
Syifa memilih untuk pergi ke supermarket, ujung gang rumah Faisal. Supermarket itu berada di sekitar jalan utama. Lalu lalang kendaraan saat jam pulang kantor, menyulitkan Syifa untuk menyebrang. "Huuhh, rame banget sih! Mana nyetir sendiri, pula!" dengusnya dengan kesal.
Beberapa kali mencoba, namun selalu keduluan mobil lainnya. Hingga pemandangan aneh muncul dari dalam kaca mobilnya. Seorang pemuda yang memakai kemeja warna hijau muda, dengan setelah celana dasar berwarna hitam, berdiri di tengah-tengah jalan. Mengisyaratkan kendaraan lain untuk berhenti. Dan benar saja, beberapa mobil dari arah berlawanan memperlambat laju kendaraannya. Tanpa membuang waktu, Syifa pun langsung menyeberang, dan sampailah dia di depan supermarket itu dengan selamat.
Dia turun dari mobilnya, namun saat akan melangkahkan kakinya menuju ke pintu masuk supermarket. Pria yang membantunya menyebrang tadi, berlari kecil kearahnya. Semakin dekat, dan dekat, tenyata pria itu adalah Hanif. Berharap, Hanif akan menghampirinya, ternyata pria itu berlalu begitu saja hingga masuk kedalam supermarket. Sesegera mungkin, dia mengejarnya. Sekedar mengucapkan terimakasih.
"Dokter Hanif!!? Tunggu!!?!" teriaknya setengah berlari, setelah dirinya sudah bisa mensejajarkan langkahnya dengan pria itu, "terimakasih!" ucapnya tersenyum menyeringai.
"Kamu bicara dengan saya?" tanya pria itu masih berjalan menuju rak berisi minyak goreng.
"Iyalah, sama dokter!" cetuknya sedikit kesal.
"Oh!!! Terimakasih untuk apa?" tanya pria itu lagi, sambil mengambil satu bungkus minyak dan di masukkan kedalam keranjang belanjaannya.
"Untuk, tadi loh!" desisnya seraya mengeratkan giginya, "masa gak tahu, sih!" lanjutnya sambil menghentakkan kakinya di lantai. "Ya sudahlah, lupakan. Bye!!!"
Syifa sedikit menjauh dari Hanif yang masih sibuk memilah-milah barang-barang yang akan dia beli. Dia terus mendorong troli belanjaannya meninggalkan Syifa yang berdiri diantara rak berisi sabun dan pasta gigi.
"Dasar pria aneh, sok peduli lagi!!!" umpatnya, seketika Hanif berhenti. Lalu membalikkan badannya, sontak Syifa langsung pura-pura tidak melihatnya.
"Kalau masih belajar nyetir, gak usah sok-sokan deh!!!" decak Hanif dengan nada mengejek.
Syifa yang mendengar itu semakin kesal, di buat Hanif. Wanita itu langsung mendekat dan geram ingin memukul pria di hadapannya yang sedang memunggungi dirinya. "Hufftt, untung aja ganteng, kalau gak, udah aku bejek-bejek nih orang."
Hanif terus berjalan menuju cari benda yang ia perlukan, tepat di rak yang berisi aneka macam susu, langkahnya terhenti. Dia mengambil beberapa merk susu, dan di letakkannya di keranjang belanjaan. Setelah itu, dia mengarahkan Roli belanjaannya ke kiri, tepat di rak yang menjual aneka roti dan selai, dia pun mengambil beberapa bungkus roti tawar dan beberapa botol selai dengan rasa yang berbeda.
Dan anehnya, Syifa masih mengikutinya. Entah sasar atau tidak, gadis itu mengikuti pria berkacamata itu. Hingga pria itu tiba-tiba menghentikan langkahnya, dia menoleh kebelakang dan melihat Syifa ada di sana, Hanif menautkan kedua alisnya seraya berkata, "kamu ngikutin saya?"
Seketika Syifa langsung gugup, dia mencoba mengalihkan pandangannya kearah lain, "nggak kok, saya cuma mau ngambil ini. Iya ini!!!" kilahnya, seraya mengambil sebotol selai kacang dan di tunjukkannya pada Hanif.
Hanif tak menanggapi gadis itu, dan memilih untuk pergi ke kasir. Semua yang di butuhkan sudah ada di Roli belanjaannya. Tinggal membayar dan pulang.
__ADS_1
Sementara Hanif sedang menuju ke kasir, Syifa mencari barang belanjaannya yang sempat tertunda gegara mengikuti Hanif tadi. Setelah dapat semua, dia pun menyusul ke kasir. Ternyata, di kasir mengantri lumayan panjang. Jadi, Hanif masih berdiri paling belakang dari orang-orang itu. Syifa pun mendekat.
