
Keesokan harinya, tepat hari Minggu. Itu artinya, besok bukti itu harus sudah ada ditangan Sisi dan Iqbal. Tapi sampai sekarang pihak klinik belum menghubungi mereka.
Di sebuah bangku yang terletak di taman rumah Faisal, terlihat seorang gadis sedang merenung. Akhir-akhir ini, sifat cerianya menghilang bagai debu yang di terpa angin. Yang ada hanya raut wajah kesedihan. Sepertinya masalah yang ia hadapi saat ini benar-benar berpengaruh mengubah hidupnya. Sehingga membuat orangtuanya sedikit kesusahan mengembalikan keceriaannya lagi. Seperti pagi itu.
Yulia, sejak kepulangannya melayat di pemakaman nek Puspita. Dia belum bertemu dengan putrinya. Karena saat dia dan suaminya pulang, Sisi sudah terlelap. Yulia mendekati anak gadisnya. Hatinya pun sama seperti Sisi, pilu. "Sayang, kita sarapan yuk!" ajak Yulia yang ikut duduk di samping anaknya.
"Bunda duluan aja, Sisi belum laper," balas Sisi masih belum mengalihkan pandangannya ke pot bunga di depannya.
"Sayang, Sisi dari kemarin belum makan lo! nanti Sisi sakit, kita sarapan dulu, habis itu kita ke rumah nenek," bujuk Yulia yang tak mau kalah.
Di belainya rambut Sisi yang tertutup jilbab instan oleh Yulia. Gadis secantik Sisi, seceria anaknya, kini berubah menjadi sosok yang pendiam dan tertutup. Hanya karena masalah yang ia hadapi saat ini. Pagi itu berbagai cara dilakukan oleh Yulia dan Faisal untuk membujuk Sisi agar mau makan, tapi tak ada satupun yang berhasil. Setelah merenung di taman rumahnya, Sisi memilih untuk kembali ke kamarnya. Dia melewatkan sarapan paginya bersama keluarga tercinta.
Sikap Sisi yang seperti itu, membuat orangtuanya semakin takut. Takut, jika jiwanya akan terguncang. "Than, tolong temani kakak mu dulu. Kasihan dia, sejak tadi gak mau keluar," pinta Faisal pada putranya yang kebetulan sedang melintas di depannya.
"Iya, Yah!" jawab pria itu yang semakin hari terlihat tampan seperti ayahnya. Fathan langsung menuju ke kamar kakaknya. Beberapa kali dia mengetuk pintu, tapi tidak mendapat sahutan dari dalam. Akhirnya dia nekat membuka pintunya. Ternyata pintunya juga tidak di kunci. Jadi mempermudah untuk Fatan masuk kedalam. Setelah pintunya terbuka, Fatan langsung masuk, dilihatnya Sisi sedang duduk bersandar di ranjang, tempat tidurnya. Fatan berjalan mendekat, dan mendaratkan tubuhnya di ranjang itu saat dia sudah sampai di dekat kakaknya.
"Kak! apa yang Kakak rasakan sekarang?" tanya Fatan seraya memegang tangan kakaknya. "Kakak ngomong sama Fathan, sekarang!" lanjutnya, Sisi kembali terisak.
"Kenapa semua orang menyalahkan Kakak? Kenapa?"
"Itulah kodratnya manusia Kak, mereka terkadang menilai seseorang dari apa yang mereka lihat dan dengar. Terkadang mereka tidak mau tahu dengan hal yang sesungguhnya. Jadi, Kakak gak boleh lagi menyalahkan diri Kakak. Kakak harus bangkit, tunjukkan kepada mereka, kalau Kak Sisi memang gak salah. Bukankah kakak sudah berusaha untuk membuktikan itu? Kita tunggu saja kak bukti itu keluar, setelah itu mereka akan tahu kalau Kak Sisi gak seperti yang mereka lihat dan dengar. Kakak harus bangkit," ujar Fatan memberi semangat Sisi.
"Kamu benar, Dek. Hari ini Kakak akan ke klinik itu, untuk menanyakan hasil dari tes kemarin. Kenapa sampai sekarang, hasilnya belum keluar. Padahal, waktu tes itu. Petugasnya bilang, gak sampai dua hari hasilnya akan keluar," kata Sisi yang mulai bangkit dari keterpurukan.
"Nah, gitu dong! ini baru Kakaknya Fatan, nanti biar Fatan yang temenin Kakak, ya!" tawar Fatan tersenyum manis kearah kakaknya.
"Makasih, ya Dek!"
