
"Oke mbak Kama, udah beres semuanya. Sebentar lagi plaster di punggung tangannya bisa dilepas kok, cuma luka kecil bekas jarum infus" ujar suster setelah selesai melepas jarum infus ditangan Kama.
"Ah ya, makasi ya sus. Terus itu, cowok yang dua orang tadi kemana ya?" tanya Kama
"Hehe, mas yang dua orang itu lucu banget loh mbak.. Gontok-gontokan terus dari awal. Pacar nya mbak Kama yang mana nih? Pasti yang pake kemeja kotak-kotak ya.. Duuuh, manis banget, lesung pipi nya bikin gak kuat! Hihihi.. Tadi si mas nya ke toilet kayaknya" oceh suster lagi
Hmm, suster pikir Reyhan pacarku! Terus pak Adrian cocok nya jadi apa kalau gitu? Apa wajahku ini gak pantas dianggap sebagai pasangannya dia? Mck, aku berharap ketinggian mungkin.., batin Kama
"Kalau mas yang satunya lagi, aduuuh, lemes saya ngeliat wajahnya mbaaak, sumpah! Ganteng banget! Ampiiir pingsan saya! Satu rumah sakit sampe geger loh mba pada bicarain si mas ganteng. Pasti asik ya mbak, diajarin sama dosen ganteng begitu.." dengan mata berbinar-binar suster menambahi.
Kayaknya nih si suster lagi membayangkan duduk berhadapan dengan Adrian di kelas. Ya gak papa lah Kam, asal mereka gak pangkuan, udah aman! Hihihi
Huh, sudah kuduga! Mana ada perempuan yang gak heboh ngeliat dia! batin Kama
"Eh, iya.. saya sampe lupa. Si mas ganteng, saya liat tadi lagi nyelesaiin administrasi di kasir mbak"
"Oh gitu, makasih info nya sus.."
Suster pun beranjak pergi meninggalkan Kama. Tak berapa lama Reyhan muncul.
"Eh udah dilepas infus lo, Kam.. Kapan? Gue tiba-tiba mules banget tadi. Nyari toilet, eeeh yang deket sini full. Terpaksa deh gue ke toilet ujung, untung gak keburu bleberan, hehehe" oceh Reyhan sambil tertawa, namun Kama hanya diam, ia berpikir keras bagaimana bisa menghindar dari dua laki-laki yang sibuk menempelinya saat ini.
Kama memutuskan untuk turun dari ranjang dan bersiap keluar dari ruangan IGD. Baru dua langkah berjalan, ia terhenti dengan kehadiran Sutra tepat di hadapan nya.
"Udah sanggup jalan? Atau mau saya pegangin?" ujar Sutra memandangi Kama
"Eh, gak usah! Saya udah sehat kok pak" jawab Kama menolak
"Oke kalau gitu, yuk ke mobil.., saya antar pulang" ajak Sutra
"Naek si black ranger aja yok, Kam.. Biar lo seger bisa angin-anginan, hehe" Reyhan pun tak mau kalah mengajak Kama pulang dengan motornya.
"Eh, apa-apaan sih kamu! Jangan ikut-ikutan, itu tugas saya!" omel Sutra ke Reyhan seketika.
Aaaah, mulai lagi mereka! Pusing aku! batin Kama
Kama bosan menghadapi pertengkaran Sutra dan Reyhan yang tidak ada habisnya sejak tadi. Ia pun melanjutkan langkahnya menuju keluar dengan cepat. Disusul oleh Reyhan dan Sutra dibelakang, sambil terus saling menyahut satu sama lain.
Tinggal gak pukul-pukulan aja nih mereka. Padahal udah saling napsu daritadi. Yang satu pengen nyentil pake mesiu, satu nya lagi pengen jeduk pake bola. Aaah, pertikaian yang anarkis.
