Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Kesalahanku


__ADS_3

Mereka sampai juga di tempat tujuan. Pohon Pinus yang berjejer di sepanjang jalan menuju pantai, membuat suasana hati menjadi teduh. Di sanalah pertama kali Faisal menyentuh Yulia. Mobil Faisal di parkirkan di tempat pemarkiran umum. Faisal kemudian turun, kemudian membukakan pintu Delia. Sisi yang tertidur di belakang, di gendong oleh Faisal. Mereka bertiga menuju bibir pantai yang cukup ramai pengunjung nya.


"Bagus banget ya Mas, pemandangannya!" puji Delia terpesona melihat pemandangan di pantai itu. Air laut yang biru, ditambah bebatuan yang menghiasinya, membuat mata enggan berkedip.


Faisal mengajak Delia kesebuah tempat, yang tak jauh dari bibir pantai. Di sana lebih sepi daripada di bibir pantai. Banyak bebatuan yang terletak menghapit air pantai itu. Faisal, Sisi, dan Delia harus berhati-hati jika berjalan. Salah sedikit, mereka akan jatuh. Faisal mengabadikan momen itu di ponselnya. Mereka bertiga berpose, layaknya sebuah keluarga. Sisi terlihat gembira sekali, karena bisa bersama Bundanya.


Faisal tak pernah melepaskan tangan Sisi dari tangannya. Sisi harus dituntun, kalau tidak dia akan jatuh. "Mas, kenapa gak cari tempat yang gak banyak batunya kayak gini?" Delia takut kalau Sisi terjatuh. "Karena di tempat ini.." Faisal tidak melanjutkan kata-katanya, karena ada Sisi disampingnya. Tempat itu adalah, kali pertama nya Faisal mencium bibir indah Yulia. "Apa kamu tidak ingat sesuatu disini?" tanya Faisal menoleh ke arah Delia. "Tidak Mas, emang kita pernah ngapain di sini?" tanya nya balik. "Sudahlah lupakan saja, mungkin belum waktunya kamu mengingat semua ini," ujar Faisal kecewa.


Mereka duduk di sebuah batu besar yang menghadap ke lautan lepas. Delia menatap kearah lautan, tiba-tiba kepalanya menjadi pusing. Terlintas di ingatan nya, dia pernah mengalami kejadian itu.


"Kamu kenapa?" tanya Faisal, saat Delia memegangi kepalanya. "Gak kok Mas, hanya saja Delia seperti pernah mengalami ini," ucapnya jujur. "Benarkah itu, ya Allah mudah-mudahan kamu cepat bisa mengingatnya semua." Tutur Faisal kegirangan. "Aamiin" di Aamiini oleh Sisi.


"Bunda, dulu kita pernah naik kapal laut. Bunda sama Sisi lihat laut yang luasss banget... Banyak burung-burung yang terbang" Sisi mencoba mengingatkan, pengalaman nya pertama kali melihat laut lepas. "Benarkah itu, sayang?" tanya Delia, dan Sisi pun mengangguk.


"Sayang, kita bantu Bunda agar cepat ingat ya! Agar bunda bisa pulang ke rumah kita lagi." Faisal memegang pundak putrinya. Dia mencoba meminta bantuan pada putrinya, agar membantu membuat Bundanya ingat kembali. Mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol santai disana. Hari sudah semakin terik, matahari pun sudah tinggi sejajar dengan kita. Faisal mengajak Delia, Sisi untuk mencari tempat makan yang nyaman.


Faisal membantu Delia turun dari batu besar itu. Ketika Delia hendak turun, kakinya kesemutan sehingga membuat Delia tidak bisa menjaga keseimbangannya. Delia jatuh diperlukan Faisal, wajah mereka saling bertemu, bahkan bibir mereka sudah saling bersentuhan. Faisal menatap mata indah Delia, Delia pun begitu. Tanpa mereka sadari, suasana membuat mereka hilang kendali, Faisal mencoba melakukannya lebih dari yang ia rasakan sekarang. Tiba-tiba Delia mengerang kesakitan, sembari memegangi kepalanya. Faisal menjadi panik, dan akhirnya Delia tak sadarkan diri. Faisal membopong tubuh Delia, sisi yang sudah ada di bawah, ikut panik melihat bundanya pingsan.


