When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
BIANG DAN AJI HILANG


__ADS_3

Please jangan lupa tinggalin jempol dan vote nya ya biar authornya makin semangat πŸ€—πŸ™


happy reading..


.


.


Pagi-pagi sekali orang kepercayaaan Datuk Emran datang menemuinya dihalaman rumah. Saat itu Datuk Emran sedang berlari-lari kecil, berolahraga pagi.


"Datuk.." sapa laki-laki berbaju hitam


"Ape sebab? Mesti ada hal buruk nak yu bagi tau?" Datuk Emran menghentikan aktivitasnya, ia langsung curiga, sebab pagi sekali Aiman, orang kepercayaannya itu datang melapor.


"Kacau Datuk, mereka tak paham. Saye dah bilang macam Datuk cakap, tapi-" ucapan Aiman terputus


"Stupid! Ape lagi ni?! Ai dah berulang ingatkan yu pekare ni! Yu nak ancorkan ai depan die?! Setengah mati ai tunggu waktu ni!" lagi-lagi Datuk Emran marah besar, ia mendorong tubuh Aiman dengan keras. Walaupun usianya sudah hampir lima puluh tahun, tapi fisiknya masih sangat oke.


"Sikit lagi ai pun crazy punye anak buah macem yu!" Datuk Emran mengatur napasnya, mengontrol emosi yang sempat memuncak gara-gara laporan Aiman.


"Maafkan saye Datuk, mereka tak begitu paham bahase Melayu. Mereka tangkap berbeza. Tapi saye dah-" lagi-lagi ucapan Aiman terputus


"Shut up! Ai tak nak dengar lagi yu cakap! Siapkan semua! Jom panggil Eliza! Ai tunggu di ruangan satu jam lagi!" Datuk Emran berlalu pergi, ia memikirkan rencana lain didalam kepalanya.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Pagi ini Sutra langsung berangkat ke bandara dengan taksi. Untuk menghindari ketinggalan pesawat, ia dan Kama memilih janji bertemu di terminal tiga bandara Soekarno Hatta. Pesawat yang mereka naiki terjadwal pukul sepuluh pagi.


"Pokoknya Ibu nggak mau tau, kamu harus lapor semua kejadian di sana!" pesan Ajeng saat Sutra pamit berangkat


"Boy, i trust you! Clear all the problem and go home (nak, ayah percaya padamu! Bereskan semua masalah dan lalu pulang)" pesan Mr.Will sembari menepuk bahu Sutra


Sutra tersenyum mengingat pesan ayah dan ibunya yang bertolak belakang. Ayah yang selalu mempercayakan nya tanggung jawab besar, sementara ibu yang terus menganggapnya seperti anak kecil.


Tak terasa taksi yang ditumpangi Sutra sudah berhenti di drof off terminal tiga bandara. Ia buru-buru membayar dan turun. Sambil menggeret koper Sutra mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Kama.


"Halo, Babe, kamu di mana? Aku udah nyampe nih di terminal tiga" ucap Sutra


"Dibelakang kamu, arah jam lima" Kama baru saja turun dari mobil, ia diantar oleh supir keluarga Lulu. Namun Kama tidak sendiri, ada seorang laki-laki berkaus hitam yang ikut turun bersamanya. Mereka lantas jalan beriringan menuju tempat Sutra berdiri saat ini.


"Itu siapa? Kok ngikut jalan disebelah kamu?" tanya Sutra heran, ia merasa tidak nyaman melihat laki-laki yang jalan berdampingan dengan pacarnya.


"Ntar aq ceritain, teleponnya tutup dulu" Kama memutus sambungan telepon.


Semenit kemudian Kama dan laki-laki berkaus hitam itu sampai di hadapan Sutra.

__ADS_1


"Kenalin Mas, ini Mas Arya bodyguard-nya keluarga tante Lulu" Kama langsung mengenalkan laki-laki kaus hitam itu


Hah, Mas? Kupikir cuma aku sendiri yang dia panggil, Mas


"Ah, ya. Hallo Mas Arya" sapa Sutra, ia segera meraih tangan Kama dalam genggamannya, hingga Kama menatapnya aneh, seolah mengatakan, "Kenapa kamu Mas?" tapi Sutra tidak perduli, toh Kama pacarku kok!


"Yuk, kita langsung check ini aja. Tante Lulu udah kirimin aku kode booking nya" Sutra mengajak mereka semua masuk ke dalam.


Tiga jam berlalu akhirnya pesawat yang ditumpangi Kama, Sutra dan Arya mendarat dengan selamat di Bali. Sesungguhnya perjalanan Jakarta-Bali dengan pesawat memakan waktu dua jam lebih saja, namun sebelum berangkat mereka juga harus menunggu di ruang tunggu penumpang lebih dulu.


"Kita langsung temuin Biang ya, Mas!" pinta Kama sembari menggeret koper kabin ditangannya. Sutra berjalan disebelah kanan Kama, sementara Arya disebelah kirinya.


Itu bodyguard apa gak bisa jalan dibelakang Kama aja?!