Ketika Kama sampai di loby rumah sakit, ia melihat sebuah taksi yang baru saja menurunkan penumpang. Kama buru-buru masuk dan langsung menyuruh sopir jalan, pergi meninggalkan rumah sakit. Sempat terlihat oleh Kama, wajah Sutra dan Reyhan yang ternganga tidak percaya melihat aksinya kabur dari mereka berdua.
"Jalan pak, cepetan!" seru Kama ke supir taksi.
"Kita kemana, mbak?" tanya si supir yang ternyata adalah mas-mas, bukan bapak-bapak.
"Ha, ee, terserah bapak aja deh. Muter-muter aja dulu" seperti biasa, Kama tidak perduli. Mau embah-embah skalipun, tetep aja dia manggilnya bapak.
Kama tidak ingin langsung pulang ke kost nya, ia menyuruh sopir taksi berkeliling lebih dulu untuk menghindari bertemu dengan Sutra dan Reyhan, yang sudah pasti menyusul ke kost nya.
"Muternya kemana, mbak? Keliling rumah sakit juga muter itu namanya, hehe" sahut si supir taksi sambil mengendarai mobilnya.
"Yang jauh pak muternya, sampe gak ada yang ngikutin!" jawab Kama mulai kesal.
Ini supir resek juga, begitu pake ditanya! Apa mungkin aku mau keliling rumah sakit naek taksi? Hihh.., batin Kama
"Oh, oke. Saya ahlinya kalau soal itu" jawab si supir taksi
πππ
Hmm, Kama kabur kemana ya gaes?
Apakah Sutra atau Reyhan akan keliling mencari Kama??
Yuuk, cekidot di next episode
.
.
.
.
__ADS_1
Eeeh, gak diiing.. gak jadiii...!!
Kali ini author mau kasi bonus part di episode ke -100
Jadi kita next ceritanya..
Hayuuuuk hazaaarrrr, cuuusss ππ
.
.
.
.
KAMA CURHAT
Hampir satu jam Kama duduk didalam taksi yang membawanya berkeliling kota Depok. Sejak tadi Kama hanya diam memandang keluar jendela,
pikiran nya melayang entah kemana. Sejujurnya ia belum berhenti sedih perkara masalahnya dengan Mini,
ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena sudah menutupi semuanya dari Mini. Namun ia juga tidak bisa membohongi perasaannya kepada Adrian. Perasaan yang baru pertama kali ia rasakan sepanjang hidupnya, membuatnya bisa merasakan kebahagiaan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.
Selama 16 tahun belakangan ini sebenarnya hidup Kama terlalu flat, tidak ada kebahagiaan yang sungguh-sungguh ia rasakan, baik dengan teman maupun dengan keluarga. Sejak dulu hati Kama tertutup untuk dirinya sendiri, tidak bisa merasakan apapun, hanya menangis ketika ada hal sedih yang tampak dimatanya menyangkut orang lain.
Oalaaah, pantas aja Kama gak pernah benar-benar terkejut ketika di kagetkan oleh temannya. Rupanya, gak punya rasa toh.. Iih, kasian, kok bisa ya ada orang yang begitu. Mati rasa..! Eh tapi kalau dicubit, berasa gak sih? Dikelitikin? Ditampol? Dicium adrian? Hahaha, berasa banget pasti yang terakhir yaa.
Tapi kalau sekarang Kama disuru memilih, ia pasti akan memilih Mini, sahabatnya, dan tidak akan memilih Adrian. Toh ia sudah terbiasa hidup tanpa 'rasa' selama ini.
Sekarang tinggal memikirkan bagaimana caranya menghindar dan membuang jauh-jauh Adrian dari hidupnya.
"Mbak, kita udah sejam keliling Depok. Ada tujuan lain gak kira-kira?" tanya si supir taksi membuyarkan lamunan Kama.
"Ha? Emm.." Kama bingung harus menjawab apa.
