
Sisi masih berusaha membuat Hanif membuka matanya. Dengan cara menepuk-nepuk pipi pria itu.
"Mbak, kita bawa aja ke rumah sakit!" usul pengendara yang menyrempet Hanif. "Lagian, itu murni kesalahannya. Pria itu yang menabrakkan diri di mobil saya!" lanjutnya dengan nada kesal.
"Iya, Mbak! Nih orang nekat bener deh?" timpal pengendara lainnya.
"Iya sudah, kita bawa aja ke rumah sakit!" jawab Sisi dengan suara parau. "Nif, kamu harus sadar Nif. Aku nggak mau terjadi apa-apa padamu!"
Saat seorang pengendara mau mengangkat tubuh Hanif, perlahan pria itu membuka matanya. "Si, aku mohon! Kembalilah denganku!" lirihnya menggenggam tangan Sisi. Wanita itu sadar, jika tangannya di sentuh oleh Hanif, sontak menepis tangan Hanif dengan pelan.
"Nif, aku nggak bisa terima kamu!" ucapnya menunduk.
"Kenapa Si?" tanya Hanif meminta penjelasan. Pria itu menatap lekat wajah Sisi yang hanya terlihat kepalanya saja.
"Karena aku akan menikah dengan orang lain!" Seketika tubuh Hanif melemah mendengar ucapan Sisi. Pengendara lainnya ikut terbawa suasana dengan kepedihan Hanif. Mereka merasa iba dengan Hanif yang tidak bisa bersatu dengan wanita yang di cintainya itu.
"Maafkan aku, Nif. Besok malam, akan ada pria yang mengajakku untuk ta'aruf. Dan pria itu adalah jodoh pilihan kakekku. Aku tidak mau mengecewakan mereka!" ujar Sisi berkata jujur pada Hanif.
Setelah mendengar penjelasan dari Sisi, justru membuat Hanif sedikit memiliki harapan untuk bisa bersatu dengan Sisi lagi. "Si, aku akan buktikan ke kamu! Kalau aku serius dengan kamu, dan kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kamu berikan padaku. Beri aku kesempatan untuk membuktikannya padamu!" pinta Hanif memohon pada Sisi.
"Nif, kita sudah selesai. Aku gak mau membuat keluarga ku kecewa!" tolak Sisi masih teguh dengan pendiriannya.
"Apa kamu mencintai pria itu?" tanya Hanif dengan tatapan intimidasi. Pertanyaan itu tidak langsung di jawab oleh Sisi. Wanita itu mengarahkan pandangannya kearah lain. "Kamu nggak mencintainya, Si! Kalau kamu menerima perjodohan itu, kamu gak akan bahagia!" lanjut Hanif mencoba mempengaruhi Sisi.
Sisi tidak sanggup jika berhadapan lagi dengan Hanif. Karena itu dia menarik tubuhnya untuk berdiri. Dan pergi dari tempat itu. "Sisi!!! Kamu belum memberi jawaban kamu padaku!!!" teriak Hanif mencoba untuk berdiri, dengan di bantu oleh seorang pengendara yang masih ada di sana, Hanif berhasil berdiri. Namun dia tidak langsung mengejar Sisi, dan membiarkan wanita itu masuk kedalam mobil Dino. Seulas senyum licik terpancar dari bibir Hanif.
"Aku akan buktikan ke kamu, Si. Kalau kamu masih mencintaiku!!!!" lirih Hanif, kemudian pergi kearah mobilnya. Dan pengendara lainnya ikut membubarkan diri.
Keesokan harinya. Sejak kejadian malam itu, Sisi terlihat murung. Wanita itu mulai di liputi kebimbangan dengan keputusannya untuk menerima perjodohan itu. Bahkan, dia tak beranjak dari tempat tidurnya dan memilih mengurung diri di kamar.
__ADS_1
"Sayang, Sisi kok gak keluar?" Faisal yang melihat salah satu kursi di meja makan itu masih kosong, kemudian bertanya pada istrinya.
"Iya, Mas. Tumben putri kita belum keluar? Coba Yulia susul ke kamarnya dulu, ya!" Yulia akan beranjak dari tempat duduknya, langsung di cegah oleh Fatan.
"Biar Fatan aja yang panggil kak Sisi!" Yulia kembali duduk di tempat duduknya.
Fatan bergegas berjalan menuju ke kamar Sisi. Dengan deru langkah yang cepat, Fatan menaiki satu persatu tangga hingga ke lantai atas. Setelah itu berjalan kearah Utara, melewati kamarnya, dan sampai di kamar Sisi.
"Kak!" seru Fatan langsung masuk kedalam. Sisi menoleh kearahnya dan tersenyum tipis, melihat Fatan datang. "Kenapa nggak turun?" Fatan mendaratkan bokongnya di sisi ranjang kamar itu.
"Kakak puasa Dek. Kalian sarapan aja, Kakak nggak apa kok!" ucap Sisi menyakinkan dirinya kalau dia sedang baik-baik saja. Namun, dengan melihat mimik wajahnya, semua orang bisa menebak kalau dia tidak sedang baik-baik saja.