"Ok.. Oh iya, Kakak belum makan, kan? Fatan suruh Bi Imah bawakan makanan kesini, ya!" usul Fatan.
"Nggak usah, Dek. Kakak keluar aja sendiri, Kakak makan di ruang makan aja!"
__ADS_1
"Sip!!!"
Sisi akhirnya keluar dan ikut makan siang bersama keluarganya. Di sana sudah ada Ayah dan Bundanya, juga ada Fatin yang sudah menunggu kedatangannya. Sisi sudah terlihat segar dari yang mereka lihat tadi, pas masuk ke kamar. Mereka berdua langsung duduk, di tempat mereka masing-masing.
Makan siang itu mereka lakukan dengan penuh semangat. Apalagi, Sisi yang sudah mau tersenyum saat di goda adiknya. Moment itu tidak akan dilewatkan oleh Sisi untuk memberitahu pada orangtuanya, kalau dia akan pergi ke klinik, dimana dia melakukan tes itu.
"Yah, Sisi mau pamit ke Klinik Bunda ya, Sisi mau menanyakan hasil tes itu pada dokternya," pamit Sisi di sela-sela obrolan mereka.
"Hmmm, tapi bukannya mereka akan mengabari kita, sayang! Kalau hasil tes-nya udah keluar?" tanya Faisal, yang masih asyik dengan makanannya.
"Iya, Yah. Tapi seharusnya udah keluar dari kemarin. Dokternya bilang, cuma dua hari hasilnya udah keluar. Mungkin mereka masih sibuk, jadi belum sempat ngabarin kita," jelas Sisi. Faisal hanya mengangguk.
"Sayang, kamu sama siapa kesana nya?" Sekarang giliran Yulia yang bertanya.
"Biar Fatan yang antar Kakak, Bun!" sahut Fatan, Yulia tersenyum lega.
"Ya udah, kalian hati-hati ya. Apa mau diantar sama Pakde ke kliniknya? Fatan menggeleng.
"Nggak usah, Yah. Biar Fatan yang bawa mobilnya." Akhirnya mereka sepakat untuk berangkat berdua tanpa di antar oleh supir keluarga Faisal.
Sementara Bu Tari, sepeninggal ibunya, beliau tampak merenung. Bukan cuma masih sedih karena ditinggal oleh ibu kandungnya. Tapi, beliau sedih karena hubungan anaknya harus berakhir seperti ini dengan Sisi. Sama sekali, Bu Tari tidak menyalahkan Sisi atas masalah ini. Dia justru kecewa dengan keputusan putranya yang terlalu tergesa-gesa. Sehingga membuat dirinya benar-benar terluka. Walau demikian, dia harus tetap menjalankan aktivitasnya sebagai seorang Ibu yang memberi kekuatan untuk anaknya.
Siang itu, Bu Tari berjalan mendekat kearah Hanif. Sejak pagi tadi, Hanif tidak menyentuh makanannya. Beliau khawatir, putranya akan sakit jika tidak mau makan. "Nif, ayo makan dulu!" ajaknya setelah menepuk pelan punggung putranya.
"Hanif nggak lapar, Bun!" jawab Hanif, masih bersikap dingin pada bundanya. Setelah perdebatan semalam, membuat pria itu sedikit kesal dengan Bu Tari karena terus saja membela Sisi.
"Kamu marah dengan Bunda?" Pria itu menghentikan aktivitasnya yang saat itu sedang memberi makan ikan kesayangannya. Setelah itu dia beralih menoleh ke wajah Bu Tari.
"Nggak, Bun. Hanif hanya kecewa dengan Bunda!" lirihnya dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa disaat Hanif butuh pembelaan, Bunda justru percaya dengan Sisi yang jelas-jelas sudah menyakiti Hanif!"
"Nif, terkadang apa yang kita lihat dan dengar tidak seperti kenyataannya, sayang. Coba selidiki dulu kasus itu, setelah kamu tahu kebenarannya sendiri. Barulah kamu mengambil keputusan." Ucapan Bu Tari membuat pria berlesung pipi itu menatap kearah lain. Hatinya ingin mengikuti saran Bundanya. Tapi nalurinya berkata lain. Dia sudah terlanjur percaya dengan kata-kata dia orang warga itu.
__ADS_1
"Jangan sampai kamu menyesal, sayang. Selidiki kasus itu!" Hanif menggeleng.
