
Diwaktu yang sama, seorang pria yang identik dengan kacamata nya masuk kerumah Faisal. Sang pemilik rumah pun kebetulan ada di diruang tamu.
"Eh Dokter Hanif, sini masuk!" sapa Faisal saat terdengar suara di luar.
Mereka berdua kemudian masuk kedalam dan menyuruhnya untuk duduk di sofa ruang tamu. Selang beberapa saat Sisi datang dari dalam.
"Ayah apaan sih, malu Yah." Faisal pun tergelak saat putrinya tersipu malu.
"Maaf Dok, saya mau mengajak Sisi jalan. Saya minta izin," ujar Hanif dengan penuh keyakinan.
Yulia yang baru datang dari ruang tengah sempat terkejut melihat putrinya sudah dandan dan mau pergi. Wanita berhijab abu-abu itu pun tidak mengetahui kalau ada Hanif di samping putrinya.
"Eh Dokter Hanif, sudah lama disini? Sampai gak tahu kalau ada tamu," kata Yulia lalu duduk di samping Suaminya.
"Belum lama kok Tante," balas Hanif dengan senyum di bibirnya.
"Kalian mau keluar?' Lanjut Yulia
"Iya Sayang. Dokter Hanif mau izin bawa putri kita keluar," jawab Faisal melihat kearah istrinya.
"Ya sudah kalian boleh keluar. Tapi pulangnya jangan malam-malam ya," pinta Yulia pada keduanya.
Setelah mendapat izin dari kedua orang tua Sisi. Hanif pun langsung mengajak kekasihnya jalan. Tinggallah Faisal dan Yulia disana.
"Tuh Mas, orang nih ngajak jalan Yulia kek. Biar gak stres di rumah terus," keluh Yulia pada suaminya. Melihat istrinya merenggut Faisal langsung mendekap tubuh Yulia.
"Kita jalan nya di pulau kapuk aja Yuk!" bisik Faisal mendapat cubitan kecil dari Yulia.
"Auhhh, sakit sayang. Jahat banget sih!" Faisal langsung melepas pelukannya dan memegangi pinggangnya yang di cubit oleh istrinya.
__ADS_1
"Habisnya gak tahu umur sih. Gak malu tuh sama anak-anak," timpal Yulia semakin merengut. Faisal malah semakin gemes lihat istrinya yang seperti itu. Dia semakin gencar menggodanya.
"Hmmm sayang, Mas udah kangen nih! Yuk!" lirih Faisal mendapat pelototan dari Yulia.
Faisal langsung mengajak istrinya ke kamar. Sepertinya dia berhasil merayu Yulia untuk diajak Uwu uwu. Mereka pun sudah ada di kamar.
Faisal memeluk tubuh istrinya dari belakang. Jilbab yang dikenakan Yulia pun perlahan ia tanggalkan. Diciumnya rambut milik istrinya dengan lembut, setelah itu turun kejenjang leher wanita itu. Yulia semakin menggeliat karena perlakuan suaminya. Tangan Faisal pun sudah mulai bergelirya di gunung kbsr milik istrinya, hingga resleting yang menghanginya pun perlahan ia turunkan. Dengan nafas yang sedikit memburu, Faisal masih bermain di jenjang leher istrinya. Yulia pun semakin terbawa dalam permainan Faisal. Saat Faisal akan menanggalkan gamis istrinya. Sebuah ketukan pintu mengganggu aktivitas mereka.
"Bunda, Bun. Buka pintunya." Bunyi suara dari balik pintu. Yulia pun bergegas merapikan kembali rambutnya dan mengenakan hijab yang sudah dilepas oleh Faisal. Pria paruh baya tapi masih terlihat gagah itupun mengelap mukanya kasar. Karena usahanya untuk pergi ke pulau kapuk bersama istrinya gagal.
"Mas itu buka pintunya," pinta Yulia yang gemes lihat suaminya tak kunjung membukakan pintu.
"Iya-ya." Faisal pun langsung melaksanakan perintah istrinya. Dibukanya pintu itu, ternyata Fatan yang sudah berdiri di ambang pintu pun meringis melihat wajah ayahnya yang terlihat kusut.
"Ayah ngapain sih di dalam. Masih sore Yah. Itu ada tamu di luar," ujar Fatan memberitahu ayahnya.
"Siap?" tanya Faisal.
Dua orang pria sedang berbincang di ruang tamu rumah Faisal. Mereka adalah pak Prayoga dan Pak Burhan. Orang yang berpengaruh besar terhadap rumah sakit yang di kelola Faisal. Mereka adalah orang-orang kepercayaan pak Erlangga yang ditugaskan untuk membantu menantu angkatnya dalam menjalankan amanah yang dia tinggalkan.
