When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
Bonus S2 - Pernikahan Dega dan Chelsea


__ADS_3

Sesuai dengan rencana, siang hari Kama dan Sutra sudah sampai di Depok. Seperti biasa, mereka mampir ke apartemen Sutra yang lama, dikamar malam pertama setengah coblos mereka waktu itu.


Bahas coblos-coblos pas banget dengan pilkada serentak yang baru saja diadakan di negara kita tercinta ya guys. Siapapun pemenangnya, semoga bisa mengemban tugas dengan amanah dan membangun daerahnya dengan baik. Aamiiin.


Sekedar mengingatkan sedikit kege-eran yang hakiki dari seorang Sutra waktu itu. Baru setengah jalan, Komodo Lang sudah keburu bahagia dan muntah. Berasa sudah menembus batas pintu kaca, namun kenyataannya hanya sampai ruang tamu saja. Belum masuk hingga ke dapur, yang menyajikan makanan istimewa pembawa rindu tak terhingga.


"Babe, aku baru sadar sekarang kalau malam pertama kita waktu itu di sini gagal total," ucap Sutra saat mereka baru saja sampai dikamar apartemen.


"Maksud Mas?" tanya Kama bingung.


Sutra lalu menjelaskan hal yang sesungguhnya. Saat dimana Komodo Lang sudah tidak kuat lagi, cepat-cepat ingin muntah waktu itu.


"Oh," jawab Kama singkat.


"Gak taunya setelah tembus sampai mentok, aduuuh, gak bisa digambarkan gimana dahsyatnya, Babe ..." Sutra bicara sembari memejamkan mata dan melagakan barisan giginya.


Hiii, apa-apaan sih Mas Adrian. Pikirannya kayak gituuuu terus.


Kama tak menanggapi, ia pergi meninggalkan Sutra ke kamar mandi. Selesai dengan urusan di apartemen, pasangan fenomenal itu lantas menghubungi Dega, menanyakan proses acara pernikahannya besok.


"Terus gue harus ke hotel jam berapa?" tanya Sutra ditelepon.


Kebetulan acara pernikahan Dega dan Chelsea besok diadakan di salah satu ballroom hotel berbintang di Depok. Tidak banyak orang yang datang, hanya sekitar seratus undangan, sebab disana hanya diadakan acara akad nikah saja. Pesta pernikahannya akan diadakan di kampung Dega seminggu kemudian, dengan mengusung tema adat Betawi. Namun tanpa dihadiri oleh Tuan Sakamoto yang harus segera kembali ke Jepang untuk urusan pekerjaan.


"Terserah lu lah, yang jelas abis magrib gua, Nyak, Babe, ame Desi udeh gerak kesono. Chelsea ame Papinya juga begono," jawab Dega.


"Yaudah, gue sama Kama dateng di jam yang sama," ucap Sutra lalu mengakhiri pembicaraan mereka.


Sutra meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menyalakan tv.


"Gimana Mas? Kita berangkat sekarang?" tanya Kama.


Diliriknya jam dinding masih pukul empat sore.


"Dega bilang habis magrib, Babe. Kita solat ashar dulu yuk, abis itu ..." Sutra bangkit dari duduknya hendak ke kamar mandi.


"Apa?" Kama langsung curiga.


"Berdoa bareng lah ..." Sutra tersenyum jahil pada Kama. Padahal yang ada diotaknya adalah memanfaatkan waktu satu jam bersatu padu mengolah adonan lagi dan lagi. Terus berharap pada satu tujuan yakni membuahkan hasil dari penyatuan cinta mereka.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Tepat jam tujuh malam, semuanya sudah berkumpul di hotel berbintang, terkecuali Dega. Chelsea dan Dega sudah lebih dulu memesan empat kamar untuk mereka. Satu kamar untuk orang tua Dega, satu kamar untuk Desi, satu kamar untuk Tuan Sakamoto, satu kamar untuk dua orang anak buah Tuan Sakamoto, dan satu kamar lagi untuk Kama dan Sutra.


Sesuai perintah dari Nyak Wina, Dega diminta untuk tidak turun dari mobil hingga Chelsea masuk ke dalam kamar. Mencegah mereka untuk bertatap muka hingga hari pernikahan besok. Begitulah Nyak Wina, teliti dengan aturan yang sudah dibuatnya.


Lantas masing-masing dari mereka diantar room boy ke kamarnya yang ternyata di lantai yang sama.


