
Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€π
-
-
Babe........
"Mas Adriaaan...!" tiba-tiba saja Kama tersentak, ia berteriak memanggil nama suaminya.
"Eh, apaan sih lo, Kam, bikin kaget aja!" Mini yang sejak tadi masih ngobrol bersebelahan dengan Kama terkejut dibuatnya.
"M-mas Adrian, Min..." gelagapan Kama menjawab, napasnya seketika naik turun.
"Iya, tapi kenapa? Udah kangen? Kan tadi elo yang minta dia pergi" saut Mini makin heran dengan sikap sahabatnya itu.
Entah kenapa jantung Kama juga ikut berdebar kencang, hatinya tidak tenang. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah satu orang yakni, Sutra Adrian Zanyar. Seperti ada hal buruk yang terjadi padanya. Kama lantas mengeluarkan ponsel, mencoba menghubungi suaminya namun tidak ada jawaban.
Reflek Kama berlari keluar, menuju parkiran mobil, yang diikuti Mini dari belakang.
"Kam, tunggu..." sanking cepatnya Kama berlari Mini sampai kewalahan mengejar.
Hingga sampailah Kama di halaman parkir perpustakaan. Tampak ramai orang berkerumun disana, ada kejadian yang menarik perhatian mereka.
Sembari mengatur napas Kama berhenti tepat dibelakang kerumunan itu. Ia ingin melihat, tapi tubuhnya menolak. Mata Kama lalu berkeliling melihat sekitar, mencari sosok Sutra diantara kerumunan. Tapi tetap tidak ia temui.
"Eh, ada kejadian apa tuh? Rame banget! Gue liat dulu ya, Kam.." Mini yang baru saja sampai setelah menyusul Kama berlari, penasaran dengan kerumunan orang didepannya.
"Wee-woo wee-woo wee-woo" sayup-sayup suara sirene ambulance terdengar menuju kesana. Ternyata ada kecelakaan dibalik kerumunan itu.
Semenit kemudian tiba-tiba,
"KAMAAAAAAAA......." dari dalam kerumunan Mini berteriak memanggil sahabatnya.
__ADS_1
Siapa yang sangka ternyata korban kecelakaan itu adalah Sutra. Laki-laki yang sedang galau dipinggir jalan, tiba-tiba saja ditabrak mobil yang melaju kencang dari arah belakang. Tubuhnya terlempar jauh hingga lima meter kedepan.
Kepalanya terhempas keras ke jalan, membuat darah segar seketika mengalir dari sana. Betapa malangnya nasib Sutra. Laki-laki itu tergeletak tak berdaya tanpa tau istrinya.
Maut, jodoh, dan rezeki adalah tiga perkara yang hanya diketahui oleh Allah Swt. Tidak seorang pun yang bisa mendahuluinya.
πππ
Tubuh Kama bergetar. Airmata tidak berhenti mengalir dari sudut matanya. Napasnya pun memburu, naik turun tanpa henti. Kama terduduk didepan ruang operasi sekarang dengan keadaan yang sangat kacau. Benturan yang keras mengharuskan Sutra menjalani operasi di kepala.
Tidak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulut Kama selain deru napasnya. Ia menangis dalam diam. Kesedihan luarbiasa yang sedang ia alami saat ini, ketika melihat suaminya tergeletak kaku dengan mengeluarkan banyak darah dipinggir jalan.
Pertama kali dalam hidupnya ia merasa sehancur ini. Sakitnya sepuluh kali lipat dari semua hal yang pernah ia alami. Rasa takut pun pelan-pelan menghantuinya. Ia takut kehilangan orang yang paling ia butuhkan dalam hidup.
Mas Adriaaaan.., aku mohon bertahanlah..
Melihat sahabatnya yang kacau, Mini berinisiatip menghubungi keluarga Kama saat mereka ikut di mobil ambulance tadi. Ia tidak tega melihat kondisi Kama. Kama bahkan tidak bicara sepatah kata pun sejak tadi. Ia hanya menggenggam erat tangan suaminya saat di ambulance dengan airmata yang mengalir tanpa henti.
Setengah jam kemudian Wayan dan Lulu sampai dirumah sakit. Mereka berlari dan langsung memeluk Kama yang masih juga bergetar.
Tak berapa lama Ajeng muncul bersama dengan Quiny. Wanita paruh baya itu berlari ke arah Kama.
"Kamaaaaaa..." isak tangis Ajeng pecah. Anak laki-laki kesayangannya sedang berjuang diruang operasi.
