When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
Season 2 - Ternyata... 2


__ADS_3

Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas πŸ™πŸ€—πŸ˜˜


-


-


"Yes, you are welcome. But with this I was forced to take Adrian away from Jakarta without anyone knowing. (Ya, sama-sama. Tapi gara-gara masalah ini aku terpa


ksa membawa Adrian pergi dari Jakarta tanpa di ketahui siapapun)" Datuk Emran kembali menjelaskan.


Ternyata yang membawa Sutra pergi meninggalkan Jakarta adalah orang suruhan Datuk Emran. Ia tidak mau berurusan lebih lanjut dengan ayah Chelsea, Tuan Sakamoto. Jadi dia membuat skenario seolah Sutra di culik tanpa sepengetahuan siapapun termasuk istrinya, Kama.


"I staged this plan to lure them into confusion, and thought that Adrian was kidnapped by someone else (Aku sengaja menyusun rencana ini agar mereka terkecoh dan menyangka kalau Adrian di culik orang lain)" sambung Datuk Emran.


Mata Mr.Will terbelalak mendengar cerita dari besannya. Ia seolah sedang menonton film box office langsung dari nara sumbernya.


Luarbiasa. Mertua dan menantu sama-sama pemain layar tancap, eh maksudnya pemain box office kelas ikan bawal. Bertahap dulu ya guys, tidak boleh langsung naik jadi ikan kakap. Bawal juga enak kok di bakar. Hihihi


"And today is the third day Adrian disappeared (Dan hari ini adalah hari ketiga Adrian menghilang). Saye rase dah cukop lah kepanikan Kama yang mencari Adrian di sana sini setiap hari. Pasti orang bawahan Sakamoto tu pun dah lapor kat die" Datuk Emran melipat tangannya.


"Tinggal satu lagi yang saye nak minta dari Mr.Will. Ini demi anak-anak kite" ucapnya lagi.


"Tell me, Datuk" saut Mr.Will.


"Biarkan Kama tuk pi ikot saye. Lepas tu saye lah yang ator mereka bejumpe dan duduk kat mane. Mr will tolong buat ibu Ajeng tuk beri izin dan tidak cari mereka dulu sampai bulan depan. Bagaimane? Boleh kan?" tanya Datuk Emran.


Jelas sudah kalau semua ini adalah rencana dari Datuk Emran. Ia tidak ingin membuat masalah menjadi besar atau di anggap menantang Tuan Sakamoto. Bukan karena ia tidak sanggup melawan, tapi menurutnya Tuan Sakamoto itu bukan rival ataupun orang yang pantas di jadikan lawan.


Apalagi karakter Datuk Emran yang santai dan berwibawa membuatnya terbiasa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Menyelesaikan tanpa jejak dan tanpa menambah musuh di luar sana.


Biarlah untuk sementara waktu mereka semua tau kalau Sutra menghilang entah kemana. Untuk urusan tutup menutup akses itu menjadi tanggung jawab penuh Datuk Emran.


Pria paruh baya itu hanya meminta kerjasama yang baik pada besannya dalam menjalankan skenario yang sudah ia buat.


"Satu bulan ni, stop lah dulu cari mereka. Saye nak bereskan urusan dengan Sakamoto. Lepas tu saye sendiri lah yang kabarkan kat kalian" sambung Datuk Emran lagi.

__ADS_1


"Okay, i agree. I'll explain to Ajeng later. I trust you with everything, Datuk (oke, aku setuju. Aku akan menjelaskan pada Ajeng nanti. Aku percayakan semuanya padamu, Datuk)" saut Mr.Will di akhir pembicaraan serius mereka.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Selesai urusan dengan besan, Datuk Emran pun pamit pulang. Di dalam mobil ia langsung menghubungi anak buahnya.


"Hallo, Aiman" sapanya begitu telepon tersambung.


"Siap, Datuk. Perintah selanjutnye...?" saut Aiman, orang kepercayaan Datuk Emran.


"Pi you urus semuanye macem rencana awal kite. Petang ni ai, Ida , dan Kama berangkat ke malaysie. Tutup akses lepas pesawat take off, paham ke?" perintah Datuk Emran.


"Siap, paham Datuk" jawab Aiman di akhir pembicaraan.


Bismillah, semoga tak de halangan semuanye..


Sebentar lagi Abah nak jumpakan Kama dengan Adrian, Abah janji!