"Mba, sebelumnya saya minta maaf ni ya mba.. Mumpung mba belum tau mau kemana, saya boleh gak mampir di mesjid sebentar? Lima belas meniiit aja mba.." pinta si supir taksi
Kama tertegun dengan permintaan si supir, ia kembali teringat dengan Adrian. Sebab beberapa kali Kama pernah menunggui Adrian melaksanakan solat di mesjid maupun musholla.
"Gimana mba? Tapi kalo mba nya keberatan, ya gak usah deh.. Gak apa-apa kok.." tambah supir taksi lagi
"Yaudah pak, boleh kok.., mampir aja. Tapi saya tungguin di mobil ya.."
"Ah, iya mba, silahkan.. Terimakasih banyak ya mba.."
Lima belas menit Kama menunggu si supir taksi didalam mobil. Ia membuka pintu belakang agar bisa menghirup udara dengan leluasa. Tak berapa lama si supir taksi pun muncul dengan rambut nya yang agak basah bekas air wudhu.
Lagi-lagi Kama teringat dengan Adrian. Ia pernah melihat pemandangan yang sama saat Adrian baru selesai melaksanakan solat. Wajah tampan Adrian jadi naik dua kali lipat berkat tetesan air wudhu di dahinya. Hingga pernah membuat Kama terkesima dan berdebar ketika memandangnya.
Huuuftt, otak ku gak bisa berhenti memikirkan dia! Gimana ini?? batin Kama
"Mba, saya udah selesai.. Kita jalan sekarang?" tanya si supir taksi
"Ah, iya pak.." jawab Kama
Si supir taksi pun masuk ke mobil dan menyalakan mesin mobil nya.
"Mba, maaf ni saya nanya lagi. Sekarang kita tujuannya kemana ya mba? Saya bingung harus nyetir ke arah mana"
"Emm, saya.., saya juga gak tau pak. Saya belum mau pulang soalnya" jawab Kama jujur
"Oh, gini aja deh mba.. Mba udah makan siang belum? Kalau belum, saya traktir makan siomay mau? Tuh ada tukang siomay mangkal didepan mesjid" tawar si supir taksi seraya mematikan kembali mesin mobilnya.
"Eh, ga usah pak.. Saya masi kenyang" Kama menolak
"Kalau mi ayam mau mba? Itu tu, ada tukang mi ayam juga disamping nya" supir taksi menunjuk ke depan pagar mesjid
Ni sopir kayaknya orang baik-baik ya. Dia bersikeras menawariku makan siang. Tapi aku masih kenyang makan bubur ayam di rumah sakit tadi, batin Kama.
"Bapak kalau laper makan aja, saya tungguin. Saya masih kenyang soalnya" ujar Kama
"Bener ni mba nya gak mau? Saya yang traktir kok, serius.." Kama menggeleng dan tersenyum simpul.
__ADS_1
"Yaudah deh, saya pesen buat saya dulu ya mba.. Minta dibawain kesini, siapa tau liat saya makan, mba jadi selera, hehe.." ujar si sopir seraya berlalu pergi memesan makanan didepan pagar mesjid
Tak berapa lama si sopir kembali ke mobil. Ia duduk di kursi nya dengan membuka pintu depan mobil. Kama pun melakukan hal yang sama, ia membuka kembali pintu belakang mobil seperti sebelumnya.
"Mba, kayaknya mba ini lagi ada masalah ya? Galau gitu bahasa gaulnya" tanya si supir kembali membuka pembicaraan.
"Mungkin.." jawab Kama datar
"Mungkin sang fajar.... dan sayap-sayap burung pataaaah... , menyaksikan kita berseteruuu..., selalu tak pernah damaaaii..." seketika si supir menjawab dengan senandung yang merdu, potongan lagu Melly Goeslow. Suara si supir pun lumayan bagus untuk ukuran warung Doyong, eh warung nasi uduk.
