When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
Season 2 - Operasi Sutra


__ADS_3

Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas πŸ™πŸ€—πŸ˜˜


-


-


"Maaf sebelumnya, saya ingin bertanya, siapa keluarga yang paling dekat dengan pasien saat ini?" tanya suster itu.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Kama melangkah cepat mendekati suster. Lulu yang duduk dekat pintu ruang operasi segera berdiri, mengambil inisiatip menjelaskan siapa Kama.


"Dia istrinya pasien, suster.."


"Istrinya? Oke, ayo ikut saya masuk" suster mengajak Kama masuk ke dalam. Sementara yang lain menunggu diluar dengan perasaan berkecamuk.


Mereka ke ruang perlengkapan lebih dulu, lalu suster meminta Kama memakai baju serba hijau, penutup kepala, serta masker sebagai syarat masuk ke ruang operasi.


Selesai memakai semua perlengkapan Kama mengikuti langkah suster itu lagi. Mereka melangkah ke ruang sebelah, tempat dimana Sutra sedang berjuang untuk hidupnya. Ada lima orang suster dan tiga orang dokter disana, termasuk dokter tua yang datang terakhir kali tadi.


Deg !


Detak jantung Kama naik seketika. Perasaan campur aduk menyelimutinya melihat orang terkasihnya berbaring di meja operasi.


Lantas dokter tua itu menghampiri Kama,


"Nak, kamu siapa pasien?" tanyanya.


"Istrinya..." untuk pertama kalinya setelah dua jam, Kama akhirnya berucap, suaranya bergetar dan lirih.

__ADS_1


"Nak, seharusnya operasi pasien sudah selesai setengah jam yang lalu. Tapi pendarahan dikepalanya tidak mau berhenti. Dia bahkan sempat kejang sesaat tadi. Namun sekarang nadinya sudah stabil. Dokter juga sudah melakukan transfusi darah untuknya. Hanya saja keadaan ini tidak bisa berlanjut terus begini, percuma kita melakukan transfusi sementara darahnya terus mengalir. Jelas akan membahayakan kondisinya" jelas dokter tua itu.


"Tolong beri dia semangat atau katakan sesuatu agar dia dengar suaramu" seperti paham dengan ikatan batin, dokter tua itupun menyarankan demikian.


Ternyata selain dokter senior, dokter tua itu adalah orang yang percaya dengan ikatan batin diantara dua insan yang saling mengasihi. Memang benar maut adalah urusan Sang Maha Pencipta. Namun siapapun manusianya, ia pasti ingin menghabiskan sisa waktunya untuk berada dekat dengan orang terkasih.


Airmata Kama semakin deras menetes. Ketakutannya pun semakin besar. Kalau ditanya apakah ia sanggup menghadapi keadaan ini, jelas ia menjawab tidak. Namun tidak ada pilihan lain selain harus kuat menghadapi semuanya. Walau hanya ada satu persen kemungkinan sekalipun untuk Sutra, Kama pasti akan menggantungkan seluruh pengharapannya pada satu persen itu.


"Bo-boleh saya pegang tangannya, dok..?" Kama menarik napasnya perlahan, menahan getir kepedihan hatinya saat ini.


"Boleh. Ayo, silahkan..." dokter tua itu mengajak Kama mendekati Sutra yang terbaring di meja operasi.


Kama melihat banyak selang yang terpasang ditubuh dan kepala suaminya. Bahkan perban yang membalut di kepalanya pun hampir penuh dengan darah. Entah sudah perban yang keberapa itu, yang pasti bukan yang pertama.


Beberapa suster ikut minggir memberi jalan pada Kama. Takut, khawatir luarbiasa, kalut, kacau, semua perasaan tidak karuan campur aduk dibatin Kama saat ini. Pelan-pelan diraihnya genggaman tangan Sutra yang tergeletak tak berdaya. Lantas Kama pun memejamkan matanya.


