
Eh eh guys pencet LIKE dan VOTE-nya dulu donks, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€
sarang buruuuung, eh sarangheyo ππ
-
-
Kama dan Sutra beserta Aiman dan seorang pengawal menaiki mobil Jeep milik pengurus resort. Berhubung mobil itu hanya memuat sedikit penumpang, jadi Azfar dan seorang pengawal lagi tinggal di resort. Mereka menuju ke bandara menyusul Dega dan Chelsea.
"Gimana, Mas? Udah di angkat Dega teleponnya?" tanya Kama.
"Belum." Sudah tiga kali Sutra mencoba menghubungi sahabatnya, Dega, tapi belum juga di angkat.
"Bang Aiman, buruan nyetirnya! Nanti Chelsea keburu pergi!" perintah Kama.
Ya Allah ..., semoga Chelsea masih ada di bandara.
Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit, akhirnya mereka sampai di bandara kecil kota JΓ€mtland. Kama segera turun dan berlari masuk ke dalam, di ikuti oleh Sutra dan seorang pengawal dari belakang. Sementara Aiman, memarkirkan mobil.
Kama menyapu pandangannya dari ujung ke ujung, mencari sosok Dega dan Chelsea di sana. Walau bandara itu tergolong kecil, namun banyaknya orang yang lalu lalang di sana, membuat Kama sulit menemukan mereka.
"Mas, kita mencar. Kamu cari ke sana, sambil terus telepon Dega. Sementara aku cari ke arah sini, oke," pinta Kama dan Sutra mengangguk.
Mereka lantas berkeliling mencari. Melihat satu persatu sosok orang yang mirip dengan Dega dan Chelsea. Hingga waktu berlalu dua puluh menit, kedua orang itu belum juga terlihat. Orang-orang di bandara juga sudah semakin sedikit. Sudah dua pesawat yang berangkat sejak mereka sampai tadi. Jika Dega dan Chelsea memang ada di sana, tidak mungkin mereka tak terlihat.
"Huuuuuuffftt, aku gak liat mereka, Babe," ucap Sutra mendekati Kama. Laki-laki itu menghembuskan napas panjang, lelah mencari kesana kemari.
"Apa mungkin mereka sudah berangkat ya, Mas?" Asumsi Kama.
"Kayaknya enggak, karena ponsel Dega masih aktif. Ini aku teleponin terus, nyambung, tapi gak di angkat sama tuh anak." Sutra menunjukkan layar ponselnya.
"Yaudah kalau gitu kita cari lagi yuk," ajak Kama lagi.
"Kamu duluan, Babe. Aku mampir toilet bentar." Sutra bergegas ke toilet menyelesaikan panggilan Komodo Lang yang ingin buang air kecil.
Selesai dengan itu, Sutra kembali menelepn Dega seraya berjalan keluar toilet. Namun,
Kriiiiiing ....
Terdengar dering ponsel dari dalam toilet. Sutra lantas memutus sambungannya, lalu mengulanginya lagi.
Kriiiiiing ....
Dering ponsel kembali terdengar. Suaranya berasal dari salah satu kamar toilet yang tertutup.
Karena curiga Sutra lantas mengulangi panggilannya hingga tiga kali. Dan memang benar kalau asal bunyi itu terdengar dari tempat yang sama. Hingga Sutra yakin untuk mengetuk pintunya.
Tok tok tok !
"Ga! Dega! Itu elo, kan?" tanya Sutra.
Brooot ! Pret pret !
Terdengar suara bom gas molotop beserta ampasnya dari dalam kamar toilet.
"Eh, Sut. Entu lu? Kok lu bisa di mari?" tanya Dega balik sembari nangkring di atas WC.
Astaga, bunyi apa itu? Kayak turun mesin.
"Lu ngapain di dalam? Buruan keluar!" seru Sutra.
"Bentar, nanggung." Dega melanjutkan aksi lempar gas molotopnya.
Akhirnya setelah menunggu tiga menit Dega pun keluar dari sana. Sutra juga sudah mengabari Kama kalau ia telah bertemu Dega di toilet pria.
"Lo ngapain dodol, dari tadi gue teleponin gak di angkat?!" Sutra menyentil dahi sahabatnya.
"Aduh, kampret lu! Sakit, tau! Gua buang hajat lah. Emang ada orang di WC photo prawed?!" Dega mengeluh.
"Hahaha, boleh juga tuh usul lo." Sutra terkekeh dengan jawaban Dega.
