
Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€π
-
-
Surabaya
Sutra tampak sedang duduk di teras kamar sebuah rumah kecil. Pandangannya kosong menatap lurus ke depan. Sudah tiga hari dia terpisah dari belahan jiwanya, Kama. Napasnya terasa berat, seperti kehilangan nikmatnya menghirup oksigen dengan bebas.
Babe ..., kamu lagi ngapain? Aku kangen ...
Kamu pasti khawatir nyariin aku, kan? Maaf gara-gara aku masalahnya jadi seribet ini. Udah tiga hari kita gak ketemu, aku seperti gak tau lagi apa itu bahagia. Oh, Babe ..., i miss u so ... Bahkan untuk sekedar mendengar suara kamu pun aku gak boleh ...
Tanpa sadar, air mata lolos dari kedua sudut mata Sutra. Ini pertama kalinya laki-laki itu menangis sebagai seorang laki-laki dewasa. Ternyata Sutra bisa menangis juga. Bukan karena hal buruk melainkan karena rindu yang menyiksa.
Halah-halah, so sweet. Jadi pengen ngapusin air mata Sutra deh ih. Kenapa Sutra gak di culik terus di bawa ke Medan aja? Kenapa?? Kan bisa author sembunyiin di rumah author. Terus pukul kepalanya biar lupa ingatan beneran, dan kita kenalan deh. Ah, uh, auto ganti judul, when sutra meet sasa. Hahaha.
Rindu yang teramat sangat sudah penuh di setiap tetes darah Sutra, tak bisa lagi di bendung. Rasa sakit pun menjalar di dalam hatinya. Ia ingin bertemu Kama. Benar-benar ingin bertemu.
Tok Tok Tok !
Seseorang mengetuk pintu kamar Sutra. Dengan langkah berat ia bangkit dan membuka pintu.
"Bang, jom bersiap. Tiga jam lagi kite ada flight." saut Aiman, orang kepercayaan Datuk Emran.
Ya, selama di Surabaya Sutra di temani oleh Aiman dan Azfar. Mereka sengaja di perintah untuk menemani dan melengkapi semua kebutuhan Sutra selama masa pelarian.
"Kita balik ke Jakarta, Bang?" tanya Sutra antusias.
"Tak lah, kite pindah tempat laen. Tapi Abang sabar sikit lagi, masalah dah nak beres" jawab Aiman.
Masalah, masalah! Sebenarnya apa sih yang di rencanain mertuaku? Kalau cuma mau menghindar dari Chelsea ngapain sampai bawa aku ke Surabaya?! Ini bukan lagi menghindar tapi menambah masalah baru! Aku bisa mati terlalu lama berpisah dengan Kama! Mereka memang tidak bisa mengerti!!!!
"Boleh aku telepon Kama sebentar, Bang? Satu menit saja! Aku hanya ingin mendengar suaranya, tidak lebih," pinta Sutra.
Aiman tersenyum.
"Maaf, Bang," katanya sembari menggeleng.
Sontak emosi Sutra tersulut. Ia sudah muak dengan semua keadaan ini. Laki-laki itu mendorong tubuh Aiman keluar lalu membanting pintu menutupnya. Sutra menahan diri untuk tidak memukul.
Di luar pintu kamar, Aiman terjerembab. Tubuh Sutra yang atletis, membuat tenaganya lumayan kuat saat mendorong tadi.
Aiman lantas mengeluarkan ponsel dan menghubungi bos nya.
"Hallo, Datuk," ucapnya saat telepon sudah tersambung.
"Ye," jawab Datuk Emran.
__ADS_1
"Bang Adrian dah kacau, Datuk. Die tak bisa lagi tenang, nak dengar suara Kakak." Aiman melaporkan apa yang terjadi pada Sutra.
"Iye lah, ai paham. But yu atur dulu macemane bise. Tak lame lagi kan mereka bejumpe," saut Datuk Emran.
"Siap, Datuk." Aiman mengakhiri sambungan teleponnya.
πππ
Tokyo - Jepang
"Hallo," saut Tuan Sakamoto ketika mengangkat telepon dari Robin, anak buahnya.
"Tu-tuan, maaf saya tidak bisa menemukan pemuda itu. Sama sekali tidak ada jejak, Tuan. Kamera CCTV apartemen pun tidak merekam hal yang aneh. Terakhir dia terlihat sedang berbincang di loby apartemen dengan temannya, tapi setelah itu tidak ada jejak lagi. Kameranya mati. Management gedung mengatakan kalau mereka sedang maintanance di hari yang sama. Kebetulan saat itu gedung juga sepi, jadi tidak ada hal yang patut di curigai." Susah payah Robin berucap, ia takut di maki lagi oleh bos nya.
"Oke, good. Mulai hari ini kau tidak lagi bekerja padaku, Robin. Kau di pecat!" Tuan Sakamoto mempertegas di ujung kalimatnya.
"Ta-tapi, Tuan," keluh Robin.
"Hari ini juga sekretarisku akan mentransfer bayaran terakhirmu. Jangan pernah kau hubungi aku lagi, Robin. Ingat itu!" tegas Tuan Sakamoto.
Klik !
Tuan Sakamoto memutus sambungan telepon. Ia sudah bosan mendengar kegagalan Robin.
Aku yakin pemuda itu bukan orang sembarangan. Bagaimanapun caranya aku harus tau siapa dia dan orang di baliknya! Sudah terlanjur aku masuk dalam cerita ini!
