
Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€π
-
-
Ketiga pasang kekasih yang saling mencintai itu, menenangkan pasangannya masing-masing.
Datuk Emran segera mengajak istrinya pamit pulang. Ia malu membahas kelakuan istrinya didepan keluarga besan.
Sementara Mr.Will langsung mengajak Ajeng masuk ke dalam kamar.
"Tell me, now! What are you doing there?" tanya Mr.Will begitu mereka berada di dalam kamar.
"Astaga, jangan salah paham dulu sayang. Kami berdua tidak sedang mengintip mereka" Ajeng berusaha meluruskan apa yang telah dilakukannya bersama Ida Ayu.
"So, what? Aku melihat sendiri kalian sedang mengintip!" ucap Mr.Will tidak percaya sembari ia membuka kancing kemejanya dan membuangnya sembarang.
Ajeng paham kalau suaminya sedang kesal. Ia lantas mendekat, duduk pinggir ranjang tepat disebelah Mr.Will.
"Sayang, listen to me" Ajeng menangkup wajah tampan disampingnya, menariknya hingga mereka bertemu pandang.
"Aku tidak berniat mengintip seperti yang kau pikirkan. I just want to know, sebelum mengetuk pintu kamar Sutra. Ada hal penting yang ingin kami bicarakan dengan mereka" jelas Ajeng lagi.
"What is it?" Mr.Will jadi penasaran. Ia lantas naik keatas tempat tidur dan mengajak Ajeng serta.
"Kami berdua ingin memberitahu pada Sutra agar Kama jangan sampai hamil dulu" Ajeng kembali menjelaskan.
"Tapi anakmu itu, lihat kelakuannya! Baru saja dia keluar dari rumah sakit tapi sudah sibuk bercocok tanam!" sambung Ajeng sembari memukul lengan suaminya kesal.
"But, why? They are married (tapi, kenapa? mereka kan sudah menikah)" Mr.Will sampai heran dengan pernyataan istrinya.
"Pokoknya gak boleh! Kama belum boleh hamil. Aku dan Ida gak setuju! Dia masih terlalu muda, kasihan. Kami khawatir rahimnya belum siap" Ajeng memindahkan bantal keatas pangkuannya.
"Oh my god! Kalian terlalu egois, membuat keputusan sendiri! Fisik setiap orang berbeda dan bukan kalian yang bisa mengetahuinya. Pilihan bijak adalah membawa menantumu periksa ke dokter, agar kau tau seberapa kuatnya dia. And I believe my son married a strong woman! (dan aku yakin, anakku menikahi seorang wanita yang kuat)" Mr.Will sampai geleng kepala mendengar rencana Ajeng dan Ida.
"And one thing, you are crazy if you don't let them make love! (dan satu hal, kau sudah gila jika kau melarang mereka bercinta!)" tambah Mr.Will sembari mengingatkan.
Perlu diketahui, Ajeng dan Mr.Will tidak tau menahu soal perjanjian pranikah Kama dan Sutra. Mereka tidak ada ditempat ketika Sutra menandatangani kertas itu. Hanya Datuk Emran dan pengacaranya yang menyaksikan.
Ajeng menghembus napas kasar, ia memalingkan wajah, kesal sebab suaminya tidak mendukung rencananya.
Tapi Mr.Will tidak pernah kehabisan cara.
__ADS_1
"Hei, Darling. Look at me, please..." bujuk Mr.Will, ia menarik lembut pipi istrinya.
"Hem..." Ajeng hanya berdehem kecil.
Tangan Mr.Will mulai bergerilya. Ia memindahkan bantal yang ada dipangkuan Ajeng dan membuka lebar pahanya. Kebetulan hari itu Ajeng mengenakan dres selutut. Ditariknya dres Ajeng hingga terangkat ke pangkal paha.
"Mau apa?" tanya Ajeng yang masih ngambek.
Adudu mak oiii, yang ngambek bikin gemes deh. Pake nanya mau apa. Memangnya ada rendang padang sayur gulai ditengah pangkal paha???? Kan enggak!
Mr.Will tersenyum, ia semakin mendekat pada Ajeng dan
Cup !
Pria bule itu mendaratkan bibirnya ke daging kenyal berlipstik peach yang menggoda itu. Tangan kanannya menekan lembut tengkuk Ajeng, memudahkan ia melu-mat si peach dengan asiknya. Remember, soft and smooth always be his style (ingat, lembut dan halus selalu menjadi gayanya).
Sementara tangan kirinya menjelajahi area inti Ajeng. Begitu pintar jemari Mr.Will menelusuri celah samping hingga menyibak tirai renda hitam. Ingat ya, tirai renda hitam, bukan tirai nomer 3 yang isinya zonk kayak acara kuis di tv yang banyak film Indianya.
Ternyata dibalik tirai renda itu tersimpan harta karun yang luarbiasa membahagiakan jiwaraga. Apa itu? Kerang bulu imut dan semok teronggok nyata disana, menyimpan mutiara kenyal yang bertuliskan 'just for you, my husband'.
Jangan tanyak tulisan itu ditulis pakai tinta warna apa. Ayo kita fokus pada gerakannya saja.
Tapi tidak semudah itu Ferguso! Pemilik kerang bulu imut masih ngambek. Ajeng menggeser jemari Mr.Will dari bagian intinya. Menolak sebelum sengatan gairah cinta menguasai. Ia lantas menyilangkan kaki, merapatkan kedua paha.
