
Please jangan lupa tinggalin jempol dan vote nya ya biar authornya makin semangat π€π
happy reading..
.
.
Ida Ayu berjalan mendekati Kama, melebarkan tangan menunggu anak gadis satu-satunya masuk dalam pelukan. Sudah hampir lima bulan mereka tidak bertemu, sejak Kama memutuskan kuliah di UI. Rindu yang tertahan serta rasa sakit mengetahui kenyataan penyakit Kama membuat airmata Ida Ayu tak terbendung lagi.
"Biang jangan nangis.., Kama minta maaf ya.." Kama melonggarkan pelukan, menghapus airmata Ida yang menetes. Reflek airmata gadis itupun ikut jatuh. Bukan karena penyakitnya yang kambuh namun ini mengenai ibu kandungnya sendiri. Perasaan bersalah karena sempat lari kemarin.
"Kamu juga nangis tuh.." sekarang giliran Ida yang mengusap lembut pipi anak gadisnya.
Pemandangan menyejukkan ibu dan anak itu disaksikan oleh banyak pasang mata. Seketika mereka semua ikut merasakan keharuan yang sama. Kecuali Sutra, pria itu merasa gelisah, menunggu vonis yang akan jatuh untuknya nanti dari Datuk Emran.
"Kama mau ngobrol, tapi cuma berdua dengan Biang, boleh?" gadis itu sudah berpikir matang-matang sejak didalam taksi tadi. Ia ingin bicara empat mata dengan ibunya lebih dulu sebelum memulai pembahasan dengan ayahnya.
Ida Ayu mengangguk, wanita paruh baya itu melirik mantan suaminya sekilas, meminta pengertian agar Datuk Emran bisa memahami permintaan Kama dan tidak salah paham. Datuk Emran menyambut dengan senyuman. Pria itu percaya bahwa mantan istrinya bisa menjelaskan semua pada Kama dengan lebih baik, karena dialah ibu kandungnya.
Kama lantas mengikuti langkah ibunya, mereka masuk kedalam menuju kamar Ida Ayu.
Diruang tamu tersisa Datuk Emran, Sutra dan Wayan. Kaki Sutra masih tegang, ia masih berdiri menunggu respon dari Datuk Emran. Wajahnya sudah tidak karuan, rasa malu, tidak enak hati dan rasa bersalah campur aduk dalam benaknya.
"Bang.., ini yang namanya Adrian, pacar Kama" Wayan memperkenalkan Sutra pada Datuk Emran.
__ADS_1
Dengan telapak tangan yang basah Sutra menjabat tangan Datuk Emran yang sudah berdiri dihadapannya dengan jarak dua meter.
Datuk Emran menyambut tangan Sutra. Ia bisa merasakan tangan Sutra yang basah saat itu.
Hm.., tangannye basah. Ai yakin sangat, die dah gugup bejumpe dengan ai. Jadi betol die ni boyfriend Kama. Hebat betol! Depan mate ai, but ai tak tau die sape selama ni
"Jom, duduk lah.." saut Datuk Emran setelah perkenalan yang pura-pura itu. Tidak ada senyum sama sekali dari bibirnya. Padahal selama ini dia begitu ramah pada Sutra.
Sedikit bergetar Sutra akhirnya duduk. Wayan yang tidak mengerti apa-apa melanjutkan kalimatnya.
"Adrian.., Bang Emran ini adalah ayah kandung Kama" sekarang giliran Wayan memberitahukan kenyataan yang begitu mengejutkan bagi Sutra.
Apa?? Ayah?? Oh no! Bagaimana bisa ada kebetulan yang seperti ini?! Jadi selama ini aku kerja pada ayah Kama?
"Adrian ini sebelumnya adalah dosen Kama dikampus Bang. Wayan pun tidak tau pasti kapan mereka memulai hubungan. Tapi sejauh yang Wayan ketahui Adrian anak yang baik dan sopan" jelas Wayan dengan penuh keyakinan. Sedikit poin plus buat Sutra atas penjelasannya itu.
"Oh, macem tu" respon Datuk Emran sangat biasa, membuat Sutra makin bingung, tidak tau apakah ayah dari pacarnya itu akan marah atau tidak.
