
Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€π
-
-
Kama menyimpan kembali ponselnya kedalam tas kecil yang ia bawa. Gadis itu lantas menatap Sutra dan kedua orangtuanya bergantian. Mereka semua menunggu jawaban Kama dengan H2C (harap-harap cemas).
"Saya mau, Tante.." dengan gaya santainya Kama menjawab, membuat mata Ajeng terbelalak.
Sementara Sutra,
Seeeerrrrrrrrrr...., leganya bukan main. Cuma nunggu jawaban begitu saja kayak pertarungan hidup dan mati. Eh tapi bener juga sih, pertarungan hidup dan matinya 'komodo' milik Sutra. Hahaha. Bisa mati total kalau batal nikahin Kama. Walau perjanjiannya nunggu tiga tahun, tapi sekedar ngintip-ngintip kan boleh tuh komodo.
"Kamu yakin? Sudah kamu pikirin matang-matang?" Ajeng kembali bertanya. Memang benar yang mau menikah itu Sutra, tapi yang berasa takut malah ibunya. Selain karena Sutra yang dianggapnya masih belum cukup dewasa, ia juga takut dengan latar belakang Kama.
"Sudah, Tante" lagi-lagi Kama santai menjawab, seperti tidak ada beban. Memang kenyataannya menikah dengan Sutra bukan hal yang berat buat Kama, apalagi setelah mereka sepakat tentang 'puasa tiga tahun' itu. Diotak Kama, ia hanya tidak ingin berpisah dengan Sutra.
Heh-haaaah... Ya Tuhaaan, kabar apa ini? Kenapa semuanya jadi begitu mendadak? Mereka bahkan sudah sepakat dan begitu yakin dengan rencana pernikahannya. Apa cuma aku yang berpikir jauh kedepan? Jenjang ekonomi kami tidak sebanding dengan ayah Kama. Bagaimana kalau mereka nanti bertengkar? Bagaimana anakku harus bersikap dan menghadapi istrinya kelak????
πππ
Kama, Sutra, dan kedua orangtuanya baru saja selesai sesi foto dirumah keluarga Zanyar. Akhirnya foto wisuda Sutra jadi juga.
Setelah photographer dan dua orang timnya pamit pulang, Sutra juga meminta ijin pada orangtuanya untuk mengantar Kama ke rumah omnya (aji Wayan).
Didalam perjalanan,
"Mas, tadi kamu takut ya aku jawab lain ke ibu kamu..?" tanya Kama.
"Ha, m.., menurut kamu?" Sutra bertanya balik sembari fokus menyetir.
"Itu kamu sampe kirim pesan wa ke aku.." Kama melirik Sutra sekilas.
"Masih inget gak aku pernah bilang kalau aku gak akan mudah menyerah untuk kamu. Jadi apapun itu aku akan usahakan agar kita tetap bersama.." Sutra mengusap lembut puncak kepala Kama.
"Yakin? Sekalipun keanehanku bertambah dua kali lipat?" tanya Kama lagi.
Sutra sempat melirik heran, tapi diiringinya dengan senyum khas miliknya.
__ADS_1
"Apapun itu, asal tetap kamu, aku siap!" Sutra meraih tangan Kama dan meletakkan nya didada bertepatan dengan lampu merah yang menghentikan laju mobil mereka.
"Semoga detak jantung aku yang cepat ini bisa buat kamu percaya, Babe" laki-laki itu menatap lekat bolamata hazel milik Kama.
"F-fokus nyetirnya! Jangan liatin aku terus..!" Kama jadi salah tingkah, ia menarik cepat tangannya yang menempel didada Sutra.
Apa siih kamu Mas?! Bikin ser-seran aja!
Jangan pernah ragukan cintaku Babe. Sekalipun aku sudah gak ada didunia ini, tapi ragaku gak akan bisa jauh dari kamu
Duh, Sutra lebay. Jangan ngomong macem-macem deh Sut, pamalih! Walau cuma didalam hati tapi malaikat bisa dengar. Mana ada orang hilang tapi raganya masih hidup! Kayak mati suri aja!
πππ
_di Bali_
"Apa? Abang mainkan Ida kan pasal kabar ni?" Ida Ayu bangkit dari tidurnya. Wanita paruh baya itu terkejut dengan apa yang baru saja diutarakan oleh pria yang sudah kembali menjadi suaminya.
"Buat ape Abang mainkan Ida pasal ni, bagus lagi Abang mainkan Ida macem ni.." Datuk Emran menarik lembut Ida Ayu, membuatnya kembali berbaring diatas lengannya sembari mengusap pelan bagian kenyal milik Ida dibalik piyama yang ia kenakan.
"Abang jangan maen-maen, Ida nak cakap serius.." saut Ida cemberut.
"Ape la Abang ni..! Jawab duluuu.." Ida memalingkan wajahnya menghindar dari ciuman Datuk Emran.