Tak berapa lama, dering ponsel Hanif berbunga. Dan panggilan telpon itu dari bundanya. "Iya Bun, assalamualaikum!"
"Di supermarket, Bun!"
"Ini bentar lagi pulang, kok!" Saking asyik dengan telponnya, Hanif tak menyadari kalau antrian sudah sampai ke dia.
"Hey pak dokter, itu udah tuh buruan deh...lama banget!!!!" cetuk Syifa, dan Hanif pun mendorong Roli belanjaannya kedepan dengan satu tangannya, dan tangannya lagi masih memegangi handphone nya.
"Iya, Bun."
"Untuk apa?"
"Iya-iya, Hanif kasih nih!"
Entah apa yang sedang di katakan oleh bundanya, tiba-tiba Hanif menyerahkan ponselnya pada Syifa. Seraya berkata, "bunda mau ngomong!"
"Iya, buruan!" Syifa pun mengambil ponsel itu dari tangan Hanif. Segera benda pipih itu di letakkan di pipinya.
"Assalamualaikum bunda? Bunda apa kabar?" Tanpa di sadari, Syifa memberikan keranjang belanjaannya pada Hanif dan asyik ngobrol dengan Bu Tari.
Hanif membalik badannya menghadap ke kasir. Kasir supermarket itu sudah selesai menghitung barang belanjaannya, "totalnya dua ratus lima puluh ribu," ucapnya pada Hanif.
Hanif menyerahkan tiga lembar uang ratusan ribu pada kasir itu, dan setelah itu dia sadar kalau dia sedang membawa belanjaan Syifa. "Eh, ini sekalian!" Dan diserahkan pada Kasir.
"Totalnya tiga ratus dua puluh ribu!" Hanif mengambil uang dua puluhan ribu dalam saku kemejanya, dan di serahkan pada kasir itu. "Terimakasih!"
Kini ditangannya terdapat dua kantong belanjaan, miliknya dan milik Syifa. Syifa yang sudah selesai dengan telponnya, menyerahkan ponsel itu pada Hanif. "Ini!"
Hanif mengambilnya, dan dia juga menyerahkan kantong belanjaan Syifa.
__ADS_1
"Udah saya bayar!" Dan berlalu meninggalkan Syifa yang masih membelalakkan matanya karena terkejut, dia sampai melupakan belanjaannya.
"Eh..tunggu. Terimakasih!!!!" teriaknya namun Hanif tak bergeming, dan memilih untuk tetap berjalan hingga sampai di mobilnya.
"Huuhh dasar aneh...tapi ganteng juga sih!!!" lirihnya tersenyum geli membayangkan wajah Hanif.
Di saat itulah adzan Maghrib berkumandang, dia bergegas pulang ke rumah. Jika tidak ingin di semprot habis-habisan oleh kakaknya. Beruntung, jalanan sudah sedikit senggang. Jadi, dia dengan lancar menyebrang kan mobilnya, hingga sampai di rumah Faisal.
Dengan wajah yang berseri-seri Syifa masuk ke dalam. Kebetulan dia berpapasan dengan Yulia yang baru saja keluar dari dapur. "Assalamualaikum, Tante!"
"Waalaikumussalam, Syifa dari mana?"
"Dari supermarket, Tan!" jawabnya dengan sumringah.
"Hmmm, pasti habis ketemu cowok ganteng ya! Keknya seneng banget!" goda Yulia, Syifa pun tergelak.
"Ah, Tante. tebakan nya suka bener!!!" jawabnya dengan senyum sumringah.
"Yang penting Syifa gadis hati-hati, jangan mudah tergoda dengan pria. Apalagi kalau belum kenal betul!" Yulia memberi nasehat pada Syifa, dan gadis itu pun mengangguk patuh.
"Kak Sisi kenal kok, Tan!" cetusnya lagi.
"Oh, ya!! Siapa nama pria itu, mungkin Tante juga kenal?" tanya Yulia penasaran.
"Namanya Dokter Hanif, dan bundanya Bu Tari!" Seketika wajah Yulia melingsut kaget, dengan apa yang ia dengar.
"Hanif?" ulangnya untuk menyakinkan dirinya.
"Iya, Tan. Tante kenal?"
"Ehmmm, ngobrol nya nanti lagi sayang, Fa. Dah iqoomat tuh!!!" salak Faisal yang sudah siap dengan sarung dan pecinya untuk sholat.
__ADS_1
To be continued