
Pagi itu, Devan dengan baju Koko dan kopiah yang digunakan terlihat lebih tampan. Devan akan ke apartemennya dulu, untuk menjemput Cahaya. Setidaknya hari ini, dia memiliki pasangan, untuk menghadiri acara syukuran Yulia.
Sampai di depan apartemen nya, Angga menekan bel. Namun, tak kunjung ada jawaban dari dalam. "Kemana sih, cahaya?" gumam Devan. Merasa tidak mendapat respon dari dalam. Akhirnya, Devan menelpon nomor Cahaya. Devan tahu kebiasaan buruk Cahaya, yang suka bangun telat. Setelah nada tersambung, "Buka pintunya!" teriak Devan, membuat Cahaya melototkan matanya. Cahaya kesiangan, dia tidak ingat kalau ada janji dengan Devan.
Dengan langkah lemas, Cahaya membuka pintu apartemen. Dan benar saja, Devan sudah dengan muka judesnya, menatap sinis Cahaya. "Ya ampun, baru bangun jam segini!" Devan langsung masuk, tanpa minta izin dari Cahaya. "Buruan sana, mandi!" teriak Devan, membuat cahaya berlari menuju kamarnya.
Setelah menunggu beberapa menit, namun Cahaya tak kunjung menemuinya. Devan berinisiatif untuk masuk ke kamar Cahaya. Saat Devan sudah masuk ke kamar Cahaya, Cahaya terlihat kebingungan mengenakan jilbabnya. "Ya ampun Cahaya, kamu belum siap juga!" protes Devan, membuat Cahaya terkejut. Karena Devan masuk ke kamarnya.
"Cahaya gak bisa pake yang beginian!" jelas Cahaya, memberikan jilbabnya pada Devan.
"Masa kamu cewek, gak bisa pake jilbab sih, Cahaya" Devan mengambil jilbab yang diberi Cahaya. Devan juga bingung, cara memakainya gimana.
"Ya udah coba cari di YouTube, tutorial memakai hijab," ujar Angga menemukan solusi masalah Cahaya.
Setelah menemukan videonya, Cahaya dibantu oleh Devan menggunakan jilbabnya.
Devan membantu Cahaya, menjepitkan jarum pentul di jilbab Cahaya. Devan melihat wajah Cahaya dari dekat, "cantik juga Cahaya, kaldu menggunakan jilbab" batin Devan. Devan menjadi tidak fokus karena memandang wajah Cahaya, membuat jarum pentul yang dipegang Devan, mengenai leher Cahaya. "Aduhh, Mas Devan bisa gak sih!" seru Cahaya kesal.
Sadar telah melukai Cahaya, Devan menjadi salah tingkah. "Maaf ya, saya gak sengaja," sesal Devan, memberikan jarum pentulnya pada Cahaya. "Kamu pake sendiri aja Ya!" sambung Devan lagi.
Dengan hati-hati, akhirnya selesai juga masalah jilbab Cahaya. Memang benar, Cahaya lebih cantik jika mengenakan jilbab. Terlihat lebih anggun dari biasanya. Devan sampai melongo, saat Cahaya sudah menggunakan jilbabnya dan berlenggak lenggok di depan kaca. "Cantik gak, aku Mas?" tanya Cahaya membuat Devan tersadar dari lamunannya.
"Cantik, ya sudah ayo berangkat. Kita udah terlambat nih, gara-gara kamu." Mereka akhirnya berangkat, meskipun memang sudah sedikit terlambat. Mereka berjalan beriringan, Devan terlihat serasi berjalan berdua dengan Cahaya.
Semua para tamu undangan sudah berkumpul dihalaman rumah Faisal. Hidangan juga sudah tertata rapi di meja prasmanan. Sekarang pak ustadz menyampaikan materi dakwah nya pada para tamu undangan. Sementara Devan dan Cahaya baru datang, mereka menjadi pusat perhatian orang disekitarnya. Devan menggandeng Cahaya untuk duduk, di bangku yang masih kosong.
__ADS_1
Setelah acara selesai, sebagian para tamu undangan sudah pulang kerumahnya masing-masing. Faisal dan Yulia menyalami para tamu yang akan pulang. Kini giliran Kirana dan Pak Darul yang berpamitan pada mereka.
"Selamat datang kembali Mbak Yulia, berarti yang di pesta itu Mbak Yulia, ya?" Pak Darul mengingat waktu Faisal membawa Yulia ke ulang tahunnya.
"Iya benar Pak, terimakasih sudah mau datang ke acara kami," tutur Faisal seraya menyalami pak Darul.
