
Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€π
-
-
Babe...
Eh, apa aku gak salah dengar? Barusan kayak suara Mas Adrian
Tiba-tiba saja Kama mendengar sebuah suara yang memanggilnya dalam diam. Suara itu persis suara Sutra. Apalagi dengan panggilan khas yang selalu ditujukannya pada Kama.
Kama kembali mendekati ranjang Sutra, melihatnya lebih dekat, membungkuk sembari mendekatkan telinganya tepat diatas mulut suaminya. Tapi tidak terdengar apapun dari sana. Lantas Kama pun kembali tegak.
Ternyata rambutnya yang belum kering malah menyapu wajah Sutra saat Kama kembali menegakkan kepalanya.
Hm, harumnyaa...
Eh, ya ampun, kedengeran lagi!
Sekali lagi Kama mendekatkan wajahnya pada Sutra, memperhatikan setiap detail bentuknya dari mulai mata hingga bibir. Posisi Sutra masih tetap sama, ia menutup mata layaknya orang yang sedang tidur tanpa gerakan apapun.
Ini orang gak lagi ngerjain aku kan? Atau apa aku yang halu? Terlalu rindu sampai suaranya kedengeran dimana-mana.
Tapi..., kok ada ya cetakan wajah sempurna kayak dia gini. Alisnya rapi, bulu matanya lentik, hidungnya tinggi, bibirnyaaa, aaah apa sih yang aku pikirin?
Seketika Kama tersenyum sendiri dengan apa yang baru saja ia pikirkan.
Love you...
Nah, kan! Ini sudah tiga kali, gak mungkin aku salah!
"Mas.., kamu bisa denger suara aku?" entah apa yang ada di otak Kama, yang jelas ia merasa kalau daritadi Sutra sedang berbicara dengannya.
__ADS_1
"........" tidak ada jawaban. Mana mungkin Sutra menjawab sementara ia pun belum sadarkan diri.
Ceklek !
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Ida Ayu datang menjenguk anak dan menantunya. Ia tak datang sendiri, ada seseorang yang menyusul dibelakang.
"Biaang..." sapa Kama sembari menghampiri ibunya.
"Eh, Abah juga datang.." Kama lalu menyalami ayahnya yang baru saja masuk. Ya, benar. Sejak kecelakaan yang menimpa Sutra, pria paruh baya itu baru sempat berkunjung melihat anak dan menantunya hari ini.
"Maafkan Abah ye, Abah baru bisa datang sekarang" Kama mengajak kedua orangtuanya duduk di sofa.
"Gak apa-apa kok, Bah. Oh ya, Abah sama Biang mau minum apa? Teh manis hangat mau gak?" tanya Kama kemudian dengan senyum yang merekah. Moodnya sangat baik hari ini setelah tadi sempat mendengar suara suaminya. Entah itu cuma halusinasinya atau memang nyata, tidak ada yang tau pasti.
Seketika Datuk Emran langsung melirik istrinya, ia terkejut dengan perubahan sikap Kama, seolah mengatakan "Sayang, ape pule yang dah terjadi dengan anak kite ni? Dah berobah die?"
Sebelumnya sikap Kama tidak pernah seperti ini. Dia cenderung cuek dan tidak perduli dengan banyak hal. Jadi wajar jika ayahnya heran dengan perubahan sikap Kama yang sekarang.
"Boleh, Nak. Tapi jangan terlalu manis ya" Ida menjawab dengan suara lembutnya.
"Dah lah tu Bang, asalkan baek tak ape. Lagipula bagos kan anak kite dah berobah macem tu" bisik Ida pelan, takut kalau Kama mendengar.
Datuk Emran pun mengangguk, memang benar apa yang dikatakan istrinya. Kalau memang sikap Kama berubah lembut dan perduli seperti itu, artinya pengorbanan Sutra tidak sia-sia. Setiap tetes darah yang ia keluarkan dibayar Kama dengan perubahan drastis sikapnya hingga saat ini.
