
Siang berganti jadi sore. Setelah makan siang tadi Ida Ayu, Datuk Emran, serta Wayan dan istrinya pergi meninggalkan villa. Mereka mengecek keadaan cottage milik Ida yang sedang direnovasi, sekaligus mampir berbelanja baju di mall untuk acara pernikahan ayah dan ibu Kama.
Kama yang tidak ikut ditugaskan menemani baby Jason beserta baby sitternya dikamar. Tak berapa lama sebuah pesan wa masuk ke ponsel Kama. Pesan itu dari Sutra. Ia meminta Kama keluar menemuinya dipinggir kolam renang villa.
"Mas.." ujar Kama ketika ia sudah sampai ditempat yang Sutra minta.
"Eh ya Babe, duduk yuk.." Sutra membuka kursi untuk Kama duduk. Mereka duduk berhadapan disana. Diatas meja telah tersedia dua gelas Lemon Tea hangat yang diminta oleh Sutra dari dapur villa sebelumnya. Kebetulan angin sore lumayan sejuk. Setidaknya minuman yang dipesan Sutra bisa menghangatkan tubuh mereka.
"Ada apa?" tanya Kama pada intinya.
Hm.., aaah, aku gak tau harus mulai dari mana ngomong sama kamu, Babe. Ngeliat wajah kamu malah udah bikin aku takut. Bapak sama anak kok persis kayak macan!
"Kok kamu gak ikut mereka tadi?" tanya Sutra berbasa-basi
"Aku gak suka shopping, jadi males ngikut mereka. Lagipula kita kan udah liat cottage kemarin. Jadi aku pikir lebih enak disini nemenin Jason" jelas Kama sembari menempelkan tangannya digelas Lemon Tea. Ia seperti mencari kehangatan disana.
"Kamu kedinginan? Sini pegang tangan aku aja.." Sutra menangkap aksi Kama. Ia membuka telapak tangannya menunggu jemari Kama menghimpit.
"Kok kamu tau?" pertanyaan Kama dijawab senyuman oleh Sutra. Sekarang tangan mereka saling menggenggam diatas meja.
Kalau yang begini aku tau banget, Babe. Kamu aja yang gak tau kepengenan aku. Aah, sudahlah, kamu jadi bikin aku pengen ngulang ciuman tadi malam, heheee
"Babe..." panggil Sutra lagi
"Ya.." tatapan mereka beradu.
"Kamu gak penasaran kenapa Abah kamu ngerestui hubungan kita..?" Sutra mulai membahas hal yang sejak awal ingin dia ungkapkan.
"Memangnya kenapa, Mas? Ada masalah lagi? Abah ngancem kamu?" bukannya menjawab tapi Kama memburu Sutra dengan pertanyaan.
"Gak-gak! Bukan itu maksud aku, Babe.." sergah Sutra.
Aduuuh, gimana sih jelasinnya. Aku juga harus mengajaknya jadi mualaf dalam waktu dekat sebelum kami menikah.. Apa dia siap?
"Terus apa?" tanya Kama lagi
"Hm.., gini, tadi waktu aku ngobrol berdua dengan Abah kamu, aku udah jelasin panjang lebar. Tentang kita.., hubungan kita.., kedekatan kita sebelumnya.., dan keseriusan aku terhadap kamu" Kama mengangguk mendengar ucapan Sutra.
"Tapi, itu semua gak cukup Babe.." sambung Sutra lagi.
"Maksudnya?"
"Abah kamu butuh kepastian. Dan dari penilaian aku, Abah kamu adalah sosok orang yang taat aturan agama"
"Kayak kamu" celetuk Kama.
"Eh enggak, aku masih jauh dari itu. Maksudnya, Abah kamu mengikuti apa yang dilarang dalam agamanya" jelas Sutra lagi.
"Agama kita.." ucapan Kama malah membuat Sutra melongo dan Kama pun tersenyum.
"Aku muslim, Mas. Sejak lahir. Tapi aku baru tau waktu ulang tahun kemarin, makanya baru mau belajar dari kamu" Kama menjelaskan.
"Masya Allah.. Alhamdulillaaah..." reflek Sutra bersyukur dengan apa yang ia dengar.