"Kau tau darling, sikapmu yang seperti ini membuat aku semakin tergila-gila..." senyum nakal tampak jelas diwajahnya.
Mr.Will kembali menyatu padukan tumpukan daging kenyal miliknya dan milik Ajeng. Mengemutnya lembut seperti sedang menikmati permen cokelat manis, bergantian dari atas hingga bawah. Tak ada bagian yang luput dari cecapannya. Setiap inchi bibir Ajeng seolah penuh dengan gula, membuatnya terus dan terus menikmati.
Jasmine tea. Ya, rasa manis dari teh itu masih kental tertinggal dimulut Ajeng. Wanita paruh baya itu sempat menghabiskan secangkir Jasmine tea sembari menemani Ida menghabiskan wedang jahenya, sebelum mereka mengintip kamar Sutra.
Aksi liar itupun tak hanya berhenti sampai disana. Jemari Mr.Will yang sudah ditepis Ajeng tadi berpindah tempat kepunggung Ajeng. Menarik pelan resleting dress yang dikenakannya hingga tanpa Ajeng sadari sebelah bahunya sudah terpampang nyata. Ajeng terlena dengan ciu-man penuh cinta dengan hasrat menggelora dari suaminya. Ia sampai terkecoh dan lupa dengan aksi ngambeknya tadi.
Next, dari bibir cecapan Mr.Will berpindah ke bahu mulus Ajeng. Ia menarik lembut rambut Ajeng, menempatkan dibahu sebelahnya lagi agar ia leluasa mengeksplore area itu.
Pelan tapi pasti cecapan itu menanjak ke leher hingga singgah dibalik telinga. Basah, hangat, dan semriwing. Itulah yang dirasakan Ajeng saat ini. Ritme napas Ajeng seketika menjadi cepat. Ia sudah terkena sengatan listrik yang membuat bulu kuduknya merinding.
"Do you want more? (apa kau mau yang lebih?)" bisik Mr.Will ditelinganya, dan langsung dijawab Ajeng dengan anggukan.
Yeah, i got it! Mr.Will bersorak dalam hati.
πππ
Ida dan Datuk Emran baru saja sampai di Langham Residence yang berlokasi di District 8 SCBD Jakarta, yang mereka sewa.
__ADS_1
"Abang tak mau lah tengok kelakuan Ida macam tu lagi!" ucap Mr.Will begitu masuk dalam unit apartemen.
"Astaghfirulloh Abang..., itu salah paham lah..." keluh Ida.
"Salah paham macemane? Malu lah sayang..., mengintip anak yang lagi kawin!" Datuk Emran melepas kemejanya, menyisakan kaos polos dalam yang selalu ia kenakan.
Ida tertawa kecil mendengar ucapan suaminya sembari geleng-geleng kepala.
"Ketawa pula... Kalau Ida nak kawin juge, kan bisa bilang Abang, biar Abang paham. Cepat kita pulang" saut Datuk Emran lagi.
"Aisshh, Abang ni lah! Kawiiin aja dibenaknya!" Tiba-tiba Ida teringat dengan test pack yang tadi dibelikan oleh supir keluarga William.
Ida lantas menyambar tasnya dan membawanya ke dalam kamar mandi. Didalam kamar mandi Ida langsung mencari wadah kecil untuk menampung urinnya, lalu kemudian menggunakan mencelup alat test pack tadi.
Tak berapa lama muncul satu garis merah.
Serrrr...! Darah Ida berdesir, ternyata ia tidak sedang hamil. Ia lantas meletakkan alat test itu diatas westafel, sementara ia mencuci wajahnya dengan facial foam.
Selesai dengan aktifitas bersih-bersih. Ida pun membuang wadah bekas urinnya, lalu mengambil alat test pack tadi untuk ia buang juga. Namun begitu terkejutnya dia, ternyata muncul satu garis lagi disana.
Jadi? Aku...., hamil...???
Masih dengan keterkejutannya, Ida lantas berteriak.
"Baaaaaannnnngggg....."
Sontak Datuk Emran melompat dari tempat tidur, menyusul Ida ke kamar mandi. Untung saja tubuhnya cukup atletis, ia tidak sampai kena encok karena pergerakan mendadak seperti itu.
"Ape?? Ape?? Kenape???" tanya Datuk Emran panik.
Ida tersenyum sembari menunjukkan alat test pack ke hadapan suaminya.
"Tengok ni..., akibat kelakuan Abang..." Ida tertawa kecil.
"Apa artinya tu? Cakap yang betol-betol la, Abang tak nak salah tafsir" Datuk Emran masih ragu, ia takut salah menduga.
"Ih, pura-pura tak tau lah Abang! Kama mau punya adek, Bang..." ucap Ida sembari mencubit perut suaminya.
"Iya ke??? Masya Allah..., alhamdulillaaaah..., tak sia-sia kerja keras Abang tiap malam..." rasa haru seketika menjalar dibenak Datuk Emran. Permintaannya dikabulkan Allah Swt diumur yang menginjak 50 tahun. Ia sangat bersyukur dengan itu.
πππ
Masih ada satu pasangan lagi yang belum kita ketahui apa kegiatannya gaes..
__ADS_1
Yuk kita kepoin di next eps π