Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Seratus tiga belas


__ADS_3

Dikediaman pak Andrian


Bu Sindi dan pak Andrian sedang berbincang di teras belakang rumah. Bu Sindi sedih, karena Weli seperti menjaga jarak padanya. Bu Sindi juga tidak menyangka, kalau suaminya sekarang berubah. Yang beliau tahu, dulu suaminya sangat menyanyangi Weli. Bu Sindi sebenarnya tidak setuju dengan rencana Pak Andrian, yang menjodohkan Rio dengan Selia. Bu Sindi kasihan pada Weli, walau bagaimanapun juga dia adalah anaknya. Bu Sibfi tidak pernah menganggap Weli itu menantunya, Karena sejak kecil beliaulah yang merawat Weli. Bu Sindi juga tahu rencana pak Andrian menjodohkan Rio dan Selia itu untuk apa.


"Pah, kenapa Papa tega menjodohkan Rio dan Selia. Kasihan Weli Pah!" seru Bu Sindi.


"Kamu gak tahu apa-apa Mah, sudahlah gak usah ikut campur urusan Papah!" sergap Pak Andrian.


"Biarkan mereka bahagia Pah, Rio sangat mencintai Weli. Sudah sejak lama dia mencintai Weli. Sekarang pun Weli Sud mulai mencintai Rio, tapi papa malah mau jodohin Rio dengan Selia." Bu Sindi tahu perjalanan kisah cinta mereka. Karena memang beliau dekat pada Weli dan Rio. Mereka sering curhat pada beliau.


"Mah, Weli tidak bisa kasih keturunan untuk Rio. Otomatis perusahaan yang di kelola Rio sekarang, nantinya tidak akan menjadi miliknya seutuhnya. Tapi kalau Rio mempunyai anak, anaknya lah yang akan menjadi pewaris tunggal dari keluarga Admaja," jelas Pak Andrian.


"Tapi kan, itu bukan anaknya dengan Weli. Tapi, dengan perempuan lain. Bagaimana bisa Papa punya pemikiran seperti itu." elak Bu Sindi, yang semakin tidak tahu jalan pikiran suaminya.


"Karena itu, Papa yang akan bicara pada Weli, untuk mengizinkan Rio menikah lagi. Karena dia tidak bisa memberikan anak untuk Rio."


"Wanita mana Pah, yang mau mengizinkan suaminya menikah dengan perempuan lain. Berikan mereka kesempatan untuk menunjukkan kepada kita, kalau suatu saat mereka akan punya anak. Jangan lagi meminta untuk Rio menikah lagi dengan Selia Pah," bujuk Bu Sindi, memohon agar pak Andrian tidak egois, dan tetap menjodohkan Rio dengan Selia.


"Sampai kapan Mah? apa Mama lupa, apa yang diucapkan Weli waktu itu. Weli akan sulit mempunyai anak, dan sekarang kita harus menunggu. Emangnya Mama gak pingin cepat-cepat punya cucu dari Rio?" Pak Andrian masih bersikeras untuk menjodohkan Rio dan Selia.


"Mama pengennya punya cucu dari Rio dan Weli, bukan dari Rio dan Selia!" tegas mana Sindi pergi meninggalkan Pak Andrian seorang diri.


Pak Andrian beranjak dari duduknya, dia akan menemui Weli. Pumpung Rio masih di kantor, itu artinya Weli di rumah seorang diri. Pak Andrian akan membujuk Weli agar Rio mau menikahi Selia. Saat pak Andrian akan keluar dari rumah, Bu Sindi yang melihatnya membuntuti Pak Andrian.


"Papa Mau kemana?" tanyanya saat sudah berhasil menyusul suaminya.

__ADS_1


"Ke rumah Rio," jawabannya singkat.


"Mau ngapain Pah?" tanya Bu Sindi lagi.


"Ya mau ngomong sama Weli, supaya mau membujuk Rio menikah dengan Selia." Pak Andrian masuk ke mobilnya, dan pergi meninggalkan Bu Sindi.


"Astaghfirullahalladzim, Papa!" gumamnya, lalu menyusul Pak Andrian menggunakan mobil satunya lagi.


Sampai di rumah Rio, Pak Andrian langsung masuk ke rumah. Kebetulan Weli, baru siap menyiapkan makan Siang. Rio memberi kabar, kalau akan makan Siang dirumah, bersama Weli. Saat akan menuju lantai atas, Weli melihat Pak Andrian yang baru saja masuk.


"Papah!" seru Weli menghampiri pak Andrian.


"Papa mau bicara sama kamu!"