"Terus Aji dan Tante Lulu?" tanya Sutra lagi.
"Gak, mereka beda. Tapi kita tetap satu keluarga. Gak ada yang bisa misahin hubungan darah kami walau beda keyakinan" ucapan Kama memang benar. Keyakinan boleh berbeda namun hubungan darah tidak mungkin terpisah. Setiap manusia berhak memilih apa yang ia yakini dari hati masing-masing.
__ADS_1
"Aku setuju sama kamu, Babe" Sutra kembali tersenyum lebar. Satu masalahnya selesai. Tidak ada lagi perbedaan diantara mereka, langkahnya untuk menikahi Kama terlewati satu.
"Terus, balik ke cerita Abah tadi, masalahnya apa Mas?" tanya Kama.
"Hm.., ya itu, karena Abah kamu adalah sosok orang yang taat aturan agama, dia..." Sutra masih berat mengutarakan inti masalahnya.
"Dia apa sih?!" Kama makin penasaran, ia menekan kalimatnya.
"Dia.., dia gak setuju kita pacaran.." jawab Sutra pelan.
"Tuh kan, bener! Aku udah curiga! Berarti Abah bohong!" emosi Kama mulai kepancing.
"Eh, bukan Babe! Aduh, kamu salah paham!" Sutra buru-buru menenangkan Kama.
"Salah paham gimana? Kamu jangan berbelit-belit donk, Mas!" bentak Kama sembari melepas genggaman tangan mereka.
"Tunggu-tunggu, kamu tenang dulu! Aku jelasin pelan-pelan ya..." bujuk Sutra.
"Gini, Abah kamu gak suka dengan hubungan yang dinamakan pacaran. Menurutnya pacaran itu cuma menguntungkan laki-laki, namun tidak dengan perempuan. Kamu akan jadi seperti dimanfaatkan oleh aku tanpa mengahasilkan kepastian apapun. Nah karena itu Abah kamu bertanya maksud dan tujuan aku yang sebenarnya apa ke kamu.." Sutra menjelaskan dengan kalimat yang mudah dipahami Kama.
"Terus kamu jawab apa?"
"Aku jawab..." Sutra menjeda kalimatnya.
Huuufft, bagaimana iniiiii
"Babe, kamu dengerin aku baik-baik. Please jangan salah paham sama aku ya.." Sutra kembali meraih jemari Kama. Memohon agar Kama mau memahami apa yang akan dia katakan nanti.
"Cepetan ngomong, Mas! Aku gak suka nunggu lama!" ucap Kama tegas, ia sudah betul-betul penasaran dengan jawaban Sutra.
"Aku menjawab jujur ke Abah kamu. Sejak awal kita dekat, tujuanku cuma satu.. Menjadikan kamu perempuan satu-satunya dihidupku.." jawab Sutra penuh perasaan. Namun Kama terdiam, gadis itu tidak menjawab sama sekali.
Mas.., kalo soal isi hati kamu, aku tau banget. Bahkan aku pun belum tentu bisa memiliki perasaan sebesar kamu ke aku
"Kok kamu ketawa?" tanya Sutra
"Reyhan udah bilang kok kalau dia suka sama aku" Kama teringat dengan ungkapan isi hati temannya Reyhan waktu itu.
"Tuh kan bener dugaan aku! Si cunguk itu udah nguber-nguber kamu!" jawab Sutra tidak suka.
"Tapi sejak awal hati aku milih kamu, Mas. Sampai aku harus konsul ke psikolog" jawab Kama.
"Aah, alhamdulillah.., aku seberuntung itu.. Makasi ya Babe.." Sutra mengeratkan genggamannya.
"Terus sekarang gimana dengan permintaan Abah?" tanya Kama lagi sedikit khawatir. Sutra bangkit dari kursinya. Laki-laki itu berpindah posisi disamping Kama. Ia bersimpuh sembari menggenggam sebelah tangan Kama.
"Babe.., kamu mau kan menikah sama aku?" tanpa cincin dan tanpa persiapan Sutra melamar Kama sore itu. Hanya sunset yang menjadi saksi moment lamaran mereka.
