
Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€π
-
-
Sutra menarik tangan Kama dan meletakkan tepat di atas dada kirinya.
"Semoga detak jantungku bisa bikin kamu percaya dengan semua yang aku katakan ...," ucap Sutra lagi.
Sontak air mata Kama menetes semakin deras. Ia bisa merasakan besarnya perasaan Sutra. Ini bukan hanya sekedar cinta, melainkan seluruh jiwa raga.
Maaasss.........
Jarak mereka yang di pisah oleh meja, mengharuskan Kama berdiri dan berpindah ke sebelah Sutra. Kama tak lagi memikirkan ada orang lain yang sedang menyaksikan mereka. Ia mendekatkan wajahnya sedekat mungkin dan,
Cup !
Sebuah ciuman hangat dan basah untuk pertama kalinya di mulai oleh Kama di depan beberapa pasang mata.
Loh, kok basah? Soalnya campur nangis haru biru yang menyentuh relung hati terdalam. Siapa yang tidak terharu bisa di cintai sebesar itu oleh seorang laki-laki sempurna seperti Sutra?
Wajahnya yang tampan, matanya yang sendu dan hangat, bibir pink nya yang menggoda, bahkan senyumnya yang menghanyutkan begitu menarik perhatian bagi setiap wanita yang melihat.
Sungguh keberuntungan bagi Kama bisa di cintai oleh seorang Sutra. Laki-laki yang bisa di kategorikan alim, karena mampu menyimpan hasratnya rapat-rapat hingga ia bertemu dengan seorang Kama. Kama Leandra Rahayu, gadis Bali yang unik dan menarik tapi menyebalkan dengan semua keanehannya.
Acara makan malam terpaksa selesai lebih awal. Aksi nyosor Kama tadi membuatnya malu sendiri dan mengajak Sutra kembali ke kamar.
"Hehehe, udah Babe ..., kan kita udah di kamar, kok mukanya masih merah gitu?" tanya Sutra sembari membuka sleeping bag mereka.
"Masa sih muka aku masih merah?" Kama bertanya balik.
"Coba ngaca di hape, deh," saut Sutra.
Kama lantas mengeluarkan ponsel dari saku jaket tebalnya. Ternyata memang benar, wajahnya memerah. Bahkan lebih merah dari biasanya, seperti baru ketumpahan air lunturan di ember cucian.
Aneh, kok mukaku jadi gini ya ...
Di rabanya pipi dengan kedua tangan.
Uuuuuuuh, dingin banget. Wajahku kayak beku!
Kama merasa kulit wajahnya tertarik semakin kencang. Tidak ada lagi bagian yang hangat di sana.
Huuuuuuffft, lagian Abah aneh-aneh aja! Masa bisa kepikiran kirim kami ke sini! Bukannya bahagia malah tersiksa! DINGIN BANGET!!!!!
Kama sibuk dengan hawa dingin yang semakin menusuk tulang. Sementara Sutra sudah siap dengan pekerjaannya. Sleeping bag sudah tertata rapi di atas tempat tidur.
__ADS_1
Sesungguhnya ranjang di kamar tempat mereka menginap sudah di lapis dengan kulit rusa, namun karena dinding dan semua perabotan terbuat dari es, hawa dingin tetap mendominasi. Jadi pihak hotel menyediakan sleeping bag sebagai tambahan bagi tamu yang membutuhkan.
"Kamu mau langsung tidur atau kita keluar lagi, Babe?" tanya Sutra.
"Keluar? Hiii, gak deh! Apa gak ada tempat yang anget ya di sini, Mas?" Kama mengusap-usap telapak tangannya. Walau sudah mengenakan sarung tangan, tapi rasa dingin masih menusuk kulitnya.
"Hehehe, sini-sini, masuk sini yuk, biar anget." Sutra mengajak Kama masuk ke dalam sleeping bag, lalu mengancingkannya sampai tertutup hingga ke leher.
"Gimana, udah anget kan?" tanyanya.
"Haaaah, lumayan." Sanking dinginnya napas Kama sampai mengeluarkan kabut.
"Sini aku peluk." Sutra membuka tangan, membiarkan Kama masuk dalam dekapannya dengan posisi tidur. Sekarang mereka sudah berpelukan.
"Udah anget?" tanyanya lagi.
"Heum ..., ya," jawab Kama singkat. Tubuhnya yang sempat merasa begitu kedinginan membuatnya jadi malas berkata-kata.
Sambil mengusap-usap tubuh Kama dengan tangan yang satunya, Sutra pun bercerita.
"Aku terakhir kali kesini waktu usia 9 tahun, sama ayah, ibu, dan Quiny. Waktu itu Quiny baru 1 tahun. Rasanya seru banget kalau udah ke sini. Setiap malam aku sama ayah berburu aurora sampai ke tepi danau. Sanking sukanya ngeliat aurora aku sampai punya impian untuk balik ke sini dengan orang yang paling berarti di hidup aku, dan alhamdulillah itu kamu ...," ucapnya.
"Hm ...," jawab Kama.
"Eh, maksudnya?" tanya Kama heran.
