Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Apes


__ADS_3

Sisi benar-benar tidak bisa di hubungi oleh Hanif. Hingga menjelang pulang kerja pun, wanita itu tidak menjawab telpon dari Hanif. Sesekali Hanif mengumpat kesal, karena dia tidak bisa tahu kabar kekasihnya seharian ini.


"Sesibuk itukah kamu, sayang? Sampai kamu gak sempat menjawab telponku," gumamnya.


Hanif berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju tempat parkir dengan pikiran kacau dan perasaan kalut. Hingga semua orang yang menyapa dia, tidak mendapat tanggapan dari pria itu.


Saat sudah berada di lobi rumah sakit, dia melihat Faisal yang juga akan keluar dari arah bersamaan dengannya. Hanif langsung menghampiri calon mertuanya itu. Untuk menanyakan apakah Sisi mengabari Faisal.


"Dokter Faisal!" seru Hanif dari belakang. Yang punya nama, menoleh lalu menghentikan langkahnya saat mengetahui siapa yang memanggilnya.


"Dokter Hanif! Baru mau pulang?" balas Faisal menyunggingkan senyumnya.


"Iya, Dok!" jawab Hanif singkat.


Hanif terlihat gugup saat akan menanyakan kabar kekasihnya pada calon mertuanya itu. Tapi rasa penasarannya mengalahkan kegugupannya. Dengan mengumpulkan keberaniannya, dia pun mengutarakan maksudnya.


"Maaf, Dok. Ada yang ingin saya tanyakan pada Dokter?" Faisal mengangkat sebelah alisnya. Perasaannya mulai tidak enak. Saat calon menantunya itu terlihat serius dengan ucapannya.


"Ada apa, Dok. Apa ada masalah?" jawab Faisal balik bertanya.


Dengan menahan kegugupannya, Hanif pun membuka suaranya. "Apa, Sisi seharian ini ada mengabari, Dokter?" Pertanyaan Hanif membuat Faisal tersenyum lega. Setelah itu dia menepuk pundak Hanif seraya berkata.


"Oh, itu. Sisi belum ngabarin saya. Sejak berangkat tadi, saya telpon juga tidak di angkat. Mungkin dia tidak sempat melihat ponselnya. Biasanya, kalau mentor dari luar negeri yang memberi materi memang seperti itu. Handphone peserta harus di matikan." Jawaban Faisal sedikit membuat perasaan Hanif menjadi lega. Setidaknya bukan cuma dia, yang tidak di jawab telponnya.


"Oh begitu, ya Dok. Terimakasih atas jawabannya!" Faisal tersenyum melihat tingkah calon menantunya yang terlihat cemas karena putrinya tidak menjawab teleponnya.

__ADS_1


"Iya, sama-sama. Sudah mau pulang sekarang?" tanya Faisal.


"I-ya, Dok!"


Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke parkiran. Dan memisahkan diri saat sudah sampai di parkiran.


Di tempat lain.


Seorang wanita baru saja keluar dari aula hotel tempat di selenggarakannya seminar itu. Setelah sudah berada ada di luar. Sisi langsung membuka tasnya untuk mengambil ponsel yang ia simpan di sana. Selama seminar berlangsung, dia tidak sempat memegang handphone. Karena panitia tidak memperbolehkan peserta seminar bermain handphone saat pemateri menyampaikan materinya.


Saat jam makan siang pun, hanya di beri waktu untuk makan siang dan sholat Dzuhur bagi seorang muslim. Oleh karena itu, Sisi tidak bisa memberi kabar pada Hanif.


Saat ponselnya udah ada ditangannya. Dilihatnya oleh Sisi beberapa panggilan masuk dari nomor Hanif, ayahnya, dan bundanya. Tak hanya di historis panggilan. Nontifikasi pesan pun berentet pesan masuk dari handphone nya.


Saat Sisi akan menghubungi Hanif tiba-tiba ponselnya mati karena baterainya habis. Wanita itu terlihat menghembuskan nafasnya di udara. Karena tidak berhasil menghubungi kekasihnya. Dapat lihat dari isi pesan Hanif. Pria itu sangat mengkhawatirkan keadaan dirinya.