Satu minggu tanpa Sutra membuat Kama belajar banyak. Ia bahkan belajar bagaimana cara mengurus suami, membersihkan tubuhnya, hingga tidur bersamanya. Sambil menemani Sutra, Kama mengisi waktu dengan browsing banyak hal tentang kehidupan sebagai suami istri di internet. Ia mulai melihat-lihat youtube cara memasak yang simple dan mudah untuk ia praktekkan saat Sutra sadar nanti.
Awalnya Kama memang sedikit geli saat mengetahui segala aktifitas yang wajib ia lakukan sebagai seorang istri, namun rasa cintanya pada Sutra jauh lebih besar dari itu. Ia bertekad ingin berubah, dan tidak mau menyesal untuk kesekian kalinya lagi. Hingga ia bisa mengatasi egonya untuk mau mempelajari semua. Kama bertekad akan menjadi istri yang baik dan yang diharapkan oleh Sutra selama ini.
Kama meletakkan dua mug teh hangat di meja kecil yang ada dekat orangtuanya.
"Abah kapan sampai?" tanya Kama.
"Pagi tadi, Abah flight after subuh" Datuk Emran mengangkat mug teh miliknya lalu menyeruput pelan.
__ADS_1
"Enak betol teh buatan Kama ni, Abah suke lah" puji Datuk Emran.
"Ih, Abah lebay. Cuma teh hangat siapapun bisa bikin kok" saut Kama menahan senyum.
"Ape pula arti lebay tu? Tak tau Abah.." ucapan Datuk Emran membuat Kama dan ibunya kompak tertawa.
"Ambooi, seronok betol mak dan anak ni.." Datuk Emran bersyukur dengan perubahan sikap Kama, sebab ini pertama kalinya ada perbicangan hangat diantara mereka bertiga.
Tak salah ai nikahkan Kama kat pemuda ni, dah banyak berobah rupanye.. Jom lah, cepat sembuh Adrian. Abah nak kasi hadiah buat yu...
"Oia, macemane perkembangan Adrian ni? Ape tak lebi baek kita pindahkan die ke Penang? Atau Abah bawa dokter Penang tu kat sini? Mane-mane suke Kama lah, biar Abah buat" tanya Datuk Emran.
Disaat yang sama akhirnya pelan-pelan Sutra membuka matanya. Kama dan orangtuanya tidak ada yang menyadari, mereka sedang serius membicarakan rencana pemanggilan dokter ahli dari Malaysia.
Pandangan Sutra belum sepenuhnya sempurna. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, lalu berkeliling memutar bolamatanya, menjelajahi ruangan tempat ia dirawat saat ini. Dari ekor sebelah kiri matanya Sutra dapat melihat tiga sosok disana sedang berbincang, namun tidak terlalu jelas, karena ia belum bisa menggerakkan kepalanya. Ototnya terasa kaku akibat terlalu lama beristirahat. Tapi ia bisa mendengar jelas pembicaraan mereka.
"Kama gak setuju Mas Adrian dibawa kesana Abah, kasihan. Tubuhnya pasti capek. Apalagi dengan semua alat bantu itu" maksud Kama alat bantu adalah segala peralatan medis yang menempel di tubuh Sutra.
Aku mau dibawa kemana? Ada apa sih?
"Okelah kalau macem tu. Biar Abah call dokter Penang suru datang kat sini. Die mesti bisa sembuhkan menantu Abah" ucapan Datuk Emran begitu menenangkan sekaligus memberi semangat pada anak perempuannya.
Dokter? Oh, jadi aku sakit ya. Pantas badanku terasa kaku semua
Tak berapa lama Kama beranjak dari duduknya. Karena ada bayangan yang mendekat, Sutra buru-buru memejamkan mata. Ternyata Kama menghampiri ranjang Sutra, mengecek keadaan serta layar monitor suaminya. Sejak diperbolehkan menjaga Sutra, setiap setengah jam sekali Kama akan fokus mengecek keadaan suaminya. Begitulah aktifitas Kama selama lima hari ini.
Kama berdiri disamping ranjang sekarang.
Babe, itu kamu kan? Aku bisa liat rambut keriting kamu gerak-gerak. Hihihi, lucu
πππ
Benarkah Sutra sudah sadar gaes?
__ADS_1
Atau jangan-jangan ini cuma mimpi??
Yuk kita jepoin di next eps, cekidot π