
Kecelakaan beruntun itu tak cuma merenggut nyawanya Delia. Tapi juga membuat Delia berada di ruangan UGD. Yulia yang waktu itu ada di mobil Delia, saat kecelakaan itu terjadi. Sampai saat ini kondisinya masih kritis. Ibu angkatnya Delia, yang mendapat kabar kalau putrinya mengalami kecelakaan, langsung datang ke rumah sakit. Mereka tidak tahu, kalau yang ada di dalam ruang UGD itu adalah Yulia.
Beberapa Dokter di kerahkan untuk kesembuhan Yulia. Namun usahanya belum membuahkan hasilnya. Mereka rencananya akan membawa Yulia berobat ke luar negeri. Mereka sangat terpukul mendengar kecelakaan yang menimpa putrinya.
Pak Erlangga dan Bu Sundari akan membawa Yulia ke Singapura. Rencananya pagi ini, Yulia akan terbang ke Singapura dengan di dampingi salah satu dokter yang merawat Yulia. Kebetulan di Singapura, adalah tempat tinggalnya selama ini. Mount Elizabeth, adalah rumah sakit yang akan merawat Yulia kedepannya. Rumah sakit itu, tak jauh dari tempat kediaman pak Erlangga.
Sudah hampir seminggu, Yulia di rawat di rumah sakit mount Elizabeth. Kondisi Yulia semakin membaik. Setiap hari pak Erlangga dan istri yang menunggu Yulia. Karena di sana mereka tidak mempunyai keluarga.
Pagi itu saat dokter Mark memeriksa Yulia, tangan Yulia bergerak, dan perlahan matanya terbuka. Dokter Mark, memeriksa kembali keadaan Yulia. Ternyata Yulia sudah mulai sadar. Dokter Mark memberi tahu pak Erlangga dan istri. Mereka sangat senang, karena usahanya tidak sia-sia.
"Sayang kamu sudah sadar, Alhamdulillah!" Bu Sundari memeluk Yulia.
"Saya dimana?" tanya Yulia pertama kali melihat Bu Sundari.
"Kamu di rumah sakit, sayang"
"Maaf, anda siapa, dan saya siapa?" Yulia memegangi kepalanya.
"Sayang kamu gak ingat Mana nak?" tanya Bu Sundari bingung, Yulia menggelengkan kepalanya.
"Ini Mama sayang, dan ini Papa." Bu Sundari menunjuk Pak Erlangga.
"Sayang, denger Papa!kamu Delia, anak Papa dan Mama." Pak Erlangga menjelaskan pada Yulia.
"Delia, kenapa aku gak ingat apa-apa?" Yulia masih bingung, dengan apa yang terjadi dengannya.
" Pa kita panggil Dokter Mark saja," saran Bu Sundari.
__ADS_1
Pak Erlangga kemudian keluar untuk memanggil dokter Mark. Beliau ingin, dokter Mark memeriksa Yulia lagi dengan detail. Kenapa sampai Yulia tidak ingat apa-apa.
Dokter Mark, kembali memeriksa Yulia. Yulia di beri beberapa pertanyaan oleh dokter Mark. Namun Yulia hanya menggeleng dan mengangguk, karena dia sama sekali tidak ingat apapun. Dokter Mark bisa menyimpulkan keadaan Yulia, setelah mengetahui jawaban Yulia. Dokter Mark menghela nafasnya berat. Pak Erlangga mendekati dokter Mark kemudian berkata,
"What happened to my daughter, dok?"
(Apa yang terjadi pada putri saya, dok?"
"The father's daughter has memory loss"
(Putri Bapak mengalami Gilang ingatan"
"How long Will hehe well?"
(Berapa lama dia, akan sembuh)
"I can't predict it cantik be one day, one week, one mount, one year or oven ini this lifetime"
"What shoulder I do, so that my daughter can recover soon?"
(Apa yang harus saya lakukan, agar putri saya segera pulih?)
"You can provoke your daughter's memory by interacting with people, who have a big influence in your daughter life. But my advice, id not pushy. Because, itu Will demage your daughter's brain tissue."
"Anda bisa memancing memori putri anda, dengan cara berinteraksi dengan orang yang berpengaruh besar dalam hidup putri anda. Tapi saran saya, jangan terlalu memaksa. Karena, akan merusak jaringan otak putri anda).
