When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
TERUTAMA KAMU


__ADS_3

Kama terbangun karena ponsel nya berbunyi,


drrrrttt...


drrrrtttt....


(biang calling)


"Hallo, pagi biang" jawab Kama dengan suara malas


"Hallo, Kama. Loh, masih tidur, nak?" tanya biang di telfon


"Baru aja mau bangun, biang. Lagipula hari ini jadwal kuliah Kama kosong"


"Pasti kamu begadang kan. Belajar sampe pagi"


"He, iya biang" biang paling tau kebiasaan Kama.


"Kama jaga kesehatan ya disana. Jangan terlalu capek belajar nya. Biang gak mau kamu sakit" biang mulai menasehati Kama


"iIa biang. Jangan kawatir, Kama sehat-sehat aj kok. Biang yang gak boleh sakit, gak boleh melamun terus!" namun Kama lebih kawatir lagi dengan biang nya yang masih sering melamun sejak kejadian 10 tahun lalu


Biang tersenyum di balik telfon,


"Oh ya, tadi Kama bilang hari ini jadwal kuliah kosong, kalau besok gimana?" tanya biang penasaran


"Besok sabtu biang, setiap sabtu Kama libur, ga ad jadwal"


"Kebetulan kalau gitu. Kama ke Jakarta ya, nak hari ini, ke rumah nya Aji Wayan, Aji rindu sama Kama kata nya. Kan udah setahun gak ketemu"


"Itu salah, aji, biang! Dia yang gak pulang-pulang ke Bali" Kama sedikit kesal ketika biang menyebut nama paman nya, Aji wayan.


Aji wayan adalah adik sepupu nya biang yang sejak kecil tinggal bersama biang, dadong (nenek) dan pekak (kakek).


Maka nya ketika Kama lahir, Aji Wayan lah yang selalu menjadi teman nya bermain, dan mengantar jemput nya sekolah. Hingga ketika Aji bertemu dengan seorang perempuan di Kuta, jatuh cinta lalu menikah, terpaksa Kama merelakan teman terdekat nya itu.


Setahun yang lalu Aji Wayan menikah dengan perempuan keturunan chinese yang tinggal di Jakarta.


Perempuan itu adalah anak tunggal dari seorang pengusaha restoran besar yang terletak di Jakarta Utara. Oleh karena nya setelah menikah, terpaksa Aji ikut pindah ke Jakarta.


Kama dan Aji Wayan hanya terpaut usia 10 tahun. Oleh sebab itu Kama menganggap aji Wayan sudah seperti kakak kandung nya yang tumbuh besar


dan selalu bersama. Ketika aji Wayan memutuskan menikah, Kama satu-satu nya orang yang protes, apalagi


aji Wayan menikah dengan orang jauh, yang membuat nya pindah ke kota asal istri nya.


Sudah setahun Aji Wayan tinggal di Jakarta. Sebenarnya dia berniat pulang ke Bali ketika Kama lulus SMA,


namun istri nya sedang hamil besar, membuat nya tak mungkin berpergian jauh. Makanya ketika mendengar kabar Kama kuliah di UI,


Aji Wayan sangat senang dan berharap bisa sering bertemu dengan Kama. Bahkan ia sudah menyiapkan sebuah kamar untuk Kama di rumah nya.


"Naaak, istri aji baru saja lahiran, baru 2 bulan. Apa kamu gak mau ngeliat ponakan mu?" bujuk biang yang paham betul sifat Kama


"Hmmmuuuuuuhhh, alamat Aji dimana biang?" Kama akhirnya menyerah dan setuju untuk datang ke Jakarta


"Kata aji, Jakarta hari jumat macet sekali, kamu bisa kan naik kreta dari stasiun UI ke stasiun Manggarai. Nanti aji jemput Kama disitu" biang menjelaskan


"Yaudah, Kama siap-siap dulu biang" Kama bangkit dari tempat tidur nya seraya menutup telfon


πŸƒπŸƒπŸƒ


Sutra (Adrian) terlihat keluar dari gedung pasca sarjana. Dia baru saja menemui dosen pembimbing nya untuk berkonsultasi perkara tesis yang sedang di kerjakan nya saat ini. Lantas dia melirik jam tangan nya, sudah jam 11 lewat.


Sutra bergegas menuju parkiran dan lekas ke mesjid terdekat untuk menunaikan solat jumat siang itu.


Satu jam berlalu, solat jumat pun selesai. Para jamaah berangsur bubar, termasuk Sutra. Sutra berjalan menuju parkiran seraya menyalakan ponsel nya. Dia mengirim pesan wa untuk ibu nya


-Sutra-


Ibu, Sutra baru mau berangkat, kemungkinan macet banget karena ini hari Jumat. Insya Allah nyampe Jakarta sore ato malam.


Sedetik kemudian, Sutra beralih melihat pesan trakhir yang di kirim nya untuk Kama waktu itu,


pesan yang tidak dibalas oleh Kama sampai dua kali sebelum tragedi pingsan.


