
Please jangan lupa tinggalin jempol dan vote nya ya biar authornya makin semangat π€π
happy reading..
--- Kama Pov ---
Aku begitu terkejut ketika mendengar mas Adrian mengajakku tunangan. Dia apa tidak salah bicara ya? Dia bahkan belum tau soal penyakitku.
Dasar Freak!
"Kamu belum kenal sepenuhnya gimana saya.., gimana latar belakang saya.., dan keluarga inti saya, ayah dan ibu.." ucapku padanya.
"Kalau gitu mulai detik ini kamu kasi tau semuanya. Tentang kamu.., latar belakang kamu.., serta orangtua kamu.. Masih ada waktu satu tahun sampai proyek saya selesai. Dan dalam setahun itu, pliiis kasi tau saya semuanya.., mau kan?" mas Adrian bicara sambil menatap mataku lekat-lekat. Apa ini artinya dia benar-benar serius ingin tau?
Aah, apa sih?! Tatapannya malah bikin aku jadi ser-seran..
Aku mengalihkan pandangan darinya dan menatap lurus ke ujung jembatan cinta. Aku tidak mau dia melihatku jadi salah tingkah karena tatapannya itu.
Kok bisa ya aku punya pacar setampan ini.. Entah harus bangga atau takut, aku juga gak mengerti, yang jelas wajah tampannya itu makin hari malah membuatku semakin salah tingkah!
"Gimana..? Kamu mau kan..?" dia kembali bertanya.
"Hehehe.., kamu bisa nyesal kalau tau semuanya!" aku mencoba memperingatinya
"Justru kebalikannya, saya bisa menyesal kalau tidak tau semuanya"
Aku kembali melanjutkan langkah menyusuri jembatan cinta yang baru setengahnya kami jalani, diikuti mas Adrian disampingku dengan payung berwarna biru yang sejak tadi dipegangnya. Dia begitu baik sampai memperhatikanku seperti ini. Semua yang ada pada dirinya serba lebih, membuatku merasa minder sendiri. Kayaknya dia terlalu perfect buatku.
Apa aku pantas ya mendampinginya? Ah, kok hubungan yang baru berapa hari ini jadi serius banget sih..
"Hidup saya jauh dari kata normal mas.. Kamu pasti kaget kalau tau semuanya.." aku memilih menikmati pemandangan daripada harus ser-seran menatap wajahnya.
"Sejak pertama kali kita bertemu saya sudah terlatih kaget bersama kamu.. Kaget dengan sikap cuek kamu.., kaget dengan nama kita.., kaget dengan emosi kamu.., salah paham kamu.., kaget dengan kebiasaan kamu yang tiba-tiba menangis.., kaget dengan takdir Tuhan yang selalu mempertemukan kita.., kaget dengan kejadian waktu di rumah sakit..., kaget dengan sandiwara pacaran yang kamu akui didepan aji dan tante Lulu.., kaget dengan keinginan kamu untuk belajar Islam.., dan kaget-kaget yang lain. Semua yang ada pada kamu sejak awal tidak pernah berhenti membuat saya kaget. Jadi untuk selanjutnya, jantung saya sudah terbiasa kaget kok bersama dengan kamu.."
Hah? Dia masih mengingat semua itu..
"Hmuuuffftt.., oke, saya akan cerita pelan-pelan. Sejak kecil saya dibesarkan oleh ibu, kakek, nenek, dan aji. Merekalah keluarga dalam hidup saya. Aji adalah adik sepupunya biang yang dari kecil dibesarkan oleh kakek dan nenek"
"Maaf, biang maksudnya?"
Oh iya, aku lupa dia tidak mengerti bahasa Bali
"Biang itu artinya ibu dalam bahasa Bali"
"Oh, oke, lalu.."
"Aji sudah seperti kakak bagi saya. Jadi maklum lah kalau sikapnya protective begitu. Aji adalah orang yang selalu menemani saya bermain, dan mengajarkan macam-macam pada saya.. Sementara biang, waktu saya kecil biang sering sakit dan beberapa kali masuk rumah sakit.."
__ADS_1
"Kakek dan nenek juga sangat baik dan selalu memanjakan saya.. Dan.., pasti mas akan bertanya dimana ayah saya. Jawabannya, saya tidak tau dia dimana dan seperti apa wujudnya sekarang. Intinya saya dibesarkan tanpa sosok ayah sejak kecil.."
Mas Adrian sedang menatapku sekarang, aku bisa melihatnya dari sudut mataku. Sepertinya dia sudah mulai kaget mendengar kisahku. Padahal ini baru pemanasan.
"Saat usia saya enam tahun, kelas 1 SD, saya melihat kejadian yang sampai sekarang masih saya ingat jelas dikepala.. Kejadian yang sesungguhnya tidak saya pahami namun begitu menakutkan bagi saya kala itu, hingga berujung dengan membawa biang ke rumah sakit.. Biang jadi sering sakit sejak saat itu, lebih banyak diam maupun menangis sendirian. Padahal sebelumnya biang adalah sosok yang ceria dan selalu membawa saya pergi jalan-jalan setiap sore.."
"Saya sangat menyayangi biang dengan cara saya sendiri, yaitu tidak mau membuatnya pusing dan tidak menanyakan apapun tentang dirinya. Karena menurut saya, ketenangan biang jauh lebih baik daripada harus masuk rumah sakit lagi. Namun ternyata peristiwa 10 tahun yang lalu itu tidak hanya meninggalkan bekas pada biang, melainkan pada saya juga.."
