When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
KENCAN PERTAMA


__ADS_3

Please jangan lupa tinggalin jempol dan vote nya ya biar authornya makin semangat πŸ€—πŸ™


happy reading..


--- Sutra Pov ---


Habis subuh tadi aku sudah menyiapkan semua kebutuhan untuk berangkat ke Kuala Lumpur nanti malam. Rencananya, sepulang kencan dengan Kama hari ini, aku langsung bertemu dengan ayah dan ibu di bandara Soeta. Sekalian ayah membawa supirnya untuk sekalian menjemput mobilku yang akan kutinggal di bandara. Selesai beres-beres aku segera turun ke bawah. Kebetulan sudah jam tujuh pagi, pasti ibu sudah sibuk menyiapkan sarapan dengan mbak Retno, asisten rumah tangga kami yang sudah lima tahun membantu tugas ibu dirumah.


"Pagi, bu.." benar dugaanku, ibu sedang memasak omelet kesukaan Quiny didapur.


"Eh, hei.., pagi nak.. Kamu mau ibu bikinin omelet juga?" ibu menawariku omelet, dan aku menggeleng. Aku tidak terlalu suka makan omelet, aku lebih suka telur ceplok yang dimasak dengan mentega dan sedikit garam.


"Telur ceplok aja, bu.." jawabku sambil mengunyah kentang panggang yang baru saja dikeluarkan mbak Retno dari oven.


"Masih panas itu loh mas, hati-hati.." saut mbak Retno


"Udah aku telen, mbak.." aku tersenyum memamerkan gigi putihku.


"Eh, udah rapi anak ibu. Mau kemana, Sut?" ibu meletakkan omelet yang sudah matang diatas piring.



"Kencan, bu.., sama Kama.." jawabku jujur. Aku terbiasa menjawab apa adanya dengan kedua orangtuaku sejak kecil. Karena kami memang keluarga yang terbuka. Bahkan ketika aku belum cerita pun, ayahku bisa langsung tau kalau ada hal yang ku simpan di dalam hati. Ya, seperti yang kita tau kalau ayahku adalah seorang peramal (soothsayer), hahaha.


"Kemana?" kali ini giliran telur ceplok ku yang dimasak ibu


"Belum tau bu.., jalan-jalan aja. Bu, double ya.." aku minta dibuatkan dua telur ceplok, biar kuat menghadapi Kama hari ini. Habis mau gimana ya, walau dia sudah resmi jadi pacarku tapi aku masih was-was juga dengan kalimat yang keluar dari mulutnya. Karena dia sama sekali tidak bisa ditebak. Bisa tiba-tiba manis, tapi lebih sering lagi sadis.


Seperti waktu dia mengatakan kalau aku adalah beban buatnya. Siapa sih yang gak kaget dianggap sebagai beban dalam hidup orang yang kita sayangi. Eeh, ternyata maksudnya adalah beban menjadi bahan gosip di kampus kalau orang-orang tau aku resmi pacaran dengan Kama. Aku tidak menyangka kalau aku se-top itu di fakultas teknik. Sampai-sampai Kama bilang aku punya fans garis keras, apa iya ya? Aah, ada-ada saja.


"Jangan jauh-jauh ya, Sut.. Inget ntar malam flight kamu jam delapan" ibu mengingatkan jadwal berangkatku ke KL.


"Siyap ratuuu.." aku menyodorkan piringku ke ibu karena telur ceplok double ku sudah matang.


Tak berapa lama ayah muncul, ia langsung saja duduk di kursi kebesarannya di meja makan.


"Hei, boy.. Where are you going today?" ayah menuangkan sereal ke dalam mangkuk dan melumurinya dengan susu UHT. Ya, setiap pagi begitulah sarapan favorit ayah.


"Ngedate, ayah.." jawabku sambil mengunyah double ceplok.