Hm.., bole la.. Macem mirip sikit kisahnye dengan ai dan Ida. But ai tetap tidak suke Kama punya boyfriend!
Tiba-tiba Dian, babysitter Jason muncul, ia mendekati Wayan dan menyampaikan pesan dari Lulu.
"Oke, bilang sama ibu saya kesana sebentar lagi" ucap Wayan pada Dian.
"Bang, maaf, Wayan permisi dulu lihat Jason dan Lulu dikamar ya" Wayan pamit pergi dari situ.
__ADS_1
"Ah ya, pi lah" jawab Datuk Emran singkat.
Sekarang tersisa Sutra dengan Datuk Emran yang duduk berhadapan diruang tamu villa. Sutra menunduk, ia betul-betul gugup saat ini. Kalau saja Datuk Emran bukan ayah dari Kama, ia pasti tidak akan segugup ini. Masalah yang paling berat buat Sutra bukan lagi soal proyek yang bisa saja batal, melainkan kelangsungan hubungannya dengan Kama.
"So, macemane urusan family yu di Jakarta? Dah siap?" Datuk Emran mengawali obrolan mereka dengan pertanyaan menjebak.
"Ah, ee.., y-ya Datuk. Sa-saya mengaku sudah berbohong" Sutra mengangkat kepalanya, meyakinkan diri untuk bicara jujur sekarang.
"Urusan keluarga yang saya maksud adalah urusan dengan Kama. Bagi saya Kama adalah bagian dari keluarga saya, masalahnya adalah masalah saya. Saya tidak bisa membiarkan Kama berangkat sendiri ke Bali ketika saya tau kalau Kama memiliki masalah dengan mafia tanah. Kekhawatiran saya terhadapnya begitu besar, membuat saya harus meninggalkan tanggung jawab di proyek" Sutra menjelaskan apa yang sedang ia lakukan bersama Kama di Bali.
"Saya, saya siap menerima resiko apapun dari Datuk, sekalipun itu resiko yang sangat fatal atas kelangsungan kerjasama kita. Lebih baik saya kehilangan pekerjaan daripada harus mendengar kabar tidak enak dari orang yang saya cintai" Sutra menghembus napas panjang, ia sudah siap menerima jawaban sepahit apapun dari Datuk Emran nanti.
"Soal hubungan s-saya dengan Kama, saya tidak main-main Datuk. Saya serius. Ini pertama kalinya saya punya hubungan special dengan seorang perempuan. Dan saya sangat yakin untuk itu" dengan mantap Sutra mengucapkan kesungguhannya pada Kama.
"Awalnya saya tidak berniat pacaran dengan anak gadis Datuk. Tapi keadaan mengharuskan saya mengikat Kama dengan hubungan ini, kalau tidak saya pasti akan menyesal. Saya janji saya akan menjaga Kama sebaik mungkin. Dan saya tidak akan melakukan hal diluar batas dengannya" sambung Sutra lagi.
Ciuman tadi malam cuma khilaf. Tapi aku janji gak akan terulang lagi, walau sesungguhnya begitu nikmat. Eh, gak-gak! Gak boleh!
Datuk Emran mendengar dengan seksama semua ucapan Sutra. Ia kagum dengan keberanian Sutra memilih, padahal ia belum berkomentar apapun soal kebohongan ijin Sutra. Menandakan kalau Sutra adalah laki-laki yang bertanggungjawab, siap menerima resiko atas apa yang dilakukan.
Tak salah penilaian ai kat die ni. Patot dari awal bejumpe ai dah suke. But, ai tak nak lah relationship macem tu! Tak patot! Macemane pule nanti-nantinye?
"Oke, untuk masalah proyek, ai tak nak bahas kat sini! Biar nanti yu dan ai bicara di KL. Dan untuk relationship yu dengan Kama, ai tak suke! Ai tak nak dengar relationship macem tu!" jawaban Datuk Emran jelas, ia tidak setuju dengan hubungan Kama dan Sutra. Seketika badan Sutra lemas, darahnya serasa turun semua ke kaki. Ia tidak bisa lagi berfikir. Semua sudah dijelaskannya dengan begitu baik, namun Datuk Emran tetap menolak.
Hancur sudah semuanya...
__ADS_1