"Hehehe.., gitu kan mba" sambung si supir lagi cengengesan
Hahaha.., lumayan menghiburlah! batin Kama seraya tersenyum
"Mba kalau lagi galau, saran saya, jangan disimpan sendiri mba.. Ceritain ke orang, siapa tau dapat solusi" sambung si supir lagi
"Bapak mau dengerin cerita saya" tanya Kama
"Loh, saya mba? Boleh, silahkan kalau mba mau cerita.."
"Saya..., saya jatuh cinta sama seseorang, untuk pertama kalinya. Dan orang itu juga sudah menyatakan perasaannya kepada saya"
"Woaah, alhamdulillah itu mba.. Gayung bersambut! Saling mencintai namanya"
"Tapi masalahnya..., sahabat saya juga punya perasaan yang sama kepada laki-laki itu, dan saya menutupi kedekatan saya dengan laki-laki itu dibelakang sahabat saya... Sampai akhirnya semua terbongkar, dan hubungan persahabatan saya hancur karena laki-laki itu"
"Ooh, jadi itu toh yang buat mba galau.." Kama mengangguk
"Kalau menurut saya ni ya mba, yang namanya cinta, itu gak bisa dipaksakan. Mau secantik apapun atau sejelek apapun, kalau udah cinta, ya cinta aja"
Omongan si supir mengingatkan Kama pada Chelsea, yang dibilang si supir memang benar. Chelsea jauuuh lebi cantik dari Kama, lantas kenapa Adrian malah memilih dirinya.
Dari hal kecil seperti itu saja harusnya Kama mengerti kalau Adrian memang sungguh-sungguh mencintainya.
Duuuh, neng Kamaa.. Open your eyes! Open the dooorrr!! Open cepetan open!! Jangan malah mau ninggalin Sutraaaaaaa! Begitulah kira-kira suara hati para pembaca.
Eh sek, sek, sek.., tapi tunggu dulu gaes, si Kama ndablek ini tau gak sih bahasa linggis?? Sok, kita jabarkan. Open itu artinya bukaaa.., your kamu.., eyes mata! Jadi, intinya melek ae lah mbak! Jangan ndablek! Kueseeell aku!!
"Nah kalau masalah dengan sahabatnya mba, harusnya dari awal mba jujur aja ke dia. Mba akui kalau mba sedang dekat dengan laki-laki itu. Jadi sahabat mba gak berharap lebih dari laki-laki itu"
"Saya bingung jelasin nya pak.. Sebenarnya saya gak dekat dengan laki-laki itu dari awal. Tapi entah kenapa, waktu dan keadaan selalu mempertemukan kami tanpa sengaja"
"Walah, kalau itu sih namanya jodoh mba.. Mungkin laki-laki itu adalah jodohnya mba.."
Jodoh? Apa mungkin? Huft, terlalu cepat buatku bicara soal jodoh! batin Kama
"Kecepetan pak. Saya masih 16 tahun, belum mikirin jodoh.." ujar Kama
"Lah itu.., masalahnya mba, yang namanya jodoh gak pandang usia. Jadi mba mau lari sejauh apapun, kalau sudah jodoh, pasti akan ketemu lagi. Percaya deh sama saya.." Kama terdiam
Tiba-tiba seorang anak laki-laki datang mengantar piring berisi siomay untuk si sopir.
"Ni om siomay nya" ujar anak itu
"Oh iya.., makasih dek" jawab si sopir
"Alhamdulillah akhirnya pesenan saya dateng. Mba yakin gak mau nih?" Kama senyum dan menggeleng
"Yaudah kalau gitu saya abisin dulu ya mba.. Laper banget daritadi, hehe.."
πππ
Nah, next Kama akan meninggalkan Adrian ataaauuuu......???
Yuuuk ah kepoin di next episode
TERIMAKASIH READERS YANG UDAH BACA SAMPAI PART INI ππ
KASI JEMPOL DAN TINGGALIN KOMEN YANG MANIS YA BIAR AKU MAKIN SEMANGAT π€
JANGAN LUPA VOTE NYA JUGA (he..he..he)
I Love U π
__ADS_1