Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Kebenaran itu!!!!


__ADS_3

"Sayang, aku ke toilet dulu ya!" ujar Vero pada Hanif, dan pria itu hanya mengangguk sebagai jawabannya.


Selepas kepergian Veronika, Hanif hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa ada niat untuk memakannya sambil menatap kosong kearah jendela bermaterial kaca. Pikiran dan hatinya tidak sejalan, dia sendiri masih ragu untuk menikahi Veronica. Tapi, dia juga tidak bisa mempermainkan hati wanita itu. Yang sudah merasa nyaman dengan dia, dan mungkin dalam pikiran Hanif, Veronika sudah sangat mencintainya.


Hingga pandangannya menangkap sepasang kekasih yang berjalan masuk ke arah kedai itu. Hanif mempertajam penglihatannya, setelah yakin orang yang ia lihat itu adalah Iqbal dan Bilqis, Hanif mengepalkan tangannya seraya mengumpat kesal pada pasangan itu. "Brengsek, masih saja dia jalan dengan Bilqis, setelah dia menikahi Sisi," umpatnya, mengeratkan kedua rahangnya.


Hanif ingin sekali menghampiri sepasang kekasih itu, tapi akal pikirannya menahan dia. "Untuk apa mengurusi kehidupan mereka, dasar pengkhianat!!!" Tak henti pandangan matanya menatap tajam kearah mereka berdua hingga mereka duduk tak jauh dari tempat duduknya.


"Kamu mau pesen apa, sayang?" tanya Iqbal pada calon istrinya.


"Aku ini ajalah, sayang. Aku pesen minumannya aja, jus alpukat!" seru Bilqis menyebutkan minuman yang ingin dia pesan pada Iqbal.


"Ya udah, kita pesan jus strawberry satu dan jus alpukat satu." Waiters kedai itu mencatat pesanan mereka, setelah itu pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Bilqis membuka sate Padang yang ia beli tadi. Air liurnya langsung keluar, saat dia memandang sebungkus sate Padang dengan kuah yang di bubuhi bawang goreng, tak lupa ada juga urusan lontongnya. "Hmmm, ini enak banget loh, sayang!" Bilqis menyuapkan satu tusuk sate kedalam mulut Iqbal.


"Hmmm, iya enak!" sahut Iqbal setelah menggigit satenya. Kemesraan mereka masih menjadi pusat perhatian Hanif yang semakin geram melihat keduanya.

__ADS_1


"Sayang, aku belum chat Kak Sisi lho! Dia belum tahu, kalau kita jadi menikah Minggu depan," ujar Bilqis, sambil menikmati makanan mereka. Tak lama setelah itu, waiters datang membawa minuman yang mereka pesan. "Terimakasih!" seru Bilqis pada waiters itu.


"Hmmm, nanti biar aku yang chat dia!" balas Iqbal. Sesaat kemudian Iqbal memanggil waiters yang berdiri di meja sisi kirinya. Namun terhenti, pandangannya menangkap sosok yang memperhatikan dirinya dengan penuh kebencian. "Sayang, ada Dokter Hanif!" seru Iqbal pada Bilqis tanpa menoleh.


"Mana, sayang!" Pandangan Bilqis mengikuti kearah wajah Iqbal. Dan benar apa yang dikatakan oleh kekasihnya, pria berkacamata itu mulai beranjak dari tempat duduknya dan berjalan kearah mereka. Saat dia sudah berada di meja mereka, pria itu langsung memukul wajah Iqbal.


"Dasar pria brengsek!!! Sudah punya istri, masih bermesraan dengan wanita lain!!!!" teriaknya yang membabi buta menghajar Iqbal.


"Hentikan!!!!" pekik Bilqis, mendorong tubuh Hanif kesamping. Mereka kini menjadi pusat perhatian pengunjung kedai itu.


"Calon suami?" tanya Hanif dengan nada bingung. "Jadi, kamu rela menjadi madu dari sahabatmu sendiri, hehhh!" seru Hanif menunjuk kearah Bilqis.


"Madu, apa maksudnya? Saya calon istri satu-satunya dari Iqbal. Kenapa dokter bisa berfikiran seperti itu!" Hanif mulai menelaah satu demi satu kata yang keluar dari mulut Bilqis.