Usai membersihkan wajahnya, wanita itu keluar dari toilet umum yang berada di lantai dasar hotel itu. Sisi sudah berada di halaman hotel itu. Ketika akan melangkahkan kakinya menuju parkiran, ada seseorang yang memanggilnya.


"Sisi!!" sapa Iqbal dari arah berlawanan.


"Iqbal!!" Sisi berniat akan mengabaikan seruan Iqbal. Mengingat dia harus menjaga jarak dengan pria itu.


Sejurus kemudian, Iqbal mengejar Sisi yang sedikit berlari menghindari dia. Iqbal sendiri bingung, dengan sikap Sisi yang berubah seperti itu.


"Si!! kenapa kamu menghindari ku?" tanya Iqbal saat dia sudah berhasil mengejar Sisi. Mereka berjalan beriringan, Iqbal mengikuti kemana kaki Sisi melangkah.

__ADS_1


"Sisi, katakan padaku? Apa aku sudah melakukan kesalahan padamu?" cecar Iqbal yang tak mendapat balasan dari Sisi.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau menjawabnya. Aku akan pergi dari sini." Iqbal menyerah, dia tidak mungkin memaksa Sisi untuk bicara dengannya. Sementara wanita terlihat ingin menghindarinya.


"Maafkan aku, Bal. Aku harus menjaga perasaan orang yang aku cintai. Dia tidak bisa menerima kedekatan kita. Walaupun, kedekatan kita hanya sekedar hubungan persahabatan," batin Sisi.


Sisi sudah sampai di depan mobilnya. Saat dia akan naik kedalam, ban mobil depannya kempes. Disaat itu juga gemuruh suara petir dan kilauan kilat menghiasi langit di sore itu.


Wanita yang memakai hijab warna peach itu, kemudian berjalan mencari bantuan pada orang yang berada disekitarnya. Untuk memesan taksi, dia harus berjalan lima ratus meter menuju jalan raya. Itu akan memaksa waktu yang lama, apalagi titik demi titik air dari atas mulai menghiasi tempat itu. Dalam hati dia mengumpat kesal. Kenapa disaat dia membutuhkan seseorang tidak ada orang yang menolongnya.


Hingga sebuah mobil sedan keluaran baru berhenti di sampingnya. Dari dalam mobil terlihat seorang pria yang memakai jaket kulit menghampiri Sisi Dangan sebuah payung ditangannya.


"Ayo, naik saja ke mobilku. Sebentar lagi hujannya akan turun," ucap pria itu. Sisi hanya menunduk malu. Hatinya di liputi kebimbangan. Antara menerima tawaran pria itu atau menjaga perasaan tunangannya. Akhirnya, dia tidak punya pilihan lain. Selain menerima tawaran Iqbal untuk masuk ke dalam mobilnya.


Iqbal mengawal Sisi hingga masuk ke mobilnya. Sisi duduk di sebelah tempat duduk pengemudi. Setelah memastikan Sisi masuk kedalam mobilnya. Iqbal berlari memutari mobilnya untuk masuk ke dalam dan siap untuk menginjak gas mobil itu. Secara bersamaan hujan turun begitu lebatnya hingga, merusak pandangan Iqbal yang sedang menyetir. Karena air yang begitu deras menghujam kaca mobil di bagian depan.


Iqbal tidak bisa melajukan mobilnya dengan cepat. Karena keterbatasan pandangannya. Di tambah banyak pohon-pohon tumbang di sepanjang jalan. Tapi masih bisa, di lewati.


Kira-kira berjalan lima kilometer meter, mobil Iqbal berhenti. Karena banyak mobil di depan yang sedang mengantri agar bisa lewati jalan itu. Ditengah keheningan yang sedari tadi mencengkram dua orang manusia yang berada di dalam mobil itu. Akhirnya, Iqbal bertanya pada wanita yang berada di sebelahnya.


"Si, kamu kenapa menghindari aku?" Pertanyaan itu lagi yang keluar dari mulut Iqbal. Sungguh dia masih penasaran dengan jawabannya.


"Aku nggak menghindari kamu. Hanya saja, aku sedang buru-buru," kilah Sisi memainkan ujung jarinya. Sungguh, dia begitu gugup saat sahabatnya masih mencecar pertanyaan itu.


"Oh, karena itu. Bukan karena, dokter Hanif cemburu dengan aku?"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2