Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Bertemu dengan dia


__ADS_3

Hanif sudah mulai dengan aktivitasnya, setelah hampir sepuluh hari dia tidak masuk kerja, hari ini dia sudah kembali bekerja. Dia berjalan lorong demi lorong rumah sakit untuk mengecek pasiennya. Tiba saatnya langkahnya terhenti di sebuah ruang rawat melati 06. Seorang pasien yang bernama Hanum, sudah tiga hari di rawat di sana. Sebelum Hanif yang menangani pasien itu, dokter Surya yang menanganinya. Menariknya dengan pasien itu adalah, semangatnya yang menggebu melawan penyakit mematikan itu.


"Selamat pagi!" sapa Hanif yang baru saja masuk kedalam. Seulas senyuman terukir dari dua wajah wanita yang ada di sana. Salah satunya adalah Hanum, wanita itu tampak sedikit segar dari pertama masuk ke sana.


"Pagi, Dok!" balas keduanya.


Hanif mulai mengarahkan stetoskop kearea dada wanita itu. Seulas senyum tipis terpancar dari bibir Hanif. "Apa yang anda rasakan sekarang?" Kemudian bertanya pada Hanum. "Apa masih sering pusing?" tanyanya lagi.


"Nggak Dok, sudah tidak pusing. Tapi, saya merasa mual," terang Hanum, menautkan kedua alisnya.


"Itu hal yang wajar untuk pasien yang sedang menjalani kemoterapi. Pengaruh obat-obatan sangat mendominasi, sehingga menimbulkan rasa mual. Tapi, perkembangannya cukup baik. Kalau ada peningkatan seperti ini, kemungkinan untuk sembuh sangatlah besar," ujar Hanif menjelaskan kondisi Hanum.


"Terimakasih, Dok!" sahut wanita paruh baya di samping Hanum, wanita itu ada ibu kandungnya.


"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu!" Hanif melangkahkan kakinya kembali untuk keluar dari ruang itu, namun saat dia membuka pintu Alira berdiri tepat di hadapannya. "A..lira?" terkanya mengedipkan kedua matanya.


"Hanif? Kamu disini?" balas wanita itu seraya menunjuk dirinya.


"Eh iya. Saya dokter yang menangani Hanum," jelas Hanif, memainkan jari-jarinya agar tak terlihat gugup di depan Alira.


"Wah kebetulan sekali. Kamu harus bisa sembuhkan adik ku!" cetuk Alira tersenyum menggoda pada Hanif.


Hanif tersenyum mengangguk, "saya permisi dulu!" Kemudian pamit pada Alira.


"Oh, Ok.. sampai ketemu lagi, nanti!" ucap wanita itu mengedipkan sebelah matanya.


Tampak jelas dari wajah Hanif yang tersipu malu, melihat keberanian Alira menggoda dirinya, dia kembali melanjutkan langkahnya untuk memeriksa pasien lainnya.


Usai memeriksa beberapa pasiennya, Hanif memutuskan untuk istirahat sejenak di ruangannya. Dia masuk, lalu duduk di kursi kebesarannya. Di letakkan nya stetoskop yang mengalung di lehernya di atas meja. Dia menyatukan kedua telapak tangannya, sambil menggoyang-goyangkan kursinya ke kanan dan ke kiri. Seulas senyuman sumringah terpancar dari pria itu, setelah kepedihan menghinggapinya akhir-akhir ini. Bayangan Alira, menyeruak dalam benaknya.


"Kita bertemu lagi, Ra!! Kamu....gak pernah berubah, masih sama seperti dulu!" gumamnya menyunggingkan sebelah bibirnya. "Itu yang aku suka dari mu, Ra... Keberanian mu menggodaku...menentengkan...ah.... Kenapa kamu datang di saat yang tepat, di saat hari ini tergores luka yang menganga, apakah?..... siftttt" umpatnya memukul keningnya.


Hanif seperti menemukan dirinya lagi, saat bertemu dengan Alira. Sosok wanita yang pernah mengisi hatinya, jauh sebelum mengenal Sisi. Namun sekelebat bayangan Ilham mengancam lamunannya. Tapi...tunggu...tunggu... Bukankah Ilham sudah bersatu dengan Sisi, ah....itu gak akan mungkin terjadi. Ilham gak akan mungkin tertarik dengan Alira. Kalaupun iya, sudah dari dulu mereka jadian. Buktinya? Gak, kan?


Lamunannya berakhir saat suster Diana mengetuk pintu ruangannya, "masuk!" titahnya dari dalam.


"Makan siang yuk, Dok!" ajak Suster Diana.

__ADS_1


"Ehmmm, boleh!"


Mereka akhirnya meninggalkan ruangan itu menuju kantin, karena jam makan siang sudah tiba. Tak seperti hari-hari yang lalu, wajah Hanif yang terlihat muram. Kini, sudah kembali bersemi. Dan itu di rasakan oleh rekan kerjanya itu, suster Diana.


Suster Diana memang yang lebih dekat dengan Hanif di banding rekannya yang lain. Mungkin karena mereka sering satu kerja, jadi terlihat akrab.


