Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Jadi, dia orangnya..


__ADS_3

Dino menghampiri Yulia, dia tahu apa yang dirasakan oleh Yulia saat ini, dengan berat hati dia harus mengatakan keadaan Faisal yang sebenarnya.


"Yul, Kamu yang sabar ya... do'akan saja suamimu agar segera sadar. Faisal masih koma Yul..Kita akan lakukan sebaik mungkin..untuk membuat Faisal segera sadar" Terang Dino, Yulia hanya bisa terisak.


Mama Siti merangkul pundak Yulia, kemudian mendudukkan nya di bangku lagi..


"Mas Dino, tolong selamatkan mas Faisal huhuhu...." Pinta Yulia pada Dino.


"Pasti Yul, kami akan melakukan yang terbaik untuk Suamimu.."


"Apa Yuli, sudah bisa melihat mas Faisal, mas?" Tanya Yulia lagi.


"Bisa, tapi harus bergantian ya Yul... sekarang suamimu sudah dipindahkan ke ruang perawatan.." Yulia bergegas menuju ke ruang rawat Faisal. Ruangan yang dulu pernah dipakai oleh Weli saat dia koma..


Yulia masuk kedalam ruangan tersebut, banyak peralatan medis terpasang ditubuh suaminya. Yulia semakin terisak melihat kondisi Faisal.


"Mas, hiks...hiks...hiks.." diusapnya lembut kening Faisal yang tertutup perban.


"Mas, bangun mas, bagaimana kami bisa menjalankan hidup tanpa mas, Sisi...mas... Sisi... dia akan sedih jika melihat mas Faisal seperti ini..bangun mas..huhuhu..." Yulia sudah tak sanggup lagi untuk tidak menangis, dia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Pak Sukamto langsung menghampiri putrinya yang keluar dari ruangan Faisal dirawat, dengan menangis.


"Sudah Yul, kita harus banyak-banyak berdoa Yul..."


"Mas Faisal, huhuhu..."


"Yul, gak baik kamu seperti ini, nanti kalau dilihat Sisi dia pasti akan sedih,.." Dan benar saja, Sisi dan Felisa sudah ada dihadapan Yulia. Mereka sudah datang, dan langsung menemui Yulia dan kedua orang tuanya.


"Bunda mana Ayah..." gadis kecil itu langsung memeluk Yulia.

__ADS_1


"Ayah ada didalam nak,," Yulia masih meneteskan air matanya.


"Ayah kenapa Bunda, Sisi mau ke time zone sama Ayah. Ayah sudah janji mau temenin Sisi.." Sisi sepertinya belum mengerti dengan keadaan Faisal. Dia terus saja merengek mau bertemu dengan ayahnya.


"Ayah sedang sakit nak, ayah belum bisa temani Sisi bermain... Sisi sama kakek aja ya..." Pak Sukamto mencoba menenangkan cucunya yang sudah mulai menangis...


"Gak mau, Sisi maunya sama Ayah...huahuaa' Sisi semakin menangis kencang.


"Sttt, Sisi dengerin Tante ngomong, kita ke Time zone nya sama Dede Bilqis aja ya sayang... Kan seru main berdua dengan Dede Bilqis..." Felisa mencoba membujuk Sisi, perlahan tangisnya mulai reda.


"Hu..hu.. tapi...Sisi...Sisi.. mau lihat Ayah, Ayah sakit, sisi mau tengok Ayah..." Rengek Sisi sembari mengusap air matanya, dan ingus di hidungnya.


"Iya, kita lihat Ayah ya nak...!" Yulia menuntun Sisi masuk kedalam ruangan Isolasi. Berharap jika Sisi bisa membuat suaminya sadar.


'Itu Ayah, sayang..." mereka mendekati Faisal yang terbaring di ranjang, dengan dipenuhi alat medis. Sisi yang melihat keadaan Ayahnya seperti itu lantas ketakutan..


"Bunda... Apa Ayah akan mati...?" Tanya Sisi polos.


"Ayah,,, Ayah ayo bangun... Sisi mau digendong Ayah.." Sisi menggoyang-goyangkan tubuh Faisal.


"Sayang jangan nak, Ayah masih sakit, kita keluar sekarang ya..." Yulia mengajak paksa Sisi untuk keluar dari ruang rawat Faisal..


"Hua...Hua...Sisi mau sama Ayah..."


"Sisi kita temui Adel Bilqis aja yuk,, kita main ke time zone..." Felisa menggendong Sisi yang sudah mulai tak terkendali.


