
Depok
Hari melepas lajang hanya tersisa satu hari lagi untuk lelaki Betawi yang bernama Dega. Laki-laki itu terlalu deg-degan menanti hari pernikahannya bersama Chelsea, sang pujaan hati.
Loh, Dega menikah, thor? Yes, guys, dan besok adalah hari H-nya. Apa dia sudah bisa bahasa Inggris? Alhamdulillah sudah. Dega mengikuti kursus kilat selama dua bulan. Walau bahasa Inggrisnya masih sangat berantakan, tapi yang penting dia sudah bisa conversation. Kalau kata guru lesnya, Dega dapet nilai B kuadrat, yang artinya 'boleh' lah dari pada tidak. Dan B yang artinya 'berakhir' sudah emosi jiwa sang guru dalam mengajari murid yang tengil dan sangat menyebalkan sepertinya.
By the way, ngomong-ngomong soal agama, Chelsea sudah mualaf. Betapa hebatnya pengaruh ketampanan, kasih sayang, dan kelucuan lelaki Betawi satu itu, mampu meyakinkan seorang Chelsea untuk mau mengikutinya. Memang cinta dapat memberi kenyamanan dan membuat seseorang menjadi terjaga dalam berbagai hal. Itulah mengapa Chelsea memutuskan untuk sejalan dengan Dega.
Lagipula, agama apapun pasti mengajarkan yang baik untuk pengikutnya. Tetap menyembah Tuhan dan selalu menjaga hubungan antara sesama makhluk.
Malam tadi untuk kesekian kalinya Dega tidak bisa tidur dengan nyenyak. Otaknya terus memikirkan sang pujaan hati. Pasalnya selama seminggu ini mereka berdua dipingit. Tidak boleh saling bertemu dan hanya berkomunikasi sekedarnya. Apalagi mereka diawasi oleh polisi wanita super garang yakni, Nyak Wina. Salah-salah batu gilingan cabe melayang ke muka Dega.
"Heh, Dega! Udeh solat subuh lu?" sentak Wina ketika masuk ke kamar anak lajangnya.
"Eh, iye Nyak, ni baru mau wudhu." Dega melompat dari tempat tidurnya lalu menatap Wina.
"Astaghfirullohaladzim Degaaaa, lu udeh sarap ye?!" omel Wina kemudian.
"Apaan sih Nyak, dateng-dateng ngomel aje," protes Dega. Suara melengking Wina menembus sekeliling rumah.
"Noh, liat noh muke lu, kayak mayat idup. Pasti lu kagak tidur berhari-hari kan?!" Wina menunjukk wajah Dega.
"Ape sih itu namanye, yang di pelem-pelem orang bule." Wina tampak berpikir.
"Zombie," jawab Dega sembari menyeret langkahnya menuju kaca panjang didekat lemari baju.
"Kampret!" umpat Dega. Terkejut melihat wajahnya sendiri. Beberapa hari tidak tidur menciptakan lingkaran hitam dibawah matanya.
"Nyaaak, pegimane ni, Nyak ...," rengek Dega ketakutan.
"Bise gagal nih ngawinin si Chelsea. Ya Allah, begini amat sih naseb aye ... Udeh kagak bise ketemu calon binik seminggu, sekarang mata malah kayak ditabokin setan," ratap Dega.
"Elu sih pake gaya-gayaan galau segale. Norak lu! Udeh tau tuh Jepang bakal jadi bini lu juga ntar, ngapaen lu kagak tidur mikirin die?!" omel Wina.
"Udeh donk, Nyak ..., jangan ngomel mulu. Bantuan Dega ngapa Nyak ..., solusi biar muka Dega ganteng lagi kayak biasanye," rengek Dega lagi sembari menggoyang-goyangkan lengan Wina.
"Yaudeh, buruan lu sono solat subuh dulu. Biar Nyak di dapur bikinin lu masker nyambil masak." Wina meninggalkan kamar Dega menuju dapur.
Selesai solat Dega lantas menemui Wina di dapur. Menagih pertolongan ibunya untuk mata pandanya.
