
Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€π
-
-
Sampai dikediaman keluarga William, tuan rumah menyambut kedatangan mereka dengan sangat bahagia. Ajeng sampai mengorder makanan dari restoran ternama demi menyambut mereka.
Selesai berpelukan dengan kedua orangtuanya Sutra pamit ingin istirahat dikamar. Ia merasa sangat mengantuk karena sudah beberapa malam tidak bisa tidur pulas. Ditemani oleh Kama mereka pun beranjak pergi ke lantai atas.
Sementara itu Ajeng dan Mr.William mengajak besannya, Ida dan Datuk Emran untuk makan bersama sambil membincangkan tentang anak-anak mereka.
"Saya mewakili Adrian untuk minta maaf pada Datuk. Kecelakaan yang menimpanya mengharuskan ia rehat dari proyek resort itu" Mr.Will membuka obrolan.
"Tak usah dipikir soal proyek tu, Mister. Ai tak de masalah. Yang penting Adrian lekas sembuh macam semula" Datuk Emran meraih gelas minumnya.
"Iya Mister, kesembuhan menantu kami yang utama" tambah Ida.
"Makasih ya Da, kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan Adrian" Ajeng tersenyum hangat pada Ida.
Tiba-tiba,
"Huemph!" Ida menutup rapat mulutnya. Ada perasaan mual saat ia menyendokkan scallop ke dalam mulut. Diambilnya tissue untuk menampung makanan itu keluar dari mulutnya.
"Loh, kenapa Da? Gak enak ya?" Ajeng segera merespon.
"Kenapa, Sayang?" Datuk Emran pun tak mau kalah, ia segera mengelus pundak Ida yang duduk disampingnya.
"Ida mual, Bang" jawabnya pada Datuk Emran
"Ini apa ya Mbak?" Ida menunjuk makanan yang hampir ia muntahkan tadi.
"Scallop. Kenapa, kamu alergi makanan laut ya?" Ajeng langsung khawatir kalau ia sudah menyiapkan menu yang salah.
"Enggak kok, biasanya gak apa-apa Mbak" Ida sendiri merasa heran dengan dirinya.
"Mungkin kamu masuk angin Da" saut Ajeng lagi.
"Mbak bikinin wedang jahe mau ya" Ajeng menawari minuman kesukaannya.
"Boleh, biar Ida bantu bikinnya Mbak..." Ida mengikuti langkah Ajeng ke dapur, meninggalkan suami-suami mereka di meja makan.
__ADS_1
"Don't worry, Datuk, istri saya pintar membuat minuman kesehatan. Mungkin Ibu Ida cuma masuk angin biasa" Mr.Will menenangkan Datuk Emran.
"Okelah kalau macam tu" saut Datuk Emran tenang.
"Oh ya, ai ada siapkan hadiah untuk Adrian" Datuk Emran kembali menyantap makanan di piringnya.
"Hadiah dalam rangka apa Datuk?" tanya Mr.Will heran.
"Tak de apa-apa. Hadiah kesembuhan die lah" kebetulan Ajeng memesan menu sate lilit kesukaan Datuk Emran.
"Wah, alhamdulillah, thank you so much, Datuk" Mr.Will mewakili Sutra mengucap terimakasih.
"Tak ape, ai dah niatkan seminggu yang lalu. Ai nak kasi apartment di KL untuk Adrian. Moga die suka lah" kali ini Datuk Emran tersenyum.
Sementara itu Ida dan Ajeng berbincang sambil menunggu air mendidih.
"Mungkin kamu kecapekan Da, setiap hari ke rumah sakit ngecek anak-anak" Ajeng memulai obrolan.
"Enggak Mbak, Ida biasa mondar mandir kok dari dulu. Gak tau ini udah dua hari aneh, bawaannya mual. Gak napsu makan" Ida mengusap-usap perutnya.
"Hm..., jangan-jangan..." Ajeng langsung melirik.
"Kamu kapan terakhir datang bulan?" ternyata Ajeng mencurigai kalau Ida sedang hamil.
"Bulan lalu kayaknya Mbak. Maksud Mbak, Ida isi gitu?" mata Ida Ayu melotot.
"Iya, bisa aja kan. Apalagi kamu sudah lama single, begitu menikah tiap malam nyetak terus, ya jadilah, hehehe..." Ajeng tertawa kecil sembari mematikan kompor gas. Air yang dimasaknya sudah mendidih.
