
Sore harinya, saat jam pulang kerja tiba. Faisal berjalan menuju ke ruangan Sisi. Dia ingin berpamitan pada putrinya untuk pulang bersama. Faisal memang sangat menyayangi putri satu-satunya di keluarga kecilnya itu.
Saat akan masuk ke ruangan Sisi, kebetulan putrinya itu keluar dari dalam. Sambil menenteng tasnya, dia langsung menghampiri ayahnya.
"Ayah, udah mau pulang?"
"Iya sayang. Kamu bawa motor, kan!" Sisi mengangguk dan tersenyum pada ayahnya.
"Ya udah. Ayah pulang duluan ya. Sampai ketemu di rumah. Ingat langsung pulang, jangan kelayapan!" sambung Faisal mengingatkan putrinya.
"Iya Ayah."
Faisal berjalan terlebih dahulu meninggalkan Sisi yang masih berdiri mematung di tempat itu. Hanif yang baru keluar dari dalam, menatap punggung gadis itu dengan tatapan jahil. Terbesit ide jahilnya untuk mengagetkan wanita itu.
"Hoeyy!!!!" Teriak Hanif menepuk sedikit keras pundak Sisi. Sisi yang sedang melamun sontak terkejut dibuatnya.
"Astaghfirullahalladzim Dokter Hanif!!!! Udah berapa kali dokter bikin saya kaget seperti ini." Sisi begitu gemas dengan perlakuan Hanif padanya.
"Lagian kamu. Perawan kok suka banget Sih melamun. Kayak gak ada kerjaan aja. Udah ayo pulang! atau kamu ingin disini nemenin Mbak Kunti," goda Hanif tertawa lepas melihat ekspresi wajah Sisi.
"Huuhh, nyebelin banget sih! tu orang."
Sisi kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju parkiran. Tak jauh dari tempat dia memarkirkan motornya, terlihat Hanif sedang masuk kedalam mobilnya. Sisi langsung menghidupkan motornya dengan cara distarter. Tapi sepertinya motornya sudah hidupnya. Sudah beberapa kali, ia menyobanya. Motornya tetap tidak nyala. Sisi menjadi kesal dan sesekali mengumpat.
Dari dalam mobil. Hanif yang melihat Sisi sedang kesulitan menghidupkan motornya, akhirnya turun dari mobilnya untuk menolong Sisi. Dia berjalan mendekat kearah Sisi.
"Kenapa motornya?" tanya Hanif saat sudah ada di samping motornya Sisi.
"Sudah tau gak mau nyala. Pake nanya lagi!" cetusnya membuat pria bermata sipit itu tersenyum mengejek.
"Kenapa senyum-senyum gitu. Seneng lihat orang lagi kesusahan!!" Sambungnya dengan wajah juteknya.
"Kamu lucu juga ya kalau lagi kesel begini." Hanif kemudian beralih mengambil kontak motor dari tangan Sisi.
__ADS_1
Hanif pun ikut membantu wanita yang sering ia jahilin seharian ini. Berbagai cara pun dia lakukan agar motornya nyala. Alhasil bukannya nyala, malah membuat jasnya menjadi kotor.
"Huuhh jadi kotor begini," gerutunya sambil mengibas-ngibaskan tangannya dijasnya yang terlihat kotor.
"Ya ampun gitu aja udah merutuk. Kalau mau nolong yang ikhlas dong!" sambung Sisi yang mendengar Hanif menggerutu.
"Kayaknya gak bisa deh! Ya udah kamu ikut saya saja. Nanti biar saya yang antar kamu," tawar Hanif pada wanita yang terlihat manyun karena motornya tidak bisa nyala..
Sisi jadi tidak enak udah bersikap ketus pada Hanif. Pada akhirnya pria itulah yang mengantarnya pulang. Awalnya dia ragu untuk pulang bersama pria itu. Tapi bukan Hanif namanya kalau tidak berhasil merayu Sisi untuk pulang bersamanya.
Kini mereka sudah ada didalam mobil. Suasana yang tadinya rame seketika menjadi hening. Sisi masih tidak enak pada Hanif. Sementara Hanif terlihat santai dengan sikap wanita yang ada disampingnya itu.
"Ini saya harus mengantarkan kamu kemana? Kalau kamu gak ngasih tahu alamat kamu pada saya," ujar Hanif masih fokus menyetir.
Sisi memberitahu alamat rumahnya pada Hanif. Pria itu merasa seperti ada yang aneh pada sikap Sisi yang jadi pendiam. Tak ingin suasananya menjadi canggung dari keduanya. Akhirnya dia berbuat jahil lagi. Di lajukan mobilnya dengan kencang sehingga membuat wanita disampingnya menjadi ketakutan.
"Ya Allah Dok, bisa gak sih. Gak ngebut-ngebut begini!!" teriak Sisi sambil memegang erat pegangan pintu mobil.
