When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
Season 2 - Hampir Terbongkar


__ADS_3

Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas πŸ™πŸ€—πŸ˜˜


-


-


Semua sudah berkumpul dikamar rawat sekarang. Dr.Martin mengawali pengecekan pada Sutra dengan menggunakan stetoskop, senter kecil dan beberapa pertanyaan seputar keluhan bagian dalam. Sejauh ini hasilnya normal. Suster juga mengambil sample darah Sutra untuk di tes laboratorium, agar hasil kesehatannya lebih akurat lagi.


Selanjutnya giliran Dr.Ridwan yang mengecek kepala Sutra. Ia mengajukan beberapa pertanyaan.


"Oke, Mas Sutra, saya tanya ya. Kepalanya ada terasa sakit? Kalau iya disebelah mana?"


"Iya Dok, tadi sakit sedikit, dibagian sebelah sini.." Sutra menunjuk bagian kepalanya yang sakit.


"Lalu sekarang bagaimana? Masi sakit atau terasa berat di bagian tengkuknya? Atau ada perasaan mual dan ingin muntah?"


"Tidak sama sekali Dok" Sutra menggeleng pelan.


"Oke, bagus. Terus saya dengar dari suster, Mas lupa dengan banyak hal ketika sadar tadi, benar begitu?"


"Iya Dok. Saya merasa asing dengan semuanya, tapi pelan-pelan seperti ada kilas balik dikepala saya. Itu kenapa ya Dok?" drama king mode on.


"Tidak apa-apa itu wajar. Orang yang mengalami benturan dikepala setelah kecelakaan umumnya mengalami trauma otak. Gejalanya berbeda-beda. Mungkin yang terjadi pada anda adalah amnesia anterograde. Tapi itupun kita harus melakukan beberapa tes agar diagnosis dan penanganannya tepat" Dr.Ridwan mengeluarkan senter kecil dari sakunya.


"Coba Mas lihat tulisan itu!" Dr.Ridwan menyalakan senter dan menyorotnya ke salah satu tulisan besar yang berjarak empat meter dari Sutra.


"Terbaca jelas? Atau kabur?" tanya Dokter.


"Always health. Jelas Dok" Sutra membaca tulisan yang ditunjuk.


"Oke, bagus, saraf mata anda berfungsi dengan baik" saut Dokter.


"Untuk pendengaran bagaimana? Apa ada keluhan?" tanyanya lagi.


"Alhamdulillah tidak ada Dok. Saya bisa mendengar dengan baik" jawab Sutra.

__ADS_1


"Oke kalau begitu kita tinggal tunggu reaksi dari keseimbangan fisik, emosional, dan pola tidur anda. Reaksinya akan terlihat bertahap. Berhubung anda baru saja sadar hari ini, jadi kita tunggu sampai besok" jelas Dokter.


"Besok saya akan visit lagi untuk melihat perubahan yang terjadi. Dari situ saya akan putuskan untuk melakukan tes lebih lanjut. Oke Mas Sutra.., rilex saja, jangan berfikir yang berat-berat dulu"


"Oh ya, maaf orang terdekat anda, siapa?" tanya Dokter.


"Istri saya Dok, Kama" jawab Sutra.


"O-oh, anda sudah menikah, syukurlah. Ayo sini mbak Kama" panggil Dokter.


"Saya minta di jaga kondisi suaminya ya, jangan dikasi pikiran yang berat dulu. Cukup yang ringan dan membuat dia bahagia. Tapi juga tidak boleh tertawa terbahak-bahak, karena akan menyebabkan guncangan di kepala. Pokoknya semua cukup dengan yang ringan-ringan saja" ucapan Dr.Ridwan sangat jelas.


"Oh iya, saya baru kepikiran. Nama kalian berdua unik ya. Mbak Kama dan Mas Sutra. Kamasutra?" Dr.Ridwan sudah hampir ingin lepas tertawa, tapi buru-buru di tahannya.


"Hahaha..." ternyata yang tertawa lepas adalah Dr.Martin dan kedua suster di sampingnya, di ikuti oleh Ajeng dan kedua orangtua Kama.


Kama dan Sutra sendiri hanya menyunggingkan sedikit senyum. Mereka sudah terbiasa dengan reaksi yang begitu setiap kali orang lain menautkan nama mereka.


"Oh, maaf-maaf. Saya melarang anda tertawa, tapi malah saya yang membuat bahan tertawaan. Sekali lagi saya minta maaf ya.." Dr.Ridwan menepuk bahu Sutra pelan.


