
Please jangan lupa tinggalin jempol dan vote nya ya biar authornya makin semangat π€π
happy reading..
.
.
Kama membuka tas selempang kecil yang sejak tadi dibawanya, yang hanya berisi dompet, ikat rambut, pena, dan ponsel. Ia lantas mengambil ponsel dan membuka kunci layarnya. Ternyata sejak tadi Sutra sudah meneleponnya hingga dua puluh kali panggilan.
Ditekannya cepat kontak nama Sutra untuk menelepon balik.
"Halo, Ka-" kalimat Sutra terpotong
"Mas, jangan ngomong! Cukup dengerin aku! Aku share lokasi aku sekarang, tapi cuma kamu yang boleh tau! Yang lain gak boleh! Sekalipun itu Biang atau Aji!" Kama segera memutus sambungan telepon setelah ia selesai bicara.
Gadis itu berpindah ke aplikasi wa untuk mengirim lokasi keberadaannya pada Sutra, kekasihnya itu.
Sambil menunggu Sutra, ia juga tak lupa mengirim pesan lain.
-Kama-
Sekalian beliin air, aku haus!
Sutra kayaknya lebih mirip pesuruh Kama daripada pacar.
Sambil menunggu kedatangan Sutra, tiba-tiba seorang pria bule tampan dengan rambut cokelat bermata senada menghampiri Kama. Usianya sekitar 34 tahun.
"Excuse me.." sapa bule itu dengan senyum.
Kama hanya meliriknya sebentar lalu kembali memalingkan wajah.
"Boleh sa-ya ber-ta-nya?" ucap bule itu lagi terbata-bata, ia seperti baru belajar menggunakan bahasa Indonesia.
"Mau tanya apa?" Kama bertanya balik
"Sa-ya cari-cari to-i-let ti-dak ada. Kamu tau di-ma-na?" Kama lantas menunjuk ke samping mushalla, tempat ia membasuh wajah tadi. Ia sempat melihat tulisan toilet diatas pintu.
"Masuk kesitu, di dalamnya ada toilet" ucap Kama
"Oke, thank you" ucap bule itu lagi.
Berselang lima menit pria bule tadi sudah keluar dari toilet, ia lalu duduk disamping Kama, di anak tangga yang sama dengan jarak setengah meter diantara mereka.
"Ka-mu sen-diri di-sini? What are you doing?" dengan senyum ramah pria bule itu bertanya.
"Hm.., nothing!" jawab Kama singkat
"Your hair is so cute. I like it" pria bule itu tersenyum pada Kama.
"Oh, thanks" Kama melirik sekilas senyumnya.
Mau apa dia? Kelakuannya mirip Mas Adrian, senyum-senyum gak jelas!
"Oh ya, kenal-kan my name is Josh Cerrada" Josh mengulurkan tangannya pada Kama
"I'm from Belgia" katanya lagi ketika Kama menyambut tangannya.
"Kama" jawab Kama singkat
"What? Your name is Kama?" Josh terkejut, hanya dijawab anggukan oleh Kama.
"I see you're sitting here alone, are you ok? (Aku lihat kau duduk sendirian disini, apa kau baik-baik saja?)" ternyata Josh sudah memperhatikan Kama sejak tadi.
"That means you've been watching me for a while! (Itu artinya kau sudah melihatku sejak tadi!)" Kama melirik tidak suka.
"No! Don't misunderstand me! You're too flashy with your cute hair (Tidak! Jangan salah paham! Kau terlalu mencolok dengan rambutmu yang lucu itu)" lagi-lagi Josh tersenyum. Wajahnya memang makin tampan saat ia tersenyum. Mampu meluluhkan setiap wanita yang melihat. Tapi yang pasti bukan Kama.
Apa katanya? Flashy?
Seketika Kama tersenyum. Ia merasa geli sendiri mendengar kata flashy dari mulut bule itu.
__ADS_1
Persis kayak Mas Adrian, selalu mengataiku menarik, mencolok, menggoda, semua kata yang berarti sama
Saat itu juga Kama jadi ngobrol akrab dengan Josh. Ternyata pria bule itu sudah satu bulan tinggal di Bali. Ia mengelilingi semua spot wisata di Bali setiap harinya. Dan kebetulan hari ini jadwalnya berjalan-jalan di GWK.
Josh mengatakan kalau dia sangat suka melihat rambut Kama yang lucu. Ia juga terkejut saat tau bahwa usia Kama masih enam belas tahun.
"Really? Are you kidding me? I'm even twice your age! (Sungguh? Apa kau sedang bercanda padaku? Usiaku bahkan dua kali dari usiamu!)" tanya Josh tak percaya, ia sampai membuat raut wajah yang lucu lantaran merasa sangat tua dibandingkan Kama. Hasilnya Kama bisa tersenyum kembali karena ulahnya.