"Eh iya, cewek kebanggan lo mana?" Sutra lalu menanyakan keberadaan Chelsea.
"Udeh terbang." Wajah Dega murung. Sedetik kemudian ia pamit.
Oh, udah balik dia. Pantesan si Dega layu banget.
"Eh, Sut, kayaknye gua mau buang hajat lagi ni. Lu tungguin yak, ntar kita sambung ngobrolnye." Dega kembali masuk ke dalam toilet.
__ADS_1
Astaga, ternyata Dega stres perut. Kepergian Chelsea membuat laki-laki Betawi itu mules-mules. Ia sudah enam kali keluar masuk toilet lantaran stres memikirkan kepergian kekasihnya. Belum lagi memikirkan bagaimana caranya bisa menjemput Chelsea sekaligus menemui orang tuanya.
Sutra lalu pergi keluar, membelikan Dega teh hangat tanpa gula atas saran Kama.
"Nih, minum. Biar perut lo enakkan." Sutra menyerah secangkir teh hangat pada Dega di depan pintu toilet pria.
"Makasih ye, Sut ..." Perasaan Dega mulai tenang sekarang. Ternyata secangkir teh hangat tanpa gula mampu menenangkan stres perutnya.
Mereka lantas duduk di kursi panjang yang tidak jauh dari situ. Sudah ada Kama yang menunggu di sana.
"Hai, Ga. Gimana, udah enakkan perutnya?" sapa Kama.
"Eh, Kam. Hee, iye alhamdulillah udeh mendingan," jawab Dega dengan senyum yang di paksakan.
"Chelsea udah berangkat ya?" tanya Kama lagi.
"Iye, setengah jam yang lalu." Mata Dega menatap lurus ke depan. Terbayangnya kembali saat perpisahan dengan Chelsea tadi.
"Kalau aku boleh tau, kenapa ya Ga? Kok Chelsea tiba-tiba balik?" Kama mulai menelisik.
Dega menoleh menatap Sutra dan Kama bergantian dengan wajah yang campur aduk.
"Di telepon bokapnye. Kelakuan gua ame dia yang begonoan malam entu, udeh ketauan." Dega mengakui pasal yang sebenarnya.
"Kok bisa? Pasti si gila itu yang cerita ke bokapnya. Gue yakin, dia mau jebak lo, Ga!" saut Sutra. Ia selalu curiga pada Chelsea mengingat kelakuan jahat gadis itu terhadap Kama.
Plak !
Sebuah pukulan dari Kama mendarat di bahu Sutra. Laki-laki itu langsung meringis kesakitan.
"Aduuh!"
Kama dan Dega serentak melirik Sutra sinis.
Aduuh, kamu mukulnya kok kayak dendam ya, Babe? Kenceng banget! Apa gara-gara kemarin aku minta jatah dua kali ...?
Lah ini si Betawi pake ikut-ikutan ngelirik gue. Apa lo, Ga? Gue naikin utang lo jadi lima kali lipat, tau rasa!
"Ga usah dengerin Mas Adrian, Ga. Lanjut aja ceritanya," ucap Kama kemudian.
"Iya Kam. Ya entu, gua juga heran. Ato mungkiiiin -" Dega menjeda kalimatnya.
"Apa?" tanya Kama.
Dega sungguh berharap mendapat jalan keluar untuk masalah yang sedang ia dan Chelsea hadapi saat ini.
Ya Allah, tolong Dega ya Allah ... Semoga ade jalan keluar yang menolong masalah Dega ame Chelsea. Dega janji, abis ini kelar, Dega bakal cium kaki Enyak, sumpah dah ah, sueeerrr! Tapi Enyak doank, Babe kagak. Bau kambing!
Kebetulan ayah Dega adalah seorang juragan kambing, domba, dan hewan sejenisnya di Jakarta. Mereka menyuplai dagingnya ke restoran-restoran Timur Tengah yang ada di ibukota.
Lumayan juga kan jika nanti Dega mewarisi usaha ayahnya. Kehidupan rumah tangganya bersama Chelsea akan di topang dengan usaha itu. Chelsea yang super cantik dan mulus itu mau tidak mau harus terbiasa membantu Dega mengurus kambing, domba dan lain-lain nantinya. Hahaha.
πππ
Mereka semua sudah kembali sampai ke resort. Lewat bantuan Aiman, Dega bisa meminjam laptop tetangga, eh laptop penjaga resort, untuk membuka file yang ada di flashdisk tempo hari.
