Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Cara mencintai kita berbeda


__ADS_3

Keputusan Sisi sangatlah tidak adil untuk Hanif, pria itu melajukan mobilnya dengan kencang. Gemuruh di dadanya seakan meluap, mencari tempat untuk ia tumpahkan. Tanpa terasa cairan bening, merembes di pipinya.


"Kenapa? Kenapa kamu pilih pria sialan itu di banding aku, Si?" Stir pengemudi menjadi sasaran Hanif untuk meluapkan amarahnya, di pikuknya berulang-ulang kali olehnya.


Bu Tari yang melihat putranya hancur hanya bisa mencoba menenangkan. Dengan segala cara dia lakukan agar Hanif iklhas menerima pilihan Sisi. Sebenarnya tidak tega melihat putranya terluka untuk kedua kalinya oleh seorang wanita.


"Nif, kamu yang sabar ya! Jangan emosi begini, bahaya sayang!" Di raihnya lengan pria itu yang sedang fokus dengan menyetirnya.


"Ini sudah menjadi takdir kalian, kalian tidaklah berjodoh, sayang!" lanjutnya, Hanif tak bergeming.


"Sayang, terkadang apa yang kita inginkan tidak sesuai yang kita dapatkan. Tapi, percayalah sayang, Allah punya rencana yang lebih indah untuk hidup kamu." Perlahan hari Hanif mulai tenang, terlihat dari cara menyetir mobilnya yang sudah lebih santai.


Hanif memegangi pelipisnya dengan tangan bertumpu di pintu mobil. Merenungi kesalahan demi kesalahan yang pernah dia lakukan pada Sisi. Namun batinnya meronta, dia tidak terima dengan keputusan Sisi saat ini. Karena dia sangat yakin, kalau Sisi masih mencintainya.


Tanpa terasa mobil mereka sampai juga dihalaman rumah Hanif, segera dia masukkan mobilnya ke garasi dan langsung turun lalu masuk kedalam rumahnya. Hanya langsung menuju ke kamarnya.


Dengan terpogoh-pogoh Bu Tari berusaha mengejar Hanif. "Nif, tunggu sayang!" teriaknya. Namun, yang punya nama tak bergeming dan memilih masuk kedalam kamarnya, setelah itu menutup pintu kamarnya dengan kadar.


Hanif masih ada di balik pintu, langkahnya terhenti di sana. Bayangan Sisi yang memergoki dia saat ganti baju itu terlintas kembali. Diremasnya rambut Hanif, seraya meluncurkan pantatnya untuk duduk di lantai. Di balik pintu kamarnya, Hanif menangis sejadi-jadinya. Dia gagal mendapatkan Sisi kembali.


Dengan tangan berpangku pada lututnya, Hanif menatap nanar kearah ranjang. Andai dia bisa memutar kembali waktu, dia memilih untuk percaya pada Sisi saat itu. Tapi, penyesalan tinggal penyesalan yang tak akan pernah merubah keputusan Sisi yang memilih Ilham sebagai imamnya dalam biduk rumah tangga Sisi.


Suara ketukan dari luar, tak membuatnya beralih dari tempat itu. Dia juga tidak berniat untuk membukakan pintu kamarnya.


"Sayang, buka pintunya!" seru Bu Tari dari luar. "Nif, sayang!" Seraya mengetuk pintu kamar Hanif.


"Tinggalkan Hanif sendiri, Bun!" sahut Hanif dari dalam. "Hanif tidak ingin diganggu siapapun, Bun!" lanjutnya lagi dengan suara berat.


Dengan berat hati, Bu Tari meninggalkan kamar Hanif. Dia tidak mungkin terus-menerus memaksa putranya untuk bicara. Mungkin benar, saat ini Hanif butuh waktu untuk sendiri. Agar dia bisa merenungi kesalahannya selama ini, dan legowo menerima pilihan Sisi.


Sementara Hanif, dia masih sesegukan di kamarnya. Tatapannya kosong kearah depan. Dia masih bingung, langkah apa yang akan dia ambil. Yang jelas, dia masih tidak ikhlas menerima keputusan Sisi.


Setelah merenung cukup lama disana, Hanif kemudian menarik diri dari duduknya. Seolah mendapat angin segar, dia tersenyum sinis di tempat itu. Dia meraih ponselnya, setelah itu menghubungi seseorang di seberang sana.

__ADS_1


"Hotel candika? Ok, terimakasih!" serunya pada orang di seberang sana. "Aku harus temui dia saat ini!" lirihnya seraya tersenyum tipis.


Tak menunggu lama, Hanif keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuju ke garasi mobilnya, setelah sampai. Dia masuk kedalam dan langsung melajukan kembali mobilnya meninggalkan rumahnya. Tujuannya ialah di hotel tempat Ilham dan keluarganya menginap.


Selama kurang lebih tiga puluh lima menit, Hanif sampai di hotel tersebut. Dia keluar dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkiran. Dengan langkah tergesa, dia berjalan menuju ke ruang receptionis.