Josh juga tak lupa menanyakan alamat social media Kama. Kama yang aslinya cuek langsung memberikannya, dia berpikir kalau dia juga tak terlalu aktif bermain social media, jadi tidak masalah berteman dengan Josh disana.
"Babe.." suara Sutra menghentikan obrolan Josh dengan Kama. Ternyata Sutra sudah sampai dihadapan mereka saat ini. Ia juga sempat melihat Kama tersenyum pada Josh dari kejauhan tadi.
Siapa bule bertato ini? Ngapain dia ngobrol dengan Kama disini? Ah, brengsek! Mana tampangnya lumayan lagi! Tapi masih lebih tampan wajahku lah
"Mas Adrian.." Kama bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekati Sutra.
Reflek Josh ikut berdiri juga,
"Oh, sorry, sa-ya permisi per-gi. Bye Kama.." Josh merapatkan kedua telapak tangannya mohon pamit, lalu melambaikan sebelah tangannya pada Kama sebelum ia pergi. Dan dijawab Kama dengan senyum.
Oke, bagus dia sudah pergi! Aku akan menanyai tentangnya nanti!
"Kamu kok bisa sampai disini, Babe?" sebelah tangan Sutra memegang bahu Kama, dan sebelahnya lagi menyerahkan botol air mineral pada Kama, yang segera diminumnya saat itu juga.
Melihat wajah Sutra, Kama kembali teringat dengan kegalauannya tadi. Ia langsung menelusup masuk ke dada bidang Sutra, melingkarkan kedua tangannya dipinggang Sutra, memeluk laki-laki yang sudah menjadi pacarnya itu dengan erat. Ini pertama kalinya mereka berpelukan dengan posisi berdiri. Tinggi badan Kama yang berbeda dua puluh centi dari Sutra, membuat kepalanya bisa menempel penuh di dada pacarnya.
Ya Allah, Kama meluk aku seerat ini? Dia bahkan begitu menempel didadaku.. Oh, no no no no, ini bukan mimpi kan????
"Aku gak mau balik sekarang.." ucap Kama, membuat Sutra yang sempat membeku karena pelukan Kama, mulai tersadar. Namun kencangnya detak jantung Sutra tidak bisa ia tutupi, Kama pasti mendengarnya.
Sekuat tenaga Sutra mencoba untuk rileks, ia merespon pelukan Kama dengan menempatkan sebelah tangannya di kepala Kama, sambil mengusapnya lembut. Sementara sebelahnya lagi masi mengambang takut Kama salah paham.
"Kamu maunya kemana? Aku temenin.." ucap Sutra.
"Gak kemana-mana, cuma mau peluk kamu, Mas.." jawab Kama jujur.
Ooooh, kalau ini mimpi, jangan sampai aku terbangun!
Pasti dia menyemprotkan parfumnya dibelakang leher. Huuuffftt
Reflek Sutra menundukkan kepalanya, meraih tengkuk Kama dengan hidungnya dan menghirupnya dalam-dalam. Ia seperti menemukan sejumput bubuk terlarang yang pasti akan membuatnya ketagihan setelah ini.
"Mas.." panggil Kama
Mati aku! Ketahuan!
"I-iya" Sutra tergagap.
"Jantung kamu kenceng banget. Kamu naik apa tadi kesini? Lari?" tanya Kama masih terus memeluk Sutra.
Aaaaaahhh...., kiraiinn
"Hehehe.., iya, ngejer kamu. Tapi lari kamu lebih kenceng lagi kan.." sekarang giliran Sutra menikmati aroma shampo Kama. Walau sempat berkeringat habis lari-larian tadi, tapi rambut keriting Kama tetap mengembang, tidak lepek.
"Siapa aja yang ngejar aku, Mas?" tanya Kama lagi
"Aku dan Arya. Tapi tadi Aji telepon, dia ngabarin kalau semua anak buah Abah kamu keliling Bali nyariin kamu" jelas Sutra.
"Aku belum siap ketemu dia Mas" Kama mulai mengungkapkan isi hatinya.
"Kenapa? Kamu belum bisa maafin dia ya..?" Sutra teringat dengan cerita Kama soal kisah masa lalu gadis itu.
"Kayaknya sih bisa, asal ada kamu.." jawab Kama jujur.
"Ha? M.., hehehe, kamu becanda kan.. Kita bahkan belum kenal waktu itu" Sutra tertawa kecil.
"Aku serius. Walau kita baru beberapa bulan kenal, tapi aku tau semua isi hati kamu. Sementara Abah, aku gak kenal dia sama sekali" Kama menarik napas dalam dan mehembusnya perlahan.