Ah, siapa juga yang minta Tuan Sakamoto masuk dalam cerita ini?, gumam author.
"Hallo, Chels," sautnya setelah telepon tersambung.
"Ya, Pi," jawab Chelsea.
"Kamu lagi ngapain? Oh ya soal pemuda yang kamu tanya kemarin-"
"Oh, Adrian." Chelsea memotong ucapan ayahnya.
"Ya, tampaknya dia sudah tidak ada di Jakarta," ucap Tuan Sakamoto.
"Loh, terus dia kemana, Pi?" tanya Chelsea.
"Papi belum tau, tapi ini masih Papi cari tau. Kamu sabar ya" Tuan Sakamoto berpikir akan menghubungi seseorang untuk mencari tau informasi tentang Sutra.
"Oke, Pi." Chelsea menjawab dengan enteng. Gadis itu tidak lagi mendesak ayahnya untuk mencari tau keberadaan Sutra. Pasalnya tiga hari ini dia sudah tinggal bersama Dega. Jadi waktunya penuh di habiskan bersama Dega, membuatnya tidak fokus lagi pada tujuan awalnya.
"Kamu di mana ini? Sama siapa di situ, Chels?" Tuan Sakamoto gantian bertanya.
"M ..., Chelsea lagi ngerjain tugas, Pi, sama temen-temen." Chelsea jelas berbohong. Saat ini ia sedang duduk di sofa unit apartemennya, bersandar di dada bidang Dega sambil menonton film. Sudah dua hari dia tidak masuk kuliah sejak malam kejadian itu.
"Oke, ya sudah, Papi tutup ya, bye." Tuan Sakamoto pun percaya begitu saja lalu mengakhiri obrolannya.
__ADS_1
πππ
Chelsea baru saja meletakkan ponselnya di atas meja. Ia lantas kembali ke posisi semula, bersandar di dada bidang Dega. Lalu kembali menekan tombol di remote agar film yang mereka tonton jalan.
"Chels," panggil Dega
"Heum," jawabnya.
"Entu, Babe lu?" tanya Dega.
"Babe-babe, apaan, sih! Aku manggilnya Papi, bukan Babe!" ucap Chelsea kesal. Sesungguhnya dari awal dia merasa kalau Dega lumayan juga, apalagi Dega selalu ada saat ia butuh. Cara berpakaian Dega juga keren, jadi tidak membuatnya malu saat jalan bersama. Hanya saja cara bicaranya yang menurut Chelsea kampungan.
"Ah, iye-iye, maap. Entu barusan Papi lu?" Dega meralat kalimatnya.
"Iya, kenapa?" tanya Chelsea balik.
"Kagak nape-nape, sih. Cuma kalo seumpame dia tau ape yang gua lakuin ame lu, pegimane ye?" Dega teringat dengan kesalahan fatal mereka.
"M ..., mungkin kamu di bunuh, Papi, kali" jawab Chelsea santai.
"A-ape????" Dega terkejut, tanpa sadar ia berteriak. Sontak ia bergeser dari posisi, membuat Chelsea yang semula menyandar padanya jadi ikut bergeser.
"Kenapa, sih? Berisik banget!" seru Chelsea kesal. Ketenangannya menonton jadi terganggu.
"Lu becandain gua kan, Chels?" tanya Dega ketakutan.
"Hihihi, katanya mau tanggung jawab, masa gitu aja takut, sih?" Chelsea tertawa kecil.
"Lah, gimana gua mau tanggung jawab kalo gua udah di bunuh ame Babe lu, eh Papi lu," saut Dega. Wajahnya belum berhenti takut.
"Kalau soal itu tergantung kamunya, sih. Kalau kamu serius sama aku dan tetep nurut, mungkin aku bisa belain kamu di depan, Papi," saut Chelsea enteng.
"Kapan gua kagak nurut ame lu, Chels? Jauh sebelum kejadian kemarin juga gua nurut ame lu. Kalau soal serius, gua minta waktu 2 minggu buat omongin ke orangtua gua. Abis entu gua janji bakal balik ame lu, kita nikah, pegimane?" Dega menatap manik mata Chelsea dengan serius.
Chelsea sempat tersentuh dengan kata-kata Dega. Namun kemudian ia tertawa.
"Hahaha, siapa juga yang mau nikah sama kamu? Ge-er!"
Ah, serah lu deh Chels. Pokoknye gua kagak bakal jauh-jauh dari lu. Hidup gua cuma buat lu sekarang...
"Gua pasrah deh kalo gitu." Dega kembali bersandar di sofa.
"Nih, buruan nyender, kita nonton lagi." Dega merentangkan tangannya, memberi ruang untuk Chelsea kembali bersandar di dadanya.
Terkadang kita sibuk mengejar sesuatu yang sulit di dapat, padahal sudah ada yang baik di depan mata. Persis seperti Chelsea. Gadis itu terlalu fokus pada Sutra dan menjadikannya sebagai tujuan walau tak mungkin bisa di tuju. Sementara di depan matanya selalu ada Dega yang sedia untuknya dalam segala suasana.
πππ
Semoga Chelsea benar-benar bisa membuka hatinya untuk Dega agar ia bisa melepas Sutra hanya untuk Kama.
__ADS_1
Next, kita liat yuk pertemuan dua insan saling mencinta yang sudah terpisah 72 jam (3 hari) π€£π€£ cekidot gaes π