"Tapi, Babe, omaku jemput kita" saut Sutra


"Kamu punya keluarga juga di Bali, Mas?" Kama sedikit terkejut, dan Sutra mengangguk dengan senyum.


"Aku minta kamu yang sabar ya, omaku cerewet soalnya. Ntar gak usah diambil hati kalau ada kalimatnya yang gak enak" Sutra menjelaskan sedikit sifat omanya.


"Oh ya, saya ingatkan dari sekarang, kita sudah sampai di Bali, dan saya minta mbak Kama jangan jauh-jauh dari saya, paham kan?" suara Arya tegas memperingatkan Kama saat langkah mereka sudah sampai di pintu keluar bagian kedatangan bandara Ngurah Rai Bali.


Halah gayanya tu bodyguard! Aku sendirian juga bisa jagain Kama!


"Ah, itu omaku!" Sutra melambaikan tangan pada omanya.


Lasvi atau yang akrab dipanggil oma Vivi datang bersama dengan suaminya, yang menunggu diparkiran mobil. Mereka semua lantas berkumpul bersama.


"Apakabar cucu oma?" tanya Vivi sembari mencubit gemas pipi Sutra


"Alhamdulillah sehat oma" Sutra memeluk Vivi


"Ah ya, ini yang namanya Kama?" tanya Vivi seteleh melepas pelukan Sutra. Wanita paruh baya itu memandang Kama dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia bahkan memutar badan Kama agar membelakanginya.


"Oma, Kama mau diapain?" protes Sutra, namun Vivi tidak menjawab.


Lalu setelah puas memperhatikan bagian belakang Kama, ia kembali memutar Kama menghadap padanya. Kama santai, ia menurut saja dengan tindakan Vivi.


Kemudian sekarang giliran rambut keriting Kama yang dipegang oleh Vivi.


"Rambut kamu asli atau..?" Vivi bertanya dengan wajah curiga


"Asli, oma" jawab Kama santai


"Hm.., good! Yaudah ayok ke mobil.., opa udah nunggu!" ternyata Vivi menyukai penampilan Kama, ia menggandeng tangan Kama, mengajak mereka semua menuju parkiran mobil.

__ADS_1


Sampai di depan mobil SUV hitam,


"Adrian kamu duduk di depan ya sama opa! Oma mau ngobrol dengan Kama di belakang" perintah Vivi, namun ia baru sadar kalau ada orang lain diantara mereka, yakni Arya.


"Eh, kamu siapa? Kok daritadi ngikutin kita?" Vivi memandang Arya


"Oma, kenalin ini mas Arya. Dia diminta ikut oleh tante nya Kama" Sutra mengambil alih untuk menjawab


"Saya bodyguard mbak Kama, nek" saut Arya tanpa basa-basi.


Duh, udah aku jelasin dengan kalimat yang baik dia langsung ngaku bodyguard


"Bodyguard? Ngapain kamu bawa-bawa bodyguard?" Vivi merasa aneh.


Siapa memangnya gadis ini? Kok dia pake bawa-bawa bodyguard?


"Oma, biar Adrian yang jelasin ke oma perkara ini" Sutra paham dengan kecurigaan omanya


"Oke, kalau gitu kamu duduk didepan!" Vivi menunjuk ke arya


"Kamu dan Kama, duduk bertiga sama oma dibelakang!" sambung Vivi lagi.


Selama perjalanan Sutra menjelaskan permasalahan yang dialami oleh keluarga Kama, hingga alasan tante Lulu menitipkan bodyguard untuk ikut dengan mereka.


"Astaga, jadi begitu. Kasihan keluarga kamu.." Vivi mengusap-usap kepala Kama. Saat memperhatikan Kama dengan teliti dibandara tadi, ia langsung suka pada gadis itu. Sikap Kama yang santai dan cuek, tidak pecicilan seperti perempuan kebanyakan, serta rambut keriting Kama semakin membuat Vivi menyukainya.


"Bantu doa ya oma" saut Kama singkat namun penuh arti.


"Pasti! Sejak di bandara tadi oma suka liat kamu. Ternyata cucu oma pinter juga milih pacar" ini pertama kali Vivi tersenyum pada Kama, dan melirik Sutra secara bersamaan.


Wah, sukurlah kalau oma suka dengan Kama


"Kita langsung temui ibu kamu ya. Oma mau kenalan" sambung Vivi lagi


"Oke, oma" jawab Kama sembari memberitahu alamat kerabatnya, tempat biang dan yang lain menumpang sementara.


Namun ketika mereka sampai ditempat itu mereka tidak menemukan keberadaan Biang, Aji wayan serta pekerja yang lain. Kerabat Kama mengatakan bahwa pagi-pagi sekali ada yang menjemput mereka dari situ. Bahkan ponsel Biang dan Aji tidak bisa dihubungi. Kama jadi kebingungan.


"Mas, gimana ini?" suara Kama terdengar sedikit parau. Gadis itu sudah berpikir yang tidak-tidak, ia begitu kawatir dengan keberadaan Biang dan Aji.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Waduuuh, dimana Biang dan Aji sebenarnya?


Apakah mereka baik-baik saja atau...

__ADS_1


__ADS_2