Kamu dimana, Kama?


Kenapa gak kamu balas? saya tau kamu sudah baca pesan saya! Saya tunggu kamu di depan kost!

__ADS_1


Sutra lantas tersenyum seraya menggeleng-geleng kan kepala nya teringat akan sosok Kama yang sangat cuek, sering kesal, namun cengeng.


Sungguh bukan hal mudah bagi Sutra untuk menarik perhatian Kama. Namun justru itu yang membuat nya suka dengan seseorang yang gak suka dengan nya.


Trililiiing... (suara pesan masuk)


-Ibu-


Ok. hati-hati ya nak.


Setelah membaca pesan dari ibu nya, Sutra segera masuk ke mobil. Dia menyalakan mesin mobil seraya melihat sosok cewek yang sangat di kenal nya,


berjalan melewati halaman mesjid tempat dia melaksanakan solat tadi. Semesta mendukung,


mempertemukan nya dengan orang yang baru semenit yang lalu di bayangkan nya.


Itu adalah Kama, dia mengenakan kaos lengan panjang hitam dengan celana jeans biru


dan sepatu kets tebal warna putih. Dia terlihat menenteng tas ransel di sebelah pundak nya dengan rambut keriting yang digerai. Berjalan pelan melewati mesjid.


Reflek Sutra mematikan kembali mesin mobil, keluar, dan sedikit berlari menyusul Kama. Sutra sampai dengan cepat di belakang Kama,


tercium aroma parfum Kama yang memikat itu. Lantas Sutra menyentuh bahu nya,


"Heii, kamu mau kemana?"


Seketika Kama menoleh, matanya melebar melihat sosok pak Adrian di depan nya.


Ya benar, yang dia tau bahwa dosen nya itu bernama Adrian


"Eh pak Adrian, kok bisa disini? bapak-"


Adrian segera memotong ucapan Kama,


"Gak! Saya gak ngikutin kamu. Saya baru aja selesai solat jumat tuh di mesjid" Adrian menunjuk ke arah mesjid, terlihat mobil sedan kuning nya yang terparkir rapi disitu.


Mata Kama mengikuti arah tangan Adrian yang menunjuk ke mesjid, lalu seketika dia tersenyum karena merasa lucu mendengar penjelasan Adrian,


"Saya bukan mau nanya itu, pak"


Tadi nya Kama bermaksud menanyakan kenapa pak Adrian tidak ke kampus menjemput pacar nya yang kemarin. Tapi ya sudah lah, bukan urusan nya juga bertanya macam-macam ke pak Adrian.


Melihat Kama yang tersenyum, Adrian pun ikut tersenyum. Dia merasa lega Kama tidak mecurigai nya seperti sebelum nya.


"Terus pertanyaan saya tadi. Kamu mau kemana?"


"Ke stasiun, naek kereta" Kama kembali seperti berpikir, dia memainkan tali ranselnya, seolah ragu-ragu.


Ini pertama kali nya dia akan naik kereta, dan memang benar ada sedikit ragu di hatinya, takut salah tujuan, di tambah dia juga masih kesal dengan Aji Wayan.


"Tujuan nya kemana?" tanya Adrian penasaran


"Jakartaa" mendengar jawaban Kama, hati Adrian seperti mengembang rasa nya.


Pucuk di cintah, dapat serpihan nya pun jadi lah, hahaha, maksa kebangetan.


Bagaimana bisa tujuan mereka sama hari ini, pikir Adrian.


"Jakarta dimana nya?"


"Emmm, belum tau" jawab Kama bingung, karena itu di pasti kan Adrian tidak akan membiarkan Kama pergi sendirian, apalagi naek kereta.


"Naik mobil saya aja ya" Adrian menawarkan Kama untuk pergi bersama dengan nya


"Ga usah pak, repot. Bapak duluan aja, saya bisa naik kreta kok" sudah pasti Kama menolak, dia tak mau menyibuk kan pak Adrian dengan urusan nya


"Saya juga mau ke Jakarta hari ini. Ke rumah orang tua saya" Adrian menjelaskan bahwa tujuan mereka sama, dan berharap Kama tak menolak ajakan nya


Sesaat Kama menatap wajah pak Adrian, dia berpikir, pantas saja Mini tergila-gila dengan nya, ternyata dia memang baik,


tapi wajah nya sangat mengganggu ku, terlalu tampan, hiih..!!


Adrian yang melihat tatapan Kama langsung kawatir Kama mencurigai nya lagi untuk kesekian kali nya,


"Kenapa? Kamu gak percaya sama saya? Ini... kamu bisa liat KTP saya" Adrian lantas mengeluarkan KTP dan menunjukkan pada Kama.


