When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
KAMA PINGSAN?


__ADS_3

Aku mendekati asal suara gaduh itu, dan...


"Sorri Kam.., ini gue.. Gue cumaaa, gue mau ngasih tas lo yang tadi gue ambilin.." ujar Mini lirih dari balik tumpukan kursi


Astagaaaa! Matiii aku! Jangan-jangan daritadi Mini dengar semua obrolan ku dengan Chelsea. Ya Tuhaaan, gimana ini? Gimana aku menjelaskan nya pada Mini? Dia pasti salah paham dan mengira aku munafik, sama seperti Chelsea tadi. Mini kan cinta mati dengan pak Adrian..


"Se-sejak kapan lo disitu, Min?"


"Sejak.., Chelsea teriak-teriak tadi, gue jadi tau kalo lo berdua ada disini" Mini berjalan ke arahku, dan menyerahkan tas ku.


Inilah yang terus mengganjal dipikiranku sejak kemarin. Menjadi sebab aku berat untuk menerima pak Adrian, dan bodoh nya aku malah terbawa suasana tadi malam, sampai mengakui perasaanku padanya. Aaaah!! Bodoh, bodoh, bodoooh!! Aku gak mungkin mengkhianati Mini. Dia satu-satu nya sahabatku dikampus ini.


"Min.., gue.."


"Gue balik duluan ya, Kam.." Mini berbalik badan ingin pergi


"Min, tunggu..! Semua yang lo denger tadi gak ada yang bener! Gue cuma, gue.., gue ngarang Min! Gue sengaja bikin Chelsea sakit hati, karena dia seenak nya nampar gue tadi" aku mencoba menjelaskan pada Mini. Tapi Mini sama sekali tak menoleh, dia masih membelakangiku.


"... gue balik ya Kam.." suara Mini terdengar serak, pasti dia nangis sekarang. Ya Tuhaaan, kenapa jadi gini sih..?? Aku gak mau kehilangan sahabatku.....!!


"Min.., pliiiiss, dengerin gue dulu.." tanpa sadar airmataku ikut menetes.


Aku menyesal sudah melukai sahabatku seperti ini. Kalau saja dari awal aku ceritakan semuanya ke Mini,


mungkin gak akan jadi begini. Tapi gak, ini semua memang salahku. Otak ku yang sudah gak beres! Aku memang udah gila sampai membiarkan kebersamaan dengan pak Adrian terus berlangsung. Aku terlena dengan semuanya sampai lupa bangun dari mimpi! Ini udah gak wajar! Aku bahkan gak kenal dengan diriku yang sekarang! Aku bukan lagi Kama yang cuek dengan apapun seperti dulu, hiiksss, aku menyesaaal....


"Hiks, apa lagi yang harus gue denger, Kam..? Lo memang gak pernah menganggap gue sahabat lo.." aku memeluk Mini dari belakang, sumpah aku menyesal dengan semuanya. Kalau Mini memintaku memilih, aku pasti pilih dia, dan gak akan pilih Adrian, Sutra, atau siapapun namanya! Gara-gara dia semua jadi berantakan! Aku benci sama dia, benciiiiii!!


"Min.., hiks, maafin gue Min.. Gue minta maaaaaaf, hikss.."


"Lo pembohong, Kam.. Hiks, lo nyimpen semuanya dari gue..!"


"Gak, Min.., gue-"


"Lepas, gue mau pulang sekarang!" Mini melepas kasar pelukan ku dan pergi saat itu juga


"Miniii..."

__ADS_1


πŸƒπŸƒπŸƒ


Kama menangis sejadi-jadinya sampai malam di kamar kost. Kebetulan sore tadi tanpa sengaja mbak Yossy mendengar suara tangis Kama saat ia menyapu lorong kamar. Bahkan hingga jam delapan malam mbak Yossy mengecek ia pun masih juga mendengar suara tangis Kama seperti tadi.


"Waddduuuh, piye iki mas? Mbak Kama masih jugak nanges daritadi" ujar mbak Yossy ke mas Deko, suaminya.


"Ya ndak tau dek.., mungkin diputusin sama pacarnya yang guanteng ikuu" jawab mas Deko


"Tapi aku yo kawater, mas.. Dari jam limo aq wez denger mbak Kama nangees, gak berenti juga sampe sekarang. Opo gak capek, iku?"