"Mas, aku mau ketemu Chelsea donk ke kamarnya, boleh?" pinta Kama.


"Yaudah, Babe. Aku juga mau turun ke resto hotel di bawah ketemu Dega," saut Sutra. Pasangan suami istri itupun berpisah tempat. Kama ke kamar Chelsea, lalu Sutra menemui Dega.


"Papi ke kamar Takada, ya Chels. Nanti telepon aja kalau kalian sudah selesai bicara," ucap Tuan Sakamoto dalam bahasa Jepang saat Kama datang ke kamar mereka.


"Oke, Pi." Chelsea tersenyum.


Kama langsung memeluk Chelsea, melepas rindu dengan sahabat barunya itu.


"Makin cantik kamu, Chels," ucap Kama.


"Aku memang cantik dari lahir kok, Kam," saut Chelsea enteng. Walau sudah bersahabat dengan Kama namun perasaan tinggi hati Chelsea tak pernah berubah.


"Oh, iya, bagus deh." Dan Kama juga tidak pernah perduli soal itu. Tau sendiri kan sikap Kama cuek. Hanya dengan hal kecil begitu tidak akan merusak moodnya sama sekali.


"Aku seneng akhirnya saat yang kalian tunggu-tunggu tiba juga." Kama mengganti topik bahasan.


"Ya, berkat doa dari semuanya. Terutama kalian, yang bikin aku patah hati berat lalu menyadari keberadaan Dega." Apa yang dikatakan Chelsea sepenuhnya benar. Besarnya cinta Sutra pada Kama lah yang membuka mata Chelsea lebar-lebar kalau tidak ada tempat untuknya diantara mereka.

__ADS_1


"Thanks, ya," sambung Chelsea lagi dengan tulus.


"Iya, sama-sama," jawab Kama.


"Terus kamu kok belum hamil, Kam, kenapa? Emang sengaja nunda ya?" Chelsea menyinggung soal kehamilan.


"Sebenernya enggak sih, tapi aku juga gak tau kenapa belum hamil."


"Buru-buru nikah sih, harusnya tes dulu sebelum nikah. Kayak aku sama Dega. Jadi tau berhasil atau enggaknya." Chelsea mengikat rambut panjangnya. Tanpa beban ia berucap demikian.


Enteng banget Chelsea ngomong kayak gitu. Dasar cewek gila.


"Aku gak kepikiran waktu itu, Chels." Kama tersenyum tipis.


"Aku juga gak kepikiran sih sebenernya, tiba-tiba aku begituan aja sama Dega waktu itu. Rasanya gimana pun aku gak inget. Gimana sih rasanya? Ceritain donk, kamu kan udah bolak balik sama Adrian." Chelsea mendekat pada Kama. Mereka berdua duduk berdampingan di atas ranjang.


Astaga, serius aku harus cerita soal itu?


Wajah Kama ragu-ragu, antara ingin cerita dan tidak lebih besar tidak. Tapi Chelsea bukan tipe orang yang bisa ditolak. Semua yang keluar dari mulutnya harus didapatnya.


"Ayolah, Kam, ceritain. Kamu tau aku kan? Aku gak akan berhenti nanya sebelum kamu jawab."


"Hmm ..., rasanya ..." Kama menggerak-gerakkan bolamatanya kesana kemari.


"Apa?" Chelsea makin kepo.


"Sakit ...," sambung Kama.


"Loh, masa sih? Sakit dikit karena baru kebobolan pertama kali ya?" tanya Chelsea lagi.


"Bukan itu, Chels. Kalo itu jangan ditanya lagi, hampir pingsan aku, sakit banget," keluh Kama saat mengingat malam pertamanya dengan Sutra yang sesungguhnya di Stockholm


"Terus? Masa sampe sekarang masih berasa sakit?" Chelsea mengerutkan dahinya.


"Masih ...," jawab Kama lirih.


"Kenapa bisa gitu?" Rasa penasaran Chelsea belum menemukan jawaban.


"Hm ..., nanti coba aku cari resepnya dari Jepang ya. Siapa tau bisa bikin urusan hubungan kalian jadi asik, gak ada rasa sakit lagi," saut Chelsea.


"Emang ada?" Sekarang giliran Kama yang kepo.


"Kayaknya sih ada. Ntar aku tanya kakak iparku di Jepang." Chelsea tersenyum.


"Oh ya, by the way, kalian ngasi kado apa buat pernikahan kami?" Chelsea mengganti topik pembahasan.


