
Eh eh guys pencet LIKE dan VOTE-nya dulu donks, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€
sarang buruuuung, eh sarangheyo ππ
-
-
Ternyata yang datang adalah the king of mecin - ajinomoto, eh maksudnya adalah Tuan Sakamoto. Tatapan matanya yang tajam seolah menembus tirai yang menutupi ranjang pasien tempat Chelsea terbaring. Ia lalu melangkah cepat menuju ke sana.
Sreet ...
Alhamdulillah Chelsea dan Dega sudah kembali ke posisi aman. Tidak ada lagi adegan cap-cip-cup di antara mereka. Kalau tidak, bisa-bisa Dega dibantai Tuan Sakamoto saat itu juga. Dega berdiri tegak di samping ranjang, sementara Chelsea berbaring lemah.
Tuan Sakamoto melirik Dega, matanya kembali melihat sandal kiri-kiri yang di kenakan laki-laki itu.
"Cih, bisa-bisanya aku berurusan dengan laki-laki bodoh sepertinya," umpat Tuan Sakamoto dalam bahasa Jepang.
Dega yang tak mengerti apa arti perkataan Tuan Sakamoto malah tersenyum lebar lalu mengangguk.
"Eh, Babe, maapin aye, tadi aye belom salim," ucap Dega sembari mencium tangan Tuan Sakamoto. Namun cepat-cepat ditariknya.
"Chelsea, apa yang diucapkan si bodoh ini? Buat apa dia mencium tangan Papi?" Tuan Sakamoto bertanya pada anaknya.
"Dega memberi salam hormat, Pi," jawab Chelsea.
"Cih, tidak perlu!" tegas Tuan Sakamoto.
"Terus kalian sudah selesai bicara kan? Maka sekarang katakan padanya untuk pergi dari sini. Dan jangan pernah lagi muncul di hadapan kita," sambung Tuan Sakamoto lagi.
"Enggak, Pi. Chelsea gak mau. Chelsea gak mau pisah lagi dari Dega," saut Chelsea serius. Sesungguhnya ada rasa takut yang besar di benaknya melawan ayah, namun perasaan ingin bersama Dega jauh lebih besar lagi. Mungkin karena ia sudah mengandung anak dari hasil kolaborasinya bersama Dega, membuat ia berani berucap demikian.
"Cukup, Chels! Kamu jangan main-main dengan Papi. Sekali Papi bilang tidak, selama akan terus sama!" Mata sipit Tuan Sakamoto sedikit melebar. Menandakan kalau ia tidak bisa ditentang.
"Kalau gitu Chelsea gak mau ditindaklanjuti oleh dokter. Biarin aja Chelsea sakit terus begini," ancam Chelsea dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Dega yang menangkap ada perdebatan antara anak dan ayah itu hanya diam dalam kebingungan.
Ni anak ame babe kayaknye lagi ribut nih. Ape lagi ngomongin gua ya? Duh, Chels, gua kagak tega liat lu nangis lagi gara-gara gua. Lagian nih ajinomoto galak amat sih kagak ade sayang-sayangnya ame anak.
Aah, nyesel gua kagak bise bahasa Jepang. Jadi kagak tau ape yang mereka omongin. Kalau begini ceritanye mulai besok gua bakal nontonin bokep Jepang dah ah. Biar dapet dua ilmu sekaligus.
Maklum ya guys, Dega memang selalu berpikir ringkas. Maksudnya nonton bokep Jepang adalah agar bisa belajar bahasa Jepang sekaligus belajar seni bela diri Jepang di atas ranjang.
"Kamu berani ngetes Papi, Chels? Kamu tau betul Papi seperti apa kan? Cukup lima menit Papi bisa bikin laki-laki ini tidak akan menghirup udara lagi dan kamu pasti akan menyesal!" Emosi Tuan Sakamoto semakin tinggi. Tangannya mulai mengepal.
Mendengar ucapan ayahnya, air mata Chelsea tak bisa dibendung lagi. Bulir hangat menetes dari kedua sudut matanya. Tangan kanan Chelsea lantas mendekat ke tangan kirinya yang terikat jarum infus dan transfusi.
"Kita liat siapa yang akan menyesal," ucap Chelsea sembari menarik paksa jarum infus di tangan kanannya. Seketika darah mengucur deras, menetes ke ranjang bahkan ke lantai rumah sakit.
"Kalau Dega mati, Chelsea juga," sambung Chelsea lirih.
"Chels ..., dokteeerr ...," teriak Dega panik. Laki-laki itu berlari ke sisi kiri ranjang untuk menekan nadi pujaan hatinya.
Sementara itu emosi Tuan Sakamoto seketika memuncak. Tangannya yang terkepal tadi langsung saja melayang ke besi pinggir ranjang, menumpahkan amarahnya.