Setelah menjelaskan apa yang terjadi pada Yulia, dokter Mark kembali keruangan nya. Yulia mengalami Amnesia, sehingga tidak mengingat siapa dirinya. Orang yang terkena Amnesia, biasanya terjadi akibat adanya kerusakan pada sistim Limbik yang ada di otak. Limbik sendiri berperan penting dalam mengatur ingatan dan emosi seseorang.
__ADS_1
Psk Erlangga dan istri hanya pasrah, menerima musibah yang dialami Yulia.
Di tempat lain.
Setelah hari ketujuh meninggal nya Delia, Faisal belum beraktivitas seperti biasa. Semangatnya seketika hilang, karena baginya Yulia adalah salah satu penyemangat untuk dirinya. Dino setiap pulang kerja selalu ke rumah Faisal, demi untuk menghibur Faisal. Dia tahu betul perasaan Faisal saat ini. Merasa bersalah, tentu. Tapi ada hal yang lebih membuat Faisal terpuruk adalah, dia menyesali perbuatannya yang selama ini tidak terlalu memperhatikan Yulia.
Malam itu Dino dan Felisa beserta Bilqis sudah ada di rumah Faisal. Dino mengajak Faisal untuk berbicara dari hati ke hati. Selama satu Minggu belakangan ini, Faisal hanya mengurung diri di kamar. Orang tuanya saja sampai khawatir melihat kondisi Faisal. Belum lagi Sisi, yang terus menerus menangis, ingin ikut dengan bundanya.
Dino naik ke lantai dua, dimana kamar Faisal berada. Pintu kamar Faisal tak pernah di kunci, dia masuk secara perlahan. Di lihatnya, Faisal masih duduk di ranjangnya.
"Sal, gue tau Lo pasti sangat terpukul atas kepergian Yulia" Dino duduk di sisi lain ranjang.
"Tapi, Lo juga harus ingat ada Sisi yang sangat membutuhkan Lo. Kasihan orang tua Lo Sal, mereka sangat kerepotan mengurus Sisi. Sisi terus saja menangis, dan tak mau dibujuk oleh siapapun," papar Dino memegang pundak Faisal.
"Lo harus kuat demi anak Lo, Yulia sudah tenang disana. Mungkin Allah lebih sayang pada Yulia, sehingga Allah ingin cepat Yulia berada di sisi Nya. Yulia orang baik, syurga lah tempatnya. Lo harus ikhlas, melepas Yulia. Agar dia bisa tenang melangkah di sana." Dino berusaha memberi kekuatan kepada Faisal. Faisal yang mendengar kata-kata Dino, seketika hanya bisa menangis pilu. Kejadian delapan tahun yang lalu, harus terulang lagi sekarang.
Setelah mendengar ucapan Dino, Faisal sedikit lebih baik. Baginya sekarang adalah Sisi, putri kecilnya. Faisal sudah mau gabung dengan orang tuanya di ruang tamu. Di sana juga ada Felisa, Sisi, dan Bilqis. Sisi tidak seperti biasanya, dia lebih banyak murung. Dia iri pada Bilqis, karena bisa di manja oleh mamanya.
"Sisi, coba sini sayang, duduk sama tentu Felisa. Mulai sekarang Tante Felisa, jadi Bundanya Sisi juga." Felisa merentangkan kedua tangannya, agar sisi mau mendekat dan memeluknya. Dengan langkah pelan, Sisi memeluk Felisa. Dia menangis, ingat dengan Bundanya.
Faisal yang melihat Sisi menangis, mencoba mendekatinya. "Sayang, sini sama ayah," seru Faisal saat sudah di dekat Sisi. " Ayah, Sisi kangen Bunda" Sisi kemudian memeluk Faisal. "Besok kita main ke rumah Bunda ya Nak? kita kirim doa buat Bunda" Ibu Sari yang melihat putranya sudah lebih baik, tersenyum lega. Beliau takut Faisal akan berlarut dalam kesedihannya.
To be continued..
Kehidupan baru Faisal akan di mulai.
Akankah Faisal bisa bertemu lagi dengan Yulia.
__ADS_1
Terus gimana reaksi Faisal, saat dia melihat Yulia. Temukan jawabannya di novel SUAMIKU TAK PERNAH MENCINTAIKU season ke dua. Bakal up nya banyak hehehe..
Gimana masih mau lanjut