"Wez-wez, coba kamu ketok gih, kamarnya. Kalau ada apa-apa bisa jadi tanggungjawab kita, guawat iku!"


"Wez aku liat dulu yo mas.."


Mbak Yossy berjalan menuju kamar Kama.


Tok.. Tok.. Tok.. !


"Mbak Kamaa..., misi mbak ee.." tegur mbak Yossy


Ceklek!


"Ya mbak, kenapa?" suara Kama terdengar sengau, dan matanya pun bengkak karena terlalu banyak menangis. Kayak abis digebukin warga se-RT.


"Astaghfirulloh, gustiii! Opo iku mbak? Iku mata opo beha? Kok yo cembung gitu, piye toh?" tanya mbak Yossy kaget


"Gak papa mbak.." jawab Kama pelan


"Mbak Kama serius iki? Ra popo?" Kama mengangguk


"Yowez kalo gitu. Eh tapi mbak Kama wez mangan to?" Kama menggeleng


"Aku gak laper mbak.."


"Oalah gustiiiii.. Mangan toh mbak.., iki udah jam piro belum mangan. Nanti mbak saket toh"


"Masih kenyang mbak. Udahan ya, aku tutup pintunya, ngantuk mau tidur.." ujar Kama seraya meminta ijin untuk kembali masuk ke kamar.

__ADS_1


Setelah itu sampai pagi Kama tidak terdengar menangis lagi. Beberapa kali mas Deko sempat lewat mengecek, tapi tidak terdengar suara apa-apa, berarti Kama sudah tertidur dengan pulas.


Setiap pagi biasanya mbak Yossy akan beres-beres disemua sudut kost-kostan. Menyapu, mengepel, dan mengelap semua perabotan. Ia juga berkeliling mengutip cucian kotor anak kostan, untuk ia kerjakan sesuai dengan nomor kamar masing-masing. Sampai ketika ia melewati kamar Kama, ia mendapati sepatu Kama yang masih tergeletak didepan pintu.


"Loh iki sepatu ne mbak Kama, kok masih disik yo? Opo mbak Kama ndak berangkat kuliah?" gumam mbak Yossy, ia lantas mengetuk pintu kamar Kama, namun tidak ada jawaban.


Mbak Yos mengulangi ketukan nya beberapa kali, sampai ia sendiri semakin panik karena tidak ada jawaban. Ia lantas berlari meninggalkan keranjang cucian di depan pintu kamar Kama, untuk mengambil kunci cadangan di laci kamar nya.


Tak berapa lama mbak Yoss sudah sampai didepan pintu kamar Kama. Dengan kunci cadangan, ia pun membuka pintu.


"Astaghfirulloh gustiii..." teriak mbak Yoss saat melihat Kama tergeletak di lantai kamar. Susah payah ia mengangkat tubuh Kama naik ke atas tempat tidur dan membaringkannya. Ia berulang kali memanggil-manggil nama Kama untuk menyadarkan nya, namun tetap tak ada jawaban. Mbak Yoss pun bingung harus menghubungi siapa, karena Kama tidak pernah meninggalkan nomer telepon keluarganya didata kost.


Akhirnya mbak Yoss mengambil inisiatif sendiri, ia mengambil ponsel Kama yang tergeletak diatas meja dan menelepon nomor terakhir yang masuk di history telepon.


Tuuut...


Tuuut...


(nada sambung telepon)


"Hallo, mbak ee, mas ee.. Sopo iku jenenge, aq mintak maaf. Iki loh, mbak Kama yang punya hape pingsan dikamar kost nya. Aku ndak tau harus ngubungi sopo. Tolong ya mbak ee, mas ee.." oceh mbak Yoss kepada si penerima telepon


"Apa? Oke-oke mbak, saya segera kesana!" jawab si penerima telepon


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Siapa sih yang ditelepon mbak Yoss sebenernya??


Makin greget deh..


Yukk kepoin next episode...


TERIMAKASIH READERS YANG UDAH BACA SAMPAI PART INI πŸ˜ŠπŸ™


KASI JEMPOL DAN TINGGALIN KOMEN YANG MANIS YA BIAR AKU MAKIN SEMANGAT πŸ€—


JANGAN LUPA VOTE NYA JUGA (he..he..he)

__ADS_1


I Love U 😘


__ADS_2