"Alamat Jakarta, rumah orangtua saya" sambung Adrian lagi


Kama melirik KTP pak Adrian sekilas, bahkan foto KTP nya pun tampan. Kapan wajah nya bisa keliatan jelek,

__ADS_1


supaya Kama bisa lebih tenang di dekat Adrian. Tapi keraguan nya naik kereta ke Jakarta lebih besar lagi, hingga dia memutuskan untuk setuju dengan dosen nya itu


"Yaudah, boleh pak"


Adrian tersenyum puas mendengar jawaban Kama. Dia merasa lega Kama mau menerima tawaran nya karena kalau tidak, dia sudah berniat mengikuti Kama naik kereta.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Mobil sedan kuning Adrian beranjak meninggalkan mesjid,


dengan Kama di samping nya. Setelah 15 menit berkendara, Adrian masuk ke jalur drive thru Mc.D


Kama yang duduk di sebelah hanya diam, dia sudah terbiasa dengan kebiasaan dosen nya yang senang dengan makanan siap saji.


Adrian memesan Chicken Burger Deluxe, Beef Burger Deluxe, Mc.Nugget, Chicken Finger, Spicy Chicken Bites, dan 2 Hot Tea


Kama yang berada di samping, terkejut mendengar pesanan sebanyak itu. Dibenak nya Kama membayangkan betapa besar nya lambung Adrian sampai bisa menampung semuanya.


Itu perut atau galon air? batin Kama


Begitu pesanan komplit dan pembayaran selesai, mobil Adrian kembali melaju, meninggalkan Mc.D. Kemudian dia bertanya pada Kama,


"Kamu suka beef ato chicken?"


Kama menautkan kedua alis nya dan seketika itu menatap wajah Adrian, dia bingung apa maksud pertanyaan dosen nya itu.


Lantas Adrian menunjuk ke dua kantongan besar pesanan,


sementara satu nya lagi masih berada diatas pangkuan nya


"Itu yang kiri paket beef, yang kanan paket chicken. Kamu pilih satu, soal nya ini udah jam makan siang. Kemungkinan kita sampe Jakarta sekitar 1 ato 2 jam karena pasti macet. Apalagi hari jumat, macet nya bisa dua kali lipat. Dan kita bisa kelaperan kalau gak ada makanan di mobil"


Seketika Kama tertegun dengan penjelasan Adrian,


dia menangkap bahwa Adrian adalah orang yang selalu penuh persiapan. Pantas saja kalau dia jadi dosen, walau cuma dosen pengganti, pikir Kama


"Jadi kamu suka beef atau chicken?" Adrian kembali mengulang pertanyaan nya


"Chicken, pak" jawab Kama skaligus mengambil kantongan sebelah kanan.


Kama baru menyadari hari ini bahwa sikap dosen nya itu benar-benar baik, tidak hanya sekedar kata-kata.


Kama kembali teringat dengan semua kejadian yang berkaitan dengan pak Adrian. dan tidak satupun ada yang buruk,


hanya saja Kama yang selalu curiga dan salah paham dengan nya. Sampai Kama juga baru paham dengan maksud ucapan pak Adrian waktu terakhir bertemu di perpustakaan saat itu...


"A**h ya, nih saya baru minjam buku. Tadi nya saya mau minta tolong di temenin sama orang yang sebelum nya saya ajak kesini, tapi saya liat dia sedang sibuk dengan orang lain, saya di cuekin"


Aah, pantas saja waktu itu dia melirik ke arah ku, ternyata yang dia maksud aku.


Tapi kapan aku nyuekin dia? Bukan nya aku memang selalu seperti ini. Apa sebaiknya kutanyakan saja ya?


Tapiii toh dia juga sudah ada yang menemani kan waktu itu. Aah, biar lah, gak perlu di bahas lagi, pikir Kama


"Ooh, kalau saya suka apa aja"


"Terutama kamu...." Adrian menyambung kalimat itu dalam benak nya.


"Makasiiih ya pak" sambil tersenyum dengan tulus Kama mengucapkan terimakasih pada Adrian dengan menatap nya


Deg


Deg


Adrian menangkap hal yang berbeda, seketika jantung nya berdetak cepat mengetahui Kama tersenyum dan menatap nya dalam.


Adrian hampir tak menguasai setir saat ini, jantung nya masih belum berhenti berdetak tak karuan hingga dia memutuskan menepi ke sisi kiri jalan tol


"...terutama kamu.." kembali terlintas kalimat itu di benak Adrian.


Apa jangan-jangan tadi itu dia dengar ya? Tapi aku yakin tidak mengucapkan nya, pikir Adrian skaligus berusaha untuk tenang.


"Loh, kok minggir, kenapa pak?" tanya Kama heran


"Ehm.., gak papa. Saya mau minum sebentar" lantas Adrian menghabiskan hot tea nya hingga tak bersisa, berharap jantung nya bisa kembali normal setelah itu


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


TERIMAKASIH READERS YANG UDAH BACA SAMPAI PART INI πŸ˜ŠπŸ™

__ADS_1


KASI JEMPOL DAN TINGGALIN KOMEN YANG MANIS YA BIAR AKU MAKIN SEMANGAT πŸ€—


JANGAN LUPA VOTE NYA JUGA (he..he..he)


__ADS_2