
"Udah Kak, gak usah di pikirin. Hanya tinggal menunggu besok!" ucap Fatan memberi semangat kakaknya yang terlihat murung. Sisi begitu putus asa saat mendengar ucapan dari dokter Arumi. Rasanya aneh menurutnya, harusnya jika hasilnya udah keluar segera diberikan padanya. Tapi ini seakan ada yang mengaturnya. "Kakak harus percaya keajaiban. Semoga besok Fatan bisa tepat waktu mengambil hasil tesnya. Kakak tenang, ya. Sekarang kita Kemana Kak?" lanjut Fatan.
"Kita ke rumah Hanif, ya Dek! Kakak mau cepat selesaikan masalah ini dengan dia. Kakak akan ikhlas menerima keputusan dari dia." Sisi menoleh ke arah Fatan yang masih fokus menyetir.
"Kita mampir ke mushola itu dulu ya Kak, kita sholat ashar dulu!" ucap Fatan menunjuk mushola yang terletak tak jauh dari mobil mereka.
"Iya!"
Mereka melaksanakan sholat ashar yang sedikit terlambat. Usai sholat, Sisi berdoa agar keajaiban itu datang tepat waktu. Agar nama baiknya bisa kembali lagi. Jujur dirinya di liputi rasa bersalah dengan masalah yang ia hadapi. Beruntung orangtua dan keluarganya percaya dan memberi dukungan penuh pada wanita itu. Sehingga sedikit membuat hatinya tenang.
Setelah selesai mereka kembali ke mobil. Saat akan masuk ke mobil mereka, Sisi melihat ada Veronika dan ibunya yang berjalan kearahnya. Seraya tersenyum dua wanita itu menyapa dirinya.
"Hey, Dokter Sisi. Kok ada disini?" tanya Veronika basa-basi.
"Oh iya kamu ada keperluan di daerah sini. Dokter Veronika sendiri kenapa ada di sini?" Jawab Sisi kembali bertanya pada wanita itu.
"Oh ini, kita mau nunggu taksi, kebetulan rumah kami gak jauh kok dari tempat ini," jelas Veronica.
"Emangnya mau kemana? Siapa tahu satu arah, nanti bisa sekalian kita antar!" tawar Sisi.
"Wah, gak usah. Kita mau pergi ke rumah dokter Hanif. Malam ini kan, ada acara tahlilan di sana. Jadi, sekalian kita melayat. Karena waktu itu, kita belum bisa hadir pas pemakaman neneknya," terang Veronika. Entah kenapa hatinya Sisi begitu sakit mendengar nama pria yang masih ia sayang itu di sebut. Apalagi kalau dilihat-lihat Veronika suka dengan pria itu. Dan itu membuat hatinya semakin terluka.
"Ya sudah, kita juga mau kesana Kok! Bareng aja, ya!" ulang Sisi pada mereka berdua.
Akhirnya mereka ikut mobil yang ditumpangi Sisi dsn Fatan. Di dalam mobil tidak banyak percakapan diantara mereka. Hanya sesekali Veronika bertanya tentang hubungan Sisi dengan Hanif. Seperti saat itu. "Oh, iya Dok. Apa Dokter jadi menikah dengan dokter Hanif?"
"Eh..eh.." Belum sempet di jawab oleh Sisi, Fatan sudah lebih dulu memotong kata-kata Sisi.
__ADS_1
"Sepertinya Dokter Veronika terlalu ikut campur dengan urusan pribadi Kakak saya, harusnya dokter mengerti keadaan kakak saya seperti apa. Dokter tahu, kan?" salak Fatan yang terlihat kesal dengan wanita itu.
"Dek..."
"Iya, Maaf.." Hening kembali hingga mobil Fatan berhenti di depan rumah Hanif. Veronica dan mamanya terlebih dulu masuk ke dalam. Tinggal Sisi dan Fatan yang masih duduk di dalam mobil. Fatan menoleh kearah kakaknya. Dia melihat ada keraguan dari dalam diri kakeknya untuk turun dari mobil.
"Kak, Kaka yakin akan menemui Kak Hanif sekarang?" Sisi pun menoleh, dan mengangguk pelan.
semakin cepat semakin baik, Dek. Kakak harus berikan cincin ini pada Hanif!" lirih Sisi, air matanya mulai jatuh.
"Ok, kalau kakak yakin. Kakak hapus dulu air mata Kakak. Kakak harus kuat di depan dia. Jangan tunjukkin kesedihan Kakak di depannya. Dia tidak pantas untuk itu, dia laki-laki egois. Kita turun sekarang, biar Fatan yang temenin!" seru Fatan, dan Sisi pun melakukan apa yang di katakan oleh adiknya. Dia menghapus sisa-sisa air matanya setelah itu mengatur nafasnya dalam-dalam agar terlihat tegar di depan Hanif.