Tak disangka Kama berdiri dari kursinya. Gadis itu melepas pelan tangan Sutra. Ia berjalan ke tepi, bertumpu disalah satu pilar kayu dipinggir kolam. Kama menatap langit, gradasi beberapa warna yang muncul menambah cantiknya langit sore itu. Namun tidak serta merta menghilangkan kebingungan dihatinya atas pertanyaan Sutra barusan.
Menikah? Mas Adrian mengajakku menikah? Apa dia gak salah? Aku bahkan belum cukup umur diperaturan undang-undang negara. Tapi.., ini keputusan yang ditunggu Abah. Dan yang diinginkan oleh Mas Adrian juga sebenarnya! Aku jadi bingung. Aku belum siap jadi istri. Aku gak mau tidur seranjang sama dia, hiii... Tapi aku juga gak mau dipisahin dari dia. Gimana donk...?? Dia yang buat hati aku tenang, dia yang bikin aku bisa ketawa, sedih, kangen, dan semua perasaan lain dihati. Aku jelas gak mau putus sama dia. Huh, ini bukan lagi bicara putus, aku harus buat keputusan..
Sutra berdiri dibelakang Kama dengan jarak satu langkah. Menunggu jawaban dari satu-satunya perempuan yang dicintainya itu.
Babe.., pliis jangan tolak aku! Ini keputusan terakhir agar kita gak pisah. Aku gak sanggup kalau harus pisah sama kamu. Hidup aku pasti kacau. Semua bakal berantakan.
Sepuluh menit Kama berdiri dalam diam, ia terus mempertimbangkan semua kemungkinan yang ada. Namun waktu sepuluh menit itu buat Sutra seperti sedang menunggu bantuan oksigen penyambung hidup. Jika Kama menjawab yes, artinya hidup Sutra masih terus berjalan. Tapi jika Kama menjawab no, artinya hidup Sutra selesai sampai disitu.
Akhirnya Kama berbalik, berhadapan dengan Sutra yang sejak tadi menantinya dibelakang.
__ADS_1
"Aku..., aku mau Mas.." jawab Kama pelan. Wajahnya memerah, ia begitu malu membayangkan akan menikah dengan Sutra. Menikah yang berarti banyak hal diotak Kama. Hal-hal dewasa yang tidak sanggup ia bayangkan hingga tanpa sadar bulu kuduknya pun merinding. Tapi itu keputusan satu-satunya. Gadis itu tidak mau menyesal melepas Sutra dan bertemu dengan laki-laki lain dihidupnya.
Sutra melongo, ia terus menelaah kalimat penerimaan Kama. Berharap kalau ia tidak sedang bermimpi, tidak sedang berkhayal, dan tidak sedang mengada-ada seperti yang biasanya ia lakukan.
"K-ka-kamu serius, Babe?" susah payah Sutra berucap.
Aku gak lagi mimpi kan? Aku gak sedang berkhayal? Aku gak salah dengar kaaaan...
"Iya.., tapi.." jawab Kama pelan.
"Tunggu! Kamu tunggu disini sebentar, lima menit aja.." pinta Sutra. Laki-laki itu berlari meninggalkan Kama. Ia masuk ke dalam villa menuju kamar mandi, mencuci wajahnya dan menyirami kepalanya diwestafel. Memastikan kalau ia tidak sedang bermimpi. Dan ternyata benar. Ia bisa melihat wajahnya yang basah dari pantulan kaca.
Setelah itu Sutra kembali berlari keluar menghampiri Kama dipinggir kolam. Ia menarik sebuah ranting kecil dari pohon didekat situ, menjalinnya berbentuk bulat menyerupai cincin, sebagai tanda lamarannya pada Kama, yang disaksikan oleh langit sunset yang indah sore itu.
Dengan senyum bahagia dan debaran jantung yang luar biasa hebat, Sutra mendekati Kama perlahan. Ia berlutut sembari meraih jemari Kama hendak menyematkan cincin ranting yang baru saja dibuatnya. Namun,
"Mau ngapain kamu, Mas? Terus ngapain itu basah-basahan?" pertanyaan Kama menghilangkan kesan romantis yang hendak Sutra ciptakan.