Dengan bersusah-payah, akhirnya Faisal dan Sisi bisa sampai di pinggir pantai. Dia meletakkan Delia di atas bangku yang terbuat dari anyaman bambu, dibawah pohon Pinus. Faisal mencoba membuat Delia sadar, namun tidak berhasil. Akhirnya Faisal memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Dia sangat khawatir kalau Delia kenapa-kenapa. Sampai mereka di rumah sakit, yang gak jauh dari pantai itu. Para dokter memeriksa keadaan Delia. Faisal mengamankan tasnya Delia.


Sementara dokter masih memeriksa Delia, handphone Delia berdering. Terlihat di sana nama Devan, Faisal rasanya enggan untuk mengangkatnya. Tapi nalurinya mengalahkan keegoisannya. Diangkat telpon dari Devan.


"Assalamualaikum,"


Devan bingung kenapa yang mengangkat laki-laki. Di tengok nya layar ponselnya, untuk menyakinkan nama yang Devan hubungi. Setelah yakin barulah Devan menjawabnya.


"Waalaikumussalam, ini Delia kan?" Devan masih tidak percaya, karena yang mengangkat seorang pria.


"Iya, ini ponsel Delia."


"Delianya kemana? kok anda yang mengangkat telponnya?"


"Katakan pada saya, posisi rumah sakitnya dimana?"


Faisal memberitahu lokasi rumah sakit Delia di rawat. Devan langsung menuju ke lokasi.


Devan menghubungi Delia, karena Bu Sundari menanyakan keberadaannya. Yang ibu Sundari tahu, Delia pergi dengan Devan. Tapi beliau ingin memastikan sendiri, apa benar Delia pergi dengan Devan. Devan yang gak tahu apa-apa, saat di tanya Bu Sundari gak tau harus menjawab bagaimana. Akhirnya Devan berbohong, kalau benar dia bersama Delia, dan sekarang sedang mengisi liburan sama-sama. Tujuan Devan menelpon Delia adalah Inging meminta penjelasan pada dia, kenapa dia harus membohongi Bu Sundari.

__ADS_1


Devan tidak mengabari Bu Sundari saat ini. Dia takut kalau Bu Sundari tahu, Delia tidak pergi bersamanya, dan pergi dengan laki-laki lain. Devan sudah berada di rumah sakit, tempat Delia di rawat. Berbekal chat dari Faisal, Devan menemukan ruangan Delia. Di sana sudah ada Faisal dan Sisi yang sedang duduk di ruang tunggu. Devan terkejut, saat mendapati Faisal dan Sisi yang menunggui Delia. Dia sempat berfikir apa mereka sedang pergi bersama.


"Om baik!" sapa Sisi yang melihat Devan berjalan kearahnya.


"Kenapa Delia bisa bersama kalian,? tanya Devan tak bersahabat.


"Nanti saya akan jelaskan semuanya, yang penting sekarang kita tunggu sampai Delia sadar." Faisal masih enggan untuk berbicara dengan Devan.


Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, dokter yang menangani Delia keluar dari ruangannya. Beliau menyampaikan tentang kondisi pasien nya saat ini. Faisal dan Devan yang menyadari kehadiran dokter itu, langsung mendekat kearahnya.


"Kondisinya kurang baik, syaraf yang ada di otaknya tidak bisa dipaksakan untuk mengingat memori. Jika itu terjadi, maka pasien akan meninggal dunia. jadi.saya sarankan, jangan terlalu memaksa untuk membuat pasien mencoba mengingat kembali" jelas dokter itu.


Faisal menyesal, karena keegoisannya bisa berakibat fatal untuk keselamatan istrinya. Dia tidak punya pilihan lain, selain harus menunggu sampai mukjizat itu datang. Sampai Delia mengingat kembali.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Delia? kenapa dia bisa bersama anda? kenapa Delia bisa sampai seperti ini? Faisal dicecar pertanyaan dari Devan. Dia hanya bisa diam, tak tahu harus menjawab apa.


To be continued..


Buat para readers disini, boleh mampir ya ke novel Othor yang kedua. Ceritanya gak kalah seru Lo dengan "Suamiku tak pernah mencintaiku"

__ADS_1


Ditunggu ya kehadirannya..


terimakasih


__ADS_2