Kama terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Barang-barang yang Chelsea punya jauh lebih bagus dari miliknya. Lagipula mereka tidak pernah satu selera.


"Kamu maunya apa?" Kama memilih jawaban aman dengan balik bertanya.


"Paket honeymoon donk, Kam. Aku gak yakin Dega masih punya duit untuk pergi honeymoon. Kamu tau sendiri dia belum punya pekerjaan kan," jawab Chelse jujur. Pasalnya untuk persiapan pernikahan mereka besok saja Dega sudah sesak napas. Dari mulai segala perlengkapan, weding organiser, hingga ke MUA dan gaun pilihan Chelsea. Semuanya harus yang terbaik, sebab Chelsea selalu mendapatkan itu selama ini dari ayahnya.


"Oke, malam ini aku bicarain ke Mas Adrian. Siapa tau dia juga udah siapin kado buat kalian, jadi bisa dapet double." Kama tersenyum tulus. Mereka lantas berbincang hingga satu jam ke depan.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Hari yang dinanti telah tiba. Tepat pukul sepuluh pagi ini acara akad nikah Chelsea dan Dega akan dilangsungkan. Dega yang sudah selesai sejak setengah jam yang lalu, tak henti menggerakkan kakinya yang mengenjot-ngenjot. Untung saja wajah merah lantaran masker timun campur cabe dari Nyak Wina sudah sembuh. Malah hasilnya membuat wajah Dega segar, kencang dan mata pandanya hilang tak berjejak.


Luar biasa masker buatan Nyak Wina. Wajib dicoba guys.


"Apaan sih lu Bang, goyang mulu tuh kaki," oceh Desi, adik Dega.


"Gua gugup, Des ... Lu masa kagak paham," jawab Dega.


"Hahaha, lu bisa gugup juga. Gua kira lu kesenengan bakal kawin," saut Desi.


"Ah, elu anak kecil sotoy lu. Eh, itu kamera lu nyala ya? Lu videoin gua buat konten?" Dega baru sadar kalau sejak tadi kamera milik Desi terus menyala.

__ADS_1


"Hahaha, viewer dan subscribe gua nambah Bang semenjak masukin lu sama Nyak di channel youtube gua." Desi tersenyum sumringah.


Hmm, kayaknya gua mesti ngikutin jejak Desi nih, jadi yutuber. Mumpung bini gua orang Jepang. Pasti banyak yang nonton entu ntar, pada kepo. Hahaha. Bisa kaya gua ame Chelsea. Ah, iya bener. Daripada pusing nyari kerjaan, mending gua ngerayu Nyak minta duit buat beli kamera yang bagus.


"Ntar ajarin gua ya, Des. Gua mau ngikut jejak lu dah buat jadi yutuber," pinta Dega.


"Bereeees." Desi mengacungkan jempol.


Tak berapa lama panitia WO pun datang, meminta untuk Dega dan Desi bersiap-siap menuju ruangan tempat akad nikah diadakan. Didampingi dengan Nyak Wina dan Babe Riva'i dikiri dan kanan, Dega pun berjalan memasuki ruangan. Para tamu terdekat dan tuan kadi sudah duduk di tempatnya yang telah disediakan.




Dekorasi yang mewah sesuai dengan permintaan Chelsea, membuat seolah akad nikah sederhana itu menjadi acara yang begitu luar biasa. Wajar saja permintaan Chelsea demikian, sebab ini merupakan moment special dalam hidupnya


Berbeda dengan acara akad nikah Kama dan Sutra enam bulan yang lalu, yang mengusung tema rustic simple di taman salah satu hotel mewah di Jakarta.


Selesai semua orang berkumpul dan menempati kursi masing-masing, tuan kadi pun memulai acara dengan membacakan doa lebih dulu. Kemudian sampailah pada inti acara, yakni pengucapan ijab qabul dari Dega ke wali hakim mewakili Tuan Sakamoto yang duduk disebelahnya. Karena satu dan lain hal Tuan Sakamoto harus diwakilkan dalam hal menikahkan anak gadisnya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Chelsea Narita Ryoma Binti Sakamoto Ryoma dengan mas kawin seperangkat alat solat dan emas sepuluh gram dibayar tunai." Kalimat lugas dan lancar keluar dari mulut Dega dengan satu napas tanpa ada pengulangan.


"Sah?" tanya Tuan kadi pada beberapa saksi.