"Sama-sama, semoga keluarga Dokter Faisal selaku diberikan keselamatan." jawab Pak Darul. Kini giliran Kirana, dia menyalami Yulia. Ada raut kekecewaan dari wajah Kirana.
"Selamat ya Faisal." Kirana tersenyum manis pada Faisal, tapi tidak dengan Yulia. Yulia bisa mengartikan sikap Kirana padanya. Dari awal, Yulia memang tidak terlalu suka pada Kirana. Dia selalu melihat, kaldu apa yang dilakukan oleh Kirana itu tidak tulus.
Selepas kepergian Pak Darul dan Kirana, Yulia membisiki Faisal. " Mas, Mbak Kirana tuh kayaknya suka deh sama Mas Faisal," bisik Yulia pada Faisal yang masih ada di tempatnya.
"Sayang, sejak kapan kamu punya pemikiran seperti itu. Kamu berteman sejak kuliah dulu, gak mungkin lah dia suka sama Mas!" elak Faisal, yang juga berbisik-bisik pada Yulia.
"Hmmm, ya udah kalau mas Faisal gak percaya. Awas aja, kalau sampai dia berani rebut Mas dari Yulia." Yulia pergi meninggalkan Faisal, membuat Faisal menyusulnya.
Weli dan Rio yang menyadari Faisal dan Yulia sedang ada masalah, mereka mendekat kearah Faisal. "Kenapa lagi, Sal? baru aja Yulia kembali, ini udah mau bikin dia ngambek lagi." ejek Rio dan Weli, membuat Faisal menjadi semakin kesal.
"Biar aku yang susul Yulia, sekalian mau pamit." Weli menyusul Yulia yang sedang bersama Felisa dan anak-anak.
"Yul, selamat ya atas kepulangan kamu," ucap Weli agak canggung. Setelah Yulia tahu, kalau Weli adalah mantan Faisal. Weli memang sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Yulia. Ini kali pertamanya mereka bertemu.
"Makasih Mbak Weli, makasih ya udah hadir di syukuran Yulia." Yulia memeluk Weli, membuat Weli terharu. Setelah apa yang terjadi pada mereka, Yulia masih mau bersikap baik pada Weli. Sekarang mereka bersahabat, masalah diantara mereka sudah selesai. Yang ada sekarang adalah, Mereka dengan kehidupannya masing-masing.
Weli mengajak Yulia untuk bergabung bersama Faisal dan Rio. Weli ingin semua kecanggungan diantara mereka sudah tidak ada lagi. Faisal harus sudah mau menerima Rio sebagai sahabatnya lagi, sama seperti Dino.
__ADS_1
Kini Faisal dan Yulia hanya tinggal berdua, setelah kepergian Rio dan Weli. Faisal tidak malu lagi, bermesraan dengan Yulia di depan umum. Membuat Angga yang baru datang, sedikit malu menampakkan wajah nya.
"Selamat ya, Yul. Maaf saya datang terlambat, karena tadi ada urusan penting yang gak bisa di tinggal." Wajah Faisal langsung berubah drastis, dia terkejut dengan tamu yang barusan datang.
"Saya gak merasa ngundang anda!" seru Faisal sinis.
"Mas, Angga ini yang ngundang Mama sama Papa!" seru Yulis memberitahu Faisal.
"Emangnya mereka kenal sama dia." Faisal menunjuk Angga.
"Kenal dong, saya kan pernah hampir jadi menantunya!" ujar Angga dengan pedenya, dan mendapat pelototan dari Yulia. Angga hanya tersenyum melihat reaksi Faisal yang semakin meradang.
"Ya sudah aku temui Om dan Tante dulu ya, Yul. Mereka kan yang ngundang aku kesini!" Angga beranjak sekilas melirik sinis Faisal.
"Yul, jelasin sama Mas, tentang apa yang disampaikan oleh Angga tadi?" pertanyaan Faisal membuat Yulia bingung.
"Yang mana sih! Mas, Yulia gak ngerti deh!"
"Bener, Angga pernah mau jadi calon suami kamu?" Yulia tambah terkejut mendengar pertanyaan Faisal.
"Ya ampun Mas, Angga itu cuma becanda. Dia gak serius ngomong kayak gitu. Mas Faisal satu-satunya pria yang Yulia cinta," jelas Yulia membuat Faisal tersenyum lega.
to be continued...
Terimakasih untuk para readers yang sudah setia menunggu kelanjutan cerita Faisal dan Yulia. Masih akan ada konflik baru ya di tengah-tengah keluarga kecil mereka..
__ADS_1
Penasaran dengan kelanjutannya...