"Kamu jangan cemburu dulu, Babe,"
"Aku gak cemburu, Mas. Cuma bingung aja sama kalimat kamu. Umur 9 tahun tertarik sama cewek, itu bukan berarti sebelumnya kamu tertarik sama cowok, kan?" tanya Kama polos. Mungkin otak pintar Kama sudah hampir membeku hingga ia bisa berpikir sampai ke situ.
"Hahaha ..." Sutra terkekeh.
"Apa perlu aku buktiin sekarang? Kamu siap?" Sutra melonggorkan pelukan, sedikit menunduk memandang wajah Kama yang masih merah sembari melempar senyum menggoda.
"Ih, apaan sih, Mas!" seru Kama sambil mencubit lengan Sutra.
"Makanya jangan mikir yang aneh-aneh. Aku pejantan tangguh, tau ... Kan kamu udah cobain waktu itu ..." jelas Sutra dengan senyum lebar. Ia kembali mendekap erat Kama.
"Hih, kelewat tangguh itu, sih!" celetuk Kama.
"Kamu gak suka ya?" tanya Sutra.
Sereeeemmm, gede banget gitu! Hiiiii........
"Sakit banget, tau!" Kama teringat dengan rasa sakit yang di alaminya saat malam setengah coblos mereka waktu itu.
Halah, Kama. Baru setengah coblos udah recok. Padahal kan tombaknya tumpul, di jamin tidak akan mati. Cuma ya maklum ajalah kalau jumbo. Namanya juga produk import. Lele aja yang jumbo enak, apalagi itu, ya kan guys? Hihihi.
__ADS_1
"Ah, iya, aku minta maaf, Babe ... Ntar deh aku cari tau gimana caranya biar gak sakit," saut Sutra.
Ih, Mas Adrian ....
"Yaudah, terusin cerita yang tadi aja!" Kama memutus obrolan malam setengah coblos.
"Iya, terakhir kali liburan ke sini, aku ketemu anak cewek. Wajahnya lucu, matanya cantik, kulitnya cokelat kayak kamu. Aku gak tau siapa dia, karena gak sempet kenalan. Tapi waktu itu aku naksir sama dia. Sampai aku ceritain ke ayah, hehehe." Sutra tertawa kecil mengingat masa lalunya.
"Siapa tau dia jodoh kamu, Mas" jawab Kama asal.
"Aku gak mau," ucap Sutra.
"Kenapa? Bukannya kamu naksir sama dia?" tanya Kama yang otaknya belum cair dengan sempurna alias separuh beku.
"Karena aku gak cinta sama dia. Aku cintanya sama kamu ...," jawab Sutra.
"Memangnya kamu rela kalau aku jodoh sama dia?" Sutra balik bertanya.
"Aku culik aja dia" lagi-lagi Kama menjawab asal.
"Loh, kok jadi dia yang kamu culik?" Sutra makin heran dengan ucapan Kama.
"Biar kamu nyariin dia dan pasti ketemu aku. Udah deh, aman. Aku tinggal nunggu kamu minta nomer hape aku kayak waktu itu. Waktu kamu pura-pura gak bisa ngisi kelas dan nitip bahan materi ke aku." Ternyata Kama mengingat kisah mula Sutra meminta nomor ponselnya.
"Ha, hahaha ... Jadi dari awal kamu tau kalo aku cuma pura-pura waktu itu?"
"Awalnya sih aku gak tau, eh bukan, lebih tepatnya gak perduli. Tapi, makin kemari aku jadi paham sendiri," jawab Kama.
Sutra salah kalau mengira Kama sebodoh itu. Selama ini Kama bukan tidak tau, hanya saja ia tak perduli. Dan ketika ia sudah perduli, ia langsung paham dengan semua maksud Sutra padanya selama ini.
Cinta dapat merubah segalanya. Sekeras apapun kita dapat berubah lunak hanya karena sebuah kata cinta.
Kama yang semula sangat kedinginan perlahan mulai menghangat dalam dekapan sang pujaan hati. Bukan hanya kehangatan dari suhu tubuh yang di hantar oleh Sutra pada Kama, namun kehangatan dari hati lewat kata-kata manis yang ikut ia lontarkan.
Perbincangan ringan mereka pun terus berlanjut hingga satu jam, sampai mereka berdua tertidur dengan posisi saling memeluk.
Berhubung pembagian waktu di Swedia sangat unik, di musim dingin terasa lebih panjang malam karena langit yang cenderung gelap maupun mendung, padahal sebenarnya tidak. Oleh sebab itu hanya dalam 3 jam Kama dan Sutra sudah harus bangun lagi menyambut datangnya waktu solat subuh.
Sutra menjadi orang pertama yang terbangun dari tidur. Ia membuka mata dan melihat tubuh Kama yang masih dalam pelukannya. Di longgarkannya pelukan untuk menatap wajah cantik sang pujaan hati, tapi bukan kebahagiaan yang ia dapat, melainkan keterkejutan.
πππ
Loh? Kenapa??? Kenapa dengan Kama gaes???
Kok Sutra terkejut? Ada apa sih sebenernya??
Yuk kepoin di next eps π
Cekidot gaes π€
__ADS_1