"Alhamdulillah, saaah," ucap mereka serempak.


"Barakallah lakuma wa baa raka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khoiir (Artinya, semoga Allah karuniakan barakah kepadamu, dan semoga Ia limpahkan barakah atasmu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan)."


Akhirnya resmi sudah Dega dan Chelsea menjadi sepasang suami istri sah secara agama maupun hukum. Lalu Chelsea pun diminta untuk masuk.


Diringi oleh Kama dan Desi perlahan Chelsea melangkah masuk ke dalam ruangan. Chelsea mengenakan gaun putih polos tanpa lengan. Tangannya memegang satu bucket bunga kecil.



Semua mata tertuju pada mempelai wanita. Rambutnya yang dibiarkan tergerai menambah kecantikan dari gadis kelahiran Jepang itu. Tak perlu make up tebal, hanya goresan kuas sedikit saja sudah membuat wajah cantik Chlesea bersinar. Dega pun tak mampu mengedipkan mata menatap wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Sungguh karunia terindah dari Sang Pencipta yang menjodohkannya dengan seorang Chelsea.


"Yaaank, cantik banget lu yaaaank," bisik Dega begitu Chelsea sudah duduk berdampingan dengannya. Chelsea tak menjawab, hanya menyinggingkan senyum kesemua keluarga dan tamu.


Mereka lantas menandatangani buku nikah bergantian. Dega membaca sighat taklik lalu kemudian diakhiri dengan saling memasangkan cincin kawin. Lalu kemudian ditutup dengan doa bersama untuk kebaikan dan rumah tangga yang sakinah dan mawaddah untuk kedua mempelai.


Kemudian mereka pindah ke kursi pengantin. Acara pun dilanjutkan oleh MC dengan beberapa acara hiburan. Para tamu dipersilahkan menikmati hidangan.


"Yaaaank, sumpah yank, lu cakep banget dah ah," oceh Dega lagi dengan berbisik.


"Udah tau," jawab Chelsea singkat.


"Duuh, gua kagak nahan pengen peluk dan nyipok lu, yaaank," sambung Dega lagi.


"Emang berani? Tuh liat, mami Nyak dan Papi aku ngawasin kita terus." Chelsea menunjuk Nyak Wina dan Tuan Sakamoto dengan lirilan matanya.


"Ya Allah, udeh sah juga masih aje diawasin. Nyak ame Papi lu tega banget dah ah," keluh Dega.


"Hihihi, sabar, ntar abis acara kita puas-puasin." Chelsea tertawa kecil.


"Serius yank? Semuanye ya yank. Jangan ade yang ditunda-tunda kayak si Sutra kampret. Kita langsung gas aje ya yank," saut Dega dan Chelsea pun mengangguk.


"Alhamdulillaaah. Kagak salah gua punya bini orang Jepang, persis kayak dipelem-pelem, hotroad."


"Hotroad? Maksud kamu apa?"


"Itu yank, kayak kartu paket internet yang jalan terus dua puluh empat jam nonstop." Dega dengan tersenyum sumringah.


"Hahaha, yaudah ntar kita coba ya. Aku penasaran siapa yang bakal KO duluan." Tantang Chelsea.


Sepertinya pasangan Dega dan Chelsea berbanding terbalik dengan Kama dan Sutra. Jelas terlihat kalau diantara mereka Chelsea lah yang akan lebih ganas lagi dari Dega untuk urusan ranjang. Kita doakan semoga ranjang mereka tidak roboh nanti malam. Sebab yang akan bertarung nanti adalah pasangan tombak naga sakti dan dorayaki. Jangan sangka dorayaki yang empuk itu kalem-kalem aja. Ternyata dorayaki milik Chelsea persis seperti tanaman kantong semar. Bisa menelan dan memangsa segala yang masuk dan menyerangnya. Hahaha.


Tapi lagi-lagi yang paling PENTING semua itu harus dilakukan dalam batasan sah dan halal agar mendapat berkah dan pahala. So, bagi jomblo-jomblo yang baca bagian in the hoy, sabar dan perbanyak istighfar, insya Allah jodoh segera datang dan sah. Aamiiin.

__ADS_1


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Btw, soal aksi tombak naga sakti dan dorayaki jangan dibayangin guys, ntar penasaran terus minta tambahan bonus chapter malam pertama mereka ke author. Duh, gak kuat akutuuuh 😱😁


__ADS_2