When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
Season 2 - The Iglo Glass 2


__ADS_3

Jangan lupa bantuan LIKE dan VOTE-nya ya guys, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas πŸ™πŸ€—


sarang buruuuung, eh sarangheyo 😘😘


-


-


"Babe ..." Sebuah senyum tersungging di bibir Sutra setelah melihat wajah pujaan hatinya.


Kama membalas dengan senyum yang sama. Tampak gigi putih tersusun rapi di sana.



"Mas ...," ucapnya tanpa menghilangkan senyum yang merekah.


Sutra langsung mendekati Kama yang terduduk di lantai, merengkuh tubuhnya masuk dalam pelukan. Tanpa sengaja ia menyenggol tangan kanan Kama yang terkilir.


"Sssshh, aaww!" lirih Kama pelan.


"Eh, kamu kenapa, Babe? Apanya yang sakit?" Sutra melonggarkan pelukan, melihat bagian tubuh Kama yang sakit.


"Gak apa-apa." Kama menutupinya dengan senyum.


"Jangan bohong, barusan aku denger kok." Alis Sutra bertaut menunggu kejujuran Kama.


Terlalu lama Kama menjawab, Sutra lantas menggendong tubuhnya ala bridal style hingga Kama reflek mengalungkan tangan kiri ke leher Sutra. Ia membawanya berpindah ke atas ranjang, mendudukkan Kama di sana.


Semenit terlewati hanya dengan saling pandang di antara mereka. Sutra menatap lekat wajah istrinya. Dan perlahan menyelipkan rambut keriting Kama yang berantakan ke belakang telinga.


"Apa sih ngeliatin aku kayak gitu?" Kama jadi salah tingkah.


"Aku bersyukur akhirnya bisa menemukan kamu, Babe ..." Sekali lagi Sutra tersenyum menatap Kama. Pandangan matanya begitu teduh dan hangat. Ada pancaran bahagia di sana.



"Aku hampir gila mikirin kamu terus sejak kemarin," sambungnya lagi.


"Aku juga mikirin kamu, Mas," jawab Kama.


"Lantas kenapa gak hubungi aku? Aku telfon kamu berkali-kali tapi gak di angkat," tanya Sutra.


"Ponselku jatuh, Mas. Gak tau di mana. Kayaknya waktu main ski." Kama mengangkat kedua bahunya. Mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Ini semua ulah Chelsea, kan?! Aku udah tau, Babe. Kamu gak usah nutupi lagi." Sutra menarik pelan dagu Kama, membuat mereka kembali saling menatap.


Kama mengangguk.


"Tapi kamu gak boleh apa-apain dia," ucap Kama.

__ADS_1


"Kenapa?" Sutra heran.


"Biar aku aja, Mas. Kan dia urusannya sama aku," pinta Kama.


"Tapi kamu kan istri aku, Babe. Urusan kamu sudah pasti jadi urusan aku. Apalagi dengan perempuan gila itu! Begitu kita balik ke resort, aku harus kasi dia pelajaran!" tegas Sutra.


"Yaudah terserah kamu deh. Aku gak ikut kamu balik, aku di sini aja!" Kama memalingkan wajah. Malas berdebat dengan Sutra.


Ah, ya ampun, istriku ...


"Jangan gitu donk, Babe ..." Sutra menurunkan tone suaranya.


"Makanya turuti mauku, Mas." Kama melirik sepintas.


"Huuuuffft, oke." Dengan berat hati Sutra pun mengiyakan.


"Good." Kama tersenyum simpul.


"Gitu doank?" Sutra protes dengan respon Kama.


"Terus maunya apa?"


"Kamu nanya mau aku? Aaah, aku mau semuanya, Babe ..." Sutra lalu tersenyum jahil menatap Kama. Pelan-pelan ia mendekatkan tubuhnya pada Kama hingga Kama mundur perlahan sampai rebahan. Jarak di antara mereka sudah menipis, namun...


"Tuan Adrian ...," panggil James dari depan pintu.


Mck, aah! Aku lupa ada James!


"Itu siapa, Mas?" tanya Kama heran.


"Tunggu Babe, aku temui dia dulu." Sutra bergegas keluar.


"Ya, James," sapa Sutra di depan pintu.


"Tugas saya sudah selesai, Tuan. Apakah anda ingin saya menunggu di sini atau bagaimana?" tanya James.


"Kau boleh kembali James. Aku akan tetap di sini bersama istriku." Sutra mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya lalu menyerahkan pada James.


