When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
PERDEBATAN


__ADS_3

Please jangan lupa tinggalin jempol dan vote nya ya biar authornya makin semangat πŸ€—πŸ™


happy reading..


.


.


Kalimat penolakan Datuk Emran bersamaan dengan munculnya Kama beserta ibunya. Gadis itu langsung bertanya.


"Tunggu dulu! Maksud Abah apa?" suara Kama sontak membuat Datuk Emran dan Sutra menoleh. Pertanyaan itu jelas menunjukkan kalau Kama keberatan. Ini pertama kalinya ia berucap setelah sepuluh tahun perpisahan mereka.


Reflek Ida mengelus pundak Kama, Ida paham betul reaksi keberatan anak gadisnya.


"Nak.., kamu gak boleh bicara begitu dengan Abah.." tegur Ida.


Datuk Emran melangkah mendekati Kama, dengan sikap tenang sembari bercanda ia berucap,


"Rupa-rupanye anak gadis Abah ni galak juga ye.." senyum hangat tersungging dibibir Datuk Emran. Sekarang pria paruh baya itu sudah berdiri persis disamping Kama.


"Kenangan dari Abah yang bikin Kama jadi seperti ini" walau dengan nada suara yang tenang tapi maksud Kama menyindir ayahnya tepat sasaran.


Datuk Emran menyadari segala kesalahannya. Apa yang diucapkan Kama memang benar. Pria paruh baya itu punya andil besar dalam pembentukan sikap Kama sampai jadi seperti ini.


"Sekarang Abah boleh tak cakap berdue dengan Kama?" permintaan Datuk Emran langsung dijawab gelengan kepala oleh Kama.


"Kalau Abah mau, kita bicara berempat disini" santai namun tegas itulah yang coba Kama utarakan pada ayahnya.


Satu goresan halus mulai tertoreh di hati Datuk Emran. Ini baru awal dari keputusan gegabahnya sepuluh tahun yang lalu. Seandainya saja ia bisa lebih bersabar menghadapi orangtua Ida Ayu, mungkin hasilnya tidak akan jadi seperti ini.


Sejujurnya begitu besar rasa rindu di hati Datuk Emran pada anak gadisnya itu. Anak kandung satu-satunya yang ia miliki dari hasil pernikahannya dengan Ida Ayu. Namun keadaan mengharuskan ia bersabar, memulai semuanya dari nol, memperbaiki hubungan yang sempat hancur diantara mereka.

__ADS_1


"Macemane pula harus berempat?" Datuk Emran sedikit bingung, masalah keluarga mereka hanya melibatkan dirinya, Ida, dan Kama. Lantas kenapa harus berempat yang artinya melibatkan Sutra didalam permasalahan keluarga mereka.


Sebelum Kama menjawab, Ida Ayu mendahului.


"Bang.., jom sebentar.." Ida mengajak mantan suaminya itu menjauh sedikit dari Kama. Entah apa yang Ida bisikkan, yang jelas alis Datuk Emran saling menaut, terheran-heran dengan apa yang barusan ia dengar.


Kama lantas mengambil posisi duduk disebelah Sutra. Menatap wajah pacarnya sebentar sembari mengatakan dalam hati,


aku butuh kamu, Mas. Kamu gak boleh kemana-mana! Kamu harus selalu disamping aku!


Jemari Kama mendekat, meminta Sutra menggenggamnya. Hanya itu yang bisa menguatkan gadis itu untuk menghadapi ayahnya saat ini.


Sekarang Datuk Emran dan Ida Ayu sudah duduk berhadapan dengan Kama dan Sutra.


"Ape ni? Dah bepegang tangan pule?" nada keberatan tergambar jelas dari Datuk Emran.


Wajah Sutra serba salah, bolamatanya kesana kemari. Bingung bercampur takut


"Dah la tu Bang.." bujuk Ida Ayu. Ia paham betul sifat Kama. Sejak dulu hanya tangan Wayan, satu-satunya laki-laki yang Kama pegang. Jadi kalau saat ini Kama menggenggam tangan laki-laki lain, artinya orang itu begitu special untuk anak gadisnya.


"Okelah fine! Abah mengalah" Datuk Emran melirik Sutra dengan tatapan kesal.


Ya Allah, bener-bener gak ada poin gue dimata Abah Kama!


Mereka berempat akhirnya membahas masa lalu yang belum terselesaikan. Sebelumnya Kama sudah mendengar cerita dari Biang ketika mereka ngobrol berdua. Lantas sekarang giliran Datuk Emran yang menjelaskan dengan versinya.