"Nyak, Dega udeh selesai solat," saut Dega dipintu dapur.
"Ntar lu tungguin sono didekat tipi, Nyak cuci tangan dulu abis ngulek cabe. Tuh masker timun parut udeh Nyak masukin kulkas, tinggal oles," ucap Wina.
Selesai cuci tangan Wina ke ruang tv dengan membawa mangkuk berisi timun parut.
"Make ape ne, Ga, ngolesnye?" tanya Wina.
"Make kuas Nyak, kan di tipi-tipi kayak begitu," saut Dega.
"Yaudeh lu tungguin ye, Nyak ambil kuas." Wina bergegas kebelakang. Tak sampai dua menit dia sudah kembali.
"Kagak ade yang kecil, Ga, yang ini bise kan ya?" Wina menunjukkan kuas cat berukuran tiga inchi, bekas ngecat dinding WC sebulan yang lalu.
"Ya Allah, Nyak, itu kuas dinding Nyak. Bukan kuas muka," protes Dega.
"Ah, elu protes mulu. Yaudah Nyak cari dikamar si Desi dah ah." Wina bergegas pergi lagi. Tak berapa lama wanita paruh baya itupun kembali dengan membawa kuas kecil.
"Kate adek lu pake yang ini aje." Kali ini Wina menunjukkan kuas kecil yang biasa dipakai untuk melukis di buku gambar.
"Nyak, make entu kapan kelarnye? Kecil amat itu, Nyak. Buat bikin tahi lalat doank." Lagi-lagi Dega protes.
"Adooh, ribet dah ah. Udeh sini langsung Nyak oles make tangan aja, buruan!" Wina menyuruh Dega bersandar ke bantal kemudian mendongakkan kepala. Ia lalu membalur seluruh wajah Dega dengan parutan timun yang ada di dalam mangkuk.
"Nyak, kok jadi semuanye yang dioles, Nyak?" tanya Dega gelagapan.
__ADS_1
"Udeh lu diem aja, biar muke lu kinclong buat kawinan besok," jawab Wina yang asik menumpahkan semua parutan timun.
Selesai dengan itu, Wina pun kembali ke dapur, menyajikan sarapan untuk mereka sekeluarga.
Baru lima menit Wina pergi, dari ruang tv Dega berteriak-teriak.
"Nyaaaak, tolong Nyak, tolooong ..."
Wina secepat kilat berlari menemui Dega. Begitu pula dengan Riva'i yang baru saja keluar dari kamar mandi. Pria paruh baya itu berlari dengan hanya menggunakan sarung dan bertelanjang dada. Sementara Desi, adik Dega, berlari sembari membawa camera. Siapa tau bisa dapat bahan untuk video youtube-nya.
"Nape lu, Ga?" tanya Wina dan Riva'i serempak.
"Nape lu, Bang?" tanya Desi.
"Muka Dega panas banget, Nyak ... Aduuuh, gimane nih? Kagak bise buka mata." Dega kelimpungan. Laki-laki itu mencak-mencak tidak karuan.
"Cuciii, cucii ..., buruan!" teriak Wina panik.
"Bantuin Nyaaak, Dega kagak bise ngeliat ini," rengek Dega kencang.
"Tuntun abang lu ke kamar mandi, Des!" perintah Riva'i.
"Kagak bisa, Be. Desi lagi ngerekam, moment seru ini buat chanel youtube, Desi," saut Desi menolak.
"Astaga elu ya, Des! Kebangetan lu!" umpat Riva'i.
Tak sempat memperhatikan percakapan suami dan anak perempuannya, Wina buru-buru menarik Dega. Membawanya ke kamar mandi untuk mencuci muka. Wina langsung saja menyirami wajah Dega dengan air hingga sisa parutan timun diwajahnya bersih.
Tadinya Wina berharap kalau masker parutan timun yang dibuatnya bisa menghilangkan mata panda sekaligus membuat wajah Dega kinclong. Namun yang didapati sekarang malah sebaliknya. Wajah Dega secara keseluruhan berubah menjadi merah. Seperti terkena alergi yang hebat satu muka. Belum lagi mata pandanya. Menambah kesan mengerikan wajah laki-laki itu.
