When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
GODAIN AJI


__ADS_3

TERIMAKASIH READERS YANG UDAH BACA SAMPAI PART INI πŸ˜ŠπŸ™


TINGGALIN JEMPOL DAN VOTE NYA JUGA YA (he..he..he)


I Love U 😘


.


.


.


Kama belum juga tidur menunggu balasan pesan dari pacarnya. Ecie cieeee, udah pacaran aja nih, selamat ya Maria Marcedes cetakan lokal, akhirnya udah resmi punya hubungan sama pak Sutra, eh mas Adrian.


Sekedar info buat Kama, nanti tiap kali dipepetin mas Adrian jangan fokus liat mukanya doank, coba sekali-kali liatin kakinya, kamu pasti akan mengerti derita yang ia rasakan selama ini, hihihi. Disinilah kita baru tau istilah dari mata turun ke kaki, walau cinta tetap harus hati-hati.


Huh! Ngajak ribut nih kayaknya! Pesanku dicuekin! Lagi ngapain sih dia?


Sudah satu jam pesan wa yang dikirim Kama belum dibalas oleh Sutra. Jangankan dibalas, dibaca saja belum. Pikiran Kama udah negative kemana-mana, ia ingin tau apa sebenarnya tujuan Sutra mengundang keluarganya makan malam tanpa meminta persetujuan lebih dulu.


Awas aja kalau dia ngerencanain yang aneh-aneh! Langsung aku putusin! Memangnya dia kira aku gak bisa mutusin dia? Ya bisa-bisa aja walau cuma pura-pura.., toh dia pasti ngajak balikan lagi..,


Makin kemari Kama semakin mengerti kalau Sutra sudah tergila-gila padanya. Istilah kerennya bucin lah. Jadi apapun yang Kama lakukan ia akan tetap berada diatas, sementara Sutra akan terus menantinya dibawah. Itulah yang ada diotak Kama sekarang, dan pada kenyataannya pun memang seperti itu.


Namun Sutra juga gak perlu kawatir dengan Kama. Walau posisi Sutra yang bucin, tapi untuk urusan hati, Kama gak main-main, ia punya bentukkan yang spesial dari siapapun. Hati Kama limited edition, tidak mudah disentuh dan tidak juga mudah tersentuh. Jadi sulit untuk Kama tergoda dengan kehadiran orang ketiga, maupun orang ketiga setengah.


Tak terasa penantian Kama menunggu pesan balasan membuatnya tertidur nyenyak dengan bibir yang tersenyum.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Tepat jam sebelas malam Sutra kembali ke kamarnya. Cerita tentang Kama akhirnya sudah ia sampaikan pada keluarganya, membuat ia lega sekaligus bahagia karena sudah mendapat lampu hijau dari kedua orangtuanya.


Sambil tiduran di ranjang Sutra mengecek ponselnya. Ternyata ada tiga pesan masuk dari Kama, buru-buru ia baca.


- Kama -


Maksud bapak apa nih?


Soal makan malam besok, kok saya gak tau?


Ngapain sih lama banget bacanya?!


Duh, pesan terakhirnya sudah sejam yang lalu. Dia masih nunggu gak ya? Atau dia udah tidur?


Sutra memutuskan untuk membalasnya, ia gak mau membuat Kama menduga yang tidak-tidak karena ia lama merespon.


- Sutra -


Maaf, saya tadi ngobrol dengan keluarga saya, ponselnya saya offline.

__ADS_1


Kamu udah tidur?


Mau saya telepon?


Karena tidak ada jawaban dari Kama, Sutra memutuskan untuk menelpon Kama besok pagi


- Sutra -


Saya telepon besok aja ya, kayaknya kamu udah tidur..


Sweet dream πŸ€—


πŸƒπŸƒπŸƒ


Matahari sudah masuk dari celah jendela kamar Kama. Sudah jam delapan pagi. Tidur gadis itu begitu nyenyak hingga ia masih juga malas bangun sampai detik ini. Mungkin efek baru jadian, membuatnya ingin terus memejamkan mata membayangkan pacar barunya itu.


Tok Tok Tok !


"Kaam, belum bangun kamu?" Lulu masuk ke kamar Kama, berjalan hingga keujung dan menyibakkan tirai jendela.


"Eeemmhh, tante.., silau.." ujar Kama sengau karena baru saja bangun


"Wake up doonk, cepetan mandi! Kita mau pergi shopping sama nyalon.." Lulu duduk ditepi ranjang Kama sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Kama.