Sementara Sisi dsn Hanif turun dari mobilnya. Veronica sudah lebih dulu masuk dan sudah duduk di ruang tamu bersama mamanya. Bu Tari menyambut kedatangan mereka, dan memanggilkan Hanif yang berada di ruang tengah. Hanif keluar dari sana dan menemui mereka berdua.
"Dokter Hanif, maaf ya! Kamu baru bisa datang sekarang. Kemarin pas almarhumah meninggal, kita tidak tahu!" seru Veronika membuka percakapan dirinya dengan Hanif.
"Terimakasih atas kedatangannya. Gak apa!" balas Hanif dingin. Wanita itu tak tinggal diam, dia terus saja mencari perhatian dari Hanif.
"Iya, masih nanti malam. Diminum dulu nak Veronika dan ibu tehnya," sahut Bu Tari meletakkan nampan berisi teh hangat untuk mereka berdua.
"Kalau gitu, kita bisa bantu-bantu suapin makanan untuk orang tahlilan, ya kan Ma!" ujar Veronika pada ibunya.
"Iya, betul itu!" balas ibunya Veronika.
"Wah, tidak perlu repot-repot. Semuanya sudah selesai kok." Obrolan mereka terhenti saat dua orang yang berada di ambang pintu mengucap salam.
"Assalamualaikum!" seru mereka berdua.
__ADS_1
"Waalaikumussalam," jawab mereka serempak. Betapa terkejutnya Bu Tari melihat siapa yang datang. Beliau langsung mengganti mereka berdua, menyambut antusias kedatangan Sisi dsn Fatan.
"Sayang, Sisi!" Tanpa menunggu lama lagi, Bu Tari langsung menghambur di pelukan Sisi, wanita itu terisak bahagia karena bisa melihat Sisi lagi.
"Masuk sayang!" titahnya setelah melepaskan tubuhnya dari Sisi.
Berbeda dengan Bu Tari yang begitu senang melihat kedatangan wanita itu. Hanif justru menatap tajam dan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Sisi.
"Duduk, sayang! Bunda ambilkan minum dulu, ya." Bu Tari akan beranjak dari sana, namun segera Sisi mencegahnya.
"Nggak usah, Bunda. Sisi gak lama, kok! Sisi hanya.." Sisi menjeda kalimatnya, menatap kearah laki-laki yang duduk di seberangnya. "Sisi hanya ingin mengembalikan cincin ini ke Hanif!" lanjutnya sembari menunjukkan cincin dari dalam tasnya.
"Ya Allah, sayang! Kalian benar-benar akan mengakhiri hubungan kalian," lirih Bu Tari mulai menangis.
"Iya Bun, mungkin kita belum berjodoh. Kalau gitu, kami permisi dulu ya Bun." Setelah menyerahkan cincin itu pada Hanif, namun disambut oleh Bu Tari, Sisi berniat untuk segera pergi dari tempat itu. Dia sudah tidak kuat melihat wanita yang duduk disebelahnya menangis. Hatinya sakit, wanita itu sudah dianggap sebagai bundanya oleh Sisi. Tapi sepertinya tali silaturahmi itu akan berakhir saat Hanif sudah memutuskan pertunangannya dengannya.
Sisi dan Fatan berdiri dan mulai berjalan kearah keluar. Tapi dengan cepat Bu Tari mengejarnya. "Sayang, Bunda mohon...jangan pergi dulu dari sini!!!" teriaknya. Tapi sepertinya Sisi tetap melanjutkan langkah kakinya menuju ke mobilnya. Hatinya hancur, melihat wanita itu mengiba memohon agar dirinya tidak pergi dari tempat itu. Tapi keputusannya sudah bulat. Dia harus menghargai dirinya sendiri. Untuk apa menyakiti hatinya dengan bertahan pada pria yang egois seperti Hanif.
Pria itu beranjak dari duduknya dan menghampiri bundanya yang berdiri di ambang pintu seraya menangisi kepergian Sisi. Ditariknya kasar bundanya untuk masuk kedalam.
"Untuk apa Bunda menangisi perempuan seperti itu!!? Untuk apa, Bun!!! Hanif sama sekali tidak perduli, dengan dia!!?" teriaknya lantang, hingga bundanya pergi dari hadapannya dan memilih masuk ke kamar.
To be continued
Sore nanti up lagi ya...
Ditunggu aja...
__ADS_1
Yang pasti bikin kalian naik darah...😁
Tapi tenang, kebenaran pasti akan terkuak hanya tinggal nunggu waktunya yang tepat. Ok