Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Kebersamaan keluarga Faisal


__ADS_3

Di sebuah kamar yang dominan hiasan hello Kitty. Seorang gadis sedang terbaring di atas ranjang. Tangannya sedang berkutik dengan ponselnya. Tiba-tiba suara ketukan pintu mengganggu indera pendengarannya. Di hentikan sejenak aktivitas nya kemudian dia membuka pintu kamarnya.


Seorang pria berlesung Pipit berdiri tepat di depan pintu kamar Sisi. Dia adalah Fatan, adik yang sering usil mengganggu nya.


"Kak, pinjem charger dong!" Fatan langsung nyelonong masuk kedalam dan mencari-cari benda yang dimaksud.


"Kamu tuh dek, gangguin kakak aja," gerutu Sisi kembali keranjangnya.


Fatan yang mendengar kakaknya menggerutu, malah semakin ingin menggodanya. Kini dia juga ikut-ikutan duduk di ranjang kakaknya. "Emangnya kakak lagi apa, sih!" Fatan melirik layar handphone kakaknya.


"Udah ah, sana! Ganggu aja." Sisi mendorong adiknya untuk tidak melihat apa yang sedang ia kerjakan. Fatin menjadi semakin penasaran, karena tidak biasanya makanya bersikap seperti itu. "Hayo, kakak lagi kepoin Ig nya siapa itu?" goda Fatan merebut ponsel milik kakaknya.


" Fatan!!? Kembalikan gak ponsel Kakak." Sisi berusaha merebut kembali ponsel miliknya. Tapi adiknya beranjak dari ranjangnya dan langsung melihat ke layar ponselnya. "Muhammad Hamzah." Dibacanya nama yang tertera di ponsel milik kakaknya. "Siapa itu kak?" Sisi langsung merebut ponsel miliknya.


"Kamu nih kenapa jadi kepo begini. Belajar sana! Katanya pengen jadi Pilot. Tapi malas-malasan untuk belajar. Contoh tuh Si Fatin, dia rajin. Gak kayak kamu," omel Sisi menjitak kening adiknya.


"Aduh sakit Kak! Kakak mah gak tau aja, Fatin itu dikamar bukannya belajar. Tapi lagi chattingan Ama ceweknya," elak Fatan mendapat lirikan maut dari Sisi.


"Serius?" Fatan mengangguk.


"Sama siapa?" tanya Sisi penasaran.


"Ihh, Kakak kepo...!" Fatan bergegas keluar karena kakaknya sudah siap melemparnya dengan guling.


Fatan memang tidak seperti Fatin. Dia cenderung agresif dan banyak tingkah. Keinginannya menjadi pilot, membuat dia fokus dengan kuliahnya. Sementara Fatin, dia cenderung pendiam. Meskipun begitu dia punya kekasih. Mereka menjalin hubungan saat awal semester masuk kuliah. Beda dengan Fatan yang ingin jadi pilot. Kalau Fatin dia ingin mengikuti jejak kakak dan ayahnya. Menjadi dokter. Dia satu fakultas dengan kekasihnya tapi berbeda jurusan.


Sepeninggal Adiknya Sisi melanjutkan aktivitasnya tadi. Dia nampak senyam-senyum sendiri melihat foto seseorang di akun medsosnya. Sesaat kemudian dia melamunkan sosok yang sangat ia kagumi. Tapi lamunannya buyar saat terlintas bayangan orang yang sangat menyebalkan baginya.


"Ihhh, kenapa wajah dia yang muncul." Sisi mengedip-ngedipkan matanya. Tapi masih tetap sama, bayangan wajah pria yang seharian ini mengerjainya terlintas jelas di matanya.


"Tunggu-tunggu, aku nih kenapa sih?" Sisi beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi. Dia membasuh mukanya berkali-kali, seakan ingin menghapus bayangan yang mengganggu pikirannya.

__ADS_1


"Astaghfirullahalladzim," dengusnya kesal.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Sisi langsung kembali ke kamarnya dan meraih ponselnya yang tergeletak di kasur. "Bilqis," gumamnya. Lalu mengangkat ponselnya.


"Assalamualaikum, Dek! Tumben telpon malam-malam begini."


"Kak, Sisi mau minta sesuatu pada Kakak."


"Hmmm, katakan!"


"Tolong rahasiakan perihal kedatangan Bilqis menemui dokter Hanif tadi, ya."


Sisi tampak diam sejenak. Dia berfikir, kenapa Bilqis menutupi hal itu dari semuanya.


"Kakak denger,kan!"


"Iya-iya Kakak denger kok. Tapi kenapa kamu gak bicarakan hal itu pada Bunda dan Ayahmu?"


