Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Mengetahui kebenaran


__ADS_3

"Gimana Yah, rasanya sama kan kayak buatan Bunda dulu?" Sisi memperhatikan Faisal, yang terdiam sejenak sedang memikirkan sesuatu.


"Ini beneran Bunda Delia yang membuatnya?" tanya Faisal masih ragu-ragu.


"Iya Tuan, kue itu buatan Mbak Delia dan Non Sisi," sambung bi Imah berkata jujur.


"Apa Delia lama Bik, disini?"


"Lumayan lama Tuan, Mbak Delia diajak non Sisi untuk melihat seisi rumah ini." Bik Imah mengatakan apa yang dilakukan oleh Sisi dan Delia seharian ini.


"Beliau juga menanyakan tentang Bundanya Sisi, pada saya" imbuhnya.


Faisal hanya diam dengan pikirannya. Dia semakin yakin kalau Delia itu istrinya. Tapi dia juga bingung, bagaimana caranya membuktikan itu. Faiz baru ingat, dengan omongan Dino. Untuk menanyakan pada mertuanya, masalah kembaran Yulia.


"Sayang, Ayah mandi dulu ya, setelah itu kita ke rumah Eyang Siti." Faisal beranjak meninggalkan ruang TV, dia masuk ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.


Sisi menunggu Faisal sembari bermain boneka dengan biaya Imah. Adzan berkumandang, sebelum ke rumah mertuanya Faisal melaksanakan shalat magrib terlebih dahulu. Sisi pun ikut juga, sebagai makmumnya Faisal. Saat-saat sholat seperti ini, yang membuat Faisal teringat lagi dengan istrinya. Biasanya, usai sholat mereka mengaku bersama. Yulia dengan telaten mengajari Sisi mengaji iqro. Pemandangan yang membuat Faisal betah lama-lama di rumah. Selama hidup bersama Yulia, Faisal memang jarang kumpul-kumpul bareng teman-temannya. Faisal lebih memilih di rumah, dengan istri dan anaknya.


Yang menjadi penyesalan Faisal adalah, dia belum pernah sekalipun mengungkapkan cinta Secara langsung pada Yulia. Hanya itu kesalahannya, selain itu tidak ada lagi. Bahkan tidak ada orang ketiga di dalam rumah tangganya. Faisal juga memperlakukan Yulia dengan sangat baik.


Usai mengaji bareng dengan Sisi, perasaan Faisal sedikit lebih tenang. Sisi adalah kekuatan Faisal selama ini. Mereka menuju ke rumah bu Siti. Faisal memilih naik motor dengan Sisi. Sisi senang sekali, karena untuk pertama kalinya dibonceng naik motor dengan ayahnya.


Mereka sampai juga di rumah Bu Siti. Kebetulan mereka baru pulang dari pengajian. Begitu melihat cucu kesayangannya yang datang, ibu Siti langsung menggodanya.


"Ya Allah, cucu Eyang.." Sisi sudah ada di gendongan Bu Siti. Mereka bergegas masuk kedalam rumah.


"Tumben Nak Faisal, kesini? apa sedang gak sibuk di rumah?" Pak Sukamto mengawali perbincangan.


"Untuk sementara Faisal off dulu praktek di rumah. Faisal masih mau fokus mengurus Sisi. Faisal gak mau, membiarkan Sisi sendirian Pah." Jawab Faisal memperhatikan Sisi yang masih ada dipangkuan Bu Siti.

__ADS_1


"Kamu yang sabar ya Nak! Papa juga masih terpukul atas kepergian Yulia." mata pak Sukamto sudah berkaca-kaca.


"Sisi disini dulu ya, Eyang buat minum dulu." Ibu Siti mendudukkan Sisi di sebelah psk Sukamto, beliau lalu pergi ke dapur untuk membuat minuman.


"Cucu Eyang udah besar, ya." Pak Sukamto mengelus rambut Sisi.


"Eyang, Eyang Sisi kemarin ketemu Bunda," adu Sisi pada pak Sukamto, beliau terkejut mendengar ucapan Sisi.


"Sisi beneran ketemu Bunda?" tanya pak Sukamto serius.


"Iya Pah, karena itu Faisal kesini," sbung Faisal. Ibu Siti yang sudah datang dengan minuman di nampannya, langsung meletakkannya di atas meja.


"Apa yang ingin kamu sampaikan Nak Faisal?" Ibu Siti sudah duduk kembali di tempatnya tadi.


"Apa Yulia punya saudara kembar?" Mendengar pertanyaan Faisal, ibu Siti dan pak Sukamto bingung. Mereka bingung harus menjawab apa, mereka sudah pernah berjanji untuk merahasiakan ini semua pada siapapun.


"Kenapa kamu punya pemikiran seperti itu Nak?"


"Sejujurnya saya tidak bisa mengatakan ini pada siapapun. Tapi, saya juga tidak tega jika tidak menceritakan ini pada kamu."