Eh, kok..., dadanya naik turun. Aiiih.., bahaya ini, aku bisa gilaaaa
"M.., ka-kamu gak capek peluk aku sambil berdiri gini?" Sutra sudah gak karuan.
__ADS_1
"Capek. Tapi aku mau peluk kamu terus.." Kama melonggarkan pelukannya, ia mendongak menatap Sutra dengan tatapan yang menurutnya galau, namun yang dilihat Sutra berbeda. Sutra melihat wajah Kama yang seolah pasrah melakukan apapun dengannya.
Astaga! Tatapan apa itu Babe?? Wajah kamu seperti minta diiii...., aaaah..., otakku kacau!
"Kita cari hotel yuk Mas.." ajak Kama setelahnya.
What? Oh God! Aku gak tau ini keberuntungan atau malah sebaliknya. Tapi apa aku siap melakukannya....
Pucuk dicinta ulampun tiba. Begitulah pribahasa yang bergelayut diotak Sutra saat ini. Ketika dia sudah berpikir kearah dewasa, Kama langsung mengajaknya mencari hotel.
"A-apa?" tanha Sutra gagap.
"Kita gak mungkin balik ke villa oma Vivi, pasti udah kamu kasi tau mereka kan alamatnya!" wajah Kama berubah kesal.
Hah? Aaaah, dia ini! Wajahnya berubah-ubah dengan cepat! Sebenarnya maunya apa sih?
"Kakiku pegel abis lari-larian tadi! Aku mau istirahat.." sambung Kama lagi.
Ooh, cuma mau istirahat ternyata
Sutra lantas meminta Kama duduk sebentar sementara ia mencari hotel terdekat lewat aplikasi online. Setelah sepuluh menit semuanya beres, Sutra bahkan sudah membayarnya dengan virtual account yang ia miliki.
"Udah beres, yuk jalan.. Hotelnya deket kok" Sutra mengulurkan tangannya mengajak Kama pergi.
"Jalan? Pesen taksi online aja deh, kakiku pegel banget" Kama menolak.
"Udah Babe. Taksinya pasti nunggu di depan, kita harus jalan dulu keluar dari area GWK" jelas Sutra. Dengan terpaksa Kama bangkit dari duduknya. Namun Sutra sudah menurunkan sedikit badannya memunggungi Kama.
"Ngapain kamu Mas?" Kama heran.
"Naik! Biar aku gendong kamu" perintah Sutra.
"Gak ah! Malu!" Kama menolak tegas.
"Aku gak akan gerak kalau kamu gak mau naik!" tegas Sutra lagi, membuat Kama dengan terpaksa mengikutinya.
Sutra menggendong Kama keluar dari area GWK. Seketika mereka jadi bahan perhatian orang disana. Seorang pria bule yang sedang menggendong gadis manis dengan rambut keriting yang kembang.
"Wow, cowoknya ganteng banget, tapi ceweknya biasa aja.." bisik seorang wanita kurus yang memakai dres panjang warna hijau, mirip Ratu Pantai Selatan.
Huh, gak ngaca dia?! Udah kayak layangan gitu masih ngatain orang!
"Eh, manis banget tuh cewek, rambutnya lucu" bisik seorang laki-laki buncit yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Mau apa si buncit ini? Aku gak suka dia muji-muji Kama!
Akhirnya taksi online yang mereka pesan sudah tampak. Sutra menandainya lewat plat kendaraan. Mereka langsung saja masuk ke dalam mobil. Berselang sepuluh menit mereka sudah sampai di depan loby hotel Four Point by Sheraton Bali.
Kama dan Sutra langsung melangkah masuk. Kama berbisik,
"Mas, kamu ngapain pesen hotel kayak gini?!"
"Loh, kamu gak suka, Babe? Yaudah kita batalin aja.." Sutra menemui resepsionis hotel.
"Maaf mba, saya-" Kama menarik lengan kemeja Sutra, membuat kalimatnya terputus.
"Udah dibayar belum?" bisik Kama lagi
"Udah" jawab Sutra ikut berbisik
"Yaudah, kasi tau nomor transaksinya deh. Aku nunggu disitu" Kama berjalan meninggalkan Sutra.
Huh, aku masih gak paham dengan sifatnya yang satu ini!
πππ
Hahaha
Otak Sutra sudah menghayal setinggi langit, Kama masih anteng dipojokan.
Pantes brewok Sutra lebat, ternyata otaknya lebat jugaaaa π€£π€£
__ADS_1
Nah, kira-kira mereka bakal ngapain aja sih didalam kamar hotel???
Kepoin di next eps gaes....