
Please jangan lupa tinggalin jempol dan vote nya ya biar authornya makin semangat π€π
happy reading..
.
.
Dengan susah payah Datuk Emran akhirnya berucap,
"Boleh Abang masuk?"
Ida Ayu tidak menjawab, namun ia membiarkan pintu kamarnya terbuka sementara ia berbalik membelakangi Datuk Emran, menuju ke balkon kamarnya.
Ida Ayu memandang jauh entah kemana, pikirannya menerawang, perasaannya campur aduk. Sedih, sakit, terkejut, tidak percaya, semua berkolaborasi jadi satu, walau tetap terselip sedikit kebahagiaan disana.
Satu-satunya lelaki yang mengisi hatinya sudah berada dibelakangnya.
Suara yang begitu ia rindukan, yang selalu memanggilnya dengan sebutan, sayang, kembali terdengar jelas ditelinganya setelah sepuluh tahun. Mata yang selalu memandangnya dengan penuh cinta, untuk beberapa saat kembali mengunci tatapannya saat ia membuka pintu tadi. Pria itu sudah terlihat tua sekarang. Ada guratan keriput dikening, sudut mata dan sudut bibirnya. Namun tidak mengurangi ketampanannya sedikitpun walau ia berkacamata.
Emran Ibrahim Bin Abdul Ibrahim, yang sekarang sudah mendapatkan gelar Datuk dari hasil kerja kerasnya. Pengusaha property sukses di Malaysia, yang dikenal dengan sifatnya yang dermawan.
__ADS_1
Datuk Emran mengikuti langkah Ida Ayu dari belakang, dan berhenti dengan menyisakan jarak dua langkah.
"Ape kabar Ida? Sehat ke?" pertanyaan awal terlontar dari mulut Datuk Emran, ia memandang lekat lekuk tubuh Ida Ayu yang langsing dari belakang.
Ida tak berubah, lekuknya pun masih same. Ai hapal betol!
"Abang tau Ida pasti tekejot.. Tapi, bukan tak de sebab Abang balek nak jumpe Ida.. Abang.." ucapan Datuk Emran terhenti ketika Ida Ayu berbalik badan menatapnya dengan airmata yang menetes satu persatu.
"Astaghfirullohaladzim.." Datuk Emran menarik napas dalam, ia menyesal harus melihat Ida Ayu menangis.
"Dah lah Da.., berhenti menanges.." suara Datuk Emran terdengar serak. Pria itu terbawa perasaan, hatinya sakit melihat orang yang dicintainya, yang sudah terpisah selama sepuluh tahun, meneteskan airmata lagi dihadapannya.
"Tak sanggop Abang liat airmata Ida tu.. Dah betaon Abang buat Ida menanges.. Abang minta maaf.." sekuat tenaga Datuk Emran menahan emosinya menanggung rasa bersalah terhadap Ida Ayu. Kalau saja laki-laki diperbolehkan menangis semudah perempuan, ia pasti sudah ikut menumpahkan airmata sejak melihat kekasih hatinya menangis.
"Cakap lah sikit Da.., Abang nak dengar suara Ida.. Rinduu sangat.." suara Datuk Emran makin bergetar. Perasaan rindu yang baru saja diutarakannya sudah menumpuk, bahkan tingginya melebihi gunung Agung di Bali.
"Jangan tengok Abang macam tu Da.., Abang menyesal.. Betaon Abang tunggu Ida balek kat flat kite.., tapi tak de harap. Tetap Abang jaga flat tu Da, tak de yang boleh kena.. Tak seharipun Abang lewatkan tanpa pikirkan Ida.. But tahun ketiga kite pisah, Mak ayah Abang suroh Abang kawen, tapi tak bise Abang cintekan die macem Abang cintekan Ida.. Tersikse hati perempuan tu Abang buat, sampe saket, dah meninggalpun die.. Ida mau tau ape pesan Zizah, bini Abang tu?" panjang lebar Datuk Emran berucap, namun Ida Ayu masih terus diam, hanya mendengar.
"Zizah suroh Abang balek sama Ida.., Zizah yaken Ida pun tunggu Abang disini.. Zizah juga titip maaf dah rebut waktu Abang dari Ida.., itu pesan Zizah.." sambung Datuk Emran lagi
"Ida percaye atau tak cakap Abang, semua Abang serahkan sama Allah.. Sekarang Ida pi tidor lah.., biar Abang keluar. Abang tau dah muak kali Ida tengok muka Abang ni!" Datuk Emran berbalik setelah mengucap kalimat terakhirnya.
__ADS_1
"Bang.." sayup-sayup suara Ida Ayu memanggil Datuk Emran, membuat pria paruh baya itu dengan cepat menoleh padanya.
"Ida panggil Abang? Atau Abang salah dengar..?" tanya Datuk Emran memastikan dan dibalas anggukan oleh Ida Ayu. Secepat kilat Datuk Emran mendekat padanya, menyisakan jarak satu langkah diantara mereka.
"Bedosa tak kalau Ida nak peluk Abang sekarang?" tanya Ida Ayu langsung pada intinya. Ternyata sifat blak-blakkan Kama menurun dari ibunya.
Manik mata Ida memandang lekat wajah laki-laki yang sangat dicintainya itu, yang pernah menikahinya.
Seketika wajah galau Datuk Emran berubah jadi senyum, matanya mengecil sempurna sanking bahagianya mendengar ucapan Ida Ayu. Perasaan berkecamuk yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga didepan Ida Ayu. Sudut sebelah matanya meneteskan airmata kebahagiaan. Ditariknya napas dalam berulang kali, menahan hasrat, menahan semua gejolak yang kejar-kejaran ingin meluap saat itu juga.
"Bedosa, sayang.. Tapi besok Abang pastikan tak de lagi jarak diantare kite.. Kite menikah balek, Ida setuju?" tanya Datuk Emran yang dijawab anggukan penuh yakin oleh Ida Ayu.
πππ
Uuuuu.., meleleh..
Cinta yang terus ada walau raga tak bersama
Sejauh apapun melangkah, terpisah berat sekalipun, jika Takdir sudah menetapkan tak ada yang bisa melawan..
Aku hanya diciptakan untukmu!
__ADS_1
Bukan dia atau yang lainnya..