Mereka berdua duduk diruang tamu. Perasaan Weli tidak menentu, dia bisa menebak kedatangan pak Andrian ke rumahnya. Assisten rumah tangga Weli datang, menyuguhkan minum untuk Pak Andrian, usai diminta oleh Weli. Kini tinggal pak Andrian dan Weli yang ada disitu.


"Tapi Pah, Weli tidak bisa melakukan itu." Weli tidak berarti menatap wajah pak Andrian.


"Kenapa? kenapa kamu egois seperti itu. Harusnya sebagai istri kamu mendukung rencana Papa. Apalagi melihat kondisi kamu yang sekarang!" Weli semakin teriris mendengar ucapan Pak Andrian. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi, agar Pak Andrian tidak berucap seenaknya padanya.


"Pah, berikan kami sedikit waktu, Weli yakin bisa memberikan Papa cucu," tawar Weli pada Pak Andrian.


Disela-sela obrolan mereka Bu Sindi dan Rio datang bersamaan. Mereka segera masuk, untuk menghalangi Pak Andrian.


"Jangan dengarkan ucapan Papa, sayang." Rio segera mendekat kearah Weli, dan merangkul pundak nya. Disusul eh Bu Sindi yang ikut duduk disebelah Rio.

__ADS_1


"Papah jangan egois, papa mementingkan kepentingan Papa dan merusak kebahagiaan mereka." Bu Sindi sudah tidak tahan lagi dengan sikap suaminya, dia akan membongkar rencananya di depan Weli dan Rio.


"Jaga bicara mama, papa hanya melakukan yang terbaik untuk mereka," elak pak Andrian.


"Cukup Pah, Rio tidak akan setuju dengan rencana Papa. Lebih baik Papa pergi dari sini," ujarnya masih dengan nada yang rendah.


"Cukup Pah, jangan jadikan mereka umpan untuk ketamakan Papa!" timpal Bu Sindi.


"Maksudnya apa ma? apa yang sudah direncanakan Papa?" tanya Rio menatap mamanya.


"Papa akan menikahkan kamu dan Selia agar bisa menguasai perusahaan Papa Selia. Dengan begitu, Papa tidak akan takut kalau Weli mengambil alih kekayaannya," terang Bu Sindi, yang sebenarnya sudah mengetahui rencana Pak Andrian.


"Papanya Selia lebih kaya daripada Pak Admaja, karena itu papa ingin menguasai mereka. Ditambah lagi, isi wasiat dari Pak Admaja, kalau kamu hanya bisa mengelola tapi tidak punya hak milik perusahaannya." Bu Sindi mengetahui rencana pak Andrian dari pengacaranya. Beliaulah yang memberitahu semuanya.


"Kenapa Papa punya pikiran seperti itu, Weli tidak akan pernah mengambil harta Weli dari papa dan Rio. Weli serahkan semuanya pada Papa dan Rio. Weli ingin menjadi istri yang baik untuk Rio. Karena itu, Weli tidak mau terjun langsung mengurus perusahaan Papa. Papa nggak usah khawatir dengan hal itu, andainya pun Weli tidak bisa punya anak. Maka, Weli serahkan semua harta Weli untuk Rio. Jadi Weli mohon, kalau itu alasan Papa menjodohkan Rio dengan Selia, tolong urungkan. Weli tidak akan sanggup bila melihat orang yang Weli menikahi wanita lain." Weli bersujud memohon pada pak Andrian untuk tidak melanjutkan rencananya.


"Sayang, kamu tidak perlu seperti itu, kamu gak salah. Harusnya papa yang minta maaf pada kamu." Rio mencoba membuat Weli berdiri dari simpuhnya.


"Maafkan keegoisan Papa, maafkan." Pak Andrian memeluk Weli. Selama ini dia salah menilai Weli. Dia pikir Weli akan menguasai hartanya sendiri, setelah bersusah-payah menjaga Weli, dia tidak bagian apa-apa.


Selama ini memang pak Andrian lah yang mengelola perusahaan pak Admaja. Perusahaan itu ditangan Pak Andrian memang mengalami kemajuan yang sangat pesat. Tapi karena ketamakan nya, dia ingin menguasai sendiri harta itu tanpa memikirkan Weli lagi. Dari situlah pak Andrian menjodohkan Rio dan Weli. Tapi, setelah tahu kalau Weli tidak bisa memberikan Rio anak, dan berniat mengadopsi anak di panti asuhan. Pak Andrian menjadi takut, kalau harta itu akan di minta oleh Weli lagi.


to be continued..


Maaf ya diselang dulu...

__ADS_1


Satu masalah sudah selesai..


Kedepannya semoga Weli bisa cepat hamil..


__ADS_2