tanya apa, sayang?" Faisal mencubit kecil hidung Yulia.
"Kok diem Mas, atau jangan-jangan Mas Faisal belum cinta sama Yulia" Yulia langsung membelakangi Faisal, karena Faisal tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Sayang, Sayang jangan ngambek gini dong! Mas, itu sedang mikir" Faisal memegang pundak Yulia.
"Ya udah, jawab dong Mas, Yulia kan pengen tahu!" Yulia masih tak mau menghadap ke arah Faisal.
"Tapi, jangan belakangi Mas kayak gini dong! madep sini ya.." Faisal mengarahkan Yulia agar mau menghadap kearahnya. Akhirnya Yulia menuruti kemauan Faisal, perlahan dia balikan tubuhnya menghadap ke arah Faisal.
"Yul, untuk kapan jelasnya, Mas Faisal gak tahu. Tapi yang jelas, Mas gak bisa kehilangan kamu. Apalagi saat kamu kecelakaan itu, Mas benar-benar menderita dan selalu diliputi rasa bersalah. Tapi, Mas menyadari perasaan Mas itu, waktu kamu pulang ke rumah orangtua kamu. Disitulah, Mas mulai menyadari, kalau kamu itu sangat berarti untuk Mas," terang Faisal, kemudian mendekap tubuh Yulia.
"Tapi kenapa waktu Mas Faisal koma, Mas Faisal manggil nama Mbak Weli?" tanya Yulia, memainkan jarinya dikancing baju Faisal.
"Masa sih! Tapi nama yang pertama Mas sebut waktu sadar dari koma, itu nama kamu, Yul." Faisal mencoba mengingat kejadian saat dia koma.
__ADS_1
"Masa Sih Mas, tapi waktu Yulia ngintip di balik pintu, Mas Faisal masih tetap manggil nama Mbak Weli." Yulia mendongakkan kepalanya, agar bisa menatap wajah Faisal.
"Mas Faisal sadar, setelah Mbak Weli menjenguk Mas Faisal." lanjutnya.
"Mas sadar bukan karena Weli, tapi karena doa tulus dari kamu Yul. Kamu juga selalu melafalkan ayat suci Al-Quran, saat menjaga Mas." Faisal menatap wajah Yulia sayu.
"Ya sudahlah Mas, yang lalu biarlah berlalu. Yang paling penting sekarang, kita masih bisa tetap bersatu. Sekarang kita tidur ya, Mas." Yulia melepaskan tubuhnya dari pelukan Faisal.
Mereka pun akhirnya terlelap, perasaan damai menyertai hati keduanya. Mereka sudah lega, karena sudah mengutarakan unek-uneknya. Terutama Yulia, dia ingin sekali menanyakan hal itu pada Faisal sejak lama. Tapi tidak pernah ada waktu yang tepat, untuk Yulia mengutarakan unek-uneknya.
Pagi harinya dikediaman Rio.
"Sayang, kita jadi datang kan, ke acara syukuran Yulia?" tanya Rio saat keluar dari kamar mandi.
"Jadi dong sayang, masa kita gak datang. Mereka sudah mengundang kita, kita harus hargai itu. Lagian aku seneng banget, karena Yulia ternyata masih hidup." Weli memberikan baju Koko dan celana dasar pada Rio.
"Sayang, seandainya Yulia beneran meninggal. Apa kamu akan kembali pada Faisal?" tanya Rio menatap Weli.
"Kok, kamu ngomong gitu sayang. Antara aku dan Faisal sudah tidak ada perasaan apa-apa. Meskipun Yulia sudah tidak ada, aku tidak akan pernah meninggalkan mu." Weli memegang tangan Rio, "sekarang cinta ku sepenuhnya milikmu, jangan pernah ragukan itu lagi ya."Mendengar ucapan Weli, Rio langsung memeluknya. Dia sudah yakin sekarang, kalau hati Weli, sepenuhnya miliknya.
"Terimakasih ya sayang!" Rio mencium pucuk rambut Weli.
"Udah ah, buruan ganti bajunya. Aku tunggu di bawah ya!" seru Weli beranjak dari dekapan Rio.
Yulia dan Faisal mengundang mereka untuk menghadiri acara syukuran Yulia. Awalnya Faisal tidak ingin mengundang mereka. Tapi, Yulia yang meminta Faisal mengundang Rio dan Weli. Yulia bilang, kalau memang sudah tidak ada perasaan lagi pada Weli. Gak ada alasan kan, untuk mengundang mereka. Akhirnya Faisal menuruti keinginan Yulia.
Rio dan Weli sudah siap berangkat ke rumah Faisal. Mereka rencananya, akan berangkat sama-sama dengan Dino dan Felisa. Jadi, Rio mampir dulu ke rumah Dino. Bukan cuma Rio dan Weli, yang akan hadir ke syukuran Yulia. Tapi, Angga juga di undang oleh orang tua Yulia. Angga memang sangat dekat dengan orang tua Yulia. Karena, Angga dulu sering mengantar Yulia pulang ke rumah, saat mereka Sekolah dulu. Tahu Angga ada di Jogja, dengan senang hati mereka mengundang Angga ke syukuran Yulia. Faisal tidak mengetahui hal itu, sepertinya akan menjadi kejutan untuk Faisal.
To be continued
Terimakasih yang sudah setia membaca novel "Suamiku tak pernah mencintaiku" dari part awal, sampai sekarang. Jika masih banyak kekurangannya, mohon dimaklumi ya. Ditegur juga boleh, dengan senang hati menerima saran dari para readers.
__ADS_1