"Aku.., ini, ee.., maksudnya biar romantis gitu, Babe.. Aku pakein kamu cincin ranting dulu. Next, balik Jakarta aku beliin cincin beneran" sedikit gagap Sutra menjawab.
Kama lantas beralih ke meja, ia menarik beberapa helai tissue dan mengeringkan wajah Sutra yang basah perlahan. Walau terkesan kaku dan tidak romantis sama sekali, namun Kama tulus dengan rasa yang ia miliki untuk Sutra. Gadis itu memiliki bahasa romantis versinya sendiri dengan cara seperti itu.
Masih dengan posisi berlutut, binar mata Sutra tak lepas memandang Kama. Perempuan yang akan menjadi istrinya sebentar lagi.
Rasanya aku ingin menangis sanking bahagianya, Babe.. Kamu benar-benar mau menikah denganku kan..???
"Kayak orang keujanan aja kamu, Mas! Pake basah-basahin kepala" ujar Kama setelah wajah Sutra kering dengan tissue terakhir ditangannya. Ia kemudian duduk di kursi semula.
"Aku pikiiir tadi aku lagi mimpi, jadi aku cuci muka biar bangun. Ternyata ini nyata.." Sutra bangkit lalu menarik kursi untuk duduk tepat dihadapan Kama. Debaran jantungnya belum juga stabil. Emosi bahagia dan haru campur aduk dibenaknya.
"Aku belum selesai jawab kok. Masih ada kalimat yang tertinggal" Kama mengalihkan pandangannya. Bukan cuma Sutra, jantungnya juga mulai upnormal membahas soal pernikahan.
"Yaudah kamu lanjutin" pinta Sutra sembari tak lepas memandang Kama dengan senyum paling menarik yang ia punya.
Huuuftt, dia mulai lagi. Senyum-senyum kayak orang gila. Bikin aku ser-seran!
"Aku.., mau menikah, tapi.." Kama berpikir sejenak. Ragu-ragu ia berucap.
"Apapun itu aku setuju" jawab Sutra cepat tanpa melepas senyumnya. Sanking bahagianya apapun permintaan Kama ia langsung menuruti.
"Serius, Mas? Kamu setuju?" mata Kama mulai berbinar. Sutra sudah mengiyakan sebelum ia membuat pernyataan.
"Iya. Asal bisa bikin kamu seneng, aku juga pasti seneng. Emangnya kamu minta apa, Babe?" tanya Sutra balik tanpa ragu.
"Aku mau kita gak berhubungan suami istri sampai tiga tahun kedepan. Udah itu aja kok" senyum Kama tidak kalah lebar dari Sutra. Hilang sudah kekhawatirannya sejak tadi. Reflek Kama menggenggam jemari Sutra
What?? Apaaa???? Aaaaarrrrgggghhhh....., itu namanya kamu membunuh aku Babe........hiks
Perasaan yang semula bahagia berubah jadi nyeri yang mendalam untuk Sutra. Terlambat sudah untuk menolak. Sutra terlanjur mengiyakan permintaan Kama sebelum ia mendengar lebih dulu. Entahlah apakah ia sanggup bertahan tanpa menyentuh Kama selama tiga tahun. Apakah ada orang yang saling mencintai menikah tanpa melakukan apapun?? Membayangkannya saja Sutra sudah hampir menangis sekarang. Sedang masih pendekatan saja hasratnya sudah meronta-ronta ingin keluar, bagaimana sudah menikah nanti???
"Kamu kenapa, Mas? Matanya berair gitu..?" tanya Kama.
"Ha, e.., gak apa-apa. Aku masih terharu kamu mau menerima lamaranku.." pelan-pelan Sutra menyematkan cincin ranting yang sejak tadi dipegangnya ke jari manis Kama.
"I love you, Babe.." ucap Sutra bergetar, setetes airmata lolos mengalir di pipinya.
"I love you too, Mas.." jawab Kama tak kalah bahagia sembari menghapus airmata di pipi Sutra.
Huwaaaaa...., tega kamu Babe... Kumenangiiiiiiiiiis membayangkan betapa kejamnya dirimu atas dirikuuuuu.... Tiga tahun... Seribu seratus hari.. Huwaaaaaa.....
__ADS_1
πππ
No coment, ayuk kita ketawa bareng gaes π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£