"Kakak yakin?" Fatan mempertajam pertanyaannya. Namun Sisi justru menunduk. "Fatan yakin, Kakak gak sedang baik-baik saja, kan! Kakak mau cerita dengan Fatan?" Sisi kemudian menatap lekat wajah adiknya. Mungkin dia memang harus meminta pendapat dari seseorang untuk masalahnya. Agar dia bisa menyakinkan dirinya.
"Kakak...kakak bingung, Dek!"
"Kakak takut. Kalau Kakak menikah dengan pria itu, Kakak gak bisa jadi istri yang baik." Fatan tersenyum menanggapi kalimat Sisi. "Kok kamu malah ketawa, sih Dek!" seru Sisi mengerucutkan bibirnya.
"Kak-Kak! Kakak ragu karena itu? Kakak yakin, bukan karena pria lain?" Sisi membelalakkan matanya.
"Kok kamu ngomong gitu, sih Dek?" Fatan tergelak.
"Fatan yakin, ada yang berusaha mempengaruhi Kakak, kan!" Sisi menunduk. "Tanyakan hati nurani Kaka? Mintalah petunjuk Allah. Kemana hari Kakak akan berlabuh. Ke tempat pria yang akan di jodohkan dengan Kakak, atau pria yang jelas-jelas menolak Kakak saat Kakak ada masalah. Pria seperti itu, bukan pria yang baik, Kak! Egois!" Fatan menepuk pelan pundak kakaknya, setelah itu dia beranjak dari tempat itu. Meninggalkan Sisi yang tampak berfikir, mencerna satu demi satu kata yang di ucapkan adiknya itu.
*************
Di tempat lain
Semalaman Ilham tidak bisa tidur. Dia kepikiran dengan ucapan pamannya. Tentang ciri-ciri wanita yang akan di jodohkan dengannya. Bayangannya tetap tertuju pada Sisi. Tapi, dia masih ragu dengan asumsinya. Hingga dia melakukan sholat malam untuk meminta kelancaran khitbah nya malam ini dan berharap wanita itu adalah Sisi.
__ADS_1
Kini mereka sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Faisal. Selepas sholat magrib, Ilham belum keluar dari kamar hotelnya. Sementara Abi dan Umi nya sudah menunggunya di luar.
"Umi, coba Umi tengok Ilham dulu! Kenapa belum keluar juga," pinta Abi Ilham pada istrinya.
"Iya Abi." Baru saja Umi Qoniah mau melangkahkan kakinya, pintu kamar Ilham mulai terbuka. Dari balik pintu tampak seorang pria yang mempunyai senyuman manis itu keluar dari dalam kamarnya.
"Maaf Abi, Umi. Buat Umi dan Abi menunggu!" tutur Ilham tersenyum pada kedua orangtuanya.
"Ndak apa, Nak! Ya sudah kita turun kebawah. Pamanmu sudah menunggu di lobi," ujar Abi Ilham, menepuk pelan bahu putranya, kemudian mereka mulai melangkahkan kakinya menuju ke lobi hotel.
Ilham terlihat gugup dengan wajah yang di basahi keringat, padahal cuaca malam itu cukup dingin. Di dalam mobil pun dia hanya diam memperhatikan jalanan menuju ke rumah calon istrinya.
Ada sedikit yang janggal menurut dia, karena dia hafal betul jalan yang ia lewati saat ini adalah jalan menuju ke rumah Sisi. Jantungnya semakin berdegup kencang, saat mereka hampir sampai di rumah Faisal. Dan benar saja, Mobil yang di kendarai oleh Pak Zakri berhenti pas di depan pintu gerbang rumah Faisal.
"Umi, Abi! Kenapa kita berhenti disini?" tanya Ilham dengan gemetar. Umi Qoniah tersenyum lebar pada putranya.
"Karena rumah ini adalah rumah calon istri kamu, Ham!" Ilham mendelik tak percaya. Dia tidak menyangka dengan kejutan yang Umi dan Abinya berikan pada dia.
"Alhamdulillah, jadi wanita itu adalah Felisya Basri, Umi?" tanyanya masih belum percaya.
"Iya, sayang! Wanita itu adalah Sisi!" Seulas senyuman lega terpancar dari wajah Ilham, dia benar-benar bahagia jika Sisi adalah calon istrinya, kelak. Dan harapannya hanya satu, Sisi mau menerimanya menjadi imam dalam biduk rumah tangga mereka, kelak.
To be continued..
Thor, mana kejutannya?
Hehehehe belum di part ini, ya. Soalnya Sisi galau sih, jadi author pengen nyakinin dulu tuh si Sisi. Tapi... Apa dia masih galau lagi ya, kalau tahu kejutan yang akan di berikan Hanif, nantinya. Atau sebaliknya, dia akan langsung memberi keputusan saat itu juga....
Ets dah!!! Digantung lagi????
__ADS_1