"Iyelah-iyelaaah.." Datuk Emran membenarkan posisi tidurnya.
"Abang serios pasal tu. Abang nak nikahkan Kama dengan boyfriend nye.." sambung Datuk Emran.
"Aish Abang ni!" Ida Ayu mendaratkan tangannya dilengan Datuk Emran.
"Eh, dah pukul Abang pule.. Kode macemnye ni.." Datuk Emran menangkap dagu Ida lembut, menariknya perlahan mendekati bibirnya.
"Kama masih enam belas tahun lah Ba-" protes Ida pun terhenti seiring dengan bertemunya bibir mereka.
Cukup sepuluh detik Ida membiarkan tingkah suaminya. Wanita paruh baya itu melepas ciu-man dan melanjutkan obrolan.
"Die masih muda betol..."
"Tapi die dah baligh la Sayang.., Abang tak nak ada ape-ape kat die, rugi! Die perempuan, dah gadis pun, dah paham pekara macem tu! Kite ni tak la pule tambah dosa.., dah betol keputusan Abang tu.." jelas Datuk Emran.
__ADS_1
"Tak sayang ke Abang.., satu anak gadis kite.., dah nak dinikahkan pule.." Ida masih berusaha merayu suaminya untuk berpikir ulang.
"Maka tu lah Abang bikin macem ni. Abang pun dah tengok betol siape Adrian tu. Insya Allah keputosan Abang baek untok mereka. Lagipun anak lajang tu yang cakap nak kawen dengan Kama, bukan Abang.." Datuk Emran menatap wanita tercantik yang berbaring dihadapannya sembari menyelipkan rambut panjang Ida kebelakang telinga.
"Jadi die yang cakap macem tu? Dah siap die jadi suami..?" Ida menutup mulutnya cepat-cepat sebelum dapat serangan seperti tadi.
"Hehehe.., buke lah sikit.., Abang nak rase.." Datuk Emran menyentuh lembut bibir Ida.
"Jawab duluuu..." protes Ida.
"First time Abang tengok die, Abang dah suke. Smart dan pekerja keras. Mirep lah macem Abang muda dulu, maka Ida suke kan..." tanpa jeda lagi Datuk Emran melu-mat bibir Ida. Pria paruh baya itu memainkan lidahnya, menarik lembut lidah Ida dan mengemutnya beberapa saat sampai akhirnya terlepas karena oksigen yang sudah menipis diantara mereka.
"Abang kenal anak lajang tu dah tiga bulan. Die arsitek berbakat yang nak uruskan proyek baru Abang. So, da tau Abang semue hal kat die. But, Abang telewat satu hal, tak pule Abang suroh Aiman tengok siape perempuan dekat die. Tak taunye anak gadis Abang sendiri.." Datuk Emran mengelap bibir Ida yang basah karena perbuatannya.
"Amboiii, seronok betol.. Ade pule kebetolan macem tu.." Ida berdecak kagum.
"Kalau Allah dah kate, tak de yang tak jadi didunia ni, Sayang.. Macem kite lah.., Allah bagi time jumpekan Ida dengan Abang" mata Datuk Emran menyipit, ia tersenyum memandang istrinya yang cantik.
"Masya Allah..." saut Ida dengan senyum yang sama lebar.
"So, macemnye dah bole lah Kama nak punya adek sekarang. Jom lah kite try.." Datuk Emran naik keatas tubuh Ida yang berbaring, bertumpu dengan kedua lututnya. Ia melepas kaos oblong yang sejak tadi digunakan. Lalu jemarinya bergerilya, membuka kancing piyama Ida.
"Jangan pule Ida tekejot Abang macem ni sering-sering. Abang nak balaskan mase sepuluh tahon tanpa Ida tu.. Keriiiing rasenye.." Datuk Emran mendekatkan wajahnya tepat diatas wajah Ida. Sekarang ia bertumpu dikedua sikunya.
"Abang tak nak jaoh lagi dari Ida.." serunya pelan hingga nafas mereka beradu.
"Ida pun macem tu Bang... Hmmmnnnnnnn...." Ida Ayu langsung melu-mat bibir suaminya lembut sembari melingkarkan tangan dilehernya. Mereka menikmati malam itu dengan syahdu, hangat, dan memabukkan.
Jangan kate dah tua, kalau ular nak bangon, bangonlah die. Tak boleeeeh dijeda, bisa bahaye..! But, tak taulah macemane kat Adrian tu.. Dah bejanji pule die, nak tunggu Kama tiga tahon. Begitu dibuke, dah besawang pule, macem sarang laba-laba! Hajaaaab kite, wkwkwkwk.
πππ
Aah, syukurlah...
Ijin nikah sudah turun, next apalagi thor?
Haha, sabaaaar.. akan ada kejutan bombastis setelah ini,..
Yuk, cekidot di next eps gaes...
__ADS_1