Faisal langsung menyalami keduanya. Setelah itu ikut bergabung bersama mereka berdua. Selang beberapa bulan Imah datang membawa minuman untuk tamu majikannya.
"Wah saya merasa terhormat dengan kedatangannya Bapak-bapak disini. Sudah lama kita tidak bertemu langsung." Faisal membuka percakapan, kedua tamunya pun merasa tersanjung dengan ucapan Faisal.
"Ah Psk Faisal ini terlalu berlebihan. Jadi begini pak, saya ditugaskan oleh pak Erlangga untuk menyerahkan ini." Pak Burhan menyerahkan beberapa dokumen yang di bungkus map berwarna coklat. Faisal pun menatap bingung dokumen-dokumen itu.
"Ini apa Pak?" tanya Faisal mengambil salah satu dokumen itu.
"Pak Erlangga mewariskan semua aset miliknya yang ada di Indonesia untuk Bu Yulia. Saat ini beliau sedang sakit parah. Dua hari lalu dia sudah mendatangkan pengacaranya untuk mengurus pemindahan atas nama asetnya dengan nama Bu Yulia. Jadi kami hanya memberikan sertifikat dan surat-surat nya kepada Bapak." Faisal terkejut mendengarnya. Baginya, dia tidak pantas menerima semua itu. Tapi, dia juga tidak bisa menolaknya.
__ADS_1
"Sebentar saya panggil istri saya dulu." Sebelum Faisal beranjak dari duduknya. Yulia pun sudah muncul dari dalam mendekat kearah suaminya. Faisal menceritakan maksud kedatangan kedua tamunya itu. Yulia begitu syok mendengar berita itu. Bukan syok karena mendapat warisan dari pak Erlangga. Tapi syok mendengar kabar kalau papa angkatnya sedang sakit parah.
Dengan terpaksa, pasangan suami istri itu menerima pemberian pak Erlangga. Setelah menyampaikan amanatnya pada Faisal, pak Prayoga dan psk Burhan pun pamit pulang.
"Kasihan Papa," gumam Yulia. Faisal yang mendengarnya ikut menenangkan istrinya.
"Besok kita ke Singapura, untuk menjenguk beliau. Sekalian mengucapkan terimakasih pada beliau." Yulia kemudian menghambur dalam dekapan suaminya. Yulia sangat bersyukur. Karena Faisal sekarang lebih mengerti dirinya. Tanpa diminta Faisal selalu memberikan perhatiannya untuk dirinya.
Disebuah taman kota banyak muda-mudi yang menghabiskan malam yang itu disana. Salah satunya pasangan yang lagi baper-bapernya. Hanif dan Sisi tampak duduk di sebuah bangku tak jauh dari air mancur. Sembari menikmati pemandangan indah malam itu. Lampu-lampu kecil di disain khusus mempercantik taman itu.
"Kamu mau ngomong apa sih sayang. Kok ngajak aku kesini!" seru Hanif memegang tangan Sisi.
"Aku punya kabar gembira buat kita," balas Sisi tersenyum bahagia.
"Apa?" Hanif menatap mata gadis dihadapannya itu.
"Bilqis udah jadian Lo sama Iqbal." Mata Hanif membelalak sempurna.
"Serius? Kok bisa? Bukannya dia suka padaku?" cecar Hanif membuat Sisi merengut.
"Terus aja terus, paket diingetin segala. Suka?" ejek Sisi semakin kesal.
"Ya gitu aja marah sayang. Kamu mau balon. Tuh lihat ada balon bagus banget, aku beliin yah," bujuk Hanif yang mulai menarik dirinya dari bangku taman. Namun dengan cepat ditarik oleh Sisi.
"Gak usah. Sini aja!" Hanif pun mengurungkan niatnya.
"Bilqis sadar kalau perasaannya ke kamu cuma sekedar kagum saja. Dia menemukan cinta sejatinya. Dan itu ada pada Iqbal.” Hanif pun hanya mengangguk.
"Bagus dong berarti sudah tidak ada masalah lagi dengan hubungan kita. Jadi besok Bundaku akan melamarkan resmi kamu untukku." Wajah sisi pun mulai berbinar. Dia tidak menyangka kalau Hanif akan secepat ini meresmikan hubungannya.
__ADS_1
"Nanti biar aku langsung yang memberi tahu Papamu," lanjut Hanif lagi.
"Makasih ya sayang. Kamu sudah mau mempertahankan hubungan kita."