Sisi bingung menjawabnya. Karena baginya apa yang dilakukan Bilqis itu bukan hal yang baik untuk Dino dan Felisa. Dia tidak seharusnya merahasiakan semuanya pada orangtuanya. Tapi dia juga tahu perasaan Bilqis seperti apa. Setelah berfikir sejenak, ia berkata. " Baiklah kakak gak akan cerita pada siapapun. Tapi kamu harus melakukan tes selanjutnya. Agar lebih jelas semuanya."


"Iya Kak, makasih ya!"


Bilqis menutup telponnya. Sisi hanya menghela nafas panjang. Dia prihatin dengan keadaan Bilqis saat ini. Dia meletakkan ponselnya ke meja, dan merebahkan tubuhnya di kasur.


Pagi harinya. Keluar Faisal sedang sarapan di meja makan. Faisal, Yulia, dan si kembar sudah lebih dulu ada di sana. Sisi yang baru turun dari lantai atas langsung bergabung dengan semuanya.


"Pagi sayang," sapa Faisal pada putrinya.


"Pagi Ayah, pagi Bunda!" Balas Sisi, lalu duduk di kursi yang kosong.


"Kamu berangkat sama Ayah kan, Nak?" Yulia menyendok kan nasi goreng ke piring Sisi.

__ADS_1


"Iya Bun, motor Sisi kan belum di betulin."


Sisi mulai menyantap makanannya. Saat dia melihat Fatin, dia jadi ingat dengan ucapan Fatan semalam.


"Fatin, Kakak kepo dong Ama cewek kamu!" Goda Sisi pada adiknya. Fatin yang sedang minum lantas tersedak saat mendengar suara Sisi.


"Uhukk... Apaan sih Kak." Fatin melirik tajam kearah Sisi setelah itu beralih pada Fatan.


"Sudah-sudah jangan ribut di meja makan," lerai Faisal agar anak-anaknya tidak melanjutkan ributnya.


"Oh iya Sayang, gimana hari pertama kerja kemarin?" tanya Faisal pada putrinya. Sisi yang sedang mengunyah makanan, sontak menelan makanannya dengan cepat.


"Kamu kenapa sayang?" sambung Yulia yang melihat gelagat putrinya.


"Lumayan sih Yah." Sisi kemudian melanjutkan makanannya. "Lalu, pendapat kamu tentang dokter Hanif." Ucapan Ayahnya kembali membuat dia terkejut. "Menurut Ayah dia gimana orangnya?" Sisi membalikkan pertanyaan ayahnya sendiri. Faisal hanya mengerutkan keningnya.


"Dia orangnya cerdas. Banyak pasien yang ditangani nya bisa sembuh dari penyakitnya. Hanif juga tampan, dan yang paling penting dia orangnya taat pada agamanya," jelas Faisal menyebutkan disk Hanif dimatanya.


"Wah pria idaman itu, Kak. Pepet aja Kak, Pepet. Daripada kepoin IG nya kak Ilham yang jelas-jelas udah punya tunangan," sahut Fatan tergelak. Sisi langsung melengos.


"Baik apanya, Sisi gak terlalu suka dengan dia. Rese banget Yah, usil. Pokoknya enggak deh!"


"Awas aja jatuh cinta nantinya, hahahaha." sambung Fatan semakin terbahak melihat ekspresi kakaknya.


Canda tawa seperti itulah yang menjadi pemandangan di pagi hari keluarga kecil Faisal dan Yulia. Anak-anak nya selalu bisa mencarikan suasana. Apalagi Sisi dan Fatan.


Usai sarapan Yulia menyiapkan bekal untuk suami dan anak-anaknya. Mereka sudah biasa membawa bekal dari rumah. Karena menurut mereka, masakan Yulia tidak ada yang menandingi. Sisi pun ikut membantu menyiapkan bekalnya. Dia memang belum bisa memasak. Tapi dia tahulah pekerjaan rumah tangga. Meskipun jarang melakukannya, tapi Sisi sering memperhatikan bundanya dan Bu Imah, assisten rumah tangga yang bekerja di keluarga Faisal.


Saat semua sudah siap. Faisal dan Sisi terlebih dahulu ke depan. Sementara Fatan dan Fatin, mereka masih menyiapkan perlengkapannya di kamar. Saat Sisi dan Faisal akan menaiki mobilnya. Sebuah suara mengejutkan mereka.


To be continued...

__ADS_1


Terimakasih atas dukungan kalian para readers setia novel Suamiku tak pernah mencintaiku. Terimakasih like, vote, komennya ya. inshaa Allah author akan up setiap hari. Dan dukungan kalian adalah mood booster banget untuk author. Love you....😘😘😘😘😘😘


__ADS_2