"Ya Allah, Ga," seru Wina terkejut.
"Aduuh, Nyak, panas banget, Nyak ... Kenape ye muka Dega? Ape alergi? Masa cuma timun parut doank bise alergi sih, Nyak?" Dega terus saja menyirami air ke wajah. Mendinginkan wajahnya yang terasa panas.
Astaghfirullohaldziim ..., gua baru inget. Kan tadi tangan gua bekas giling cabe. Belom lagi tadi gua nyuci cabe iris buat numis cumi asin. Terus gua kagak cuci tangan yang bener sebelum ngoles tuh masker ke muka si Dega. Ya Allah, pasti gara-gara entu mukanye jadi panas. Kayak tomat kematengan. Hihihi, kasian amat ni bocah. Maapin Nyak ye, Ga ...
Wina senyum-senyum sendiri. Ia tidak.berani mengakui kesalahan yang diperbuatnya hingga membuat wajah Dega demikian.
πππ
Sementara itu di apartemen Chelsea tak henti membujuk ayahnya agar diperbolehkan menghubungi Dega, calon suaminya.
"Papi, please ..., just video call. Ayolah, Pi ...," rengek Chelsea.
"Kamu denger sendiri kan apa kata ibunya yang cerewet itu. Selama satu minggu kalian tidak boleh berkomunikasi. Papi malas kalau harus diomeli olehnya lagi seperti tempo hari. Entah apa yang dia katakan Papi tidak mengerti, yang pasti Papi tidak suka mendengar suaranya yang melengking itu. Bikin sakit telinga," ucap Tuan Sakamoto. Ia teringat kejadian sebulan yang lalu saat acara lamaran Chelsea di sebuah restoran di Jakarta Selatan.
Saat itu komunikasi menjadi penghalang utama diantara mereka. Ayah dan ibu Dega yang juga tidak bisa berbahasa Inggris tak hentinya bicara. Terutama Wina, ia terus saja mengoceh. Dari mulai kekagumannya melihat kecantikan calon menantu hingga kekesalannya atas perbuatan tidak senonoh diantara Dega dan Chelsea.
Semula Desi, adik Dega, mentranslate ucapan ibunya, namun lama-lama ia tidak sanggup lagi. Sebab kalimat Wina semakin tidak karuan dan tidak jelas arah dan tujuannya. Sampai anak pak Lurah yang tamatan Mesir juga Wina ceritakan disitu. Memberitahu bahwa anak laki-lakinya, Dega, juga diminati banyak perempuan.
"Tapi, Pi, perasaan Chelsea gak enak. Pasti ada apa-apa dengan Dega. Papi please ..., help me. Atau Papi aja yang ngobrol sama Dega, tanyain kabarnya. Chelsea janji gak akan bersuara sedikitpun, cuma nguping aja." Chelsea mengangkat dua jari membentuk huruf V, pertanda janjinya.
"Huuuuummmffttt ..." Tuan Sakamoto menghembus napas panjang. Ia memang tidak pernah bisa menolak keinginan anak gadis kesayangannya itu.
"Baiklah,"
Tuan Sakamoto lantas membuka layar ponselnya lalu menghubungi kontak Dega. Dua kali panggilan, tidak dijawab oleh laki-laki itu.
"Huh, kamu lihat, dia saja tidak mau mengangkat telepon dari Papi. Dasar calon menantu kurang ajar!" umpat pria paruh baya itu.
"Mungkin Dega lagi ada kerjaan Pi, karena dia gak pernah begitu sebelumnya. Coba Papi hubungi sekali lagi, please ...," pinta Chelsea penuh harap, matanya menatap sendu.
Dengan berat hati, sekali lagi Tuan Sakamoto menekan kontak Dega. Di nada sambung yang ketiga akhirnya telepon diangkat.
"Hallo," ucap Tuan Sakamoto.
__ADS_1
"Hallo, Pi, how are you?" Suara Dega terdengar dari ujung telepon. Ia langsung mempraktekkan bahasa Inggrisnya.
