Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Cemburu


__ADS_3

Seperti pagi-pagi biasanya. Rutinitas keluarga Faisal, sarapan bersama untuk memulai aktivitas hari ini. Faisal yang sudah menunggu Sisi di garasi, tapi putrinya tak kunjung datang. Lantas sedikit berteriak memanggil putrinya.


"Sayang Cepetan, udah telat nih." Dengan sedikit lari, Sisi pun menghampiri ayahnya. Si kembar pun sama.


"Yah, Fatan mau bawa mobil sendiri aja ya. Fatan janji gak ngebut-ngebut deh!" Seru Fatan meminta izin mengendarai mobilnya sendiri.


"Sayang, ayah belum percaya kamu mengendari mobil sendiri. Ingat kejadian beberapa bulan lalu. Kamu hampir menyelakai orang, karena nyupir ugal-ugalan." Sepertinya Faisal belum mempercayai Fatan lagi untuk mengendarai mobilnya sendiri. Karena dia hampir menabrak tukang somay yang sedang melintas dijalan.


"Ya ampun Yah. Ngendarai mobil aja gak boleh. Gini mau nerbangin pesawat," gerutu Fatan yang masih terlihat kesal pada ayahnya.


"Itu gara-gara kamu. Nyopir ugal-ugalan sampai ayah nyambut izin nyetir kita," timpal Fatin yang mulai masuk ke mobil.


"Ayolah Yah, Mang Darma biar anterin bunda ke butik aja. Mobilnya Fatan yang bawa," bujuk Fatan yang belum berhenti merengek.


Perdebatan mereka terhenti saat sebuah mobil sedan berwarna silver berhenti di depan pintu pagar rumah Faisal. Seorang pemuda yang memakai kemeja berwarna hijau muda turun dari mobil tersebut. Satpam Faisal pun langsung membukakan pintu pagarnya.


Hanif langsung mendekati Faisal dan anak-anaknya yang masih berdiri di garasi. Seulas senyum terpancar dari bibir Sisi. KSR pemuda idamannya datang menjemputnya.


"Cie kak Sisi ada yang ngapelin," celetuk Fatan menggoda kakaknya. Sisi langsung menjitak kepala adiknya.


"Udah sana cepetan berangkat!" Titah Sisi pada adiknya itu.


"Pagi dokter Faisal, pagi Sisi," sapa Hanif saat sudah ada dihadapan Faisal dan Sisi.


"Pagi dokter Hanif," balas Faisal tersenyum ramah pada calon mantunya.


"Saya mau izin menjemput Sisi untuk berangkat bareng sama saya. Apakah dokter keberatan?"


"Oh. Boleh-boleh, yang penting anak gadis saya jangan diapa-apain, hehehehe," goda Faisal, langsung mendapat lirikan mau dari putrinya.


"Tan, mau berangkat gak nih!!!!" Teriak Fatin dari dalam mobil.


Fatan pun langsung bergegas menuju mobil yang sudah menyala itu. Disusul oleh Sisi dan Hanif.

__ADS_1


Faisal hanya tersenyum melihat tingkah anak-anaknya. Setelah itu masuk ke mobil dan langsung menuju rumah sakit.


Di dalam mobil Sisi selalu menggoda Hanif, dengan segala kebanyolannya. Hanif pun sangat terhibur dengan itu. Saat-saat seperti itulah yang membuat dia jatuh hati pada wanita yang duduk di sampingnya itu. Sehari saja tidak mendengar banyolan Sisi, Hanif merasa hidupnya ada yang kurang.


Sampai juga mereka ke rumah sakit. Seperti biasanya Hanif menghampiri penjual bunga yang menjajakan dagangannya di seberang rumah sakit itu. Sisi menatap bingung pria itu, untuk apa setangkai bunga itu. Mungkinkah diberikannya untuk dirinya. Tapi pikirannya terhenti saat Hanif mengajaknya masuk kedalam, tanpa memberikan bunga itu untuknya.


"Untuk siapa bunga itu?" tanya Sisi menyelidik.


"Untuk Bilqis," jawabnya singkat. Jawaban Hanif menghentikan langkah Sisi.


"Kenapa?" Hanif pun ikut berhenti.


"Bilqis!" Hanif mengangguk.


"Sepertinya kamu terlalu mengistimewakan dia. Aku takut, dia akan salah menafsirkan kebaikan mu!" Hanif pun langsung mengerutkan keningnya.


"Kamu cemburu?"


Pertanyaan apa itu. Wanita mana yang tidak cemburu, kalau pasangannya memberi perhatian lebih pada wanita lain. Pikiran itu terlintas di kepala Sisi. Tapi dia tidak mungkin mengakuinya.