Eh flashdisk mana nih? Ada yang masih inget gak guys? Itu loh, flashdisk yang di kirimkan Datuk Emran sebagai kado untuk Chelsea dan Dega.
Dega masuk ke dalam kamar membawa laptop itu, di ikuti oleh Sutra dan Kama dari belakang.
"Eh, lu bedua ngapa ngikut gua?" tanya Dega heran.
"Ya mau ngeliat isi flashdisk itu lah," jawab Sutra.
"Kagak boleh!" bantah Dega.
"Loh, kenapa?" Sutra heran.
"M ..., ade ..., ade ..." Ragu-ragu Dega berucap.
"Ada apa sih, dodol?!" Sutra jadi emosi dengan jawaban gantung Dega.
"Ah, pokoknye kagak boleh deh." Dega menggeleng-gelengkan kepala. Takut kalau video hot-nya bersama Chelsea terlihat oleh Kama dan Sutra.
"Nah, yang kayak gini nih yang bikin gue makin sayang sama lo. Pengen gue tabokin! Lo jangan aneh-aneh deh, Ga! Sok ngumpet-ngumpet segala. Gue sama Kama mau bantuin lo. Jadi lo gak perlu nutupin masalah ini lagi," tegas Sutra.
Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam kamar dan membuka file dari flashdisk itu. Ada dua video di dalamnya. Video yang pertama adalah video yang pernah ia dan Chelsea tonton bersama, yakni video panas mereka. Dega lantas men-skip yang itu dan langsung melompat ingin membuka video yang kedua.
"Kenapa gak yang pertama lebih dulu, Ga?" tanya Kama.
__ADS_1
"Ha, e ..." Dega gugup menjawab.
"Gue jadi curiga sama lo, Ga. Jangan-jangan itu video bokep lo sama Chelsea ya? Hahaha." Sutra terkekeh mengejek sahabatnya.
"Kok lu tau?" tanya Dega polos, membuat Kama dan Sutra kompak melotot dan saling pandang. Mereka terkejut mendengar kenyataan itu.
"Astaga, jadi bener itu video panas kamu sama Chelsea, Ga?" tanya Kama.
Buset dah ah, gua kejebak ame kalimat si kampret, Sutra! ****** ni anak! Ketauan deh gua.
Mau tidak mau Dega mengangguk menjawab pertanyaan Kama.
"Mana buruan buka, gue mau liat." Wajah Sutra berubah antusias setelah Dega mengangguk.
"Maaass," tegur Kama seraya melotot.
"Eh, iya, maaf, Babe. Aku cuma becanda kok. Hehehe." Sutra tertawa garing menutupi kekonyolannya.
Sukurin lu kampret! Hahaha, batin Dega.
"Yaudah di skip aja, Ga. Terus buka video yang satunya," ucap Kama.
Dega lantas mengklik video yang kedua. Tampak seorang pria paruh baya yang sedang bicara di sana. Betapa terkejutnya Kama dan Sutra mengetahui siapa pria itu.
Abah???
Dalam video itu, Datuk Emran mengatakan,
"Assalammualaikum ... Kenalkan, saye Emran Ibrahim. Saye nak cakap bahwa yu stop kirem siapepun tuk ikuti Adrian. Dah cukop lah. Saye tak nak dengar kabar macam-macam lagi. Atau video korang yang pertama tadi, saye kiremkan tuk yu punya ayah. Oke, deal? Bye. Assalammualaikum."
Mendengar nama sahabatnya disebut, Dega melirik pada Sutra.
"Lu kenal ame ni orang, Sut?" tanyanya.
Sutra mengangguk, "Mertua gue."
"Berarti bokap lu, Kam?" Dega melotot kaget.
"Iya, Ga. Abahku pasti udah kirim video itu ke ayah Chelsea dan mengatakan macam-macam. Pantas kalau Chelsea langsung balik ke Jakarta," ucap Kama.
"Waduuuh, begoknye gua. Mestinye dari awal gua ame Chelsea udeh buka video kedua entu. Eh, malah ujug-ujug maen berangkat di mari." Dego menepok jidat.
Wah, itu artinya mertuaku udah liat donk video panas Dega sama Chelsea. Aiiih, menang banyak dia. Aku jadi penasaran banget sama video itu. Pasti seru kalau nonton begituan bintangnya temen deket sendiri, hahaha.