"Iya sayang, Sisi sama Tante Felisa dulu ya nak, bunda tungguin ayah disini..." Yulia ikut membujuk anaknya, supaya mau diajak oleh Felisa. Sisi memang agak susah berinteraksi dengan orang lain. Selama ini dia hanya mau berteman dengan orang yang memang ia sukai. Dan tidak semua orang bisa meluluhkan hati Sisi, nenek dan kakeknya saja tidak bisa mengambil hati nya Sisi. Yulia kadang kerepotan jika ia ada keperluan mendadak. Sisi sama sekali tidak bisa ditinggal, selain dengan Faisal.

__ADS_1


Sisi dibawa oleh Felisa untuk bertemu dengan anaknya, Jika dengan Bilqis, Sisi memang akur dan mau bermain bersama. Karena memang mereka sering bertemu di butik, jadi sudah terbiasa. Yulia ditemani Mama Siti, sementara pak Sukamto harus pulang ke rumah. Beliau harus mengantar pesanan kue yang tadi belum sempat diantar.


Selang beberapa saat, mertua Yulia datang. Ibu Sari dan Pak Hermawan tiba di Jogja, langsung menuju ke rumah sakit, tempat Faisal dirawat. Mereka syok begitu mendengar kabar, putranya kecelakaan.


Sudah berhari-hari Faisal koma, dan belum menunjukkan tanda-tanda dia sadar. Yulia bergantian menjaga Faisal dengan orang tua Faisal maupun orang tua Yulia. Sementara Sisi, anak itu diungsikan ke rumah Felisa. Karena memang cuma dengan Bilqis, Sisi mau ditinggal oleh Yulia. Sudah hampir satu Minggu Faisal terbaring di ranjang rumah sakit dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya. Yulia dengan telaten merawat Faisal sebaik Mungkin. Setiap hari tubuh Faisal di seka air bersih, supaya terlihat bersih terus. Yulia berdoa di dekat Faisal, berharap suaminya akan segera sadar.


Malam itu, tepat pukul sebelas malam, Yulia melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an di samping Faisal. Dengan fasih Yulia melantunkan nya, terdengar suara samar-samar ditelinga Yulia..


"Weli...Wel.."


Yulia menghentikan membaca Al-Qur'an nya, dan mempertajam pendengarannya. Ternyata sumber suara itu dari bibir Faisal, Yulia terhenyak. Kenapa Faisal menyebut-nyebut nama Weli. Dengan segera ia memanggil perawat untuk memeriksakan Faisal.


Dokter Gerald dan suster Berlin yang datang, diperiksanya Faisal oleh dokter Gerald. Usai memeriksa dokter Gerald menyampaikan hasil pemeriksaan nya.


"Keadaan dokter Faisal masih sama, belum ada perubahan yang signifikan untuk mempengaruhi tingkat kesadaran nya..." Terang Dokter Gerald.


"Tapi suami saya memanggil-manggil nama seseorang dok.." Yulia mencoba menyakinkan kalau Faisal akan segera sadar.


"Mungkin orang tersebut berpengaruh besar dalam kehidupan dokter Faisal..."


Degg... Jantung Yulia berdetak kencang, ia coba menelaah ucapan dokter Gerald. Orang yang berpengaruh besar dalam kehidupan Faisal, tapi kenapa bukan dia atau Sisi yang disebut-sebut oleh Faisal. Kenapa Weli?. Lantas sekelebat pertanyaan itu muncul dalam benak Yulia. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka, apa sebenarnya Weli lah orang yang selama ini ada dalam hati suaminya. Air mata Yulia mulai menetes, ia menyakinkan dirinya untuk tidak berfikir macam-macam. Yulia lantas keluar dari ruangan Faisal, dia mencoba untuk menemui Dino. Yulia tidak ingat kalau hari sudah larut, Dino tentu saja sudah pulang ke rumahnya. Dengan perasaan kalut, ia memasuki ruangan Dino. Dan benar saja, Dino sudah tidak ada di ruangan nya. Yulia baru sadar, kalau hari sudah larut. Dengan langkah gamang ia kembali ke ruangan Faisal. Faisal masih menyebut-nyebut nama Weli. Untuk kedua kalinya perasaan Yulia hancur, hancur sehancur-hancurnya.


To be continued...


Satu bab dulu ya... nanti siang disambung lagi..


Gimana jika kalian jadi Yulia...?

__ADS_1


Dibohongi suaminya selama bertahun-tahun..


Sakit gaess, sakit...


__ADS_2