"Bukannya dia sudah dinikahkan warga dengan Sisi!" Bilqis saling pandang dengan Iqbal, setelah itu mereka tahu apa yang di maksud dengan ucapan Hanif.


"Sepertinya Dokter sudah salah sangka!" seru Iqbal angkat bicara. "Sebaiiknya dokter duduk dulu, akan saya jelaskan kesalahpahaman ini pada Dokter!" Emosi Hanif mulai meredam, dan pikirannya sudah mulai sedikit lebih tenang. Hingga pria itu, melakukan apa yang di minta oleh Iqbal.

__ADS_1


Hanif mendaratkan tubuhnya di kursi, yang ada di seberang Iqbal. Setelah itu, dia mulai mengatur nafasnya untuk mendengar pengakuan dari mereka berdua. "Sekarang, katakan! Apa yang sebenarnya terjadi?"


Sebelum Iqbal menjelaskan pada Hanif, pria itu menyunggingkan sebelah bibirnya kearah Hanif. "Bukankah dulu, Sisi sudah pernah akan menjelaskan ini pada dokter?" Hanif hanya diam, dan kembali mengingat kejadian di rumah sakit itu. Yang membuat Sisi hancur. "Tapi, karena keegoisan dokter. Hingga kebenaran itu tidak anda ketahui, sampai sekarang!"


"Sudahlah, tidak usah banyak bicara. Katakan apa yang sebenarnya terjadi!" salak Hanif yang mulai terpojok.


"Saya dan Sisi terbukti tidak melakukan apa-apa di rumah kosong itu, Dan hasil tes itu mengatakan kalau Sisi masih perawan!" Jleb, bak tertusuk seribu panah dada Hanif. Seketika wajahnya menunduk. "Kami memang tidak pernah melakukan apapun di rumah kosong itu, kami hanya berteduh di sana!!" Hanif mulai mengingat-ngingat kejadian itu, saat dia pergi dari rumah Faisal sebelum mendengar penjelasan itu secara lengkap. Saat dia tidak menghiraukan Sisi, dan memilih pergi meninggalkan wanita itu begitu saja.


Iqbal menceritakan kejadian awal hingga akhir pengrebekan itu. Dan Hanif hanya bisa diam tak bersuara, hatinya kelu. Lidahnya terasa berat untuk di gerakan. "Tapi, waktu itu saya melihat kamu mengucapkan ijab qobul!" Kata-kata itu lolos dari bibirnya.


"Iya memang benar, tapi beruntung Fatan datang di saat waktu yang tepat. Sehingga saya belum sempat mengucapkan ijab qobul itu." Brughhh, pertahanannya runtuh saat ini. Air matanya mulai menetes, betapa bodohnya dia saat itu yang tidak mendengar penjelasan dari Sisi. Seketika tubuhnya melemas mendengar penjelasan demi penjelasan dari Iqbal. Hanif sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Pria itu langsung pergi meninggalkan tempat itu. Bahkan dia meninggalkan Veronika sendirian di sana.


Hanif langsung mengambil mobilnya dan melajukan secara kencang membelah padatnya kota Jogja siang itu. Hatinya hancur saat ini, Hanif hanya bisa merutuki kebodohannya sendiri. Andai saja waktu itu dia mau mendengarkan Sisi, mungkin saat ini dia sudah bersatu dengan wanita pujaannya itu. Tapi sekarang, apakah masih bisa untuk di benahi lagi hubungan mereka. Hubungan? Bukankah dia sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Sisi? Bahkan dia sendiri yang memutuskan tali silaturahmi antara keluarganya dengan keluarga Sisi. Bahkan dia sangat membenci wanita itu. Membenci semua keluarganya dan membenci ibunya yang terus menerus membela Sisi di banding dirinya. Lalu, sekarang kemana Hanif akan pergi? Kerumah Faisal? Apa mungkin, keluarga Faisal masih bisa menerimanya setelah apa yang dia lakukan pada mereka. Hanif terlalu sombong dengan asumsinya sendiri. Tanpa mau melihat dan mendengar penjelasan dari orang lain. Lalu, sekarang, kemana kamu akan pergi Hanif?


To be continued


Setelah ini kemana Hanif akan pergi?

__ADS_1


__ADS_2