"Hmmm, tumben tuh muka gak di tekuk lagi?" godanya di sela menyantap makanan yang mereka pesan.


"Apaan sih, sok tahu kamu tuh!!!!" elak Hanif meletakkan sesaat sendok dan garpu nya di atas piringnya.


"Beneran? Udah move on yang di tinggal nikah sama mantannya!" salak Suster Diana lagi menekankan kata mantan, disana.


"Gak usah mulai, deh!!!!" Suster Diana pun tergelak.


"Lucu, kamu tuh lucu!" Hanif mengernyit keningnya.


"Apanya yang lucu?" tanyanya heran.


"Udah ah, habiskan makananmu. Kamu kelihatan kurusan sekarang?"


Suster Diana memang sangat dekat dengan Hanif, saat mereka di rumah sakit. Namun, hubungan mereka hanya sebatas teman gak lebih. Karena suster Diana sudah memiliki suami dan satu orang putri. Sebelum bekerja di rumah sakit itu pun mereka sudah saling kenal. Bahkan suster Diana tahu semuanya tentang Hanif.


Mentari sudah beralih kebagian barat, itu artinya hari sudah sore. Jam kerja pun sudah berakhir, kecuali mereka yang sedang melembur. Sama halnya dengan Hanif, pria itu sudah memasukkan barang-barangnya ke dalam tasnya. Sebelum pulang, dia memutuskan untuk sholat ashar terlebih dulu. Karena rencananya dia akan mampir dulu ke supermarket, belanja bulanan.


Selepas sholat di mushola, Hanif berjalan menuju ke tempat parkir. Namun langkahnya terhenti saat, Alira baru saja keluar dari ruangan adiknya.


"Ra!!!!" panggilnya, dan yang punya nama menoleh. Hanif langsung berlari mendekat.


"Mau kemana?"


"Pulang? Kamu sendiri dari mana?'


"Dari mushola!"


Mereka mulai melangkahkan kakinya beriringan sambil ngobrol.


"Kamu tinggal di Jogja sekarang?" Alira mengangguk.

__ADS_1


"Kamu sendiri, sudah lama tinggal di Jogja?" Alira balik bertanya.


"Kan memang, dari dulu aku tinggal di Jogja. Di Singapura kan, cuma kuliah!" Mereka berdua tersenyum.


Sesampainya di lobi, Alira mengambil ponselnya untuk memesan taksi online. "Sinyalnya jelek, ih!!?" keluhnya, memajukan ponselnya untuk mencari sinyal yang ilang timbul, ilang timbul.


Melihat hal itu, Hanif memberikan ponselnya pada Alira. "Kamu mau telpon siapa, pake nomor ku aja. Nih!"


"Aku mau pesen taksi online. Gak apa, nih!"


"Nggak apa, pake aja!" Dengan ragu, Alira mengambil ponsel Hanif dan segera dia memesan taksi online dari ponsel Hanif, setelah selesai dia kembalikan ponselnya ke Hanif.


"Ehmmm, makasih ya!!"


"Iya!"


"Oh iya Nif, kamu masih ingat Ilham nggak?" Seketika wajah Hanif memerah mendengar nama Ilham di sebut oleh Alira. "Dia udah nikah Lo, belum lama ini!" Kini dadanya yang terasa sesak. "Sama orang Jogja juga." Alira menoleh kearah wajah Hanif.


"Kamu kenapa, Nif? Jangan bilang kalian masih menjadi rival!!!" Alira tergelak.


"Sudahlah, gak usah bahas lagi tentang dia!" ucapnya dengan malas, Hanif memilih mengarahkan wajahnya ke arah lain, dia tidak mau di interogasi lebih dalam lagi oleh Alira.


"Wah...wah ... Beneran nih! Kalian masih jadi rival... hahahaha. Nif, Nif. Masa lalu nggak usah di ungkit lah!"


"Udah Ra!!!!!" ucapnya dengan nada sedikit keras, Alira pun di buat bengong eh sifat Hanif yang barusan tadi. "Andai kamu tahu, Ilham masih menjadi orang yang merebut kekasih ku..." batin Hanif seraya menunduk.


"Maaf, Ra. Aku gak bermaksud menggertak mu. Aku hanya..."


"ITS ok. Aku ngerti kok!" Alira menepuk pelan pundak Hanif. "Kamu sendiri gimana? Udah nikah belum?"


Pertanyaan dari Alira, tak kunjung di jawab oleh Hanif. Sehingga Aliran bis menyimpulkan. "Kamu pasti bakal dapat jodoh yang terbaik." Seketika wajah Alira berubah menjadi sendu.


"Kamu..." ucap Hanif menunjuk Alira.


"Aku?" Hanif mengangguk.


Tak lama setelah itu taksi pesanan Alira datang. Bergegas dia menghampiri taksi itu dan mengabaikan pertanyaan Hanif. "Aku duluan ya!" Alira masuk ke dalam mobil. Dan berlalu begitu saja meninggalkan sejuta pertanyaan dari benak Hanif.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2