Sekeras apapun kita berusaha, jika bukan jodohnya, pasti akan terpisah juga. Namun sejauh apapun terpisah, jika memang jodohnya, pasti akan dipertemukan juga.


Seperti Kama dengan Sutra, mereka sudah ditakdirkan untuk bersama. Memang kisah cinta mereka bukan seperti pujangga cinta yang menguras usaha dan airmata, namun kisahnya diabadikan lewat buku penikmat rasa dan cinta membara diatas peraduan menggelora, Kamasutra.


Mas.., i am here for you... Tolong berjuanglah, kamu harus sembuh untukku, untuk kita... Gak akan ada lagi orang yang bisa mencintaiku sepertimu Mas... Aku gak mau kehilanganmu, aku gak bisa! Hatiku hancur Mas, sakit sekali rasanya melihat keadaanmu seperti ini... Semua gara-gara aku, aku terlalu kaku padamu. Aku bahkan belum sempat membuatmu bahagia, membiarkanmu tau kalau aku juga begitu mencintaimu, tidak hanya sebatas membutuhkanmu saja... Aku tidak pernah berpikir kalau kamu akan menghukumku seperti ini Mas, membuatku khawatir, menyesal, kacau, dan hilang arah. Ya, benar, aku hilang arah sekarang. Aku gak bisa membayangkan hidupku tanpamu Mas...


Maaf kalau selama ini aku terlalu gengsi, aku hanya bingung bagaimana caranya, aku malu memulainya. Tapi ketahuilah kalau rasaku tidak pernah salah alamat. Aku tidak main-main untuk itu. Aku sungguh-sungguh mencintaimu Mas Adrian...


Airmata Kama seakan tidak pernah habis untuk menangisi kekasih hatinya. Begitu banyak yang ia utarakan lewat batin pada Sutra. Entah Sutra dengar atau tidak, yang pasti kelakuan Kama itu menarik perhatian seisi ruangan operasi.


Detik itu juga layar monitor menunjukkan detak jantung Sutra yang naik seiring dengan tekanan darahnya. Tubuhnya merespon dengan apa yang Kama lakukan

__ADS_1


"Maaf bu, permisi" pinta suster yang panik. Mereka segera bertindak. Suster meminta Kama minggir agar Sutra bisa ditangani dengan baik.


Kama lalu berjalan mundur hingga mendapati dinding. Ia memposisikan dirinya empat meter dibelakang. Perasaan takut yang besar seperti memeluknya erat saat ini. Napasnya kembali memburu kencang, jantungnya berdetak hebat. Ia takut terjadi hal buruk pada suaminya.


Mas, kumohon.., jangan tinggalin aku...


Lutut Kama bergetar hebat, ia seperti ingin rubuh saat itu juga. Melihat satu-satunya orang yang ia cintai sedang sekarat disana. Suster dan dokter silih berganti menanganinya. Berbagai macam alat mereka pasang. Bunyi dentingan peralatan operasi pun semakin menambah kekacauan otak Kama.


Akhirnya Kama sudah tidak sanggup lagi berdiri sekarang. Ia terduduk dilantai sambil memeluk lutut, mendekapnya erat agar berhenti bergetar. Dinginnya ruang operasi tak serta merta menyejukkan suhu badan Kama. Keringat dingin pun satu persatu muncul di dahinya.


Mas Adriaaaaan......


"Pasien kejang lagi dok..!" teriak salah satu dokter disana.


"Tambah oksigen!" saut dokter tua dengan suara khasnya.


"Cek transfusi darahnya!"


"Masukkan obat!"


Kama tidak berani melihat lagi, mendengarnya saja ia sudah mau mati apalagi melihatnya. Kepalanya disandarkan diatas lutut, berdoa memohon pertolongan pada Sang Pemilik Kehidupan.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


😭😭😭😭😭


Bagaimana keadaan Sutra ya setelah ini...

__ADS_1


Yuk cekiodot gaes


__ADS_2