"Hm, i'm fine, thanks," jawab Tuan Sakamoto dengan wajah nerd, terpaksa menjawab pertanyaan dari calon menantu yang sangat tidak diinginkannya.
"How about you?" Tuan Sakamoto terpaksa bertanya balik.
"Aiyem fun," saut Dega cepat.
"Oh my God. What you talking about? I don't understand," ucap Tuan Sakamoto dengan suara keras. Lama-lama emosinya terpancing juga bicara dengan Dega.
"Selow, Pi, cooling don ngapa, jangan ngamuk mulu ma aye. Ape kagak miss gitu?" saut Dega ngasal. Dia sudah mulai panik. Alhasil bahasa Inggrisnya pun dia kebanyakan lupa.
"Degaaa," sentak Tuan Sakamoto keras. Pria paruh baya itu sangat muak jika Dega bicara dalam bahasa Indonesia. Ia selalu berpikir kalau Dega pasti sedang mengata-ngatainya.
"Eh, aduh mam-pus gua. Pegimane ni?" ceplos Dega ketakutan.
"Degaaaaaa." Sekali lagi Tuan Sakamoto menyentak calon menantunya.
Chelsea yang sudah tidak tahan mendengar perdebatan ayah dan calon suaminya itu, akhirnya terpaksa ikut mengeluarkan suara.
"Papi, pleaseee ..., Dega itu ketakutan dibentak kayak gitu, Pi. Dia bukan lagi ngata-ngatain Papi. Chelsea denger kok apa aja yang dia bilang. Dia tanya, Papi apa gak kangen sama dia, kok marah-marah," jelas Chelsea dalam bahasa Jepang.
"Oh my God, lama-lama Papi bisa gila bicara sama dia. Kapan sih dia pintar berbahasa?" ucap Tuan Sakamoto geram.
"Nih, kamu aja yang ngomong sama dia. Papi emosi!" Tuan Sakamoto lantas menyerahkan ponselnya kepada Chelsea, lalu pergi mendinginkan kepalanya.
"Hallo, Ga." Suara Chelsea terdengar di telepon.
"Yaank ..., aduh yaank, sumpah Yank, gua kagak ade niat bikin Papi lu gedek. Cuma Papi kagak paham aja omongan gua yank," jelas Dega.
"Iya, udah gak usah dijelasin, aku denger kok tadi," saut Chelsea.
"Eh, yank, ngomong-ngomong ade ape nih, yank? Tiba-tiba nelepon? Kangen ye ...," tebak Dega.
"Banget," jawab Chelsea singkat.
"Duuh, apelagi gua yank. Gua kagak bisa tidur seminggu yaaaank," rengek Dega.
"Yaudah kalo gitu kita video call yuk sekarang," ajak Chelsea.
"Eh, jangaaan, jangan yank," tolak Dega spontan.
"Kenapa? Dasar pembohong kamu! Ngakunya kangen, tapi nyatanya enggak!" seru Chelsea kesal.
"Ya Allah ..., bukan gitu yank, tapi ..." Kalimat Dega terputus.
"Tapi apa?" tanya Chelsea kesal.
"Hiks ..., muka gua, yank ... Muka gua ancur, yaaank, ntar lu ilfeel lagi ngeliat gua ..." Dega merengek tidak karuan.
"Apa sih maksud kamu? Aku gak ngerti." Chelsea jadi bingung.
Dega lantas menjelaskan tentang perkara mata panda dan masker timun parut buatan ibunya yang menghasilkan muka tomat diwajahnya hingga sekarang.
"Astaga, kok bisa sih? Memang tu timun dikasi apa?" Chelsea terkejut sekaligus menahan tawa membayangkan wajah calon suaminya.
"Kagak tau, yaaank. Tapi pleease, jangan ilfeel ya sama gua kalo seumpama ni muka kagak bisa balik ke semula," rengek Dega lagi.
"Yaa, mudah-mudahan deh, liat besok," ucap Chelsea asal, bermaksud menggoda Dega.
"Yaaaaaank ...," rengek Dega lagi.
πππ
next tungguin bonus part berikutnya guys π
__ADS_1