Datuk Emran terbayang dengan wajah kacau putrinya. Sesungguhnya sejak awal ia tidak tega melakukan sandiwara ini, namun keadaan yang memaksa demikian. Ia tidak ingin anak yang paling ia sayang tersentuh bahkan terlibat masalah sedikitpun. Oleh karenanya ini adalah jalan terbaik bagi mereka. Berpisah sementara untuk bersama selamanya.


Bahkan entah bagaimana caranya Datuk Emran sudah memasang kamera tersembunyi di apartemen Chelse. Hingga rekaman kamera tersembunyi itu bisa menjadi senjata kuat jika Sakamoto masih memperbesar masalah ini.


Laju mobil yang di tumpangi Datuk Emran melaju menembus kemacetan Jakarta, membawanya sampai di loby apartemen mewah yang dia sewa.


Ia lantas turun dan segera masuk ke dalam lift.


Ting !


Lift terbuka tepat di saat Kama ingin masuk.


"Nak kemane?" tanya Datuk Emran menahan langkah Kama.


"Cari Mas Adrian!" jawab Kama tegas.


"Tunggu, Abah nak cakap sikit dengan Kama. Boleh ke?" pinta Datuk Emran.

__ADS_1


"Nanti aja, Bah. Kama mau cari Mas Adrian" Kama tetap ngotot. Ia melanjutkan langkahnya. Tapi buru-buru Datuk Emran menekan tombol agar lift tertutup dan Kama tidak bisa pergi.


"Abaaah!" seru Kama kesal. Ia berteriak.


Kama sudah kembali menjadi karakter yang sebelumnya semenjak kepergian Sutra. Tidak sabaran, kasar, ketus dan cuek luar biasa. Ia tidak bisa lagi mengatur emosi karena hatinya tidak tenang berhari-hari. Pemilik kunci hatinya pergi entah kemana.


"Sabar dulu! Abah nak cakap baek-baek!" tak mau kalah, Datuk Emran pun juga bersuara keras pada Kama. Hingga membuat Ida terkejut dan segera keluar kamar.


"Ape lah ni? Berkelahi...? Bang..., sabar lah sikit..., Kama anak kite Bang..." Ida Ayu berusaha membujuk suaminya, menenangkan amarah yang sempat tersulut.


Lalu kemudian Ida pun memeluk Kama yang terdiam memandang ayahnya dengan tatapan sinis. Matanya penuh kemarahan. Kama merasa ayahnya tidak perduli dengan masalah yang menimpa dirinya. Hanya diam dan santai padahal menantunya menghilang. Kama yakin, sesungguhnya hanya dengan sekali perintah saja pasti ayahnya bisa menemukan di mana Sutra, tapi itu tidak ia lakukan.


"Abang dah sabar Da. Abang cuma nak bicara sikit dengan Kama. Masa tak boleh? Ini penting" ucap Datuk Emran.


"Tapi Abang tak patut lah bentak Kama macem tu... Abang kan tau macemane die... Jangan lupa, salah kita semua tu Bang..." Ida kembali mengingatkan suaminya perkara penyakit psikis Kama.


"Astghfirulloh..., dah lah dah..., Abah minta maaf..." Datuk Emran mengusap wajahnya menyesal sudah tersulut emosi.


"Sekarang jom kite cakap baek-baek..." ajaknya lagi pada Kama.


Kama tak menjawab. Ia hanya menatap dalam diam sembari mengikuti langkah ayah dan ibunya ke sofa.


"Abah dah putuskan untuk akhiri semua kesedihan Kama di sini. Abah sayang dengan Kama. Tak tega Abah tengok Kama macem ni" Kama mendengar ucapan Datuk Emran dengan baik.


"Sore ni juge kita bertiga berangkat ke Malaysie" sambung Datuk Emran yang membuat Kama terbelalak.


"Abaaah..., Mas Adrian?" tanyanya.


"Tak usah Kama pikirkan pasal tu. Abah janji akan temukan Adrian secepatnye. Yakinlah..." senyum tulus tergambar di wajah Datuk Emran.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Berpisah untuk bersama, sebuah pengorbanan yang bergelut dengan rasa namun di akhiri dengan suka cita..


Kama akan segera bertemu dengan Sutraaa...

__ADS_1


Cekidot gaes πŸ‘‡πŸ€—


__ADS_2