"Tamu atas nama Muhammad Ilham Afshrizi menginspirasi di kamar berapa," tanyanya pada pegawai receptionis.


Pegawai itu tampak mencari nama yang disebutkan oleh Hanif di buku tamu. Setelah mencarinya berulang-ulang kali, namun pegawai itu tak menemukannya.


"Atas nama Muhammad Ilham Alfahrizi tidak tercantum di sini, Pak!" jawab pegawai receptionis itu.


Hanif tampak memutar kedua bola matanya, dia menelaah kata-kata dari pegawai itu. Setelah mendapatkan sesuatu, dia kembali bertanya lagi pada pegawai itu.


"Kalau atas nama Kyai Abdullah?"


"Oh, iya ada. Beliau menyewa dua kamar di hotel kami. Kamar 203 dan 204," terang pegawai itu, Hanif pun mengangguk.


Belum jauh dia melangkah, tubuhnya menabrak seseorang. Hingga mereka berdua hampir terjatuh, "maaf!" seru Hanif yang tidak memperhatikan orang yang ia tabrak.


"Hanif!" seru pria itu dengan nada bingung.


Hanif terbelalak saat mendengar suara orang itu, dia seperti tidak asing dengan orang yang memanggilnya. Hanif langsung mengarahkan pandangannya kearah orang itu, tak kalah terkejutnya dia saat siapa yang ia lihat. "Ilham?" lirihnya dengan nada sinis.


"Nif, kenapa kamu ada di sini?" Belum sempat Ilham menyelesaikan kalimatnya, Hanif menarik tangan pria itu agar mengikuti kemana dia akan membawanya pergi.


Langkah mereka terhenti di sebuah taman yang terletak di seberang hotel itu. Hanif melepaskan tangannya dari lengan Ilham, sorot matanya menatap tajam kearah Ilham.


"Sejak kapan kamu mengenal Sisi?" Satu pertanyaan lolos dari bibir pria berkacamata itu.


Ilham tersenyum lebar menanggapi pertanyaan dari Hanif, pria itu lalu menepuk pelan pundak Hanif seraya berkata, "baru enam bulan ini!"


Sorot mata Hanif mengikuti tangan Ilham mendarat, setelah itu di hempaskan tangan itu dari pundaknya.

__ADS_1


"Jadi, sudah lama kalian menjalin hubungan?"


Ilham menggeleng. "Kami tidak pernah menjalin hubungan khusus, kecuali hubungan dosen dan mahasiswa."


Hanif tampak mengerutkan keningnya, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ilham.


"Kamu di jodohkan, Hanif. Tapi..."


"Berarti kalian tidak saling cinta?" pangkas Hanif tersenyum mengejek kearah Ilham.


Pun dengan Ilham, pria itu juga tersenyum. "Cinta?" Hanif terdiam. "Cinta itu datangnya dari hati, Nif. Dan di buktikan dari tindakan. Mungkin cara kamu mencintai Sisi beda dengan saya. Saya mencintai dia dalam doa, memintanya di sepertiga malam, saya merayu pemilik hati untuk disatukan dengan wanita yang sempurna. Seperti Sisi!"


Jawaban dari Ilham mampu membuat Hanif tercengang, pria itu hanya terpaku menatap nanar ke wajah Ilham. "Dan inshaa Allah, kami akan disatukan dalam ikatan cinta yang sesungguhnya."


"Nif, mungkin kamu lebih dulu bertemu dengan Sisi. Mungkin kamu yang lebih dulu menjalin hubungan dengan dia. Tapi, jika Allah tidak menghendaki, maka semuanya tidak akan bisa terjadi."


Terlalu banyak kata-kata yang keluar dari mulut Ilham, hingga telinga Hanif terasa panas mendengarnya. "Apa kamu tahu? Apa yang menyebabkan kami berpisah, hah?"


Ilham tersenyum lagi. Ekspresi dari pria itu tidak sesuai apa yang di bayangkan oleh Hanif. "Apa Sisi sudah menceritakannya padamu?"


"Sudah!"


Hanif memutar tubuhnya, tangan satunya di letakkan di pinggangnya dan satunya lagi mengelap mukanya dengan kasar. "Sift... Sial..."


"Sisi sudah menceritakannya semuanya padaku," tegas Ilham semakin membuat Hanif merasa malu.


"Nif, itu masalalu dia. Semua orang mempunyai masalalu, yang terpenting adalah dia yang sekarang. Saya tidak pernah melihat wanita dari masa lalunya. Lagian, tidak ada yang buruk dari masa lalu Sisi."


"Sial!!!!" Hanif kemudian pergi dari tempat itu dengan membawa malu dalam dirinya. Alih-alih ingin memanas-manasi Ilham, dia sendiri yang terlihat panas.


To be continued


Selepas teraweh up lagi...

__ADS_1


__ADS_2