"Hm, good. Puncak, take her to Puncak!" saran ayah


"Eh, jangan, Sut! Kejauhan ayah.. Nanti flight Sutra gak keburu, pasti macet!" bantah ibu

__ADS_1


"Ke Ancol aja.., ajak maen di Dufan" sambung ibu lagi. Ibu menyodorkan teh manis hangat padaku dan susu hangat untuk ayah.


Hahaha, aku dan Kama yang mau kencan tapi mereka yang mikirin tempatnya. Memang sih kalau ku ajak Kama ke Puncak pasti seru, tapi waktunya mepet dan perjalanan pulang perginya pasti macet. Dan kalau ke Dufan, aku gak mau! Aku belum bisa melupakan kenangan buruk saat aku hampir saja menabrak Kama didepan pintu masuk Dufan. Hampir saja aku kehilangan dia kalau aku tidak buru-buru menginjak rem dan menarik rem tangan. Sampai rem tangan jeep ayah patah terlalu kencang kutarik. Ayah sampai geleng-geleng kepala melihat mobilnya.


"Siapa mau ke Dufan? Take me, please..." Quiny yang baru saja datang langsung merengek minta ikut. Aah, bisa gagal kencanku kalau Quiny ikut. Mana ada orang kencan bawa adik!


"Gak tau.., ibu tuh yang mau ke Dufan.. Kalau aku sih mau ke Monas, ikut?" aku sengaja mengubah jalur ke Monas, karena Quiny pasti langsung menolak.


"Iikh, gak deh.. I'm so sorry. Better aku pergi ke mall sama Melisa" saut Quiny menolak, persis yang kumau, hehehe.


"Yaudah kalo gak mau ikut.." ayah melirikku sambil senyum, kayaknya dia tau siasatku menghindar dari Quiny, hahaha, ketauan.


Satu jam setengah sudah kami sekeluarga bercengkrama sambil menikmati sarapan hingga berpindah ke ruang tv. Sampai akhirnya aku pamit pergi ke ayah, ibu dan Quiny.


"Bu.., ayah.., Sutra berangkat ya.."


"Hei, my Quin.., hug me please.." aku merentangkan tangan menunggu Quiny datang memelukku.


"Inget, Sut.. Jangan kelamaan main.." ibu mengingatkan


"Have fun, boy.. Sampaikan salam ayah buat Kama" ayah memang the best, selalu friendly dan santai


Quiny memelukku dengan erat, dan tak lupa juga dia mencubit perutku sambil berbisik,


Eh, ngomong-ngomong soal bocah, aku juga akan pergi menjemput bocah dan mengajaknya kencan. Hahaha, mirip pedofile saja aku ini, pencinta bocah. Tapi bocah yang satu ini menggetarkan jiwa dan ragaku. Wajahnya, body nya, bahkan aromanya membuat konsentrasiku pecah kemana-mana. Baru kali ini aku menggelora hingga seperti orang gila berada di dekat wanita sepertinya. Aaah, Kamaa tidak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata...


Aku membawa tas ransel dan sebuah koper kabin di bagasi mobilku. Kemudian aku pun melajukan sedan kuning tercintaku menuju ke rumah Aji. Kurang lebih satu jam aku menempuh perjalanan dari rumah hingga sampai tepat di depan pagar rumah aji. Lantas aku pun turun dan langsung masuk melewati pagar. Pintu depan rumahnya sudah terbuka, tapi aku tetap menekan bel. Dalam tiga puluh detik, Kama keluar menghampiriku.


Masya Allah.., dia sangat cantik! Hari ini Kama lagi-lagi mengenakan dress, tapi dengan tampilan yang casual. Aku sedang beruntung atau apa ya, sudah dua hari aku melihat penampilan yang berbeda dari Kama selama aku mengenalnya.


Kama juga menggerai rambut keritingnya yang tampak sedikit basah. Pasti tadi pagi dia baru saja keramas, aroma shampo nya begitu lekat tercium dihidungku. Aduuuh, jantungku ser-seran, bayanganku jadi kemana-mana. Dia sungguh-sungguh mirip Maria Marcedes! Sumpah..! Apalagi kulit cokelatnya itu, aiiih, betul-betul menggoda! Eksotis! Huufft, mulai geleteran deh aku ini..