"Gimana kalau besok kita semua balik ke Jakarta, Mas?" tanya Kama.
"Menurut aku, kira harus temuin Abah kamu lebih dulu, Babe. Kita bicara baik-baik dan minta Abah untuk bantu masalah ini. Kita gak tau apa yang Abah lakukan terhadap ayah Chelsea. Jadi kita harus tau lebih dulu biar kita bisa melakukan tindakan selanjutnya." Sutra memberi pandangan.
"Yaudah, kalau gitu besok kita ke Kuala Lumpur," jawab Kama.
"Lah, gua pegimane?" tanya Dega.
"Nanti dari KL lo langsung naik pesawat ke Jakarta, Ga. Lo pulang dulu ke rumah. Temuin bokap nyokap lo yang udah seminggu lebih gak lo temuin. Terus lo bicara sama mereka, kalo perlu lo jujur tentang semuanya. Jadi nanti bokap nyokap udah siap kalo seumpama bokap Chelsea minta anaknya lo tanggung jawabin."
"Untuk urusan dengan bokap Chelsea, biar gue sama Kama yang minta tolong ke abah. Semoga Abah mau dan bokap Chelsea juga mau menerima lo," jelas Sutra panjang lebar.
"Eh, tapi, ntar dulu. Itu cewek kebanggan lo, mau enggak sama lo? Jangan-jangan dia cuma ngadalin lo, lagi." Sutra kembali berucap. Sekali lagi ia curiga pada Chelsea.
"Insya Allah die mau, Sut. Soalnye kemaren malem gua ame die udeh ..." Dega memutus ucapannya seraya melirik Kama dan Sutra bergantian.
"Kamu sama Chelsea pasti udah ngobrol dari hati ke hati ya, Ga, dan dia mau nerima kamu. Bener kan?" Tebakan Kama tidak salah, namun juga tidak sepenuhnya benar.
Ya Allah, Babe, polos banget sih kamu. Pasti si Betawi ini udah macem-macem. Aku curiga liat tampangnya.
Pasalnya tadi malam setelah selesai bertangis-tangis ria akan perpisahan dan mencurahkan segala isi hati, Dega dan Chelsea melanjutkan aksinya dengan saling memeluk. Berawal dari pelukan menenangkan yang dalam hingga berlanjut ke pelukan kasih sayang lalu ke pelukan saling menginginkan.
Dega mengangkat dagu mungil Chelsea sedikit mendongak padanya lalu mengecupnya lembut penuh mesra. Semakin lama kecupan itu semakin menuntut. Gejolak rasa sedih akan perpisahan yang berkecamuk di hati mereka masing-masing menarik hasrat yang lebih dari keduanya untuk meninggalkan kenangan satu sama lain.
Kecupan yang dalam dan menuntut itu otomatis membuat pusat perintah di otak mereka bekerja untuk menggerakkan anggota tubuh yang lain. Jari jemari mereka mulai bergerak, bergerilya ke tempat-tempat yang mereka inginkan. Alam bawah sadar keduanya meminta pengulangan cinta yang sesungguhnya dari mereka berdua. Wujud cinta yang hanya bisa di tunjukkan lewat sentuhan dan rasa yang dalam dengan penyatuan dua insan.
Tapi eh tapi. Ternyata di puncak aktifitas mereka yang hampir saja menghunus tombak naga sakti, Dega tersadarkan. Teringat dengan satu kata ampuh yang membuat hasratnya buyar seketika. DOSA. Ya, kata itulah yang menghentikan aktifitas Dega dan Chelsea malam itu.
Dega tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Sudah cukup dosa besar tanpa sadar yang ia lakukan bersama Chelsea di malam itu. Tidak akan ada pengulangan sampai mereka sah sebagai pasangan. Baik secara hukum maupun secara agama.
By the way, tolong di catat. Ada tombak naga sakti di sini. Wah, bagaimana bentuk dan rupanya ya? Pasti pada kepo. Maklum orang Betawi kan jagonya silat, jadi pemeran pembantunya kita ambil dari benda pusaka ilmu silat novel sebelah. Hahaha.
πππ
Dega ternyataaaaa, gak kalah sama Sutra. Dia mampu menahan gejolak jiwa yang hampir membuatnya gila πβοΈ
__ADS_1
Wajib di ingat guys, yang haram No. Yang halal YES!
Yuk, kita kepoin next eps π, cekidot !