Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Persiapan Syukuran


__ADS_3

Malam itu di kediaman Faisal, mereka sedang menyiapkan untuk acara syukuran besok. Para Bapak-bapak ikut membantu memasang tenda di luar. Sedangkan para ibu-ibu menyiapkan hidangan untuk besok. Kebetulan Mama Siti jagonya buat kue, jadi dapat jatah membuat kue. Mama Sundari juga ikut serta membantu membuat kue, bersama mama Siti. Sementara ibu Sari, beliau bagian memasak rendang bersama Yulia dan Felisa.


Anak-anak sedang bermain bersama Devan. Devan juga sudah menjadi bagian keluarga dari Mama Sundari. Meskipun gagal menjadi menantunya, Devan tetap baik pada Mama Sundari. Devan jugalah yang mengantar Mama Sundari ke rumah Faisal.


Semuanya sudah menyelesaikan tugasnya masing-masing. Mereka sekarang berkumpul di ruang keluarga. Merasa benar-benar terlihat bahagia, karena masalah demi masalah sudah usai.


"Yul, gue penasaran banget nih! kok bisa Lo yang berada di mobil Delia, waktu kecelakaan itu?" tanya Dino menatap ke arah Yulia.


"Delia yang minta, waktu itu dia sangat kecewa pada Mama Sundari yang membohongi dia. Dia ingin menenangkan pikiran, dan Yulia juga kan lagi kesel sama mas Faisal. Jadi, Yulia juga mau kasih pelajaran buat Mas Faisal." jelas Yulia pada semuanya.


"Maaf ya, kalau perbuatan Yulia sudah gak benar. Waktu itu Yulia benar-benar gak bisa berfikir normal, jadi begitu aja menyetujui ide Delia. Yulia sedih, kalau ingat kejadian itu. Harusnya Yulia.." ucapan Yulia di potong oleh Faisal.


"Sttt, kamu gak boleh ngomong gitu sayang. Mungkin sudah takdir Delia harus seperti itu. Mas juga gak mau kalau kamu yang meninggal. Kita semua maunya semua selamat, tapi takdir sudah ada yang mengaturnya." Faisal langsung mendekap Yulia, dua tidak bisa membayangkan jika Yulia benar-benar meninggalkan dia untuk selamanya. Seumur hidup Faisal pasti akan diliputi rasa bersalah. Faisal juga tidak yakin akan bisa move on dari Yulia, kalau Yulia yang meninggal.


"Maafin Yulia ya Ma, gara-gara Yulia, Delia meninggal." Yulia kemudian memeluk Mama Sundari.


"Maafin kesalahan Mama juga ya Nak!" tangis Bu Sundari pecah, beliau sangat bersyukur masih diterima di tengah-tengah keluarga ini, setelah apa yang beliau lakukan.


"Sekarang Yulia juga anak Mama, Sisi cucunya Mama. Mama gak boleh sedih lagi ya, Yulia juga sayang kok sama Mama."


"Sini cucu Eyang, peluk Eyang juga ya.." Sisi juga ikut memeluk Mama Sundari.


"Sudah-sudah, yang penting sekarang kita harus banyak-banyak bersyukur atas kejadian yang menimpa kita. Dan kamu Sal, kamu juga harus bisa belajar dari kesalahan kamu. Cintai Yulia dengan sepenuh hati mu," sambung pak Hermawan. Faisal mendekati Yulia, yang sedang memeluk Mama Sundari.


"Faisal tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi. Sekarang yang ada di hati Faisal cuma istri Faisal tercinta ini." Faisal memeluk Yulia dan mendapat sorakan dari semuanya.


Malam pun semakin larut, Mama Siti dan pak Sukamto memutuskan untuk menginap di rumah Faisal. Karena besok acaranya jam delapan pagi, takutnya tidak sempat menyiapkan yang masih kurang.


Bu Sundari diantar oleh Devan, pulang ke rumahnya. Pak Erlangga tidak ikut bergabung, karena masih ada urusan dengan rekan bisnisnya. Pak Erlangga juga sudah izin pada semuanya. Mereka memaklumi, karena memang pekerjaan Pak Erlangga yang lebih penting.


Selepas mengantar Bu Sundari, Devan memutuskan untuk pulang. Tapi ditengah jalan dia melihat cahaya berjalan sendirian di tepi jalan. Devan menghentikan mobilnya, dan keluar menghampiri cahaya.


"Ngapain ada disini?" tanya Devan saat sudah ada dihadapan Cahaya.


"Eh Mas Devan, ya ampun beruntung banget bisa ketemu Mas Devan disini." Cahaya memeluk Devan secara tiba-tiba.


"Gak usah main peluk-peluk juga kali! ngapain ada di sini?" ulang Devan melepaskan dirinya dari pelukan Cahaya.


"Cahaya mau mencari sesuatu, hehehe!" jawab Cahaya cengengesan.