"Mas.., mas..." aku kaget melihat Kama mengayun-ayunkan tangannya di depan wajahku.


"Eh, iya.."


"Kok bengong? Daritadi saya ngomong diam aja!" aku sampai gak denger dia ngomong apa sanking terpesonanya.


"Ah maaf, tadi kamu bilang apa?" tanyaku lagi dengan tampang bodoh. Ya, pasti sekarang tampangku kelihatan bodoh karena habis terkesima melihatnya.


"Saya bilang, mau masuk gak? Saya mau ambil tas dulu dikamar"


"Masuk aja, Adrian.. Sini.., kamu udah sarapan?" aku mendengar suara Aji menyahut dari dalam. Eh, tumben aji baik? Jadi dia beneran sudah tobat? Tidak ketus lagi padaku? Ahaha, tau gitu, dari awal aku sampaikan kalau aku anak ayah, Mr.William Zanyar.

__ADS_1


"Ayo masuk mas.., dipanggil Aji tuh.. Saya ke kamar dulu" Kama meninggalkan ku, dan aku pun masuk terus kedalam hingga sampai di meja makan tempat Aji dan tante Lulu duduk.


"Udah sarapan kamu?" tanya aji


"Hi, handsome.. Masih ada kentang panggang nih, breakfast yuk.." tante Lulu menawariku makan. Hehehe, kentang panggang, menunya sama seperti dirumahku.


"Makasih, tante.. Saya sudah sarapan kok, aji.. Oh ya, ayah dan ibu titip salam" aku sengaja memancing respon Aji dengan titip salam dari orangtuaku, padahal tidak ada sama sekali.


"Oh ya, titip salam balik untuk Mr.Zanyar dan istri. Kami senang bisa kenal dekat dengan mereka. Kamu juga kenapa gak bilang dari awal kalau kamu anaknya Mr.Zanyar.." saut Aji


"Saya gak tau kalau Aji kenal dengan ayah"


"Kalau saya tau dari awal, kan saya gak perlu was-was sama kamu. Hehehe" Aji tertawa kecil


"Kamu sih, honey..! Cemburu gak jelas! Kasian Adrian kamu jutekin terus dari awal!" sambung tante Lulu


"Hehehe, aku terlalu cinta sama kamu, dan terlalu sayang dengan Kama" saut Aji lagi. Oh ternyata Aji family man juga, persis seperti ayah.


Tak berapa lama Kama turun dengan tas ranselnya.


"Udah siap, mas.. Yuk.." ajak Kama


"Ah ya, Aji.., tante.., kami pamit pergi ya.. Nanti saya sekalian antar Kama ke Depok" aku menyalami Aji dan tante Lulu bergiliran, diikuti Kama setelahnya.


"Oke.., hati-hati ya.." jawab Aji


"Becarefull, sayang.." saut tante Lulu pada Kama.


Aku dan Kama masuk ke dalam mobil dan berjalan pelan keluar dari komplek rumah Aji.


"Kita mau kemana, mas?" tanya Kama


"Kita ke Pulau Tidung, yuk.., mau?" ajak ku padanya


"Hah, dimana itu? Jauh, gak? Ntar kamu telat ke bandara.."


"Pulau Seribu. Insya Allah, gak.. Kita naik yacht dari dermaga Marina di Ancol. Baju kamu juga udah pas banget itu ke pantai, cantik.." aku sudah gak tahan ingin memuji penampilannya daritadi dan responnya hanya diam dengan sedikit sekali senyum. Huuft, inilah yang kusebut dia tidak bisa ditebak, entah senang atau tidak dia kupuji akupun tidak tau.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Aseeeek...Pulau Seribuuu 😍😍


Yuuk, yang mau ikutan grusukin kencan mereka, hayuuuk..

__ADS_1


__ADS_2