"Come on! Hurry up! Tante tunggu dibawah yaaa..." ujar Lulu lagi sambil melangkah pergi


"Heum.." Kama mengacak-acak rambutnya, ia kesal dipaksa bangun dan harus ikut ke tempat yang tidak disukainya itu.


Sebelum turun kebawah, Kama sempat mengecek notif ponselnya, membaca balasan pesan dari mas Adrian. Ah ya, ngomong-ngomong soal mas Adrian, Kama sedang mengganti nama kontak Pak Adrian menjadi Mas Adrian pagi ini. Walau keliatannya Kama kaku dan dominan galak, sebenarnya dia juga sweet kok aslinya. Terbukti kalau dia sudah fix dengan sebutan 'mas Adrian' itu.


Huu.., kelamaan! Udah tidur baru dibales! Terus pagi ini mau nelepon? Aaah, biarin deh gak usah aku bales. Biar dia kepikiran! Salah sendiri bikin acara gak ijin dulu! Hihihi..


Kama sengaja meninggalkan ponselnya diatas ranjang, agar dia gak perlu merespon kalau Adrian mengiriminya pesan maupun menelpon. Ia lantas turun kebawah, bergabung dengan aji dan Lulu yang sedang menikmati sarapan.


"Pagiiiii..." sapa Kama


"Heum, pagii..! Seneng banget kamu kayaknya, Kam.." saut aji yang sedang mengoles selai ke roti ditangannya.


"Gak ah, Kama biasa aja kok aji.." Kama duduk berhadapan dengan aji di meja makan, ia mengisi piringnya dengan kentang panggang dan omelet.


"Ooh.. Gimana soal makan malam nanti? Kamu udah tanya sama mas kamu itu?" tombol kepo aji sedang menyala, ia masih belom puas dengan kecurigaannya tadi malam.


"Udah doonk.."


Ajii.. ajii, gak ada abis-abisnya curiga sama pak Adrian!


"Apa katanya?"


"Surprise"

__ADS_1


"Kamu percaya?"


"Percaya lah, diakan pacar Kama" Kama mengunyah makanan dipiringnya sambil menahan senyum, ia merasa lucu dengan sikap aji yang tidak berhenti curiga itu.


Tak berapa lama Lulu keluar dari kamar sambil menggendong baby Jason.


"Diaan.." teriak Lulu memanggil babysiter anaknya.


"Ya, buk.." mbak Dian datang dari kamar belakang dan langsung mengambil baby Jason untuk dia gendong


"Kam, tante anterin Jason sama Dian kerumah mama dulu sebentar, nanti tante jemput kamu.." Kama mengangguk


Sepeninggal Lulu, aji kembali melanjutkan kekepoannya.


"Kam..." tegur aji


"Heum..." Kama masih terus mengunyah


"Kok kamu bisa suka sama anak itu sih? Apa gak ada yang lain?"


"Ada.."


"Yaudah sama yang itu aja.." saut aji senang


"Aji yakin? Ga mau liat dulu orangnya?"


"Emangnya kenapa orangnya?"


"Parah aji.."


"Parah gimana?"


"Gantengnya dua kali lipat dari mas Adrian!" aji terdiam, ia tidak tau harus menjawab apa lagi. Tadinya ia bermaksud agar Kama pacaran dengan cowok yang bertampang biasa saja, jangan sampai melebihi tampangnya. Tapi ini malah dua kali lipat dari yang sekarang, auto nyerah deh.


"Hahaha.." Kama terkekeh melihat reaksi diam ajinya.


"Lagian aji ada-ada aja, nyuru ganti pacar kayak ganti baju! Memangnya semudah itu!"


"Ya bisa-bisa aja lah.., kamu kan masih ABG"


"Tapi Kama kan punya hati, gak bisa seenaknya gonta ganti! Memangnya kenapa sih sama mas Adrian, kok aji anti banget?"


"Tampangnya itu, aji gak suka!"


"Gak suka atau ngiri nih..?" selidik Kama


"Ih, ngapain harus ngiri, gantengan juga aji kemana-mana!"


"Iyaaa dikit, mas Adrian yang banyak, hahaha" Kama kembali terkekeh menggoda ajinya.

__ADS_1


Sementara itu, dikamar atas ponsel Kama terus berdering, panggilan telepon dari Adrian sudah tiga kali masuk.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


__ADS_2