Sontak darah juga menetes dari punggung jari jemari Tuan Sakamoto. Ealah Tuan Sakamoto, besi kok di pukul, ya modaarr tu tangan.
Dokter dan suster yang baru datang heran melihat keadaan yang terjadi. Mereka segera menangani ayah dan anak itu sekaligus. Pendarahan nadi Chelsea di atasi lalu kemudian kembali memasangkan jarumnya. Sementara Tuan Sakamoto, kondisinya lumayan serius. Dia jarinya retak akibat benturan keras menghantam besi. Untung saja tidak sampai patah.
Setelah keadaan kembali kondusif, Dega mulai menenangkan pujaan hatinya.
"Chels, lu apa-apaan sih? Bikin gua takut aje. Kalau lu kenape-nape gua bakal jadi duda donk," rengek Dega dengan kalimat bodohnya. Rasa percaya diri laki-laki itu sangat tinggi, belum juga menikah dengan Chelsea tapi dia sudah merasa jadi suami.
Chelsea tersenyum tipis, bukan lantaran lucu atau terhibur, melainkan ia membayangkan Dega juga akan mati dibunuh oleh ayahnya.
"Emang tadi Babe lu ngomong ape sih? Nyeritain gua ya? Ampe marah banget kayak begitu. Noh, jarinya retak gara-gara mukul ranjang besi, kasihan mertua gua," ucap Dega.
"Bukan apa-apa kok, Ga. Tapi kamu janji ya, jangan tinggalin aku. Tetap di sini sampai semua masalahnya selesai, mau kan?" pinta Chelsea serius dan Dega mengangguk pasti.
πππ
__ADS_1
Pagi menjelang, selesai solat subuh berjamaah, Sutra dan Kama melakukan ritual kamar mandi bergantian. Setelah keduanya selesai mereka pun turun ke bawah mencari sarapan tanpa sepengetahuan Aiman and the genk.
"Mas, hari ini kita jadi kan bantuin Dega?" tanya Kama saat mereka baru saja sampai di kantin penjual bubur ayam.
"Ha, kapan aku ngomong gitu, Babe?" tanya Sutra heran.
"Tadi malam," saut Kama.
"Enggak ada kok. Aku gak ada bilang mau bantuin Dega. Lagipula apa yang harus kita lakukan lagi, Babe? Kamu kan denger sendiri ancaman si ajinomoto." Sutra memesan dua porsi bubur ayam dan teh hangat untuk mereka.
"Masa kita langsung nyerah sih, Mas? Kasihan kan mereka. Apalagi kita semua udah tau kalau Chelsea hamil anak Dega." Kama masih belum puas.
"Nah, itu Babe, harusnya kita bahas soal itu aja sekarang. Kapan aku bisa hamilin kamu? Sementara Dega yang belum sah aja udah berhasil menghamili Chelsea." Sutra menatap Kama penuh harap. Sementara Kama jadi salah tingkah. Ia melihat ke kiri dan ke kanan, takut ada pengunjung lain yang mendengar percakapan mereka.
"Mas, iih, kamu ada-ada aja deh, bahas-bahas kayak gitu di sini. Nanti kalau ada yang denger kan malu," sewot Kama sembari mencubit lengan Sutra.
"Ssshh, aku kan ngomong kenyataannya, Babe. Kamu apa gak ngiri ngeliat mereka yang udah mau punya dedek bayi?" Sutra mengusap-usap lengannya bekas cubitan Kama.
"Enggak, biasa aja kok," jawab Kama singkat.
"Kok gitu? Kamu gak mau ya bikin anak sama aku, eh maksudnya punya anak sama aku?" Sutra menatap Kama serius.
"Ya mau, tapi mungkin belum saatnya kali. Allah kan Maha Tahu kapan waktu yang tepat untuk kita jadi orangtua, kan kamu yang ngajarin aku soal itu. Masa kamu lupa," jawab Kama.
"Iya aku tau soal itu, Babe. Cuma aku jadi ngiri aja, kok Dega yang baru sekali nyoblos langsung tokcer, lah aku yang udah tiga kali malah gak ada hasil. Apa jangan-jangan punyaku gak bagus ya isinya?" Kegalauan sang mantan dosen membuat otaknya jadi bodoh seketika.
"Iiih, aku gak tau soal itu, Mas ..." Kembali Kama mencubit lengan Sutra. Bersamaan dengan itu bubur ayam dan teh pesanan mereka pun datang.
πππ
Sutra ini diotaknya mikirin hasil senapan milik Komodo Lang yang tak kunjung membuahkan hasil ππ
Kasihan..., sungguh menjadi bebannya lahir batin, ckckck
To be continue
__ADS_1