Loh? Aneh? Kok Mas Adrian tau kalau nama kami sudah biasa jadi bahan tertawaan? Bukannya dia lupa ingatan?


Jawaban Sutra barusan menimbulkan sedikit kecurigaan di kepala Kama. Perlu di ingat, Kama bukanlah orang bodoh. Dia adalah lulusan terbaik dari Bali yang masuk ke UI dengan jalur undangan. Jadi pasti ia bisa menyimpan setiap detail kecil yang di tangkapnya dari Sutra.


"Oke kalau begitu kami permisi ya, Nak.. Besok hasil lab nya keluar, dan saya akan bacakan di kunjungan berikutnya. Untuk sekarang, suami kamu boleh melatih gerakan kecil agar tubuhnya tidak kaku.." Dr.Martin berucap pada Kama. Pria tua itu mengagumi sosok Kama, gadis lugu yang sudah menikah di usia muda.


Dua orang dokter beserta suster pun keluar. Menyisakan ayah dan ibu Kama, Ajeng, serta satu orang lagi, pria paruh baya yang datang bersama dengan Datuk Emran.


"Hi, Adrian.. Abah bersyukur yu dah sadar. But, Abah pun tekejod dengar kabar burok dari Ibu Ajeng. Tapi tak ape lah, kita akan coba semua pengobatan tuk sembuhkan yu seperti semula" ucap Datuk Emran pada Sutra.


"Abah, itu siapa?" Kama terus memperhatikan pria berkacamata disamping ayahnya.


"Astaghfirulloh, hampir Abah lupa" Datuk Emran mengusap wajahnya.


"Kenalkan, ini adalah Dr.Yoong Meow Hong, dokter bedah saraf terbaik di Penang" Datuk Emran memperkenalkan pria yang di bawanya itu.

__ADS_1


"Abah susah payah lah minta Dokter best ni datang kemari. Nasib baek Allah kasi jalan, maka sampailah langkahnya kat sini" jelas Datuk Emran.


Dr.Yoong M.H. itupun langsung pada intinya. Tanpa basa basi ia mengecek keadaan Sutra dengan caranya sendiri. Ia menanyai beberapa keluhan dan pertanyaan pada Sutra. Totalnya hampir dua puluh pertanyaan. Sampai Sutra kebingungan menjawabnya. Mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Ingris. Kebetulan Dr.Yoong tidak bisa berbahasa Melayu.


Wah, gawat! Dokter Yoong terlalu detail dan pintar. Kalau begini terus, aku bisa ketauan sedang pura-pura amnesia. Pertanyaannya semakin lama semakin membuatku tersudut. Aku takut kelepasan menjawab jujur. Bagaimana ni??


Sementara itu Ida, Datuk Emran, Ajeng dan Kama duduk di sofa. Mereka mengobrol ringan sambil menunggu diagnosa sementara dari hasil pengecekan Dr.Yoong.


"Ssshhh.., aaww..." Sutra memegang kepalanya, berlagak seolah merasa kesakitan.


Dari sudut matanya, Kama yang terus mengawasi langsung tau kalau suaminya mengeluh sakit. Ia lantas beranjak mendekat.


"What happened? Where does it hurt?" tanya Dr.Yoong spontan.


Tuh kan, aku harus jawab apa sekarang? Dia tau semua titik. Kalau aku sampai salah jawab dia pasti curiga.


"Dokter..., can we talk alone?" tanya Sutra.


"Ada apa Mas?" suara Kama masuk ditengah perbincangan mereka.


"Aku mau ngobrol berdua dengan dokter, Babe. Kamu bisa ajak orangtua kita keluar sebentar? Pleaseee..." pinta Sutra.


Tanpa menaruh curiga Kama langsung mengiyakan. Namun rasa khawatir begitu besar dihatinya.


Kama lalu mengajak orangtuanya serta mertuanya keluar. Ia beralasan kalau dokter dan Sutra butuh privacy untuk membahas masalah kesehatannya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Siasat apa lagi nih yang dibikin oleh Sutra?


Pantas Sutra sempat jadi dosen dua tahun terakhir, ternyata ia juga sudah menyiapkan skenario yang panjang untuk melanjutkan pertunjukkan sandiwaranya..


Penasaran kan sandiwara apa?


Yuk kepoin di next episode πŸ‘‡

__ADS_1


__ADS_2