"Huwaaa, kenapa bisa sampai begini? Apa yang terjadi?" Ajeng mengguncang bahu Kama, meminta penjelasan atas semua yang terjadi.
Tapi lagi-lagi Kama hanya terdiam kaku, pandangannya kosong. Terkejut dan rasa sedih yang mendalam masih menguasainya. Keadaan kacau Kama belum berubah. Penyakit psikis yang ada pada dirinyalah yang membuatnya menangis dalam diam seperti ini.
Lantas Mini mengambil inisiatip. Ia menghampiri Ajeng, Quiny, Wayan dan Lulu untuk menceritakan kejadian perkara kecelakaan Sutra. Semua yang Mini ketahui ia jelaskan pada mereka. Intinya, kejadian yang menimpa Sutra murni kecelakaan.
Tapi Kama tidak merasa demikian, didalam hatinya ia menyalahkan dirinya sendiri. Kalau saja ia tidak meminta suaminya itu pergi dari Taman Lingkar, mungkin kecelakaan itu tidak akan menimpanya.
Otak Kama terlalu kaku, ia malu menceritakan kenyataan pernikahannya pada Mini di depan Sutra. Bukan karena apa-apa, ia hanya tidak ingin Sutra jadi ge-er mengetahui perasaannya. Karena sesungguhnya, ia pun begitu bahagia bisa hidup bersama dengan orang yang paling dibutuhkannya. Apalagi saat ia diam-diam menikmati wajah Sutra yang tampan sedang tertidur pulas. Pemandangan terindah yang ia temui selama seminggu pernikahan mereka.
__ADS_1
Aku gak mau pisah dari kamu, Mas... Kumohon bertahanlah..., demi aku..., demi kita...
Tapi sekarang semuanya berubah. Ketakutan semakin menyelimuti batin Kama. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti tanpa Sutra disampingnya. Walau hubungan mereka kaku, tapi Sutra lah orang yang paling mengerti dirinya, paling sabar menghadapinya, dan paling mencintainya lebih dari apapun. Kama tau betul akan itu, karena ia bisa merasakan isi hati suaminya.
Satu jam berlalu, belum ada tanda apapun dari ruang operasi. Hanya satu orang suster yang keluar sembari berlari kencang. Entah apa yang terjadi yang pasti bukan hal yang baik.
Kembali Ajeng menangis histeris. Ia tidak sanggup mendengar hal buruk yang terjadi pada anaknya.
Tak berapa lama suster kembali datang bersama dengan seorang dokter tua. Usianya yang lanjut membuat jalan dokter itu sedikit lambat.
"Dokter..., saya mohon dokter..., selamatkan anak saya..." sambil terisak Ajeng menangkup kedua tangannya memohon.
"Sabar bu, kita akan berusaha semaksimal mungkin. Ingat, jangan putus doa..." ucap dokter tua itu, lalu segera masuk ke ruang operasi.
Detik ke detik, menit ke menit, terasa jauh lebih lambat bagi mereka yang menunggu didepan ruang operasi, masing-masing dengan kesedihannya sendiri. Mini yang baru saja datang membawa beberapa botol air mineral, membagikannya pada yang lain.
Hanya Kama yang tidak menerima. Jangankan menerima, menatap siapapun dia enggan. Hanya berdiam dengan airmata yang tak henti mengalir. Dalam diam ternyata Kama mencoba menelusuri hatinya, mencari celah untuk bisa merasakan hati belahan jiwanya yang sedang terbaring menjalani operasi didalam sana. Sungguh karunia Tuhan yang luarbiasa, yang membuat hati Kama dan Sutra terhubung lewat ikatan khusus yang hanya mereka berdua yang tau.
Hati Kama terus memanggil nama suaminya, berharap Sutra mendengar dan mau berjuang untuk bisa kembali baik-baik saja.
Mas Adriaaaan...., aku yakin kamu kuat..., pleaseeee....
Babe..., i need you...
Reflek Kama menoleh ke kiri dan ke kanan, ia seperti baru saja mendengar suara Sutra jelas ditelinganya.
Tiba-tiba pintu ruang operasi kembali terbuka. Seorang suster dengan mengenakan baju serba hijau serta penutup kepala keluar dari sana. Semua mata pun tertuju padanya.
"Maaf sebelumnya, saya ingin bertanya, siapa keluarga yang paling dekat dengan pasien saat ini?" tanya suster itu.
πππ
Kenapa? Ada apa?
__ADS_1
Kok suster nanya-nanya begitu??
Apa yang terjadi pada Sutraaaaa????