Datuk Emran tidak menutupi hal sekecil apapun dari Kama. Semua ia ceritakan detail, segala alasan kenapa dia terpaksa harus meninggalkan Kama beserta ibunya. Namun tidak sedikitpun ia melupakan kenangan saat bersama dengan mereka. Bahkan barang-barang milik Kama ketika masih bayi tersimpan rapi di flat yang pernah mereka tinggalin dulu. Datuk Emran menunjukkan buktinya lewat foto dan video di ponsel.


Pelan-pelan hati Kama mulai luluh. Apalagi saat ibunya meminta maaf dengan tulus atas nama mereka berdua. Ida sampai menangis sesenggukan, menyesali dampak dari kejadian masalalu ia dengan mantan suaminya, melibatkan Kama sampai seperti ini. Kama bisa merasakan penyesalan yang mendalam di hati Ida. Bahkan Kama pun ikut menangis karena itu.


"Jadi sekarang apa yang harus Biang dan Abah lakukan agar Kama bisa sembuh..?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Ida.

__ADS_1


"Sekarang Kama baik-baik aja kok, Biang.. Kama juga sudah bisa terima dengan cerita masalalu kita. Diawal tadi Kama memang sedikit terkejut, tapi sekarang udah gak. Kama paham dan bisa ngerasain apa yang ada di hati Biang. Kama juga tau kalau Biang masih sangat mencintai Abah. Dan kembalinya Abah saat ini juga mengembalikan hati Biang yang sempat hilang selama sepuluh tahun belakangan" ucapan Kama tidak meleset. Ida sampai tertegun anaknya bisa tau sampai sejauh itu. Wajah Ida memerah, ia malu Kama mengungkapkan isi hatinya secara gamblang didepan mantan suaminya.


Datuk Emran melirik Ida Ayu, senyum tersungging di bibirnya.


"Abang pun macem tu sama Ida, cuma Ida yang ada dihati, tak nak yang laen"


"Apelah Abang cakap tu, depan anak-anak, malu..!" Ida menyudahi perbahasan tentang perasaan cinta mereka. Sebab bukan itu topiknya sekarang, melainkan Kama.


Sementara itu sejak pembicaraan serius dimulai, Sutra hanya diam. Ia tidak berfungsi apapun selain menggenggam tangan Kama.


"Terus gimana dengan trauma Kama sekarang? Apa sudah benar-benar hilang?" tanya Ida kemudian, ia belum bisa tenang dengan penyakit psikis anak gadisnya.


"Pelan-pelan semua pasti akan hilang, Biang.. Yang penting ada Mas Adrian didekat Kama" jawaban Kama kembali membuat Datuk Emran protes.


"Ape lagi ni? Kenape die terikot-ikot? Abah pun pernah muda, but tak pula lah Abah macem Kama tu, dah crazy pekara cinta"


"Huh, crazy Abah bilang?! Abah mau tau kenapa Kama seperti ini? Seharusnya Abah berterimakasih dengan Mas Adrian!" Kama menekan suaranya, ia kesal disebut gila karena cinta.


"Macemane pula?" Datuk Emran kembali menautkan alisnya.


"Kalau bukan karena Mas Adrian, Kama gak tau apa itu cinta, apa itu rasa! Buat Kama semuanya sama! Bahagia dan tawa gak pernah singgah dihati Kama. Yang ada hanya tangis dan luka! Sanking besarnya luka dihati Kama, hingga semua luka siapapun menjadi tangis buat Kama!" Kama bicara setenang mungkin, ia tidak ingin terbawa emosi.


"Abah pasti gak tau kan rasanya menangis sesenggukan untuk orang lain, yang bahkan tidak kita kenal sama sekali!"


"Gak cuma itu. Sebelumnya Kama gak tau bagaimana rasanya tertawa bahagia, bagaimana rasanya terkejut, dan menangis untuk diri sendiri. Tapi Mas Adrian kenalkan Kama itu semua. Mas Adrian sentuh hati Kama sampai Kama sadar kalau ternyata Kama punya HATI!" Kama menekan kata terakhirnya soal hati.


Datuk Emran sampai ternganga, ia tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Apa ada manusia hidup yang tidak sadar kalau dia punya hati? Dan itu terjadi pada anak gadisnya sendiri.


Sutra yang mendengar semua kalimat Kama merasa serba salah. Ia bahkan baru tau kalau keberadaannya begitu penting dan berpengaruh dihidup Kama.


Babe.., aku pikir cuma aku yang tergila-gila dan gak mau kehilangan kamu. Tapi ternyata aku juga penting buat hidup kamu..

__ADS_1


__ADS_2