"Sudahlah, ayo cepetan masuk." Sisi pun berjalan duluan, membuat Hanif menggeleng kepalanya. Dia tidak mengerti, kenapa sikap kekasihnya itu menjadi berubah. Dia merasa apa yang dia lakukan hal yang wajar. Karena semua pasien yang ia tanganin secara khusus. Memang selalu ia perhatian lebih. Tujuannya untuk memotivasi pasiennya agar mau berjuang melawan penyakit mematikan itu.


Hanif pun langsung masuk ke ruangan Bilqis terlebih dahulu untuk memberikan bunga itu padanya. Seperti biasanya kata-kata motivasi selalu ia tuturkan untuk menyemangati pasiennya itu. Bahkan Hanif pun menyuapi Bilqis karena makanannya belum ia sentuh. Hari ini hari terakhir Bilqis dirawat di rumah sakit. Karena kondisinya mulai stabil, sejak dia koleb beberapa waktu yang lalu. Bilqis hanya tinggal menjalani rawat jalan dan kemoterapi untuk membunuh sel kanker yang ada ditubuhnya.


Usai memberikan bunga dan menyuapi Bilqis. Hanif pun kembali ke ruangannya. Di sana dia melihat Sisi yang sedang cemberut menunggu dirinya.


"Kok lama, ngapain aja disana. Pasti modus!" cetusnya sembari mendudukkan dirinya di kursi.


"Kamu ini kenapa? Kok marah-marah terus sih! Gak biasanya deh." Sisi pun juga heran apa yang terjadi padanya. Padahal kemarin-kemarin dia tidak seperti ini.


Tapi rasanya ada yang aneh dalam hatinya. Dia merasa takut kehilangan Hanif.


"Sekarang juga lebih sering ngelamun!" lanjut Hanif yang menatap aneh wanita di sampingnya.

__ADS_1


Mereka tidak melanjutkan perdebatannya. Karena pasien mulai berdatangan. Hanif juga harus mengecek kondisi pasien yang baru saja datang. Pasien yang menderita kanker payudara, jadi dia tidak satu ruangan dengan Sisi. Semakin banyak juga pasien yang konsultasi mengenai penyakit berbahaya itu. Sampai tidak terasa, jam makan siang pun tiba.


Sisi menghentikan aktivitasnya dan mencari keberadaan Hanif. Sudah berkeliling mencarinya. Namun tak kunjung, ia temukan. Akhirnya dia memilih untuk ke cafetaria terlebih dahulu. Tapi saat dua melintas ruangan Bilqis. Dia ingin menengok sahabatnya terlebih dahulu.


Kebetulan Bilqis sedang istirahat. Namun makanan yang ada di mejanya masih belum disentuh. Felisa yang baru masuk kedalam, menyadari ada Sisi disana. Dia menyapa ponakannya itu.


"Si, udah dari tadi di sini?" tanyanya sembari cipika-cipiki dengan Sisi.


"Belum Tan, tadi kebetulan mau ke cafe. Tapi Sisi mampir kesini dulu."


Mendengar ada suara perbincangan, Bilqis pun bangun dari tidurnya.


"Bunda, Kak Sisi." Sisi pun langsung mendekati sahabatnya itu.


"Kok makanannya belum dimakan?" tanya Sisi mengambil mangkok berisi bubur di meja.


"Iya Bilqis susah sekali kalau disuruh makan. Tadi pagi aja kalau bukan yang nyiapin dokter Hanif, dia nggak mau makan," sahut Felisa. Sisi yang mendengar itu hatinya terasa sakit. Dia bahkan tidak menyangka, kalau Hanif sudah sedekat itu dengan Bilqis.


"Kak Sisi kenapa?" Melihat Sisi bengong, Bilqis pun langsung bersuara.


"Ya udah sekarang biar Kak Sisi aja yang suapin kamu. Atau kamu mau Kak Sisi panggilkan dokter Hanif untuk menyuapi kamu." Bilqis pun langsung menolaknya.


"Nggak usah Kak. Bilqis malu, ih!" Sisi pun tersenyum getir menanggapi jawaban Sahabatnya itu.


"Ya udah Tante tinggal dulu ya. Mau sholat Dzuhur dulu. Bentar lagi Om Dino kesini juga kok." Felisa pun pamit keluar.


Dengan telaten Sisi menyuapi Bilqis. Meskipun entah kenapa, dia semakin terluka apalagi mengingat ucapan Felisa tadi. Hatinya seakan hancur.


"Dek, kamu suka ya dengan dokter Hanif?" Pertanyaan Sisi membuat Bilqis tersedak. Dengan cepat diambilkan minum oleh Sisi.


"Iya Kak."


To be continued...

__ADS_1


Maaf sebelumnya jika ada kemiripan alur cerita Bilqis dan Sisi ini. Tapi author sudah memikirkan mau dibawa jalan ceritanya. Apapun itu, kalian harus hargai ya. Meskipun tidak sesuai dengan keinginan kalian para reader...


Cerita ini murni khayalan author. Tidak menjiplak karya orang lain...


__ADS_2