
--- Sutra Pov --
Entah apa yang terjadi dengan Kama, sejak pagi ia tidak membalas pesan ku, bahkan ku telepon berkali-kali pun tidak dia angkat. Ingin sekali aku menghilang dan langsung muncul di depan kamar kost nya, melihat apa yang sesungguh nya ia lakukan sampai tidak sempat mengecek ponsel nya sama sekali. Oh Maria Marcedes ku..., aku bisa gila karena mu!
Kalau ku ingat-ingat lagi, aku yakin betul tidak ada masalah apa-apa antara ku dengan Kama terakhir kali. Bahkan kami ngobrol sangat akrab saat kemarin di taman lingkar.
Ya memang sih itu ngobrol biasa, tidak bisa disebut akrab, tapi buat ku itu luar biasa. Bisa ngabisin waktu bersama Kama tanpa ada salah paham itu sudah luar biasa buat ku.
Hari ini aku benar-benar bingung dengan sikap nya. Aku sampai gak fokus mengerjakan apapun sejak pagi gara-gara dia. Bahkan aku menumpah kan cangkir teh di atas lembar tesis yang baru saja ku print tadi pagi hingga aku harus mengulang print nya kembali.
Selesai solat jumat tadi aku cukup tenang, aku bisa menahan keinginan ku untuk buru-buru bertemu Kama, karena aku sudah ada janji dengan prof. Lennart demi selesai nya penulisan tesis ku. Biar bagaimana pun target ku menyelesaikan tesis harus tepat waktu, karena proyek besar ku sudah menunggu.
Tapi semua nya bisa saja kacau hanya gara-gara seorang Kama. Si rambut keriting yang selalu hilir mudik di kepala dan relung hati ku. Kalau saja ia tidak mirip dengan Maria Marcedes, mungkin aku akaaaaan, tetap menggilai nya, karena dia memang tipe ku! Huuh.., memang sudah nasib ku mencintai orang yang cuek padaku.
Selesai bertemu prof.Lennart tadi aku bergegas menjemput Kama. Aku sudah membawa semua barang-barang ku di mobil sejak pagi meninggalkan apartemen. Tapi lalu lintas agak padat, aku telat sepuluh menit sampai di kost Kama, dan dia tidak ada. Apa maksud nya ini? Hanya telat sepuluh menit ia tidak bisa menunggu ku?? Bahkan penjaga kost nya bilang kalau ia sudah pergi dengan teman cowok nya..
Oh Kamaaa..., jangan uji kesabaran ku..!! Aku bisa lakukan apapun untuk mengejar mu! Dan akan ku telanjangi teman cowok nya itu! Berani sekali dia pergi dengan wanita ku!!
Berulang kali aku menelepon nya tapi tidak di angkat. Ku kirim kan lagi beberapa pesan wa namun tidak juga di balas. Okelah, ku putus kan untuk tetap ke Jakarta tanpa nya. Semoga dia juga tetap pergi ke Jakarta hari ini.
Kemacetan di hari Jumat membuat ku sampai di Jakarta waktu magrib. Selesai menunaikan solat magrib di mesjid terdekat aku segera melajukan mobil ku ke rumah aji.
Sampai di rumah aji, aku menekan bel, seorang wanita berseragam babysitter membukakan pagar untuk ku dan meminta ku menunggu di teras rumah. Tak berapa lama tante Lulu pun keluar.
"Hai.. Adrian.."
"Malam tante.. Maaf saya ganggu malam-malam, Kama ada disini kan tante?" segera kutanyakan keberadaan si keriting itu, ya aku kesal sekali dengan nya hingga memanggil nya dengan sebutan itu, toh rambut nya juga memang keriting kan.
"Off course.., Kama ada di kamar nya"
"Aah, sukurlah tante.." aku seketika menyela
"Hehe, yuk masuk... Wait a minute, tante panggilin dulu." tante Lulu mengajak ku masuk dan segera memanggil si keriting. Hmm, aku penasaran, apa yang akan dia katakan pada ku nanti untuk menjelaskan semua ini. Memang nya dia pikir aku tidak bisa marah..? Ya sih dia benar..., aku memang gak sanggup marah pada nya. Huuuuuuuffftttt.....
πππ
--- Kama Pov ---
Tante Lulu mengetuk kamar ku.
Tok.. Tok..
"Ya tante.., masuk aja.." tante Lulu membuka pintu dan menghampiri ku yang sedang rebahan di kasur
"Hei Kam.., what are you doing? Mas Adrian kamu ada di bawah tuh.." hahh?? pak Adrian??
"Mau ngapain dia tante? aduuuh.., tante bilang aja deh aku gak disini.."
__ADS_1
"What's wrong? Kalian lagi berantem ya? Kam, dengerin tante.. Yang nama nya hubungan pasti ada up and down nya, tapi kita gak boleh lari atau sembunyi dari masalah. Hadapi dan selesai kan.. Masalah gak akan clear kalau kamu menghindar.. Come on.., temui Adrian dan bicarain baik-baik.." ya ampun udah kayak orang pacaran beneran ini nasehat tante ke aku.
"Atau kamu mau tante suruh dia langsung ke kamar ini?"