"Nggak Bun, dari awal mereka memang sudah dekat. Mungkin selama ini Sisi tidak pernah mencintai Hanif, dia hanya nyaman dengan Hanif. Jadi, saat mereka berdua, mereka tidak bisa mengontrol perasaan mereka." Asumsi Hanif membuat Bu Tari mengerinyitkan keningnya. Betapa tidak. Pria di depannya itu terlalu percaya diri dengan asumsi nya sehingga tuli, tak mau mendengar pendapat orang lain.
"Ya sudah, kalau memang itu sudah menjadi keputusan kamu. Bunda bisa apa? Semoga kamu nggak nyesel nantinya." Bu Tari menghela nafasnya kasar, setelah itu beliau meninggalkan Hanif yang masih di sana.
Sepeninggal Bundanya, Hanif mengirim pesan pada Sisi. Akal sehatnya sedikit bekerja sekarang. Tujuannya mengirim pesan untuk memutuskan secara resmi hubungannya dengan wanita itu. Dan isi pesannya adalah.
"Saya sudah tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Maaf, jika saya tidak bisa membuatmu bahagia. Semoga, kamu bisa hidup bahagia bersama Iqbal... laki-laki yang selama ini kamu cinta!"
Usai mengirim pesan ke ponsel Sisi. Hanif berjalan menuju ke ruang kerjanya. Dia akan membuat surat pengunduran diri dari rumah sakit, tempat dia bekerja. Dia berfikir, tidak akan sanggup bila satu kerajaan dengan wanita yang membuat hatinya terluka. Dia memilih menerima tawaran bekerja di rumah sakit Zahra Medica, yang sekarang diambil alih oleh adik dari pak Darul. Dia Minggu yang lalu, dia mendapat tawaran untuk bergabung di rumah sakit itu. Awalnya dia menolaknya dengan alasan, dia sudah nyaman dengan pekerjaannya yang sekarang. Tapi setelah masalah yang menimpa dirinya, Hanif berubah pikiran dan mau bergabung dengan rumah sakit itu.
Sisi yang masih dalam perjalanan menuju ke klinik Bunda, tiba-tiba mendapat chat masuk dari nomor Hanif. Dengan sedikit gemetaran, dia membuka isi pesan itu. Dan apa yang ia lihat dan baca benar-benar kejutan yang luar biasa' dari Hanif. Pria itu memutuskan hubungannya sepihak tanpa bicara dulu dengannya. Tak dapat dipungkiri, rasa sakit, sesak itu menyerang lagi di dadanya. Dia tidak menyangka kalau ini akan beberapa terjadi.
Melihat kakaknya terlihat berkaca-kaca, Fatan menanyakan apa yang terjadi. "Ada apa, Kak?" Wanita itu dengan cepat mengelap air matanya yang sudah mulai terjatuh dipipinya.
"Hanif membatalkan rencana pernikahan kami. Dia mutuskan hubungannya dengan Kakak," jawab Sisi jujur.
"Ya sudahlah, Kak. Buat apa Kakak menangisi keputusan Kak Hanif. Biarkan saja, dia. Untuk apa juga bertahan dengan pria yang gak mau percaya dengan Kakak, egois!" salak Fatan mulai emosi.
"Setelah dari klinik, antarkan Kakak ke rumahnya, ya? Fatan membelalakkan matanya.
"Untuk apa, Kak? Kakak mau memohon-mohon dengan Kak Hanif?" tanyanya sedikit meninggikan suaranya. Sisi menggeleng, seraya berucap.
"Kakak mau kembalikan cincin ini ke Hanif!" Sisi melepas cincin itu dari jari manisnya. Cincin yang disematkan oleh Hanif saat malam lamaran itu, kembali dia lepas dari jarinya. Sekarang dia sudah tidak punya alasan lagi untuk memakainya lagi.
"Ok, nanti kita langsung kesana," ucap Fatan penuh semangat. Yang awalnya dia mendukung hubungan kakaknya dengan Hanif. Sekarang, dia orang yang pertama menentang hubungan mereka. "Kak, kaldu sampai Kak Hanif tahu kebenaran itu, terus dia ngajak balikan. Fatan, orang pertama yang akan melarang Kakak untuk menerima dia lagi. Fatan benar-benar gak suka dengan pria yang seperti itu, egois."
"Kakak harus janji, ya!" lanjutnya, seraya menunjukkan jari kelingkingnya pada Sisi.
"Apaan, sih Dek. Udah cepetan kita ke kliniknya. Nanti keburu sore!"
__ADS_1
To be continued
Dua part lagi, kebenaran akan terungkap...itu artinya, novel ini akan segera tamat....atau masih pengen lihat Sisi bahagia? hehehehe nasib mereka di tangan readers. author msh ngikut aja, dah 😁