Yang dikatakan Ajeng memang benar. Setiap malam Datuk Emran menabur benih diladangnya. Sehari wajib satu kali. Belum lagi bonus weekend dan bonus bulanan. Ada saja cara Datuk Emran untuk mengunjungi ladang kepunyaannya.
Hanya saat tamu bulanan datang mereka libur berladang. Itupun harus membayar denda untuk menggantikan saat libur kemarin. Jika ada pemilihan petani paling semangat dan tidak pernah absen, Datuk Emran lah pemenangnya untuk kategori old man.
Tapi jangan sampai Sutra tau fakta ini. Dia bisa menangis tujuh hari tujuh malam sanking cemburunya melihat aktifitas tabur benih mertuanya sendiri.
Kalau ada yang tanya, udah tajir melintir kok hobinya berladang sih? Itu tandanya kalian belum dewasa. Udah sana, cuci kaki, sikat gigi, terus masuk kamar nonton upin dan ipin. Jangan mikirin soal ladang!
"Mbak pakein gula aren ya Da, suka gak?" Ida hanya mengangguk. Ia masih tidak percaya kalau dia sedang hamil.
Apa mungkin diusiaku yang hampir 39 tahun ini aku hamil lagi? Kalau memang iya, artinya Kama akan punya adik. Ya ampuuun, aku punya baby lagi, hihihi. Bang Emran pasti bahagia...
"Kita duduk yuk, sambil ngobrol" Ajeng menaruh gelas berisi wedang jahe diatas meja.
__ADS_1
"Gimana ya Mbak, kalau Ida beneran hamil?" wajah Ida masih tampak bingung.
"Artinya Adrian akan punya adik ipar, hehehe" Ajeng tertawa menjawab.
"Maksudnya apa gak terlalu tua, Mbak. Nanti lahirannya susah" Ida mulai berpikir kearah sana.
"Kita cek dulu yuk, biar tau pasti kamu hamil atau gak. Mbak minta tolong supir beliin test pack. Gimana, mau?" saran Ajeng dan disetujui oleh Ida.
Sambil menunggu supir keluarga William membeli test pack, Ida juga meminta Ajeng untuk merahasiakan berita ini. Biar dia sendirilah yang menyampaikannya pada suami dan anaknya, Kama.
πππ
_dilantai atas, kamar Sutra_
"Babe, kamu temenin aku bobo ya..." pinta Sutra begitu masuk ke dalam kamar. Kama mengangguk setuju. Ia juga kasihan melihat suaminya yang sudah beberapa hari tidak tidur nyenyak.
Benturan dikepala Sutra meninggalkan efek insomnia baginya. Dokter menyarankan untuk terapi obat, yang merupakan kategori obat penenang atau bisa juga disebut obat tidur. Tapi Sutra belum mau menyerah, ia masih berusaha untuk bisa tidur dengan normal tanpa tergantung dengan obat.
Diawal-awal ia siuman, pola tidurnya masih baik, bahkan lebih sering. Kata dokter itu adalah pengaruh dari obat-obatan yang masuk dalam tubuhnya pasca operasi. Hingga akhirnya pengaruh obat hilang, ia malah sulit untuk tidur.
Dr.Ridwan mengatakan hal ini biasa terjadi, dan umumnya bisa sembuh seiring waktu berjalan, kurang lebih hingga satu bulan. Namun jika tidak ada perubahan sama sekali, patut diwaspadai dan butuh penanganan lebih lanjut.
Kama duduk bersandar dikepala tempat tidur, sementara Sutra tidur sembari melingkarkan tangan diatas pahanya tanpa melepas sedikitpun.
Lima menit berlalu, Sutra kembali membuka matanya.
"Loh, kok udah bangun Mas?" tanya Kama.
"Aku gak bisa tidur, tapi aku ngantuk. Gimana donk?" wajah Sutra tampak lesu.
"Aku juga gak paham soal ini Mas" Kama merasa khawatir.
"Peluk aku donk Babe, cuddling please... Mungkin kalo gitu aku bisa tidur" pinta Sutra.
Ha, apa? Cuddling???? Maksudnya kelonan? Iih, Mas Adrian permintaannya aneh-aneh!
πππ
Ealah dalaaaang, cuma diajak kelonan udah ketar-ketir sih Kam...
Padahal, aduuuh, nikmatnya itu kelonan, aduhai lah pokoknya π€€π
__ADS_1