"Hehehehe lagian kamu diem aja. Kamu pikir aku ini supir taksi apa?" Merasa rencananya sudah berhasil Hanif kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kenapa Dok ngelirik-ngelirik gitu. Awas aja naksir, Lo!" ujar wanita itu saat tahu Hanif meliriknya.
"Naksir? Sama kamu? Nggak bakalan. Lagian ya. Kamu tuh bukan tipe cewek idaman saya."
"Nih ya aku kasih tahu ke kamu. Wanita idaman saya. Saya suka dengan wanita yang lembut, cantik, dan yang pasti dia berhijab," sambung Hanif menyebutkan kriteria cewek idamannya.
Sisi memang belum mengenakan hijab. Ayah dan bundanya pun sudah sering mengingatkan. Tapi jawabannya tetap sama, belum dapat hidayah. Dia masih tetap menjadi gadis tomboi yang sedikit susah di atur. Tapi meskipun begitu, dia tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.
Mereka sampai juga di sebuah rumah mewah yang dihalaman ada pohon Ketapang. Mobil Hanif berhenti tepat di depan rumah Faisal. Seorang satpam bergegas membukakan pintu gerbang.
"Makasih ya Dok. Sudah antar saya pulang," ucap Sisi tulus pada pria yang sudah mengantarnya.
"Santai aja. Oh iya, motor kamu nanti biar pihak bengkel yang antar kesini."
__ADS_1
"Aduh jadi ngrepotin nih," kata Sisi yang terlihat sungkan.
"Gak apa. Lagian nolongin orang jangan setengah-setengah. Harus total, dong!" gurau Hanif membuat Sisi tertawa lepas.
Saat Sisi akan turun dari mobil, dia teringat sesuatu. Dan menatap kearah Hanif. "Sini jasnya yang kotor, nanti biar saya yang cuciin," ucapnya malu-malu.
Hanif yang mendengar ucapan Sisi menjadi tidak enak hati. Dia berusaha menolaknya dengan berkata, "gak usah. Nanti biar bibi yang cuciin jas saya."
"Nggak apa kok. Sebagai ucapan terimakasih saya. Karena sudah mengantar saya," sahut Sisi mengulurkan tangannya.
Hanif kemudian melepaskan jas yang kotor terkena ban motor saat dia berusaha memperbaiki motornya Sisi tadi. Jas itu kemudian diberikannya kepada Sisi. Wanita berparas cantik itu kemudian turun dari mobilnya setelah menerima jas dari tangan Hanif dan berjalan masuk kerumahnya. Hanif masih memandang punggung wanita yang barusan ia antar itu sampai tak terlihat lagi. Dia tersenyum geli, saat teringat kebersamaan nya dengan wanita itu hari ini.
Faisal dan Yulia yang sudah berdiri di depan pintu karena menunggu putrinya merasa lega setelah kedatangan Sisi. Sisi langsung memeluk bundanya. Yulia menatap bingung anak gadisnya yang pulang tidak mengendarai motornya.
"Sayang, kamu pulang dengan siapa? Kok motor kamu gak ada?" cecar Yulia pada putri kesayangannya itu.
"Mogok Bun." Sisi hanya meringis melihat raut wajah bundanya yang terlihat sedang bingung.
"Terus kamu pulang dengan siapa. Sayang?” Sekarang giliran ayahnya yang bertanya padanya.
"Dokter Hanif," jawab Sisi singkat.
"Dokter Hanif? Kenapa gak disuruh mampir, Nak?" sambung ayahnya lagi.
"Udah malam Yah, mungkin dia capek!" kilahnya karena memang dia tidak menawarkan pada Hanif untuk mampir.
Mereka bertiga kemudian masuk kedalam. Diruang keluarga sudah ada Fatin dan Fatan yang sedang asyik main PlayStation. Kedua adiknya itu kalau sudah bermain game, lupa segalanya. Sampai-sampai tidak menyadari kakaknya pulang. Dengan jahil Sisi mematikan kabel yang terletak tak jauh dari layar televisi. Melihat gamenya terhenti lantas membuat adiknya mengeroyok Sisi untuk mencolokkan kembali kabelnya.
"Lagian ya kalian kalau udah main game lupa segalanya!!!" Sisi menjewer telinga kedua adiknya.
"Ampun Kak, ampun!!" Teriak keduanya.
Faisal yang melihat anak-anaknya berkelahi langsung menghampiri mereka bertiga. Bukan menjadi pemandangan yang baru untuknya. Tapi hampir setiap hari dia melihat keributan itu. Sampai-sampai mereka sering membuat bunda dan ayahnya ngomel karena ulah ketiganya yang tak pernah akur. Tapi saat seperti itulah yang dirindukan oleh Faisal dan Yulia saat ketiga anaknya tidak ada di rumah. Mereka rindu ketiga buah hatinya yang kocak dan tak pernah akur.
__ADS_1
To be continued...