"Eh! Jangan tante! Ga usah.., yaudah Kama turun nemuin dia sekarang.." aah tante Luluuuuuuuuuuuu!!
Aku melangkah menuruni tangga menemui pak Adrian di ruang tamu.
"Pak.." tegur ku
"Kama..? huuh..." dia menghela napas kasar, wajah nya penuh tanya ingin segera menguliti ku
"Kita ngobrol di luar aja ya, pak.. Gak enak kedengeran tante Lulu.." dia mengikuti langkah ku keluar. Aku terus berjalan hingga keluar pagar dan berhenti tepat di balik mobil sedan kuning nya.
"Bapak ada urusan apa kesini?" aku mulai membuka obrolan dan yang keluar dari mulut ku adalah pertanyaan songong itu yang pasti membuat tensi nya naik, karena aku yakin dia pasti marah karena aku sudah meninggalkan nya.
Namun dia menatap ku dalam, dan melangkah lebih dekat ke arah ku. Apa-apaan ini? Mau apa dia?
"Kamu baik-baik aja kan? Saya kawatir.." dia mengelus puncak kepala ku. Kok aku berasa kayak kucing di giniin..?
"Ah, ee.. i-iya pak, saya baik-baik aja.." aaaah, aku jadi salah tingkah
"Udah makan? Saya belum, temenin saya makan yuk.." serius? Dia betul-betul gak marah pada ku? Emm..., tapi malah aku sendiri yang ngerasa bersalah.
Aku minta ijin ke tante Lulu untuk pergi menemani pak Adrian makan di warung dekat komplek. Dia makan dengan lahap walau hanya nasi goreng dan teh hangat. Kayak nya dia benar-benar kelaparan seperti habis kerja berat.
"Yaudah yuk balik.." dia mengeluarkan selembar uang merah dan memberikan nya ke pemilik warung.
Lima belas menit berkendara kami sampai kembali di depan rumah aji. Pak Adrian menghentikan mobil nya namun tidak mematikan mesin nya. Apa sekarang waktu nya dia mau menanyai ku?
"Kamu naik apa tadi ke Jakarta?" benar dugaan ku
"Naik kereta, pak.."
"Sama siapa?"
"Sama temen.."
"Siapa?" kenapa dia harus tau sih aku dengan siapa
"Temen saya"
"Siapa nama nya?" ya ampuuun..kepo maksimal!!
"Reyhan.." raut wajah nya berubah, dia menatap ku serius
"Dia itu siapa kamu sih?"
__ADS_1
"Temen saya, kan tadi sudah saya bilang, pak.."
"Ooh.., iya benar.." dia tersenyum simpul
"Oya, tadi saya telat jemput kamu.., maaf ya.. Minggu depan saya akan jemput kamu tepat waktu.." dia kembali tersenyum
Gilaaaa, dia sama sekali gak marah atau kesal setelah ku tinggal dan ku abaikan. Apa ada orang sebaik ini ya? Ini beneran atau lagi acting sih?
"enggak.. Gak usah, pak.. Saya udah ngerti kok naek kereta ke Jakarta sendiri.." dia kembali menatap ku serius
"Pleaseee.., jangan tolak ajakan saya, karena hanya dengan cara seperti itulah saya bisa punya waktu berdua sama kamu.."
Deg..
Apa?? Kenapa dia yang ngomong aku yang deg-deg an sih!
Aku memalingkan wajah untuk mengkondisikan debaran jantung ku.
"Sabtu depan saya akan terbang lagi ke Malaysia.. Ada pekerjaan yang harus saya selesai kan disana.. Tapi setiap hari Kamis saya akan usahakan untuk pulang.. Dan saya akan terus jemput kamu di hari Jumat.." aku terkejut mendengar nya. Reflek kupalingkan kembali wajah ku ke arah nya.
"Bapak apa-apaan sih?! Bapak gak perlu kayak begitu sama saya..!" ucapan nya membuat ku kesal
"Tapi saya gak bisa.." aku makin bingung dengan maksud nya
"maksud bapak apa sih sebenernya?!"
"Huuuuuuufft.." dia menghembuskan nafas panjang
"Jujur, saya gak bisa gak ketemu kamu. Saya gak bisa gak tau kabar kamu. Maka nya hari ini, saat kamu gak balas pesan saya dan gak angkat telepon saya, saya kacau. Semua yang saya lakukan sejak pagi berantakan, saya terus mikirin kamu." debaran jantung ku makin kencang mendengar kalimat nya. Perasaan apa sih ini? Kok dia bisa ngomong begitu dan aku gak tau harus jawab apa.
Aku terdiam, untuk beberapa saat suasana jadi hening dan kaku. Oksigen di dalam mobil pun serasa tinggal tiga puluh persen.
"Uhuuuk.. uhuuuk.." suara batuk ku memecah keheningan
"Loh, kamu kenapa?"
"Saya mau turun, pak.."
πππ
Apa ya yang bakal Kama jawab ke Sutra nanti??
Terus ikutin cerita nya yaa di episode selanjut nya
TERIMAKASIH READERS YANG UDAH BACA SAMPAI PART INI ππ
KASI JEMPOL DAN TINGGALIN KOMEN YANG MANIS YA BIAR AKU MAKIN SEMANGAT π€
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE NYA JUGA (he..he..he)