"Tanpa saya sadari, saya tumbuh dengan kesendirian yang sama seperti biang. Tidak mengenal teman dan tidak bisa berkomunikasi yang baik dengan siapapun kecuali keluarga.. Saya tidak perduli dengan setiap kejadian disekitar, bahkan dengan teman sebangku dikelas saja saya tidak perduli.. Karena saya tidak ingin membangun rasa keterikatan dengan sahabat atau siapapun, agar tidak merasa kehilangan.."
Ehehe, pasti dia sudah semakin terkejut sekarang. Oke kita lanjut ke tahap berikutnya mas..
"Tapi entah kenapa hati saya malah sebaliknya.. Hati saya langsung merespon untuk bersedih dan menangis ketika ada yang sakit maupun tersakiti, yang saya ketahui walau tidak saya perduli"
"Hmm, tunggu-tunggu, saya potong sedikit boleh yaa.. Saya jadi teringat dengan mahasiswi yang kecelakaan di depan fakultas tiga bulan yang lalu.. Jadi kamu beneran gak kenal dengan dia?"
Mas Adrian memang pintar dan langsung bisa teringat dengan kejadian itu
Aku mengangguk sekaligus tersenyum tanpa menoleh padanya. Ya, karena saat ini aku ingin bercerita dengan tenang tanpa harus ser-seran karena menatap wajahnya.
"Bahkan namanya pun saya gak tau.. Waktu itu cuma kebetulan, tanpa rencana saya terpaksa melihat kejadian itu!"
"Dan gak cuma itu.., masih ada satu kebiasaan lagi yang sangat mengganggu hidup saya.."
"Apa?" tanyanya
"Saya gak suka ngeliat cowok ganteng! Benci!"
Benar dugaanku! Mas Adrian tidak hanya terkejut, dia sampai berhenti melangkah. Bahkan dia sudah berada lima langkah dibelakangku sekarang.
Maaf mas, kamu sendiri yang tadi minta aku ceritakan semuanya
Aku ikut berhenti dan menunggunya menyusul dari belakang.
Hmm, apa aku harus menoleh ke belakang ya?
Hampir semenit aku menunggu, dan aku sudah tidak tahan lagi untuk menoleh ke belakang. Dan yang kudapati adalah malah aku yang terkejut.
Apa-apaan dia itu?!
Mas Adrian mengikat wajahnya dengan sapu tangan, seperti sedang memakai masker. Sapu tangan? Tahun berapa ini, kok dia masih membawa-bawa sapu tangan. Seperti guru sejarahku waktu di SMP.
"Ngapain kayak gitu?" aku tidak sabar mengetahui maksud dari aksinya itu.
"Biar kamu gak usah ngeliat wajah saya.." dia melangkah mendekatiku
"Jadi kamu gak benci.." sekarang dia sudah berdiri tepat di hadapanku
__ADS_1
Hahaha, dasar freak!
"Saya udah tau kok gimana bentuknya, jadi percuma ditutupin" sautku dan kamipun kembali melanjutkan langkah beriringan. Sedikit lagi kami sampai di ujung jembatan cinta, yakni Pulau Tidung Kecil.
"Terus gimana donk caranya biar kamu gak benci liat saya?"
"Hahaha, memangnya kamu termasuk cowok ganteng? Pede banget sih!" aku tertawa lepas melihat kelakuannya.
"Eh iya ya, bener juga. Kan saya gak tau gimana kategori ganteng menurut penilaian kamu.." ia lantas membuka kembali sapu tangan yang menutupi wajahnya.
Ah, gimana kalau nanti dia tau sekarang aku malah ser-seran melihat wajahnya.
"Karena keanehan sikap itu, saya sampai dikatain cengeng waktu sekolah. Dan benar-benar membuat gak nyaman! Saya lantas konsultasi ke psikolog, ingin tau apa yang sebenarnya terjadi dengan saya. Dan psikolog itu bilang saya mengidap PTSD, Post Traumatic Stress Disorder"
Lagi-lagi mas Adrian terkejut, dia terus memandangi wajahku dengan serius.
"Udah sampe.. Waah, keren ya.. Kita sampai juga diujung jembatan cinta.." keindahan Pulau Tidung Kecil membuatku terpesona. Tempatnya begitu tenang, damai, namun menghanyutkan. Pasir putih pantainya persis seperti Pulau Tidung Besar, dengan air laut yang jernih seperti kaca. Pasti seru kalau aku bisa tinggal ditempat yang setenang ini.
"Cantik ya.. Benar-benar karunia Tuhan yang luar biasa dengan pemandangan seindah ini.." ujar mas Adrian
"Pasti seru kalau bisa tinggal disini!" sautku dan mas Adrian lagi-lagi memandang wajahku serius.
Semenit kemudian mas Adrian menghampiri seorang bapak yang tampak seperti mengawasi pulau itu.
"Maaf pak, numpang tanya.."
"Ya, silahkan dik, mau tanya apa?" ujar bapak itu
"Ada berapa banyak penduduk yang tinggal di pulau ini pak?"
"Hah? Hahaha, adik ini ada-ada saja. Pulau ini tidak berpenghuni dik. Tempat ini dijadikan makam bagi masyarakat Pulau Tidung Besar" jelas bapak itu lagi
"Oh, maaf pak, saya tidak tau, hehehe.. Terimakasih ya pak infonya.., permisi.."
"Sama-sama dik.., silahkan.."
Mas Adrian kembali mendekatiku dan segera mengajakku kembali ke ujung jembatan yang satunya.
"Udah yuk, balik.. Saya udah laper.."
πππ
Hayoo, Sutra takut atau apa nih?
Diajak Kama tinggal di Pulau Tidung Kecil dia gak jawab...
Hahaha
__ADS_1