"Apa ini, Tuan?" tanyanya.


"Aku tak tau harus berterimakasih dengan apa padamu. Kalau bukan karena ucapanmu, mungkin aku sudah pergi dan tak bertemu dengan istriku. Itu kartu namaku, James, simpanlah siapa tau kau perlu. Kau bisa menghubungiku kapanpun kau butuh." Sutra tersenyum pada James.


James ikut tersenyum. Baru kali ini ia merasa begitu di hargai oleh seseorang.


"Baiklah kalau begitu, Tuan. Terima kasih, akan ku simpan kartu nama ini baik-baik. Aku pamit, Tuan." James lantas berlalu pergi.


Sutra kembali masuk ke dalam, menutup pintu dan menguncinya.


"Siapa itu, Mas?" tanya Kama yang masih duduk di atas ranjang.

__ADS_1


"Anak buah temanku, yang bantu aku cari keberadaan kamu, Babe." Sutra naik ke atas ranjang lalu masuk ke dalam selimut yang menutupi Kama. Sekarang mereka sudah berada dalam selimut berdua.


Dengan bantal yang menumpuk di belakang, mereka kompak menyandarkan tubuhnya di sana.


"Aku hampir gak bisa ngendaliin emosi saat kamu hilang kemarin, Babe." Sutra menoleh ke kanan, memandang wajah cantik istrinya.


"Kamar kita di resort berantakan ...," sambungnya lagi.


"Kamu apain, Mas? Aku belum sempat tidur di situ loh." Kama tersenyum dengan posisi saling pandang.


"Ya ..., aku ..., aku berantakin deh pokoknya. Abis Dega nahan aku terus untuk gak nyentuh perempuan gila itu!" Chelsea lah orang yang di maksud oleh Sutra.


"Aku juga gak setuju kamu apa-apain dia! Inget ya, Mas!" ancam Kama.


"Kenapa sih? Kamu gak kesal sama dia? Kamu bisa maafin dia gitu aja?" Sutra makin heran. Sejak tadi Kama terus saja menahannya untuk tidak bertindak pada Chelsea. Sebenarnya apa sih maksud Kama?


"Ya, enggak, tapi bukan berarti kamu harus pukul dia atau semacamnya kan," jelas Kama.


"Pokoknya kamu gak usah mikirin soal Chelsea lagi Mas, biar itu jadi urusanku," sambung Kama.


"Gak, aku gak mau! Keputusan kamu yang mengikut sertakan Chelsea di perjalanan kita, malah bikin kamu pisah dari aku. Aku gak mau! Aku gak mau kejadian kayak gini lagi. Cukup! Aku gak sanggup kehilangan kamu, Babe, please ..." Sutra memandang Kama lekat-lekat. Ada rasa takut luar biasa dari sorot matanya.


"Mas ..." Kama mengusap pipi Sutra dengan tangan kanannya. Tangan yang terkilir akibat ulah Chelsea.


Segera Sutra menangkap tangan itu, bermaksud menggenggamnya erat, namun,


"Ssshhhh, aw!" lirih Kama pelan.


"Eh, kenapa, Babe? Tangan kamu sakit ya?" Sutra menangkap ada yang ganjal di tangan kanan Kama sejak tadi.


"Iya, Mas, terkilir. Tapi gak apa-apa kok, ntar juga sembuh," jawab Kama


"Jawab jujur!" Sutra bangkit dari rebahan.


"Pasti ulah si gila itu, kan?!" sambung Sutra lagi.


"Iya," jawab Kama.


"Huh, kurang ajar!! Dia bukan cuma ninggalin kamu, tapi udah berani nyakitin kamu, Babe!! Aku gak bisa diam aja!" Wajah Sutra seketika berubah, kemarahan kembali menyelimutinya.


"Tapi aku gak apa-apa kok, Mas. Serius, cuma sakit sedikit. Ini tinggal memarnya aja, besok juga pasti sembuh." Kama berusaha membujuk suaminya.


"Enggak, aku harus kasi dia pelajaran!" Sutra beranjak untuk pergi, tapi Kama segera menarik tangannya kencang hingga ia kembali terduduk di ranjang dan,


Cup !


Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir berwarna pink milik Sutra. Lembut, kenyal, dan dingin, persis seperti mochi ice cream glico wing.


"Yakin masih mau ngurusin Chelsea? Atau kita ..." Kama sengaja menggantung kalimatnya.

__ADS_1


Eh, Babe ..., iiih kamuuuuu, makin pinter aja.


__ADS_2