"Mau cari apa? ayo saya antar!" ajak Devan menarik cahaya masuk ke dalam mobilnya.


"Cahaya mau cari kerja, mas! gak mungkin kan Cahaya nyusahin Mas Devan terus," terang Cahaya yang sudah berada di dalam mobil Devan.


Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Keindahan kita Jogja jika malam hari, menjadi pengiring mereka berdua. Banyak pedagang kaki lima, yang berjajar menjajakan dagangannya.


"Emang kamu punya ijazah, mau cari kerja?" Devan melirik Cahaya, yang sedang mayun.

__ADS_1


"Nggak ada lah Mas, ijazah nya juga ketinggalan di rumah."


"Terus mau cari kerja pake apa?" tanya Devan lagi, yang masih fokus menyetirnya.


"Nggak tahu, Cahaya juga bingung Mas. Kayaknya Cahaya bakal balik aja deh ke rumah Papa, dan menerima perjodohan itu,"


"Jangan!" teriak Devan, melarang Cahaya kembali ke rumah nya.


"Maksudnya, kamu jangan mau di jodohkan Ama orang yang belum kamu kenal!" jelas Devan gugup.


"Terus gimana dong Mas? Cahaya bingung nih!" Cahaya minta saran pada Devan, atas masalah nya.


"Kamu kerja aja di perusahaan saya, jadi assisten saya," saran Devan.


"Beneran Mas, wahh Cahaya seneng banget Mas!" Cahaya dengan refleks memeluk Devan yang sedang nyetir. "Cahaya eh.. Cahaya" mobil yang di kendarai Devan menjadi oleng, karena Devan tidak bisa berkonsentrasi menyetir. Tanyanya Devan di gelayuti oleh Cahaya, alhasil Devan mengerem mendadak, agar tak menabrak kendaraan lainnya.


"Kamu tuh ya, bisa gak, gak usah meluk-meluk gini. Untung aja gak nabrak, dasar cewek bar-bar," gerutu Devan menyingkirkan tubuh cahaya darinya.


"Hehehehe, maaf mas khilaf. Mas Devan ganteng juga ya, kalau dilihat dari dekat," puji Cahaya, membuat Devan tersipu malu.


"Ya ampun Mas, wajahnya merah gitu.. pasti lagi seneng ya, dikatakan ganteng Ama Cahaya," imbuh Cahaya, menunjuk wajah Devan yang memerah.


"Dasar cewek aneh." Devan melanjutkan perjalanannya lagi menuju apartemennya, untuk mengantar Cahaya. Dr am baru ingat, besok ada acara syukuran di rumah Yulia. Masa iya, dia harus pergi sendiri. Akhirnya dia mempunyai ide, untuk mengajak Cahaya ke acara syukuran itu. Devan agak gak pede, kalau berangkat sendiri. Apalagi yang ada disana, memiliki pasangan semua. Itung-itung sedikit mengobati kekecewaannya, karena gagal nikah dengan Delia.


"Besok pagi ikut saya l!" seru Angga.


"Kemana Mas?"


"Cewek yang mirip tunangan Mas Devan itu, ya?"


"Hmmm"


"Hahahaha.. kok ngajak Cahaya, sih! takut gak kuat ya lihat cewek yang dicinta dengan cowok lain." Cahaya malah mengejek Devan, alih-alih belum bisa move on dari Delia alias Yulia.


Devan tidak menanggapi ucapan Cahaya. Dia tetap fokus menyetir, tapi tujuannya berbeda. Devan akan membawa Cahaya, ke butik yang menjual pakaian muslimah. Devan yakin, Cahaya gak punya pakaian Muslim.


"Mas, kita mau kemana lagi ini?" Cahaya bingung, kenapa Devan masih melajukan mobilnya, padahal udah Sampai di apartemen nya Devan.


"Gak usah banyak tanya, kenapa?"


to be continued..


Sebelum nya saya ucapkan terimakasih untuk para pembaca setia novel suamiku tak pernah mencintaiku.


Tanpa kalian, saya bukanlah apa-apa.


Terimakasih atas dedikasi yang para pembaca setia berikan pada saya. Jika dalam penulisan novel saya, masih kurang berkenan. Mohon untuk dimaklumi, karena saya juga masih dalam tahap belajar..

__ADS_1


Thanks for



Asep Setiawan


Dian Putri


Mamah Syifa


Septa Rhea DM


Anasih 11


Rena Mei


Ivo Elpira


Chintyaana Budi


Irfan Kusnawan


Kambing


Jelita Permatasari


Rita Amin


Suharnik


Penulis h


Priana Su


Jangkrikbos boss


Yuliana


AA. Zigant


Puji Wati (JFF)


Koko Angraff


Riau Silva indah


Martina Alfarizqi.

__ADS_1



Maaf yang tidak kesebut. Yang jelas saya sangat berterimakasih pada para readers setia Novel "Suamiku tak pernah mencintaiku"


__ADS_2