"Pak," potong ibu Siti, memperingati Pak Sukamto untuk tidak membuka mulut.


"Biar Bu, Bapak harus menceritakan semuanya pada Nak Faisal." Pak Sukamto mengabaikan peringatan dari Bu Siti. Beliau memilih untuk menceritakan pada Faisal.


Psk Sukamto menceritakan semuanya pada Faisal, tentang saudara kembarnya. Tentang rahasia yang harus ia jaga dari siapapun. Karena orang tua angkat kembarannya Yulia, tidak ingin semua orang tahu. Kalau Delia bukan darah daging mereka. Karena itu, orang tua angkat Delia membawa Delia ke luar negeri. Bertujuan untuk menghilangkan jejak.


Orang tua pak Erlangga, suami dari Bu Sundari sangat mengidamkan seorang cucu. Akhirnya, psk Erlangga berencana untuk mengadopsi anak dari kakak istrinya. Beliau juga merahasiakan semuanya dari orang tuanya, dengan cara kabur ke luar negeri. Dan membawanya pulang ke Indonesia lagi, saat Delia sudah berumur dua tahun. Mereka mengenalkan Delia sebagai putri kandungnya pada seluruh anggota keluarga pak Erlangga. Dan mereka semua mempercayainya.


Usai mendengar cerita Pak Sukamto, keyakinan Faisal dipatahkan oleh pengakuan kalau Yulia memiliki saudara kembar. Awalnya dia sangat yakin, kalau Delia itu istrinya. Tapi setelah mendengar cerita dari pak mertuanya, Faisal jadi ragu lagi. Faisal semakin tidak memiliki kesempatan untuk hidup bersama dengan istrinya lagi.

__ADS_1


Di tempat lain.


Weli dan Rio sedang makan malam, di sela-sela makan malam mereka. Terdengar suara bel rumah berbunyi, assisten rumah tangganya langsung membuka pintu rumah Rio. Ternyata yang datang adalah pak Andrian beserta istri, dan seorang gadis muda seumuran dengan Yulia. Mereka bertiga masuk, kemudian duduk di ruang tamu. Assisten rumah tangganya langsung memberi tahu pada Weli dan Rio.


Setelah menyelesaikan makanan nya, Rio langsung menemui orang tuanya. Di susul oleh Weli yang juga membawa minuman di nampannya. Ketika melihat orang tuanya datang bersama seorang wanita yang tidak ia kenal. Rio sudah bisa menebaknya, mereka datang untuk mengenalkan dirinya pada wanita yang akan dijodohkan oleh orang tuanya.


"Silahkan di minum Ma, Pa, dan..."


"Selia" potong pak Andrian.


Setelah meletakkan minuman di atas meja, Weli duduk di samping Rio. Ada raut kesedihan dari wajah Weli. Rio menggenggam tangan Weli, memberikan kekuatan untuk istrinya. Rio tahu, saat ini perasaan Weli seperti apa.


"Kedatangan Papa kemari untuk memperkenalkan kamu pada anak teman Papa" Pak Andrian membuka suara, setelah beberapa saat hening.


"Untuk apa Papa repot-repot mengenalkan saya dengan seorang wanita yang gak jelas. Kalau di sebelah Rio sudah ada wanita sempurna menemani hidup Rio." Rio masih mencoba bersikap sopan pada pak Andrian.


"Jaga mulut kamu Rio, kenapa kamu menyebut Selia sebagai wanita tidak baik?" Tanya pak Andrian sedikit emosi.


"Wanita yang mau dijodohkan dengan pria beristri, bukankah lebih pantas disebut bukan wanita baik-baik," jawab Rio santai.


"Kamu keterlaluan Yo, apa yang kamu harapkan dari Weli. Dia tidak bisa memberi kamu keturunan. Dan kamu, seharusnya kamu mengizinkan Rio untuk menikah lagi, karena kamu tidak bisa memberinya seorang anak."


"Cukup, jaga bicara Papa di depan Weli. Sampai kapanpun Rio tidak akan mau menikah lagi." Weli hanya tertunduk menahan tangisnya di depan mertuanya, dan Selia.


"Rio... kenapa kamu egois seperti ini. Kalau kamu tidak bisa memiliki anak, lalu bagaimana nasib perusahaan kita kelak. Siapa yang akan menggantikan kamu, nanti" Bentak Pak Adrian. Bu Sonya hanya diam, melihat putra semata wayangnya cek com dengan suaminya.


"Perusahaan kita, Rio tidak salah dengar Pa? apa Papa lupa, perusahaan yang sekarang Papa pimpin, itu milik orang tua Weli." Rio sudah tidak tahan lagi, dengan kelakuan papanya.


To be continued

__ADS_1


maaf telat up..


lagi bleng otaknya hehehe...


__ADS_2